Tradisi Natal dan Tahun Baru warga keturunan Portugis di Kampung Tugu – 'Ada harga yang harus dibayar kalau kita ingin mempertahankan sesuatu'

Kampung Tugu, Krontjong Toego, Rabo-rabo

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Warga Kampung Tugu memainkan musik keroncong saat menyambangi rumah-rumah dalam tradisi Rabo-rabo yang digelar pada 1 Januari 2024.
Waktu membaca: 11 menit

Menjelang Natal dan Tahun Baru, warga keturunan Portugis yang tersisa di Kampung Tugu, Jakarta Utara, melestarikan tradisi unik mereka di tengah gempuran modernitas. Rangkaian tradisi itu digelar sejak malam Natal hingga hari Minggu pertama tahun baru.

"Feliz Navidad… Feliz Navidad."

Arthur James Michiels bersenandung menyanyikan lagu Natal "Feliz Navidad" sambil memainkan bas betot di sebuah rumah tua di Semper Barat, Cilincing, Jakarta, pada Kamis (19/12).

Feliz Navidad adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Spanyol yang artinya "Selamat Natal".

Sesekali, pria berusia 55 tahun itu menghentikan aktivitasnya kala anggota kelompok musik Krontjong Toegoe yang lain memberikan masukan soal irama lagu yang mereka mainkan.

Grup musik yang dikomandoi Arthur itu tengah berlatih lagu-lagu yang akan mereka bawakan saat perayaan Natal dan Tahun Baru di Kampung Tugu.

Keterangan video, Warga keturunan Portugis di Kampung Tugu rayakan Natal dan Tahun Baru

Arthur Michiels adalah keturunan ke-10 keluarga Michiels, salah satu keluarga keturunan Portugis yang tersisa di Kampung Tugu.

Saat ini masih terdapat sekitar 150 keluarga keturunan Portugis di Kampung Tugu.

Komunitas itu melestarikan tradisi Natal dan Tahun Baru yang unik secara turun temurun.

garis

BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Tradisi Natal dan Tahun Baru di Kampung Tugu

Lisa Michiels mengenang ketika dirinya menjalankan tradisi malam Natal di Kampung Tugu.

"Pada malam Natal, setelah beribadah di gereja, kita meletakkan bunga-bunga di makam keluarga," ujar Lisa kepada wartawan Amahl Azwar yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Biasanya orang lain berziarah pada pagi atau siang hari, tapi kalau di Kampung Tugu, kita taruh kembangnya malam-malam," ujar Lisa, yang juga merupakan manajer Krontjong Toegoe.

Michiels, kampung tugu, krontjong Toegoe

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lisa Michiels (paling kiri) bersama warga Kampung Tugu lain berziarah di makam leluhur mereka di pemakaman di gereja Tugu, Jakarta pada 24 Desember 2023 setelah misa tengah malam di malam Natal.

Setelah menaruh bunga, anggota keluarga akan kembali ke rumah untuk makan malam dan beribadah singkat.

Pada pukul 12 malam, setelah berdoa bersama, mereka akan jalan dari rumah ke rumah untuk mengucapkan selamat hari Natal pada malam itu juga menggunakan bahasa Kreol Portugis.

Ucapan Natal dalam bahasa Kreol Tugu adalah: "Binti singku dia Disember, masdudi nas sior ja ti mundu. Libra nos pekado unga noti di kinta fera. Assi klar koma dia anji ni nos siordialegria."

Krontjong Toegoe, Kampung Tugu, Natal

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Selain menabur bunga, warga Kampung Toegoe juga menyalakan kembang api di pemakaman pada malam Natal, 24 Desember 2024.

"Pada tanggal 25 Desember, Tuhan kita telah lahir untuk menebus dosa kita. Di hari Kamis malam yang cerah dan bersih, Tuhan memberikan suka cita besar."

Lisa, yang kini berusia 49 tahun, mengakui tradisi jalan dari rumah ke rumah untuk mengucapkan selamat hari Natal pada malam Natal kini sulit untuk dilakukan dalam kehidupan modern karena Kampung Tugu sudah berubah pesat.

"Supaya adat dan tradisinya tidak hilang, kita satukan di Roemah Toegoe perayaannya."

Natal, Kampung Tugu

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Umat ​​Kristiani di Kampung Tugu mengenang leluhur mereka di pemakaman Gereja Tugu, Jakarta pada 24 Desember 2023 setelah misa tengah malam pada Malam Natal.

Roemah Toegoe adalah rumah keluarga Michiels yang dibangun sejak 1750-an dan kini menjadi embrio museum sejarah keturunan Portugis di Kampung Tugu.

