Spider-Verse: Inikah film adaptasi buku komik terbaik?

spider verse

Sumber gambar, Sony Pictures

    • Penulis, Kambole Campbell
    • Peranan, BBC Culture

Di tengah terpukaunya banyak penonton bioskop atas sekuel Spider-Man: Across the Spider-Verse, penulis BBC Culture, Kambole Campbell, memaparkan bagaimana film superhero ini benar-benar menghormati materi sumbernya.

Film baru Spider-Man: Across the Spider-Verse muncul dalam lanskap sinematik yang agak berbeda dari film pendahulunya, Spider-Man: Into the Spider-Verse, lima tahun lalu.

Untuk yang belum tahu, film animasi Spider-Man ini menempatkan pahlawan utamanya, Miles Morales, di dalam dunia "multiverse" dengan berbagai wujud Spider-Man.

Walau multiverse baru muncul pada 2018, konsep itu cukup sering dihadirkan dalam film yang diangkat dari komik, khususnya film-film Marvel Cinematic Universe. Tapi para pembuat film belajar dari kesalahan Spider-Man: Into the Spider-Verse.

Dalam film terbaru, mereka memanfaatkan konsep multiverse untuk menampilkan berbagai inkarnasi karakter Spider-Man yang dapat dipasangkan bersama sesuka hati. Pada saat bersamaan, film baru ini menampilkan daya pikat Spider-Verse sesungguhnya, yaitu wujud visual yang unik dari komik superhero, menjadi bahasa visual yang segar.

Dalam Spider-Verse, multiverse berarti kesempatan untuk melanggar beberapa aturan, alih-alih menyesuaikan diri dengan formula tertentu.

Baca juga:

Film pertama menonjol karena cara sutradara Peter Ramsay, Rodney Rothman, dan Bob Persichetti menampilkan dunia Miles, gaya segar yang lahir dari penggabungan teknik animasi tradisional dan seni komik ke dalam teknologi baru. Kemunculannya yang kerap mengeluarkan elemen-elemen ini membuat Miles Morales, karakter yang relatif baru dalam buku komik Marvel, terasa selalu ada dari dulu dan setiap bagiannya sama ikoniknya dengan Peter Parker.

spider verse

Sumber gambar, Sony Pictures

Keterangan gambar, Secara visual, film kedua Spider-Verse lebih menakjubkan ketimbang film pertama.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Ketika film superhero lain mungkin mengambil sebuah cerita dan mungkin satu atau dua komposisi terkenal dari bahan sumber grafis, tim pembuat film dan seniman dalam dua film Spider-Verse bekerja bersama untuk menghidupkan dinamisme buku komik.

Film Spider-Verse pertama mendapat pujian karena kombinasi bahasa animasi dan film sehingga tampak seperti isi buku komik. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam penggunaan efek suara tertulis di layar, seperti suara Spider-Man klasik "thwip!". Atau "kartu meledak" - gambar 2D yang muncul di tengah aksi untuk menekankan sesuatu. Saat-saat seperti itu terasa tertunda sebentar, seperti sedang mengamati panel seni menjadi hidup dan meledak di layar lebar.

Sangat jarang melihat film buku komik benar-benar menggunakan tekstur dan kualitas cetak yang taktil; banyak yang mencatat penggunaan halftone, Ben-Day dots dan "Kirby Krackle" (kumpulan titik pertama kali digunakan oleh seniman buku komik terkenal Jack Kirby untuk menyiratkan energi kosmik).

Dalam sejumlah wawancara, Justin K Thompson – desainer produk Into the Spider-Verse, sekarang salah satu sutradara Across the Spider-Verse – menyoroti animasi dari visual cetak yang tidak sempurna. Contohnya adalah ketika terdapat ketidaksesuaian warna akibat proses cetak empat warna.

Berkat kerja tim seniman dan animator yang sangat besar (berjumlah lebih dari 1.000 orang), Across the Spider-Verse menggandakan kelebihan sensorik film pertama yang menggembirakan, bereksperimen secara visual serta narasi cerita Spider-Man yang bisa ditampilkan di layar.

Setiap elemen formal dari film sebelumnya bahkan lebih menonjol, seperti cara beberapa karakter dianimasikan "berdua" - 12 bingkai per detik waktu layar – alih-alih "satu" - pada 24 bingkai per detik, yang merupakan standar animasi 3D. Penundaan sangat kecil yang dihasilkan di antara bingkai menciptakan efek yang terasa seperti gerakan membalik halaman.

Namun dengan diperkenalkannya karakter Spider-Punk/Hobie Brown di film baru yang disuarakan oleh Daniel Kaluuya, para animator melakukan sesuatu yang lebih mempesona. Di sini, berbagai elemen dari karakter yang sama, semuanya bergerak dengan kecepatan berbeda. Alih-alih hanya bergerak satu atau dua, tubuhnya juga bergerak "bertiga" dan gitarnya "berempat" - sesuai dengan karakter anarkisnya. Alih-alih memunculkan kesan membalik halaman, dia seperti sekumpulan halaman yang dilemparkan ke arah penonton.

