Mantan wali kota di Filipina yang dituduh mata-mata China akan ditukar dengan bandar narkoba buron BNN?

Sumber gambar, AFP
Penangkapan Alice Guo—mantan wali kota Bamban di Filipina—disebut membuka peluang negosiasi dengan otoritas Filipina untuk melakukan pertukaran dengan Gregor Johann Haas, yang dicari Badan Narkotika Nasional (BNN).
Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri, Irjen Pol Krishna Murti, menyebut pihaknya sedang bernegosiasi dengan pemerintah Filipina terkait dengan pertukaran Alice Guo dengan Gregor Johann Haas.
“Itu bagian pembicaraan. Insya Allah, akan terlaksana dengan proses dan waktu yang mana saat ini sedang dikerjakan dan kita tunggu nanti hasilnya,” ujar Krishna seperti dilansir kantor berita Antara pada Kamis (05/09) malam.
Krishna menyatakan ini ditemui usai menyerahkan Alice Guo kepada pemerintah Filipina yang diwakili oleh Menteri Dalam Negeri Filipina Benjamin Abalos Jnr di Gedung Polda Metro Jaya.
Meski begitu, secara terpisah, juru bicara Departemen Kehakiman Filipina, Mico Clavano, mengatakan bahwa belum ada permintaan yang diajukan kepada pemerintah Filipina mengenai pertukaran tahanan.
“[Departemen Kehakiman Filipina] bergantung kepada Departemen Luar Negeri untuk permintaan seperti ini. Tanpa komunikasi resmi dari Departement Luar Negeri, kami tidak bertindak,” ujar Clavano kepada wartawan BBC di Manila, Virma Simonette, melalui pesan teks pada Kamis (05/09).
Dalam konferensi pers terpisah di Manila pada Jumat (06/09) pagi ini, Abalos Jnr, dalam konferensi pers mengatakan bahwa "hal itu tidak dibicarakan."

Sumber gambar, Reuters
Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Roy Soemirat, menjelaskan pihaknya sejauh ini “belum mendengar apa pun” tentang pertukaran tahanan dalam bentuk permintaan resmi.
“Perlu cek juga juga Kemenkopolhukam [Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan],” ujar Roy kepada wartawan Amahl Azwar yang melaporkan untuk BBC News Indonesia pada Jumat (06/09).
Namun, Roy menyebut masing-masing kementerian luar negeri terus melakukan komunikasi mengenai hal seperti ini.
“Secara paralel juga terdapat kebiasaan bahwa lembaga penegak hukum dari kedua negara terus lakukan komunikasi juga di tingkat teknis,” ujarnya.
Gregor Johann Haas—diklaim sebagai gembong narkoba jaringan Asia—ditangkap di Cebu, Filipina, pada Mei 2024 silam.
Mengutip Tempo.co, Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Brigadir Jenderal Sulistyo Pudjo Hartono menjelaskan, Gregor Haas merupakan warga negara Australia yang tinggal di Gili Trawangan, Lombok Utara.
Meski sudah ditangkap, Gregor Haas hingga kini masih ditahan di Filipina.
Siapa Gregor Haas?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kepala Biro Humas dan Protokol Badan Narkotika Nasional Indonesia (BNN), Sulistyo Pudjo Hartono, menyebut pihaknya mempunyai alasan untuk meyakini Gregor Johann Haas memiliki keterkaitan erat dengan operasi penyelundupan narkoba internasional.
Jaringan kartel Meksiko yang dimaksud adalah Kartel Sinaloa yang sudah tersohor.
Sulistyo menyebut Haas diyakini memiliki hubungan dengan jaringan narkoba di Indonesia dan terlibat penyelundupan narkoba asal Meksiko ke Indonesia.
Meski begitu, Sulistyo menekankan pihak berwenang masih menyelidiki keterkaitan Haas dengan kartel serta hubungannya dengan kasus narkoba di Indonesia. Penyelidikan akan berlanjut setelah Haas diserahkan pihak berwenang Filipina ke Indonesia dan Haas menjalani proses penyelidikan.
