Cegah kecemburuan sosial, pengungsi dan warga Aceh belajar bersama

- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia, Aceh
Belasan perempuan duduk di lantai papan merancang pola kemeja, beberapa perempuan lain menggerakkan mesin jahit sambil duduk di bagian lain dalam ruang yang sama.
Mereka sama-sama berkepentingan untuk mahir menjahit tetapi mempunyai tingkat keterampilan yang jauh berbeda dan berasal dari latar belakang berbeda pula.
Kelompok pembuat pola adalah ibu-ibu warga Blang Adoe, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Adapun kelompok kedua yang jumlahnya jauh lebih kecil dan yang sedang menjahit lengan adalah perempuan pengungsi Rohingya, etnik minoritas yang mengalami penindasan di Myanmar.
“Seharusnya peserta lebih banyak adalah pengungsi Rohingya dibandingkan peserta warga kampung di sini tetapi mereka sering tidak masuk,” kata Siti Aminah, peserta kursus menjahit dari kelompok warga.
Kecemburuan sosial

Kursus menjahit selama empat bulan ini diadakan di penampungan pengungsi Blang Adoe, Kabupaten Aceh Utara.
“Kita menghindari kecemburuan sosial. Oleh karena itu, kita ingin bahwa Rohingya adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat juga menjadi bagian dari apa yang kita berdayakan untuk Rohingya,” kata Rauzi Haristia, koordinator program lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap yang menyelenggarakan pembekalan menjahit ini.
Mengenai ketidakseimbangan antara peserta dari kalangan warga dan peserta pengungsi padahal ada banyak mesin jahit yang disediakan buat mereka, Rauzi memberikan alasan.
“Mereka sudah sampai pada kelas membuat pola, jadi pengungsi Rohingya menemui kesulitan menerima pelajaran membuat pola-pola dasar apalagi ada angka-angkanya.
“Kita sadari itu karena latar belakang pendidikan mereka sangat terbatas. Mereka hanya terampil sampai pada tahap menggunakan mesin jahit saja.”
Di bawah standar

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Utara Isa Anshari tak menepis timbulnya gesekan sosial dalam masyarakat mengingat sebagian penduduk setempat hidup di bawah standar pengungsi.
“Karena pengungsi banyak mendapat bantuan. Warga melihat mereka tidak bekerja, hanya makan, minum dan tidur. Jadi kami harapkan ada asimilasi dengan masyarakat.'
Ditambahkannya, pemerintah daerah mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kedua kelompok sehingga tidak terjadi kecemburuan sosial.
Akan tetapi, seperti tercermin dalam kelas menjahit, tidak ada interaksi antara warga dan pengungsi terutama karena kendala bahasa. Meskipun sudah tinggal di Aceh selama hampir satu tahun, para pengungsi tidak bisa bercakap dalam bahasa Indonesia, kecuali sebagian anak-anak dalam kemampuan terbatas pula.
Dekan Fisip Universital Malikussaleh, Lhokseumawe, M. Akmal menyarankan agar fasilitas-fasilitas pengungsi yang sekarang tidak digunakan semestinya dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar guna menghindari bentrokan.
“Efek-efek kecemburuan sosial itu terasa sekali ketika mereka seperti dimanjakan. Dimanjakan karena pada awalnya tanggapan terhadap mereka luar biasa positif dan mungkin dianggap berlebihan tetapi begitu jumlah pengungsi tinggal sedikit tetapi kegiatannya makan-tidur, makan-tidur tanpa diproduktifkan sebagai makhluk sosial hal ini menimbulkan masalah bagi warga sekitar,” jelasnya kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Sejak mendarat di Aceh Utara pada 5 Mei 2015, gelombang pengungsi Rohingya, yang sempat ditinggalkan di laut oleh jaringan penyelundup, masih mendapat sokongan dari sejumlah lembaga, terutama Organisasi Migrasi Internasional (IOM) yang menyedikan keperluan sehari-hari termasuk makanan dan susu.
Ketika BBC Indonesia berkunjung ke kamp Blang Adoe yang dibangun dengan <link type="page"><caption> dana bantuan Rp6 miliar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160224_indonesia_fasiltas_pengungsi" platform="highweb"/></link>, petugas IOM tengah membagikan jatah susu mingguan dan pengungsi satu per satu mengambil jatah mereka.
Dari jumlah semula 319 orang, pengungsi Rohingya yang masih menempati barak Blang Adoe tinggal 75 orang karena sebagian besar sudah meninggalkan kamp atas kemauan sendiri. Sebagian berada di Medan dan <link type="page"><caption> sebagian lainnya sudah masuk ke Malaysia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160223_dunia_pengungsi_rohingya_aceh" platform="highweb"/></link> secara gelap.









