Dievakuasi ke Jakarta, eks Gafatar 'pertanyakan penyuluhan agama'

Pemerintah melalui otoritas terkait memberikan program pendampingan kepada eks anggota Gafatar yang ditempatkan di sebuah panti sosial di Jaktim --termasuk anak-anaknya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Pemerintah melalui otoritas terkait memberikan program pendampingan kepada eks anggota Gafatar yang ditempatkan di sebuah panti sosial di Jaktim --termasuk anak-anaknya.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia.

Sebagian anggota bekas organisasi Gerakan Fajar Nusantara alias Gafatar, yang telah dievakuasi ke sebuah panti sosial di Jakarta Timur, mempertanyakan rencana pembinaan psikologi dan agama oleh otoritas terkait terhadap mereka.

Ada diantara mereka tetap ingin kembali menjadi petani di Kalimantan Barat, tetapi ada pula yang terpaksa menerima kenyataan untuk kembali ke kampungnya.

Sebagian lagi juga menganggap tidak ada yang salah dengan diri dan organisasinya, sehingga mereka mempertanyakan rencana pembinaan psikologi dan agama oleh otoritas terkait.

"Katanya ada pembinaan (dari Majelis Ulama Indonesia dan otoritas terkait). Yang mau dibina apa, saya juga enggak ngerti," kata Jawahir, bekas anggota Gafatar asal Jakarta, saat ditemui BBC Indonesia di panti sosial yang dikelola pemerintah di Jakarta Timur, Minggu (24/01) siang.

"Katanya ada pembinaan (dari Majelis Ulama Indonesia dan otoritas terkait). Yang mau dibina apa, saya juga enggak ngerti," kata Jawahir, bekas anggota Gafatar asal Jakarta,

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, "Katanya ada pembinaan (dari Majelis Ulama Indonesia dan otoritas terkait). Yang mau dibina apa, saya juga enggak ngerti," kata Jawahir, bekas anggota Gafatar asal Jakarta,

Dia mengaku penasaran materi pembinaan seperti apa yang akan dia terima, karena dia bersikukuh tidak ada yang salah dengan dirinya dan bekas organisasinya.

Kapan saya dibina? Kok yang dibina hanya anak-anak saja. Selalu saja yang ditanyakan soal sekolah anak-anak eks Gafatar," katanya.

Jawahir dan 115 eks anggota Gafatar tiba di Jakarta pada Sabtu (23/01) pagi setelah dievakuasi dari Kota Pontianak dengan pesawat komersial.

Mereka sebelumnya tinggal sebagai petani di sebuah desa di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Mereka mengaku "dijemput paksa" oleh aparat keamanan TNI dan polisi dengan dalih "keselamatan mereka" setelah <link type="page"><caption> kasus pembakaran kediaman anggota eks Gafatar di Kabupaten Mempawah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160120_indonesia_pengusiran_gafatar" platform="highweb"/></link>, Selasa (19/01).

Selain dievakuasi ke Jakarta, sebagian eks anggota organisasi itu juga diterbangkan ke Surabaya, Jatim sebelum dikirim ke kota-kota asalnya di Jawa Timur.

'Penyuluhan agama, ketatanegaraan...'

Di sebuah panti sosial milik pemerintah di kawasan Ceger, Jakarta Timur, anak-anak dari keluarga anggota eks organisasi Gerakan Fajar Nusantara alias Gafatar, terlihat masih bisa bermain riang.

Di ruangan berpendingin udara itu, bersama keluarganya, mereka tiba dari Kota Pontianak pada Sabtu pagi setelah dievakuasi dengan pesawat komersial.

Sebelum dikembalikan ke kampung asalnya, pemerintah akan memberikan pembekalan psikologi dan agama dari otoritas terkait kepada mereka.

"Kami akan mendampingi mereka secara psikologis. Dan nanti ada penyuluhan tentang agama, ketatanegaraan serta sosial," kata Harijanto, kepala Panti Bina Insan Bangun Daya II, di kawasan Ceger, Jakarta Timur, kepada BBC Indonesia, Minggu (24/01).

Sebelum dikembalikan ke kampung asalnya, pemerintah akan memberikan pembekalan psikologi dan agama dari otoritas terkait kepada mereka.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Sebelum dikembalikan ke kampung asalnya, pemerintah akan memberikan pembekalan psikologi dan agama dari otoritas terkait kepada mereka.

Belum diketahui secara persis, kapan 116 eks anggota Gafatar dan keluarganya itu akan dikirim ke kampung asalnya di Jakarta dan sekitarnya. "Mungkin dalam tiga atau lima hari kemudian," katanya.

Penyuluhan materi agama, ketatanegaraan dan lainnya kepada eks anggota Gafatar ini sesuai keputusan Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) hari Kamis (21/01) lalu.