“Keterkaitan ini akan kami ketahui setelah kami menginterogasi dia di Indonesia,” jelas Sulistyo kepada wartawan Amahl Azwar yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Di sisi lain, Sulistyo menambahkan pihak berkomunikasi dengan pemerintahan Australia dan berkomitmen bahwa Haas tidak akan dieksekusi mati.
Sulistyo menyebut dirinya belum bisa banyak memberikan informasi lebih lanjut karena penyelidikan masih berlangsung.
Seperti dilansir Tempo pada 14 Juli, sebuah paket yang dibungkus ala keramik tiba di satu gedung perusahaan logistik di Bandara Soekarno-Hatta pada akhir November 2023.
Paket yang dikirim dari seseorang di Meksiko itu rupanya bukanlah keramik, melainkan sabu seberat 5,1 kilogram. Berangkat dari situ, BNN menangkap enam orang bagian dari sindikat narkoba.
Berdasarkan pengakuan para tersangka, Haas diketahui sebagai orang yang mengendalikan pengiriman sabu tersebut.
Haas yang kemudian menjadi buronan BNN kemudian ditangkap polisi Indonesia dan kepolisian Filipina di Cebu, Filipina, pada 15 Mei lalu.
Alice Guo dideportasi ke Filipina
Alice Guo telah dideportasi ke Filipina, pada Kamis (05/09).
Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, Saffar Muhammad Godam, menyebut pendeportasian dilakukan pada pukul 18.00 WIB dengan bekerja sama dengan Biro Investigasi Nasional dan Biro Imigrasi Filipina.
Godam menambahkan, Guo telah menjalani pemeriksaan intensif oleh kepolisian sebelum dideportasi.

Sumber gambar, Ditjen Imigrasi
Secara terpisah, Gugum Ridho Putra selaku pengacara Alice Guo di Indonesia mengeklaim kliennya datang ke Indonesia dengan tujuan mengajukan permohonan suaka politik.
Gugum mengeklaim Guo merasa bahwa tuduhan pencucian uang yang dialamatkan kepadanya memiliki motif politik.
"Sebetulnya masalah dia tidak murni karena kriminal. Ada latar belakang politik juga. Jadi, dia ingin mendaftarkan diri menjadi asylum atau suaka politik [di Indonesia]," ujar Gugum seperti dilansir kantor berita Antara.
Menurut Gugum, bahwa kasus pencucian uang yang melibatkan Guo terkait dengan praktik perjudian daring yang sebelumnya dianggap legal di Filipina.
Namun, perubahan kebijakan di bawah pemerintahan baru membuat praktik tersebut dikategorikan sebagai ilegal, sehingga muncul tuduhan pencucian uang.
"Kalau kami melihat, kasus ini bermuatan politis karena berbeda rezim dan berbeda kebijakan. Makanya, kalau suaka politik itu memungkinkan kalau orang itu meminta perlindungan atas alasan politik, kecuali kalau karena alasan pidana," tegasnya.
Namun, sambung Gugum, Alice Guo tidak sempat mengajukan suaka politik karena sudah ditangkap polisi Indonesia.
"Alice datang ke Indonesia dalam keadaan legal. Dia dibawa kembali ke Filipina pun juga murni karena pemerintah Filipina, mekanisme police to police," tegasnya.
Foto Alice Guo tersenyum lebar bersama aparat Filipina tuai protes di media sosial

Di Filipina, foto-foto ‘kepulangan’ Alice Guo ke negaranya setelah dideportasi dari Indonesia memicu protes dari jagad maya.
Dalam salah satu foto, Alice Guo terlihat tersenyum lebar dan membuat tanda damai dengan Menteri Dalam Negeri F Benjamin Abalos Jnr dan pejabat Kepolisian Nasional Filipina, Jenderal Rommel Marbil. Kedua pejabat itu juga tersenyum lebar.
