Hujan dan banjir landa Indonesia, harga pangan melonjak

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Rafki Hidayat
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Banjir yang melanda berbagai daerah di Indonesia membuat harga sejumlah bahan makanan melonjak drastis.
"Yang paling terpengaruh (banjir) itu, tanaman-tanaman musiman... Bahan-bahan makanan yang cepat busuk," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, Senin (15/02).

Sumber gambar, BBC Indonesia
Berdasarkan pantauan BBC Indonesia di Pasar Inpres Sabeni Tanah Abang, dalam seminggu terakhir telah terjadi peningkatan harga sebagian besar bahan makanan.
Cabai merah keriting, bawang merah, tomat dan cabai hijau adalah yang paling terkena dampak.
Jika pada pekan kedua Februari 2016 harga cabai merah keriting Rp30.000/kg, pada Senin (15/02) harganya mencapai Rp40.000/kg. Adapun harga bawang merah naik dari Rp18.000/kg menjadi Rp28.000/kg, sementara harga tomat melonjak dari Rp10.000/kg ke Rp13.000/kg.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Kenaikan signifikan juga terjadi pada harga cabai hijau, yang naik Rp12.000/kg menjadi Rp25.000/kg.
“Ini karena panennya sulit, karena hujan. Kalau barangnya di kebun mah banyak. Tapi kalau pagi sudah hujan, siang hujan, ya nggak bisa panen,” ujar Parmo, salah satu pedagang di Pasar Inpres Sabeni Tanah Abang, kepada BBC Indonesia.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Bahan pokok yang didagangkan Parmo, sebagian besar berasal dari Cirebon, Jawa Barat.
Lebih dari 700 hektare lahan sawah dan perkebuan, telah terendam banjir di kawasan ini dalam dua minggu terakhir.
Akibat cuaca ekstrem
Meskipun hujan lebat baru mengakibatkan banjir dalam kurang sebulan terakhir, dampak cuaca ekstrem terhadap sektor pertanian telah terasa sejak Januari 2016. <link type="page"><caption> Dampaknya bahkan berpengaruh pada nilai ekspor Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160205_indonesia_prtumbuhan_menurun" platform="highweb"/></link>.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Berdasarkan Laporan Ekspor dan Impor Januari 2016, yang diluncurkan BPS, Senin (15/02), ekspor sektor pertanian sepanjang Januari turun hampir 7%, dari USD287 juta pada Januari 2015, menjadi US$268 juta pada Januari tahun ini.
Penurunan angka ekspor di sektor pertanian ini ikut berkontribusi terhadap melemahnya nilai ekspor Januari 2016 menjadi US$10,50 miliar atau turun 20,72% dibandingkan Januari tahun lalu.

Sumber gambar, Danang Hamid
“Bukan hanya karena hujan, <link type="page"><caption> tetapi juga karena El Nino yang mulai terjadi Oktober lalu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151230_majalah_elnino_2016" platform="highweb"/></link>. Dan sekarang ditambah lagi, hujan,” ujar Suryamin.
Meskipun begitu, Suryamin menegaskan nilai ekspor tidak anjlok lebih dalam lagi karena dibantu produksi dan ekspor tanaman yang “tidak terlalu berpengaruh musim”, seperti kopi dan lada putih yang nilai ekspornya pada Januari 2016, rata-rata naik 11% dibanding Desember 2015.
Warga ‘santai’
Kenaikan harga bahan makanan akibat cuaca ekstrem diprediksi bisa terus terjadi mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, El Nino akan membuat musim hujan akan berlangsung hingga April mendatang.

Sumber gambar, Danang Hamid
Namun, kenaikan tersebut tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada keinginan masyarakat untuk berbelanja bahan makanan.
Parmo, pedagang sayur-mayur dan cabai di Pasar Inpres Sabeni menyebut bahwa kenaikan harga dagangannya pada musim hujan ini, “belum berpengaruh pada penghasilannya”.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Begitu pula dengan Amri, Ibu paruh baya yang rutin berbelanja di salah satu pasar tradisional di Jakarta Pusat itu.
“Buat saya sih, sama saja ya. Karena ini kan kebutuhan. Tapi yang namanya (harga) naik, ya pasti terasa,” tandasnya.









