Menjelang pembongkaran, Kalijodo seperti 'kota hantu'
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 5 menit
Seperti kota hantu, begitulah suasana di kawasan bekas lokalisasi Kalijodo di Jakarta utara, Minggu (28/02), setelah sebagian besar penghuninya meninggalkannya.
Kawasan seluas sekitar satu setengah hektar itu tinggal bangunan kosong dan sebagian bahkan hanya tersisa reruntuhan.
Sampai hari Minggu sore, sebagian penghuninya masih berusaha membawa barang-barang berharga yang tersisa dari bangunan bekas rumahnya.
"Kita sedang nungguin lemari saya. Anak saya mau bawa mobil pinjaman untuk membawanya," kata Kamirin, yang sehari-hari menjadi tukang ojek di Kalijodo.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dia ditemani istrinya di depan bekas rumahnya. Saat saya menemuinya pada Minggu sore, suasana di lorong tempat rumahnya berdiri sudah terlihat gelap karena PLN telah mencabut aliran listrik di Kalijodo.
Penghuni lainnya terlihat menyelamatkan seperti pintu, jendela, atau pagar besi, serta papan kayu yang menjadi dinding rumahnya. "Lumayan bisa dijadiin duit," ujar seorang warga.
Tenggat waktu lewat

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Rencananya, hari Senin (29/02) pagi, semua bangunan di kawasan yang terletak di perbatasan Jakarta utara dan barat ini akan mulai dibongkar secara paksa.
Hal ini dilakukan sesuai tenggat waktu pemerintah DKI Jakarta yang berakhir hari Minggu (28/02).
Walaupun sebagian besar bangunan telah dibongkar sendiri dan kemudian ditinggalkan pemiliknya, sekitar lima ribu aparat polisi, TNI, serta satpol PP tetap akan mengamankan proses pembongkaran.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Besok (Senin, 29 Februari), keberadaan Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya adalah membackup pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam melakukan operasi penertiban ini," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes M Iqbal, saat ditemui wartawan di Kalijodo, Minggu sore.
Sejak sepekan lalu, kehadiran aparat kepolisian sudah terlihat di kawasan tersebut, termasuk melakukan penggeledahan di sejumlah tempat hiburan dan menemukan senjata tajam.
Sebelumnya Polda Metro Jaya telah menetapkan Abdul Aziz atau biasa disapa <link type="page"><caption> Daeng Aziz -yang disebut sebagai 'pemimpin' kawasan Kalijodo-</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160225_indonesia_kalijodo_ditutup" platform="highweb"/></link> sebagai tersangka.
Mengharap pemberitahuan awal
Walaupun warga Kalijodo akhirnya harus pergi, sebagian di antara mereka sepertinya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan terusir dari rumahnya.
Kamirin, tukang ojek yang saya temui, misalnya, mengatakan pemerintah DKI Jakarta bersikap 'tidak adil'.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Kita enggak dikasih jangka waktu. Dua atau tiga bulan, kek. Jadi kita ada nafas untuk mencari lokasi pindahan."
Namun demikian, imbuhnya, "Kita rakyat kecil, kita enggak bisa ngelawan apa-apa. Pasrah."

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Mengaku sudah tinggal puluhan tahun di Kalijodo, Kamirin, istri dan anak-anaknya tinggal di lorong berukuran satu setengah meter. Lokasinya hampir berderetan dengan tempat hiburan.
Di jalan besar, terlihat seorang perempuan berusia 55 tahun, bernama Juwita, yang terus memandangi bekas toko miliknya yang bercat hijau.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dia menolak pindah ke rumah susun yang ditawarkan pemerintah DKI Jakarta. Juwita memilih mengontrak sebuah rumah petak tidak jauh dari Kalijodo. "Ngapain jauh-jauh (pindah ke rumah susun). Lagipula saya hidup sendiri."
"Ahok memang bikin orang sengsara," katanya sengit. Ahok yang dimaksud adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama. "Main gusur-gusur aja."
Rencana gugatan hukum

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Beberapa orang mantan warga Kalijodo juga memilih kontrak rumah di tempat lain, karena mereka mengaku harus merogoh kocek untuk menyewa di rumah susun -tiga bulan pertama gratis, tetapi bulan berikutnya mereka harus membayar per bulan sekitar antara Rp150.000 dan Rp300.000 per bulan.
Pemerintah DKI Jakarta sudah menyediakan tiga rumah susun bagi warga Kalijodo yang ber-KTP Jakarta, dan sebagian warga Kalijodo sudah pindah ke lokasi itu.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Mau apa lagi, enggak ada ganti rugi. Ya, kita terima saja," kata seorang pria 30-tahunan, yang mengaku bernama David. "Kita ditawarin rumah susun, ya, kita ambil saja."
Tidak jauh dari situ, seorang perempuan bernama Wati tengah duduk di kursi sambil menyedot dalam-dalam rokok putihnya. Di depannya, ada tiga atau tempat tukang kayu tengah membongkar rumah kontrakannya.
"Nggak apa-apa dibongkar, wong itu bukan hak milik saya. Wong namanya orang numpang," katanya.
"Rezeki itu ada yang membagi. Saya percaya, siapa yang bagi rezeki, yaitu Yang Kuasa. Ngapain harus sedih," ujar Wati, yang terlihat santai dengan rokoknya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Sebagian besar warga tetap Kalijodo memang memilih tawaran pindah, tetapi sebagian kecil bekas penghuni berencana untuk melayangkan gugatan ke pemerintah DKI Jakarta.
Intinya, mereka mengklaim memiliki bukti sah bahwa bangunan mereka memiliki kekuatan hukum dan sebaliknya langkah pemerintah DKI Jakarta dianggap melawan hukum.
Adapun pemerintah DKI Jakarta mengklaim bahwa kawasan Kalijodo adalah tanah negara yang dikuasai secara sepihak oleh warga.
Semenjak tahun 1970-an, Kalijodo dikenal sebagai tempat prostitusi dan perjudian terselubung yang tidak tersentuh oleh penegak hukum.
Namun sekarang, setelah menutupnya, pemerintah DKI akan menyulap kawasan hiburan malam itu menjadi kawasan hijau, yang antara lain terdiri tempat bermain untuk anak-anak.









