Makhluk-makhluk pemakan paus di lautan dalam

Cacing sisik seluncur salju (snowboarding scale worm)

Sumber gambar, A Glover and T Dahlgren

Keterangan gambar, Cacing sisik seluncur salju (snowboarding scale worm) adalah spesialis pemakan bangkai paus yang meninggalkan jejak di atas hamparan putih bakteri yang menyelimuti bangkai tersebut.
    • Penulis, Katherine Latham
    • Peranan, BBC Future
  • Waktu membaca: 6 menit

Paus memiliki tubuh seberat beberapa truk kontainer. Bobot Paus Biru, misalnya, bisa mencapai 150 ton yang terdiri dari daging, lemak, hingga tulang.

Lalu apa yang terjadi saat tubuh seberat itu mati?

Paus biasanya mati jauh di tengah laut, di antara jalur migrasi mereka yang membentang sangat luas, ujar Greg Rouse, kurator invertebrata bentik di Scripps Institution of Oceanography, San Diego.

Pada awalnya, bangkai paus dapat mengapung karena gas di dalam tubuhnya membuatnya menggembung seperti balon.

Kemudian paus akan tenggelam hingga mencapai dasar samudra, tempat peristirahatan terakhirnya.

Bangkai paus

Sumber gambar, Alex Dawson

Keterangan gambar, Biasanya paus mati jauh di tengah laut, tetapi sebuah "kuburan dangkal" berisi sekitar 20 paus minke ditemukan di lepas pantai Greenland.

Dalam kematian, paus justru memberi kehidupan di laut dalam.

Biasanya, nutrisi yang tiba di kedalaman datang dalam wujud partikel-partikel kecil materi organik yang disebut "salju laut".

Namun ketika seekor paus jatuh ke dasar, bangkainya menjadi "pakan organik terbesar" di lantai samudra.

Satu paus saja setara dengan suplai salju laut selama ribuan tahun—dan kekayaannya dapat menopang seluruh ekosistem selama puluhan tahun.

Gelombang pertama pemakan bangkai

Komunitas pemakan bangkai laut dalam adalah kelompok pertama yang datang, ujar Adrian Glover, ahli ekologi laut dalam di Natural History Museum, London.

"Kelompok ini mencakup vertebrata seperti hagfish dan sleeper shark, serta banyak amfipoda pemakan bangkai—krustasea mirip udang. Mereka melahap dagingnya hingga tulang tersingkap."

Fase yang disebut "mobile scavenger phase" ini, katanya, dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Hagfish

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Hagfish adalah satu-satunya makhluk vertebrata yang punya tengkorak tapi tidak punya tulang punggung.

Hagfish adalah satu-satunya hewan hidup yang diketahui memiliki tengkorak tanpa tulang belakang. Mereka menyelamkan wajah terlebih dahulu ke dalam bangkai dan memakannya dari dalam ke luar.

Hagfish memiliki taktik pertahanan diri yang luar biasa: ketika diserang, mereka mengeluarkan lendir yang membuat predator mundur atau bahkan tersedak.

Ikan globehad whiptail

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Ikan globehad whiptail ini merupakan spesies rattail laut dalam yang termasuk pemakan bangkai.

Ikan rattail dapat tumbuh hingga satu meter dan hidup di kedalaman 4.000 meter.

Di wilayah tanpa cahaya matahari itu, satu-satunya cahaya berasal dari organisme hidup—dan mata besar berwarna biru pada rattail mampu menangkap kilatan bioluminesensi sekecil apa pun yang mengungkap keberadaan mangsa.

Barbel kecil di dagunya berfungsi seperti kumis, merasakan gerakan organisme lezat seperti krustasea atau cacing yang bersembunyi tepat di bawah lumpur dasar laut.

Indera penciumannya yang tajam membantu rattail menemukan bangkai membusuk seperti jasad paus yang tenggelam.

Pemakan bangkai yang 'oportunis'

Setelah para pemakan bangkai besar kenyang dan tulang-tulang tersisa, penjamah kecil mulai berdatangan.

"Osedax — cacing pemakan tulang — muncul dalam jumlah besar," ujar Rouse.

Osedax adalah jenis cacing polikaeta. Dikenal sebagai bristle worms, kelompok cacing bersegmen ini sangat beragam dan melimpah, dapat memenuhi bangkai paus hingga ribuan ekor.

Beberapa spesies ini bahkan hanya pernah ditemukan di lokasi jatuhnya bangkai paus.

