Trump ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau AS akan hancurkan pembangkit listrik

Citra satelit Selat Hormuz

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Gavin Butler
    • Penulis, Toby Mann
    • Penulis, Patrick Jackson
    • Penulis, BBC Persian
  • Waktu membaca: 6 menit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam. Jika Iran tidak patuh, kata Trump, Washington akan "menghancurkan" berbagai pembangkit listrik Iran.

Berikut pernyataan lengkapnya:

"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!"

Unggahan itu dipublikasikan pada 21 Maret pukul 23.44 GMT.

Artinya, Iran memiliki waktu hingga 23.44 GMT pada 23 Maret—atau pukul 03.14 waktu Teheran pada 24 Maret (06.44 WIB)—untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Seberapa penting Selat Hormuz?

Selat Hormuz diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) di selatan.

Koridor strategis ini—dengan lebar sekitar 50 km di kedua ujungnya, serta menyempit hingga sekitar 33 km di titik tersempit—menghubungkan Teluk dengan Laut Arab.

Peta Selat Hormuz

Selat tersebut cukup dalam untuk dilintasi kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia dan menjadi jalur utama bagi produsen minyak serta LNG di Timur Tengah, termasuk negara-negara pelanggan mereka.

Pada 2025, sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya melewati Selat Hormuz setiap hari, menurut perkiraan Administrasi Informasi Energi AS (EIA).

Nilai perdagangan energi yang melalui jalur ini mencapai hampir US$600 miliar (Rp10.173 triliun) per tahun.

Minyak yang melintas tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.

Peta selat Hormuz

Sekitar 20% gas alam cair (LNG) global turut dikirim melalui selat tersebut, sebagian besar dari Qatar. Pada 2024, Qatar mengekspor sekitar 9,3 miliar kaki kubik per hari (Bcf/d) LNG melalui Hormuz, sementara UEA mengekspor sekitar 0,7 Bcf/d, menurut data pemerintah AS.

LNG adalah gas yang dicairkan sehingga volumenya menyusut hingga 600 kali lebih kecil untuk memudahkan transportasi. Sesampainya di tujuan, LNG dikembalikan ke bentuk gas untuk kebutuhan pemanas, memasak, hingga pembangkit listrik.

Hormuz juga menjadi jalur vital untuk ekspor pupuk dari Timur Tengah. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia biasanya melewati selat ini.

Kapal mana saja yang masih bisa melintasi Selat Hormuz?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Menurut perhitungan kantor berita AFP pada 18 Maret, sedikitnya 21 kapal telah terkena serangan, menjadi sasaran, atau melaporkan adanya upaya penyerangan sejak perang dimulai.

Salah satu kapal yang mengalami ledakan mengangkut empat ABK asal Indonesia. Dari keempat WNI tersebut, sebanyak tiga orang belum diketahui nasibnya.

Meski demikian, masih ada sejumlah kapal yang bisa melintas Selat Hormuz.

Analisis dari data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.

Baca juga:

Sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.

Padahal sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat itu setiap hari, berdasarkan data Joint Maritime Information Centre. Kapal-kapal itu diandalkan untuk membawa seperlima pasokan minyak global.

Laporan serangan di Selat Hormuz

"Kapal bisa diserang, dan pemilik kapal tidak bisa mendapatkan asuransi atau biayanya menjadi sangat mahal. Karena itu, kapal-kapal harus menunggu sampai situasinya kembali aman," ujar Arne Lohmann Rasmussen, analis utama di Global Risk Management, penyedia analisis pasar energi, kepada CBS News, mitra BBC di AS.

"Meski tidak ada blokade fisik, ancaman dari Iran, ditambah serangan drone dan rudal, membuat kapal tanker tidak berani melintas di selat," katanya.

Harga bahan bakar global melonjak sejak pecahnya perang. Harga minyak mentah telah menembus di atas US$100 per barel — naik hampir 70% sepanjang tahun ini dan hampir 50% dibandingkan tahun lalu.

Apakah AS sudah berupaya membuka Selat Hormuz?

Sejauh ini, Amerika Serikat belum mengerahkan kapal perangnya ke Selat Hormuz. Aksi militer AS terbatas pada serangan udara, termasuk serangan terhadap kapal Angkatan Laut Iran.

Pada 18 Maret, misalnya, militer AS melaporkan telah membombardir lokasi peluncur rudal jelajah anti-kapal milik Iran di sepanjang selat.

Para personel militer Iran melalui Selat Hormuz.

Sumber gambar, Atta Kenare / Getty Images

Keterangan gambar, Para personel militer Iran melalui Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna melindungi kapal-kapal dagang serta memulihkan pasokan minyak dunia. Namun, sejauh ini permintaannya dijawab dengan sejumlah penolakan.

UK, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang termasuk di antara negara yang secara tegas menyatakan tidak akan mengirim kapal dalam perang melawan Iran.

"Apa yang diharapkan Trump dari segelintir [kapal] fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?" cetusnya.

"Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya."

Menanggapi respons negara-negara tersebut, Trump berkata AS sebenarnya tidak perlu bantuan mereka.

Ancaman terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz

AS pernah menggunakan kekuatan militernya untuk memulihkan kelancaran lalu lintas maritim di selat tersebut.

Kapal tanker di Selat Hormuz.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pada 2025, sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya melewati Selat Hormuz setiap hari.

Pada akhir 1980-an, ketika perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun memanas, serangan terhadap fasilitas minyak berubah menjadi "perang tanker". Kedua negara saling menyerang kapal-kapal netral untuk menekan ekonomi lawan.

Kapal tanker Kuwait yang mengangkut minyak Irak menjadi salah satu yang paling rentan.

Pada akhirnya, kapal-kapal perang AS mulai mengawal kapal-kapal tanker melintasi Telu—sebuah operasi yang kemudian menjadi salah satu aksi pertempuran laut terbesar sejak Perang Dunia II, menurut Institut Angkatan Laut AS.

Dapatkah eksportir energi menghindari Selat Hormuz?

Ancaman penutupan Selat Hormuz yang terus berulang selama bertahun-tahun mendorong negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk mengembangkan jalur darat alternatif.

Arab Saudi mengoperasikan pipa minyak mentah East–West sepanjang 1.200 km, yang mampu mengalirkan hingga lima juta barel minyak per hari, menurut pemerintah AS.

Jalur alternatif menghindari Selat Hormuz

Pada masa lalu, kerajaan itu juga sempat mengalihkan fungsi pipa gas alam untuk sementara waktu menjadi jalur pengangkutan minyak mentah.

UEA telah menghubungkan ladang-ladang minyak pedalamannya ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman melalui jaringan pipa yang memiliki kapasitas sedikitnya 1,5 juta barel per hari.

Minyak sebenarnya bisa dialihkan lewat infrastruktur alternatif tersebut untuk menghindari Selat Hormuz. Namun, menurut kantor berita Reuters, langkah itu akan memangkas pasokan global sekitar 8–10 juta barel per hari.

Selain itu, aktivitas pemuatan minyak di Fujairah juga terganggu akibat serangan drone.