"Ibadah Natal diiringi musik keroncong gaya Tugu dan ada narasi-narasi dalam bahasa Kreol Portugis," ujarnya.

Tradisi ini diberi nama "Malam 24 di Roemah Toegoe" dan dijalankan selama tiga tahun terakhir.

Baca juga:

Selain perayaan Natal, warga keturunan Portugis di Kampung Tugu juga memiliki tradisi unik dalam perayaan Tahun Baru, yakni Rabo-rabo yang digelar tiap 1 Januari.

Kata rabo dalam bahasa kreol Portugis berarti "ekor".

Tradisi Rabo-rabo dilakukan dengan menyambangi warga Kampung Tugu dari rumah ke rumah dengan lantunan musik keroncong.

"Grup musik keroncong datang ke satu rumah, bernyanyi, mengucapkan Selamat Tahun Baru. [Kemudian] berpindah ke rumah selanjutnya," jelas Arthur.

Arthur Michiels, kampung tugu, krontjong toegoe

Sumber gambar, AMAHL AZWAR

Keterangan gambar, Arthur Michiels adalah keturunan ke-10 keluarga Michiels. Dia juga mengomandoi Krontjong Toegoe.

"Nah, [keluarga] rumah [tersebut] harus mengikut dalam rombongan. Semakin lama semakin panjang… akhirnya mengekor," tutur Arthur.

Pada masa lampau, ketika Kampung Tugu masih terbilang sepi dan jarak antar kepala keluarga masih jauh-jauh, tradisi Rabo-rabo bisa berlangsung sampai tujuh hari dan tujuh malam.

Selain itu, "biasanya [keluarga] didatangi menyuguhkan minuman terlalu keras. Jadi, peserta banyak yang tumbang [sehingga] harus lanjut besok," ujar Arthur.

"Tapi kalau [sekarang] ini, dalam satu hari harus selesai."

Rabo-rabo, mande-mande, kampung tugu, krontjong toegoe

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Setelah Rabo-rabo, warga keturunan Portugis di Kampung Tugu merayakan Mande-mande, yang biasa digelar pada hari Minggu pertama pada tahun yang baru.

Setelah Rabo-rabo, warga keturunan Portugis di Kampung Tugu merayakan Mande-mande, yang biasa digelar pada hari Minggu pertama pada tahun baru.

Mande-mande berasal dari kata mandat, yang dalam bahasa Portugis berarti perintah, amanat, atau komando.

"Perintah ini perintah apa? Ya, perintah untuk berbuat baik," ujar Arthur.

Orang-orang Tugu meyakini siapa pun yang akan memasuki tahun yang baru harus memiliki hati yang bersih.

Maka dari itu, mereka semua akan saling memaafkan di satu rumah yang sudah disepakati.

Mande-mande, kampung tugu

Sumber gambar, DOK. LISA MICHIELS

Keterangan gambar, Perayaan Mande-mande pada 2021.

Alunan musik keroncong juga menemani tradisi Mande-mande ini. Cara memaafkannya adalah dengan mencorengkan bedak cair ke muka orang yang dimaafkan.

"Kalau dulu mungkin pakai tepung," ujar Arthur.

"Itu artinya 'kesalahan kamu telah saya maafkan'."

Sama seperti tradisi Rabo-rabo, kesibukan orang-orang zaman sekarang membuat perayaan Mande-mande tak bisa dilakukan berlama-lama.

Mande-mande, Kampung Tugu, Natal

Sumber gambar, DOK. LISA MICHIELS

Keterangan gambar, Bagi orang-orang Tugu, mencoreng muka teman dan kerabat dengan bedak pada perayaan Mande-mande menandakan segala kesalahan orang tersebut dimaafkan.

Sejarah keturunan Portugis di Kampung Tugu

Guru Besar Musikologi Institut Seni Yogyakarta, dalam bukunya Krontjong Toegoe yang diterbitkan pada 2011, kontak pertama Portugis dengan bangsa Indonesia di Pulau Jawa terjadi pada 1513.

Kala itu, armada dagang Portugis di bawah pimpinan Tomé Pires singgah di pelabuhan Sunda Kelapa, dalam pelayaran dari Malaka ke Maluku untuk mencari rempah-rempah.

Sejak 1511 Malaka memang telah diduduki oleh Portugis dengan bentengnya A Famosa yang dibangun oleh Afonso de Albuquerque.

Kehadiran orang Portugis di Sunda Kelapa lambat laun membentuk permukiman baru di sekitar pelabuhan, yang dihuni oleh kelompok mestizo, peranakan Portugis dengan perempuan pribumi.

A Famosa, Alfonso de Albuquerque, Portugis, Malaka

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Porta de Santiago adalah gerbang benteng Portugis A Famosa yang dibangun pada tahun 1511 atas perintah Alfonso de Albuquerque.

