Tanjung Balai mencekam, toko tutup, belum ada pelaku yang ditangkap

rusuh tanjung balai

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU

Keterangan gambar, Kelenteng dan vihara yang dibakar dan dirusak, masih dalam keadaan porak poranda.

Suasana Tanjung Balai masih terasa mencekam, toko-toko tutup sejak pagi, dan petugas polisi dan tentara berjaga di berbagai sudut, khususnya di rumah-rumah ibadat Budha dan Kong Hu Tsu.

Seperti digambarkan Arsyad, wartawan yang bekerja di Tanjung Balai, kepada BBC, warga keturunan Cina tak tampak di tempat-tempat umum.

"Mereka sepertinya tidak mau keluar rumah, masih khawatir dengan keadaan," katanya.

Namun awalnya, banyak juga warga lain yang datang ke rumah-rumah ibadat yang dirusak dan dibakar itu, untuk sekadar melihat-lihat.

"Mereka sekadar penasaran saja, sesudah kerusuhan semalam. Tapi tidak ada orang yang tampak ingin melakukan perusakaan lagi," tambah Arsyad pula.

  • <link type="page"><caption> Amuk massa di Tanjung Balai, vihara dan kelenteng dibakar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160730_indonesia_rusuh_tanjung_balai" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Sikap intoleran 'kian meluas' di masyarakat Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160222_indonesia_intoleransi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Sebagian masjid 'tidak mematuhi' aturan pengeras suara </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150626_indonesia_polemik_pengeras_suaramasjid" platform="highweb"/></link>

Pembakaran dan perusakan terhadap brbagai rumah ibadat dan fasikitas atau bangunan milik warga keturunan Cina meletus di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jumat (29/7) menjelang tengah malam, sejak sekitar pukul 23.00.

Setidaknya tiga vihara dan delapan kelenteng sebuah yayasan sosial dan tiga bangunan dirusak atau dibakar. Setidaknya enam mobil juga dibakar atau dirusak.

rusuh tanjung balai

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU

Keterangan gambar, Para perusuh juga merusak dan membakar setidaknyaa enam kendaraan roda empat.

Juru bicara Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting menyebutkan, tujuh orang ditangkap dan diperiksa, namun untuk dugaan penjarahan saat terjadinya kerusuhana yang melibatkan massa lebih dari seribu orang itu.

"Kami terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan pidana," tegas Kombes Rina Ginting pula.

Disebutkan Rina Ginting, untuk memulihkan keadaan, polisi mengerahkan petugas tambahan yang di tempatkan di berbagai sudut kota.

"Kami mengrahkan 100 petugas bantuan dari Polres Asahan, 30 orang dari Polres Batubara, dan 135 anggota Brimog. Ditambah bantuan pasukan dari Kodim. Ini untuk mengembalikan rasa aman bagi warga masyarakat," katanya kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia.

rusuh tanjung balai

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU

Keterangan gambar, Saat perusakan dan pembakaran terjadi, jumlah petugas polisi disebutkan sangat terbatas.

Sebelumnya, ia menyebut, saat kejadian petugas polisi sangat terbatas jumlahnya, sehingga tak bisa mencegah kerusakan dan permbakaran Jumat malam itu.

"Namun bukan berarti polisi membiarkan. Kami berusaha menghimbau massa untuk membubarkan diri, juga mencegah mereka melakukan kekerasan lebih jauh. Kami juga melakukan segalanya untuk melindungi warga (Tionghoa) dari massa yaang tak terkendali," paparnya.

Ia menyebutkan, malam itu bakar-bakarannya sendiri, tak berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung Budha, gong., dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion. Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit."

  • <link type="page"><caption> Eks pimpinan Gafatar: MUI 'tak berhak' sebut mereka sesat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160126_indonesia_konpers_gafatar.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Warga Ahmadiyah di Bangka memilih 'tetap bertahan' </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160205_indonesia_ahmadiyah_dipaksapindah" platform="highweb"/></link>

Keluhan pada volume pengeras suara mesjid

Disebutkannya, ketegangan bermula menjelang shalat Isya, setelah Meliana, seorang perempuan Tionghoa berusia 41 tahun yang meminta agar pengurus mesjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.

Sesudah shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.

  • <link type="page"><caption> MUI telaah pengeras suara masjid dan pemutaran kaset mengaji</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150609_indonesia_masjid_ngaji" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pengeras suara masjid, yang terbantu dan terganggu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150609_trensosial_masjid" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Sebagian masjid 'tidak mematuhi' aturan pengeras suara </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150626_indonesia_polemik_pengeras_suaramasjid" platform="highweb"/></link>

Namun suasana memanas, Meliana dan suaminya kemudian 'diamankan' ke Polsek Tanjung Balai Selatan.

"Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat," kata Rina Ginting.

Ia mengaku belum tahu, mengapa FPI dilibatkan.

"Tapi di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka pun membubarkan diri.'

rusuh tanjung balai

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU

Keterangan gambar, Banyak warga melihat-lihat kelenteng atau vihara yang jadi korban perusakan dan pembakaran.

Namun katanya, dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.

Mereka lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar. Sesudah itu, massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Vihara Juanda yg berjarak sekitar 500 meter dan berupaya utk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung Balau. massa yang marah lalu melempar vihara itu dengan batu.

"Lalu massa bergerak ke tempat lain, yang ternyata melakukan pembakaran di beberapa vihara dan kelenteng, yang jaraknya memang berdekatan" papar Rina Ginting pula.

Sejak subuh, akses masuk kota dijaga ketat.

"Tetapi sekarang, yang penting kita mengusahakan suasana damai. Dan bukan memperparah keadaan dengan hasutan dan desas-desus yang bukan-bukan," tandas Rina Ginting.