Foto itu diduga diambil sebelum mereka naik pesawat pribadi tujuan Manila di Jakarta pada Kamis (06/09) malam.
Seperti dilaporkan BBC Manila, Abalos Jnr yang menjemput Guo dari Jakarta berkilah dan mengatakan foto itu diambil untuk “dokumentasi”.
Abalos Jnr mengeklaim dirinya tidak sadar Guo berpose dengan senyuman lebar dan membuat tanda damai.
“Dia meminta untuk berbicara dengan saya dan kepala [kepolisian nasional] karena dia menerima ancaman pembunuhan. Saya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak perlu takut karena polisi akan melindunginya,” ujar Abalos Jnr dalam konferensi pers di Manila pada Kamis (05/09).
“Kami ingin mendokumentasikannya agar semuanya jelas. Saya tidak bisa melihat apa yang dia lakukan karena mata saya tertuju ke kamera,” katanya.
Dalam konferensi pers yang sama, Guo, mengonfirmasi dirinya memang memberitahukan kepada Abalos Jnr dan kepala kepolisian Rommel Marbil tentang ancaman terhadap nyawanya.
“Saya meminta bantuan mereka. Saya juga senang bertemu mereka. Saya merasa aman,” katanya.
Di konferensi pers itu, Guo telah mengenakan baju tahanan polisi berwarna oranye. Di bandara Jakarta, dia terlihat masih berpakaian santai dengan kaos bergaris putih dan jeans. Dia juga tidak diborgol.

Foto lainnya dari Biro Investigasi Nasional Filipina menunjukkan Guo tersenyum dengan pihak berwenang di kursi belakang kendaraan.
Kritik di media sosial pun cepat berdatangan.
“Kami menginginkan jawaban, BUKAN pemotretan. Alice Guo, si orang Filipina palsu, harus menjelaskan banyak hal,” kata Senator Risa Hontioveros, yang memimpin penyelidikan di parlemen ihwal kasus Guo.
“Sistem peradilan Filipina adalah sirkus semata,” kata seorang pengguna X.
“Salah satu pemberitaan paling mengganggu saat ini. Bagaimana bisa seorang Alice Guo bisa tetap tersenyum dan mengedipkan mata seakan-akan dia bintang film?” kata pengguna X lainnya.
Pengguna X lainnya menyebut Abalos Jnr dan Marbil berfoto dengan seseorang yang “menyimbolkan kegagalan mereka”.
Penangkapan Alice Guo di Indonesia
Berdasarkan keterangan Ditjen Imigrasi Indonesia, Alice Guo ditangkap pada Selasa (03/09) pukul 23.58 di Curug, Kabupaten Tangerang, Banten.
Kepala Divisi Hubinter Polri, Irjen Krishna Murti, menyatakan Alice Guo ditangkap oleh tim gabungan Divisi Hubinter Polri dengan Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polresta Bandung.
Perempuan berusia 34 tahun itu diduga melakukan beberapa tindak kriminal, antara lain tindak pidana perdagangan orang (TPPO) hingga pencucian uang.
Menteri Kehakiman Filipina, Jesus Crispin Remulla, menyambut baik perkembangan tersebut. Dia mengatakan penangkapan Guo merupakan bukti dari upaya tak kenal lelah dari lembaga penegak hukum dan kekuatan kerja sama internasional dalam membawa buronan ke pengadilan.

Sumber gambar, Social Media
“Kami akan memastikan bahwa semua proses hukum diikuti untuk meminta pertanggungjawabannya atas kejahatan yang dilakukan. DOJ berkomitmen untuk mengejar keadilan dan akan terus berkoordinasi erat dengan pihak berwenang Indonesia untuk memfasilitasi prosedur hukum yang diperlukan,” katanya.
Guo diduga terlibat dalam judi ilegal Philippine Offshore Gaming Operators (POGO) di negara tersebut. Status kewarganegaraannya pun dipertanyakan.