Cacing Osedax

Sumber gambar, Adrian Glover

Keterangan gambar, Osedax menembus tulang paus dengan akar mereka yang penuh bakteri, sementara sulur-sulur berbulu di tubuhnya menyerap oksigen dari air terbuka.

Salah satu spesiesnya, Osedax mucofloris, yang dijuluki bunga lendir pemakan tulang pertama kali ditemukan pada 2005 pada bangkai paus. Cacing ini menyuntikkan asam ke dalam tulang.

"Seolah-olah mereka memasukkan usus mereka ke dalam tulang dan menyerapnya langsung — cukup aneh," kata Glover.

Dalam kurun satu dekade, seluruh populasi organisme dapat tumbuh, hidup, dan mati pada satu bangkai paus.

Ketika rangka benar-benar habis dikonsumsi, tepat sebelum mati, Osedax melepaskan larva yang kemudian hanyut terbawa arus laut dengan harapan menemukan bangkai paus lain untuk menetap dan memulai siklus yang sama.

"Mereka mende-kalsifikasi tulang untuk mencapai kolagennya," jelas Rouse.

"Tulang kemudian menjadi sangat berpori dan bisa dicabik-cabik oleh kepiting atau pemakan bangkai lainnya."

Kepiting laba-laba

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Kepiting laba-laba bermigrasi dalam jumlah ribuan ekor dari laut dalam ke perairan yang lebih dangkal untuk berkembang biak dan berganti kulit.

Materi organik pun tumpah ke dasar laut, memperkaya sedimen di sekitarnya. Puluhan ribu cacing, moluska, dan krustasea oportunis berdatangan untuk mengisap sisa-sisa lemak atau daging serta mengaduk sedimen dasar laut.

Kepiting laba-laba Jepang diyakini dapat hidup hingga 100 tahun dan merupakan kepiting terbesar di dunia.

Tubuh utamanya dapat tumbuh hingga lebar 30cm, tetapi kakinya terus memanjang hingga mencapai bentang 3,8 meter—hampir sepanjang mobil kecil.

Koridor paus

Pada saat para pemakan bangkai tengah mengurai tulang-tulang tersebut, sekelompok pengurai yang lebih khusus mulai bergabung dalam "pesta" — dan mereka dapat berpesta selama hingga 50 tahun.

Inilah fase sulfrofilik, atau fase "pecinta belerang". Saat bakteri terus memecah tulang, gas hidrogen sulfida dilepaskan. Gas inilah yang menjadi sumber makan bagi organisme kemosintetik.

Cacing laut kemosimbiotik

Sumber gambar, Phillipe Crassous/ Science Photo Library

Keterangan gambar, Cacing laut kemosimbiotik di lautan dalam ini biasanya hidup di ventilasi hidrotermal. Organisme ini juga pernah ditemukan sedang menyantap bangkai paus.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kemoautotrof adalah organisme yang bisa menghasilkan energi dari reaksi kimia—suatu proses yang disebut kemosintesis—berbeda dengan tumbuhan yang membutuhkan cahaya matahari dan karbon dioksida untuk melakukan fotosintesis.

Mikroba pemakan senyawa kimia ini sering membentuk hubungan simbiosis erat dengan inang invertebrata, dan menyediakan hampir seluruh nutrisi yang mereka butuhkan.

"Kemampuan organisme untuk berevolusi dan memanfaatkan adaptasi yang luar biasa, aneh, dan menakjubkan di lingkungan ekstrem seperti ini… selalu membuat kami tercengang," ujar Glover.

Kemoautotrof hanya ditemukan di empat habitat laut dalam yang khas:

ventilasi hidrotermal, rembesan dingin (cold seeps), kayu yang tenggelam (wood falls), dan bangkai paus (whale falls).

Kini, para ahli mengatakan bangkai paus berperan sebagai batu loncatan ekologis, memungkinkan hewan-hewan spesialis menyebar melintasi dasar laut yang biasanya tandus.

Dalam hidupnya, paus menyuburkan lautan dan membawa karbon ke kedalaman, membantu menjaga kelimpahan kehidupan laut serta menstabilkan iklim.

Dalam kematiannya, satu ekor paus dapat menyediakan makanan, habitat, dan peluang hidup bagi puluhan ribu organisme laut—bahkan di lingkungan yang paling keras sekalipun.

Hadiah terakhirnya bagi Bumi: sebuah ekosistem baru yang utuh.