Menurut peraturan kolonial Portugis kala itu, pribumi yang berasal dari mana pun dapat diterima sebagai orang Portugis dan berhak memakai nama Portugis apabila menjadi Katolik.

Pada 1641, kongsi dagang Belanda di Hindia Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) berhasil merebut kekuasaan Portugis di Malaka, dengan membawa sejumlah tawanan perang ke Batavia.

Sebagian besar dari tawanan perang itu adalah orang Bengali dan Coromandel yang direkrut sebagai serdadu Portugis di Malaka.

Di Batavia, VOC memperlakukan tawanan serdadu Portugis sebagai budak dan melarang mereka beribadah secara Katolik. VOC kemudian menawarkan pembebasan mereka dengan syarat berpindah ke agama Kristen Protestan.

Ekspedisi Belanda kedua ke Hindia Timur (kini bernama Indonesia), yang dipimpin oleh Laksamana Steven van der Hagen kembali ke Amsterdam pada 1618.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ekspedisi Belanda kedua ke Hindia Timur (kini bernama Indonesia), yang dipimpin oleh Laksamana Steven van der Hagen kembali ke Amsterdam pada 1618.

Setelah para tawanan Portugis itu menjadi pengikut Gereja Reformasi, mereka kemudian dibebaskan dari perbudakan dan kewajiban membayar pajak.

Mereka disebut sebagai kelompok merdequas, atau mardijkers menurut lafal Belanda.

Kata tersebut berasal dari istilah Sanskrit maharddhika, yang secara harafiah 'orang yang dimerdekakan'.

Setelah bersedia berpindah agama, VOC kemudian memberikan mereka sebuah areal permukiman baru diluar kota Batavia, yang sekarang ini dikenal sebagai wilayah Kampung Tugu.

Mardijker, kampung tugu, Krontjong Toegoe

Sumber gambar, AMAHL AZWAR

Keterangan gambar, Replika lukisan seorang Mardijker dan istrinya yang dibuat Suku Dinas Pertamanan Jakarta Utara dan dipajang di Roemah Toegoe.

Dalam tesisnya Krontjong Toegoe sejarah kehadiran komunitas dan musiknya di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, Victor Ganap menyebut warga Kampung Tugu adalah keturunan dari sekelompok laskar laut Portugis asal Goa yang melarikan diri dari Maluku bersama keluarga mereka asal Pulau Banda, dan terdampar di pantai Cilincing.

"Akibat terisolasi dari kehidupan kota, mereka mengusir kesepian dengan bermain musik dan menyanyikan lagu-lagu Portugis," ujar Victor dalam penelitiannya.

Musik mereka kemudian menjadi cikal bakal genre musikal Krontjong Toegoe.

Nama keluarga warga Kampung Tugu memiliki kesamaan dengan nama-nama Portugis atau Belanda.

Pada 2021, Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat mencatat ada enam dari 25 nama keluarga yang masih tersisa yakni Abrahams, Andries, Cornelis, Michiels, Broune, dan Quiko.

Arthur Michiels, Kampung Tugu, Krontjong Toegoe

Sumber gambar, AMAHL AZWAR

Keterangan gambar, Arthur Michiels dan dua anggota muda Krontjong Toegoe tengah berlatih di Roemah Toegoe pada 19 Desember 2024 menjelang Natal dan Tahun Baru.

Baik Rabo-rabo maupun Mande-mande sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019.

Sebelumnya, Krontjong Toegoe yang sudah lebih dulu menyandang gelar warisan budaya pada tahun 2016.

Yang paling baru, bahasa Kreol Tugu ditetapkan sebagai warisan budaya oleh pemerintah pada tahun 2024.

Bahasa Kreol Tugu adalah bahasa hasil perpaduan budaya Portugis dan Melayu di tanah Betawi. Bahasa ini awalnya berfungsi sebagai bahasa rahasia di lingkungan orang Tugu.

Baca juga:

"Waktu itu Malaka [adalah koloni] Portugis, tapi karena Portugis tidak mau mengajarkan [bahasa Portugis], masyarakat harus belajar sendiri," jelas Arthur.

"Akhirnya bahasa itu menjadi bahasa Kreol. Oleh generasi selanjutnya, bahasa Kreol ini sendiri menjadi bahasa Ibu."

Penuturnya yang terakhir, Oma Mimi Abrahams, meninggal dunia pada 2012.

Bahasa Kreol Tugu kini hanya tersisa melalui lagu-lagu lawas Krontjong Toegoe.