Across the Spider-Verse juga memperluas paletnya untuk mencerminkan luasnya seni buku komik, menggunakan perjalanan kaleidoskopiknya ke berbagai alam semesta di multiverse untuk melangkah lebih jauh melampaui tekstur semesta pertama, dengan menambahkan metode seniman yang berbeda. Yang pertama kita lihat adalah alam semesta Gwen Stacy/Spider-Woman, yang mengacu pada sapuan kuas ekspresif Robbi Rodriguez pada komik Spider-Gwen 2015.

Ini adalah salah satu upaya Powers, Dos Santos, dan Thompson dalam memasukkan identitas lebih banyak seniman ke dalam film.

Contoh lain, para sutradara mengutip teknik penintaan salah satu pencipta Spider-Man 2099, Rick Leonard, selama pengembangan visual Spider-Man 2099 (disuarakan oleh Oscar Isaac). Film itu juga memunculkan versi Ben Reilly, alias Scarlet Spider, yang rancangan awalnya dibuat seniman Tom Lyle sambil berkelakar soal komik tahun 1990-an.

Jika Spider-Verse pertama menyalurkan kecintaan pada tekstur media komik pada proses pembuatan film, Across the Spider-Verse melihat perkembangannya selama beberapa dekade. Dan melalui narasinya, film tersebut berpikir tentang perlunya terus berubah, mempertanyakan kesesuaian pada kisah pahlawan super dan kiasan bertahun-tahun.

Sementara itu, The Spot yang merupakan tokoh penjahat utama dalam Across the Spider-Verse adalah ekspresi sempurna dari ketidaksempurnaan tangan seniman film tersebut.

The Spot dan Spider-Man 2099 mempertahankan garis sketsa geometris, sengaja menggantungnya seperti gambar yang belum selesai. Namun, The Spot punya keunikan sendiri, yaitu penampilan putihnya yang tertutup bercak gelap terlihat seperti halaman yang kena tumpahan tinta.

Kesan ketidaksempurnaan itulah yang dibangun ke dalam karakter. Tokoh The Spot didorong oleh kemarahan karena menjadi lelucon kosmik yang kejam, hasil sampingan yang tidak disengaja dari petualangan orang lain.

Saat dia dan Miles terpental di antara alam semesta yang sangat bervariasi dari film sekuelnya, menjadi jelas bahwa ketidaksesuaian visual Across the Spider-Verse adalah tematik, ekspresi penolakan Miles untuk menyesuaikan diri dengan kotak narasi yang coba ditempatkan oleh guru sekolahnya dan sesama Spider-People di sekelilingnya.

The Spot yang merupakan tokoh penjahat utama dalam Across the Spider-Verse

Sumber gambar, Sony Pictures

Keterangan gambar, The Spot yang merupakan tokoh penjahat utama dalam Across the Spider-Verse.

Seringkali, film-film pahlawan super kontemporer cukup dengan mengangkat alur cerita dari buku komik, dengan sedikit roh karakter-karakter di dalamnya. Tapi film-film Spider-Verse benar-benar menghormati roh karakter-karakter dalam buku komik.

Tentu saja ini bukan satu-satunya cara untuk mengadaptasi buku komik dengan baik. Tapi untuk saat ini, film tersebut adalah yang paling sesuai dengan semangat media komik, dan bukti potensi animasi yang ekspresif.

Itu karena visual Spider-Verse bukan hanya pelengkap cerita – tapi juga bagian dari cerita. Memang, mereka tampaknya telah menyalakan api orang-orang yang tepat di Hollywood, menandai booming pendekatan beragam untuk film-film animasi baru-baru ini seperti The Mitchells Versus the Machines,Puss in Boots: The Last Wish dan Turtles: Mutant Mayhem (beberapa di antaranya memiliki kru yang sama dengan film Spider-Verse).

Kedua film Spider-Verse – yang akan diakhiri dengan film ketiga Maret mendatang – juga mengingatkan bahwa penulis hanyalah setengah dari apa yang membuat buku komik.

Ingatlah para juru warna, juru tinta, juru aksara, dan pembuat sketsa memiliki otoritas yang sama besarnya atas penggambaran karakter-karakter ini seperti halnya para penulis. Ketika begitu banyak film hanya memperlakukan buku komik sebagai wadah untuk kekayaan intelektual, film Spider-Verse sekali lagi keluar dari formula, merangkul potensi sebenarnya dari film buku komik.

Artikel ini dapat dibaca dalam versi bahasa Inggris dengan judul Why the Spider-Verse films are the greatest comic book movies ever made di BBC Culture.