'Saya mau melihat rumah saya yang dibongkar'

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Heyder Affan dan Christine Franciska
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
Di antara puing-puing dan debu yang beterbangan di bekas kampung padat di Pasar Ikan, Jakarta, yang telah rata dengan tanah setelah digusur, perempuan berkerudung coklat ini terlihat duduk mematung.
Kehadiran belasan buldoser -yang terus meraung-raung- sepertinya tidak dia hiraukan. Sorot matanya, yang sering terlihat berkaca-kaca, lebih tertuju pada onggokan puing di depannya.
"Saya mau melihat rumah saya..." suaranya tiba-tiba tercekat. Butiran air mata sebesar biji jagung kemudian menggenangi pipinya. "Rumah saya dibongkar..."
Siang itu, Paryati, begitu namanya, kemudian mencoba mengingat-ingat lagi 'sejarah' kehadiran keluarganya di kampung Pasar Ikan sejak 38 tahun silam.
Ibu lima anak ini adalah pendatang dari luar Jawa. "Saya dari Maluku, suami saya asal Sulawesi."

Sumber gambar, BBC Indonesia
Tetapi, seperti penghuni lainnya, Paryati mengaku tinggal secara tidak sah di tanah pemerintah provinsi DKI Jakarta di pinggiran muara tidak jauh dari pelabuhan tradisional Sunda Kelapa.
"Saya punya surat PBB dan jual beli saja," ungkapnya lirih.
Puluhan tahun 'tidak diusik' oleh otoritas pemprov DKI Jakarta, keluarga Paryati dan penghuni lainnya pun berusaha untuk hidup lebih mapan.
- <link type="page"><caption> Penggusuran pasar ikan Luar Batang sempat diwarnai kericuhan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/04/160411_galeri_luarbatang_gusur" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pembongkaran Luar Batang, upaya cegah Jakarta 'tenggelam'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160411_trensosial_bongkar_luarbatang" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160204_majalah_revitalisasi_kotatuajkt" platform="highweb"/></link>
Saat Paryati tiba di wilayah itu puluhan tahun silam, para pendatang mendirikan bangunan kayu di atas air laut sehingga muncul istilah Kampung Akuarium.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Mereka lantas mengganti papan kayu dengan beton, serta menguruk air laut di bawahnya dengan tanah. Lalu, rumah beton pun tumbuh bermekaran di atasnya.
"Dulu, kita sering kebanjiran dari laut. Lalu kita uruk sedikit-sedikit. Kita beli (urukan tanah) dari luar," ibu lima anak ini bercerita.
Terkubur
Kini, sejarah panjang keluarga Pariyati di Pasar Ikan terkubur bersamaan bunyi buldoser yang meratakan bekas kampungnya.
Walaupun harus angkat kaki, Paryati mengaku tidak bisa melupakannya. "Suami saya pun meninggal di sini."
Pemprov DKI bakal menyulap kawasan kumuh itu menjadi tempat tujuan wisata mancanegara, sebagai pengembangan dari <link type="page"><caption> proyek menata ulang kawasan kota tua Jakarta</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160204_majalah_revitalisasi_kotatuajkt" platform="highweb"/></link>.
- <link type="page"><caption> Pembongkaran Kalijodo lancar tanpa perlawanan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160229_indonesia_kalijodo_update" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kawasan lokalisasi Kalijodo menghitung hari</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160225_indonesia_kalijodo_ditutup" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Menjelang pembongkaran, Kalijodo seperti 'kota hantu'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160228_indonesia_kalijodo" platform="highweb"/></link>
Seperti diketahui, tidak jauh dari onggokan puing-puing rumah Paryati, berdiri masjid Luar Batang, salah-satu masjid tertua, Museum Bahari, serta pelabuhan tradisional Sunda Kelapa dengan menara pengawasnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Setelah menggusur kawasan Pasar Ikan, pemprov DKI akan membongkar pula hunian di sekitar masjid Luar Batang pada Mei nanti.
Kepada warga Pasar Ikan dan sekitarnya, pemprov DKI telah menawarkan mereka untuk pindah ke tiga rumah susun yaitu di Marunda, Kapuk Muara dan Rawa Bebek.
Tidak semua tertarik dengan tawaran ini, karena alasan "terlalu jauh" dan "harus membayar iuran bulanan".

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Lokasi sekolah anak saya jauh jika kami pindah ke Rawa Bebek," kata Paryati.
'Kalau bagi orang punya duit, gampang!'
Sikap agak bimbang ditunjukkan Elia, ibu dua anak. "Sedih Pak, merintih, menangis," katanya. Dia kemudian mengobrol bersama sesama bekas penghuni yang intinya mengeluhkan lokasi rumah susun yang jauh dari mana-mana.
"Kalau bagi orang yang punya duit, itu mungkin gampang. Bagi kita?"
Mata Elia menerawang jauh.
Mirip yang dikeluhkan Paryati, Elia menganggap penggusuran terlalu cepat dilakukan. Dia membayangkan penggusuran dapat dilakukan setelah lebaran.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Dan setelah anak-anak ujian sekolah," ungkap karyawan di sebuah perusahaan pengalengan ikan ini.
Siang itu dia ditemani salah-satu anaknya untuk melihat kembali bekas rumahnya, yang sebagian sudah dibongkar. Terlihat sejumlah petugas Satpol PP duduk persis di depan bekas rumahnya.
"Ibaratnya, sudah pernah tinggal di sini, tetap ada rasa sedih yang mendalam," ungkapnya agak terisak. "Saya rasa semua merasakannya, bahkan semua orang yang pernah digusur..."

Sumber gambar, BBC Indonesia
Elia kemudian bergabung dengan bekas para tetangganya. Kami pun beranjak, meninggalkan lokasi Pasar Ikan.
Dari jauh kami kemudian menyaksikan Paryati, yang semula tetap memilih duduk di dekat puing-puing rumahnya, dituntun oleh dua orang untuk meninggalkan lokasi.
Isak tangisnya kalah bersaing dengan deru buldoser yang terus meraung-raung di atas bekas kampungnya, juga sejarah keluarganya.