Guo meninggalkan Filipina pada 18 Juli lalu. Perempuan itu dilaporkan tiba di Singapura pada 21 Juli, dan melakukan perjalanan ke Indonesia pada 18 Agustus.
Adik perempuan Guo, Shiela, dan rekan bisnisnya, Cassandra Li Ong, sebelumnya ditangkap di Batam, Kepulauan Riau, dan telah dipulangkan ke Filipina, pada 22 Agustus lalu.
Selama sidang Subkomite Senat tentang Keadilan dan Hak Asasi Manusia, Shiela mengakui bahwa dia meninggalkan negara itu bersama Alice Guo menggunakan perahu.
Siapa Alice Guo?
Alice Guo dituduh mengizinkan sindikat perdagangan manusia dan pusat penipuan beroperasi di kotanya dengan menyamar sebagai kasino online.
Para senator juga menuduhnya sebagai agen atau mata-mata China karena jawaban-jawabannya “tidak jelas” saat menanggapi pertanyaan tentang asal usulnya.
Polisi telah mengajukan tuntutan pidana terhadapnya, sementara badan anti-korupsi Filipina baru-baru ini memecatnya dari jabatannya dengan alasan “pelanggaran berat”.
Alice membantah semua tuduhan tersebut.
Guo meninggalkan Filipina "secara ilegal" dan melewatkan pemeriksaan perbatasan, menurut Biro Imigrasi Filipina, yang mengatakan bahwa mereka mengetahui perjalanannya ke luar negeri melalui sumber-sumber intelijen.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, mengatakan dia akan "membongkar pelaku yang telah mengkhianati kepercayaan masyarakat dan membantu pelariannya [Alice Guo]."
Dia juga memerintahkan paspor Filipina milik Guo dinyatakan tidak berlaku.

Sumber gambar, Facebook/Mayor Alice Leal Guo
Alice Guo membantah tudingan bahwa dia mata-mata China. Dia mengaku dirinya merupakan "anak di luar nikah" antara pria asal China dan asisten rumah tangga asal Filipina.
Bamban adalah kota yang biasa-biasa saja di daerah penghasil padi di sebelah utara ibu kota Filipina, Manila.
Wali kotanya, Alice Guo, adalah seorang kepala daerah yang selalu terlihat sigap dan cekatan.
Perempuan berkacamata, berambut hitam panjang, dan suka mengenakan pakaian berwarna pink di depan umum ini berbicara bahasa Tagalog tanpa logat asing.
Berbagai elemen dalam kehidupan perempuan berusia 35 tahun ini dinilai mencurigakan - sampai dia dipanggil untuk bersaksi di depan sidang Senat awal bulan ini.
Alice Guo mengeklaim bahwa ia lahir di luar nikah, dari hubungan ayahnya warga China dengan asisten rumah tangga asal Filipina. Sehingga, ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di peternakan babi.
Ia juga membantah keterlibatannya dalam tindakan kriminal yang terjadi di kota pimpinannya.
Aparat penegak hukum Filipina menemukan bahwa kasino online di kotanya – yang dikenal secara lokal dengan istilah Pogo –sebenarnya adalah kedok pusat penipuan. Pogo adalah singkatan dari Operator Perjudian Lepas Pantai Filipina yang kliennya mencakup orang-orang China daratan.
Pihak berwenang menggerebek kasino tersebut pada bulan Maret lalu dan menyelamatkan hampir 700 pekerja, termasuk 202 warga negara China dan 73 orang asing lainnya yang dipaksa menyamar di dunia maya sebagai kekasih.
Bisnis-bisnis ini berkembang pesat pada masa pemerintahan Rodrigo Duterte, yang selama berkuasa dekat dengan Tiongkok.
Namun di bawah pemerintahan presiden saat ini Ferdinand Marcos, Pogo mendapat pengawasan ketat setelah diketahui bahwa beberapa di antaranya telah digunakan sebagai kedok perdagangan manusia dan operasi penipuan online.