Dalam pertemuan itu, Tim Pakem -yang antara lain terdiri dari Majelis Ulama Indonesia, Kejaksaan Agung, Kepolisian, Badan Intelijen Negara- menyimpulkan ada <link type="page"><caption> indikasi bahwa Gafatar adalah aliran sesat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160121_indonesia_gafatar_kejagung" platform="highweb"/></link>.

Kepada BBC Indonesia, pimpinan eks Gafatar melalui juru bicaranya, Farah Meifira, mempertanyakan penilaian Tim Pakem tersebut. <link type="page"><caption> "Tuduhan sesat itu tidak obyektif," kata Farah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160121_indonesia_gafatar_mui" platform="highweb"/></link>.

'Saya ingin kembali menjadi petani'

Tiga orang eks anggota eks Gafatar yang saya temui di panti sosial di kawasan Jakarta Timur mengaku ingin kembali menjadi petani di Kalimantan Barat.

Walaupun mengaku siap kembali ke kampung asalnya di Depok, Ali Mustofa, 28 tahun, tetap bermimpi meneruskan menjadi petani di Kalimantan Barat.

"Kalau bisa, saya ingin menjadi petani," kata Ali, yang sarjana strata satu ini. Dia mengaku telah menjadi petani selama sekian bulan di sebuah desa di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.

"Bahkan, ada penduduk setempat yang menangis ketika kami dijemput paksa untuk dievakuasi," kata Ali Mustofa, ayah dua anak yang telah menjadi anggota Gafatar sejak lima tahun silam.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, "Bahkan, ada penduduk setempat yang menangis ketika kami dijemput paksa untuk dievakuasi," kata Ali Mustofa, ayah dua anak yang telah menjadi anggota Gafatar sejak lima tahun silam.

Selama itu, ayah dua anak ini juga mengklaim tidak ada masalah dengan penduduk asli setempat. "Bahkan, mereka ada yang menangis ketika kami dijemput paksa untuk dievakuasi," kata ayah dua anak yang telah menjadi anggota Gafatar sejak lima tahun silam.

Seperti Ali, bekas anggota Gafatar bernama Jawahir juga mengaku tidak pernah bermasalah dengan warga setempat di desanya di Kecamatan Rasau Jaya, Kalbar.

"Jadi, kenapa kami dibilang meresahkan?" katanya dengan nada getir. Dia kemudian bercerita ketika aparat menjemput paksa dirinya dan rekan-rekannya.

"Saat saya macul (di lahan pertanian) ditarik (tangan saya), dan disuruh jemput istri dan anak-anak dan dinaikkan ke bus. Katanya ada hal 'akan mengancam jiwa Anda' setelah kasus di Mempawah. Padahal tidak ada apa-apa," ungkapnya.

'Kembalikan aset lahan kami'

Selama memilih menjadi petani di Kalbar, Jawahir mengaku telah menjual aset miliknya di Jakarta. "Sekarang saya tidak punya apa-apa. Makanya keinginan saya tetap menjadi tani," tegasnya.

Adapun Abdurrauf Syah, 44 tahun, asal Bekasi, mengaku telah memiliki lahan seluas 4, 2 hektar lahan di Kabupaten Kubu Raya. Lahan seluas itu dia beli bersama kawan-kawannya sesama eks anggota Gafatar dari penduduk setempat.

Lebih dari seratus orang eks anggota Gafatar asal Jakarta dan sekitarnya ditempatkan sementara di sebuah panti sosial sebelum nantinya dikembalikan ke kampung asalnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Lebih dari seratus orang eks anggota Gafatar asal Jakarta dan sekitarnya ditempatkan sementara di sebuah panti sosial sebelum nantinya dikembalikan ke kampung asalnya.

Kini, dia menggugat agar aset tanahnya itu dikembalikan. "Boleh mereka ambil alih asal ada ganti rugi sesuai nilai aset tersebut. Kalau dulu masih semak belukar, sekarang jadi lahan pertanian," kata Andurrauf.

Evakuasi lebih dari dua ribu anggota eks Gafatar dari Kalimantan Barat akan terus berlanjut. Direncanakan rombongan pertama yang menggunakan kapal laut akan tiba di Semarang pada Senin (25/01) pagi ini.

Pengusiran anggota Gafatar ini merebak setelah kasus hilangnya seorang ibu dan anak eks anggota Gafatar asal Yogyakarta pada Desember lalu.

Polisi telah mendakwa dua orang eks pengurus Gafatar yang <link type="page"><caption> dianggap membawa ibu tersebut tanpa izin keluarganya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160113_indonesia_korban_gafatar" platform="highweb"/></link>. Sebuah tuduhan yang dibantah oleh pimpinan eks Gafatar.