Krontjong Toegoe, Kampung Tugu, Rabo-rabo

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Warga Kampung Tugu mengalunkan lagu-lagu keroncong saat menyambangi rumah kerabat mereka selama perayaan Rabo-rabo pada 1 Januari 2024.

Arthur menjelaskan bahasa Kreol Tugu lambat laun ditinggalkan karena penggunaannya dilarang Belanda.

"Beruntung saya dan teman-teman yang lain masih main keroncong dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Kreol."

"Dari situ, saya mulai mempelajari kata per kata. Kalau sudah terkumpul banyak, paling tidak bisa dijadikan buku saku," ujarnya.

Data dari organisasi Ikatan Keluarga Besar Tugu, terdapat 150 keluarga atau sekitar 1.200 orang di Kampung Tugu.

Sebanyak 300 keluarga lainnya tersebar di wilayah Jabodetabek.

Baca juga:

Rumah tua tempat lahirnya Krontjong Toegoe

Kini, Kampung Tugu mengalami banyak perubahan setelah menjadi kawasan industri.

Banyak warga keturunan Portugis di sana memilih menjual tanah mereka dan pindah ke wilayah lain.

Namun, keluarga Michiels memutuskan bertahan di tengah gempuran modernitas di rumah keluarga mereka yang dibangun sejak 1750-an.

Rumah ini diwariskan Lukas Andries kepada cucunya, Arend Julinse Michels, pendiri Krontjong Toegoe.

Kelompok musik ini dia dirikan pada 1988 silam.

Sebuah rumah tua dengan tiang berwarna hijau. Ada beberapa orang duduk-duduk di teras. Ada pohon natal menjelang perayaan Hari Natal. Ada tulisan: "Living Museum, Roemah Toegoe" dan papan penjelasan.

Sumber gambar, AMAHL AZWAR

Keterangan gambar, Rumah keluarga Michiels yang dibangun pada 1750-an menjadi embrio museum sejarah hidup keturunan warga Portugis di Kampung Tugu.

Rumah yang berfungsi sebagai sanggar musik Krontjong Toegoe itu kemudian direnovasi pada 2020.

Beberapa kali proses renovasi rumah terganggu karena terdampak banjir di tengah pembangunan Kampung Tugu menjadi kawasan industri.

Rumah itu kemudian diberi nama Roemah Toegoe—menggunakan ejaan lama—dan diresmikan pada 24 Desember 2023.

Sekarang, rumah ini menjadi embrio museum sejarah keturunan Portugis di Kampung Tugu.

Selain foto-foto lawas dari para leluhur Michiels, terdapat barang-barang antik seperti gramofon, mebel, dan alat-alat musik khas Krontjong Toegoe yang dipajang.

Salah satunya adalah gitar kecil berdawai lima, macina.

Selain macina, Krontjong Toegoe juga menggunakan alat-alat musik yang diadaptasi dari Portugis seperti gitar berdawai lima dengan ukuran sedang (prounga) dan besar (jitera).

Foto-foto lama rumah dari masa ke masa

Sumber gambar, DOK. LISA MICHIELS

Keterangan gambar, Rumah keluarga Michiels dari masa ke masa

Arthur Michiels, keturunan ke-10 keluarga Michiels, mengomandoi Krontjong Toegoe saat ini.

Arthur menjelaskan ciri khas dari Krontjong Toegoe yang langsung dapat ditangkap pendengar awam adalah penggunaan rebana—disebut pandeiro—atau alat musik tabuh seperti jimbe yang tidak digunakan grup keroncong lain.

Bagi Arthur, bukan hal yang aneh apabila mereka memainkan lagu populer seperti Feliz Navidad karya musikus Puerto Rico, José Feliciano.

"Lagu-lagu yang dibawakan Krontjong Toegoe tidak mesti lagu keroncong. Saya berprinsip: semua lagu adalah lagu keroncong," ujar Arthur.

Rabo-rabo, Kampung Tugu, Krontjong Toegoe

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Di jantung Jakarta yang padat, komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu, Jakarta, telah bertahan selama berabad-abad dan melestarikan budaya mereka yang unik.

Arthur mengatakan keturunan keluarga Michiels yang tersisa di Kampung Tugu menjadikan rumah leluhur ini sebagai museum, warisan bagi generasi selanjutnya.

Bagi penerus keluarga Michiels, Arthur dan Lisa, semua ini mereka lakukan demi menjaga tradisi Tugu supaya tidak pupus.

"Tidak banyak orang seperti keluarga kami yang masih mau bertahan di tempat ini. Sudah enggak nyaman. Debu, berisik, dan seterusnya," ujar Arthur.

"Tapi mau bagaimana lagi? Ada harga yang harus dibayar kalau kita ingin mempertahankan sesuatu."