Kasus Guo terungkap ketika sengketa wilayah antara Manila dan Beijing di Laut China Selatan sedang memanas.
'Saya anak luar nikah, bukan mata-mata China’
Alice Guo membantah tudingan bahwa ia seorang agen mata-mata China. Dia mengaku dirinya merupakan anak yang lahir di luar nikah dari hubungan seorang pria asal China dengan seorang asisten rumah tangga asal Filipina.
Menjawab tudingan bahwa ia adalah seorang mata-mata China, ia menjelaskan bahwa ibunya kabur saat ia masih bayi dan ia dibesarkan ayahnya di sebuah peternakan babi di Tarlac, provinsi di sebelah selatan ibu kota Manila.
”Saya adalah anak di luar nikah dari hubungan ayah saya dengan asisten rumah tangga… Ini adalah hal yang sangat pribadi. Saya tidak bisa secara terbuka mengungkapkan bahwa ibu saya meninggalkan saya,” katanya.
Ia meminta maaf kepada para senator karena tidak bisa menjelaskan latar belakang keluarganya saat sidang. Ia sebut “pikiran saya tiba-tiba kosong”.
Guo mengatakan bahwa ia merasa malu karena statusnya sebagai anak di luar nikah sehingga ia lebih sering tinggal diam di peternakan babi milik keluarganya.
”Saya tidak punya teman main. Saya tumbuh besar di peternakan tersembunyi,“ ujar Guo.
Saat memasuki masa remaja, ia mulai menggeluti bisnis ayahnya. Ia mengatakan dirinya sering membeli jagung dari kota-kota sekitar Tarlac untuk membuat pakan babi.
Lebih lanjut, Guo kembali menegaskan bahwa ia sama sekali tidak terlibat dengan permasalahan Pogo ataupun pusat perdagangan manusia dan operasi penipuan online.
Baca juga:
“Saya tidak memiliki kuasa itu. Saya hanya seorang warga biasa dari wilayah kelas dua. Saya tidak memiliki jaringan-jaringan seperti itu,“ ucapnya.
Presiden Ferdinand Marcos telah menugaskan pihak otoritas untuk menyelidiki status kewarganegaraan Guo dan memastikan agar warga asing tidak bisa memegang jabatan publik.
“Saya mendengar kabar bahwa saya mungkin dideportasi. Ibu saya sudah pergi meninggalkan saya. Apakah sekarang negara saya akan mendeportasi saya?“ kata Guo.
Ia berencana mencalonkan diri lagi untuk pemilihan tahun depan. Wali kota di Filipina boleh menjabat sebanyak tiga periode dengan setiap periode selama tiga tahun.
“Saya tidak akan mengundurkan diri. Saya akan terus melayani masyarakat,” ujarnya.
Kolam renang dan gudang penyimpanan anggur
Alice Guo kedapatan memiliki setengah dari tanah tempat Pogo berdiri, tepat di belakang kantornya.
Dia mengeklaim menjual properti itu sebelum dia mencalonkan diri sebagai wali kota dua tahun lalu.
Sebuah rekaman vídeo memperlihatkan isi kompleks seluas hampir delapan hektare itu yang dilengkapi toko kelontong, gudang, kolam renang, dan bahkan gudang minuman anggur. Para pekerja pusat penipuan bekerja di deretan meja putih panjang dengan komputer-komputer.
Guo juga diketahui memiliki sebuah helikopter dan sebuah Ford Expedition yang terdaftar atas namanya. Namun seperti tanahnya, menurutnya, keduanya telah lama dijual.
Setelah sidang senat, Senator Risa Hontiveros bertanya apakah Guo adalah "aset" China berdasarkan jawaban-jawaban "tidak jelas" perempuan itu terhadap serangkaian pertanyaan tentang latar belakang pribadi dan bisnisnya.
Baca juga:
Pada Kamis (16/05) malam, Presiden Marcos menebalkan misteri soal sosok Guo.
"Tidak ada yang mengenalnya. Kami bertanya-tanya dari mana asalnya, itu sebabnya kami menyelidiki hal ini bersama dengan Biro Imigrasi, karena pertanyaan-pertanyaan tentang kewarganegaraannya," kata Marcos kepada para wartawan, Kamis (16/05) malam.
Guo mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dia "bukan orang yang suka memanjakan, bukan pelindung Pogo".

Sumber gambar, Handout
Sedikit yang diketahui tentang latar belakang Guo. Hal ini tidak biasa terjadi di pedesaan Filipina mengingat para pejabat lokal sering berafiliasi dengan dinasti politik. Dia baru menjalani masa jabatan pertamanya sebagai pejabat terpilih.
Komisi Pemilihan Umum Filipina menyebut dia mendaftar sebagai pemilih di Bamban pada 2021, atau satu tahun sebelum mencalonkan diri dan menang sebagai wali kota.
Nama keluarganya, Guo, juga bukan salah satu nama umum keluarga orang Filipina yang memiliki garis keturunan Tionghoa. Meskipun dijajah oleh Spanyol, Filipina dan Tiongkok memiliki ikatan budaya yang kuat karena perdagangan selama berabad-abad. Faktanya, Filipina memiliki pecinan tertua di dunia.
Baca juga:
Saat ditanyai oleh para senator, Guo mengakui bahwa akta kelahirannya baru didaftarkan ke otoritas setempat ketika dia berusia 17 tahun. Sebabnya, kata Guo, dia dilahirkan di rumah bukan di rumah sakit atau klinik. Dia tidak bisa memberikan rincian lebih lanjut.
Dia mengatakan dirinya dididik di rumah, di dalam kompleks keluarga tempat orang tuanya juga memelihara babi. Namun, dia tidak dapat mengingat nama induk organisasi sekolah-rumah dan hanya menyebutkan salah satu gurunya.
Dia mengatakan ayahnya adalah orang Filipina. Namun dalam catatan bisnis, ayahnya diidentifikasi sebagai warga negara China.
“Banyak yang bertanya, siapakah Alice Guo?” cetusnya dalam pidato kampanye tahun 2022, menurut media Filipina, GMA News.
“Saya Alice Guo dari Bamban. Ibu saya orang Filipina, ayah saya orang China,” katanya dalam bahasa Tagalog.

Sumber gambar, Social Media
Senator Risa Hontiveros termasuk di antara orang-orang yang menanyaiGuo tentang catatan kelahiran dan pendidikannya. Ketika dia mendesak wali kota untuk menjelaskan lebih spesifik, dia hanya mendapat jawaban "Nanti saya akan hubungi Anda".
"Saya sangat khawatir dengan betapa tidak jelasnya jawaban Guo, terutama latar belakangnya," kata Hontiveros kepada wartawan.
“Apakah Wali Kota Alice, dan orang-orang seperti dia dengan latar belakang misterius, bekerja sebagai aset bagi China? Ditanam di negara kita sehingga mereka dapat mempengaruhi politik Filipina?” kata Hontiveros.
“Sulit dipercaya Wali Kota Bamban, Alice Guo, ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan kami selalu 'Saya tidak tahu' dan dia bahkan tidak ingat di mana dia tinggal,” kata Senator Sherwin Gatchalian, yang juga hadir dalam sidang tersebut.
Marcos mengatakan penyelidikan terhadap Guo bertujuan untuk mencegah warga negara asing memegang jabatan publik di negara tersebut. Dia mengatakan Filipina “tidak hanya melihat satu negara saja”.
"Kami akan memperketat penegakan hukum. Undang-undangnya sudah ada, masalahnya ada yang berpikir orang-orang ini bisa mendatangkan uang, atau mereka disuap," kata Marcos.
Komisi Pemilihan Umum Filipina dan Jaksa Agung sedang menyelidiki kasus Guo untuk mengetahui apakah dia memegang jabatan publik secara tidak sah. Jika terbukti, dia bisa dicopot dari jabatannya.









