Basuluak, tradisi ‘mengasingkan diri’ selama Ramadan di Sumatra Barat yang kian memudar

basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Di sebuah surau di Kota Padang, Sumatra Barat, sejumlah perempuan lansia tampak berzikir di dalam sebuah ruangan yang disekat menggunakan kain. Mereka tengah melaksanakan tradisi 'mengasingkan diri' yang dikenal dengan sebutan basuluak.

Tak tampak satu pun generasi muda turut dalam tradisi yang sudah ratusan tahun dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Sumatra Barat itu.

"Anak muda sekarang mereka sibuk berjoget saja," tukas Bayar, salah seorang peserta basuluak, kepada wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (24/03).

Di lantai dua surau Ubudiyah yang berdinding papan, Bayar, 70 tahun, bersama sembilan perempuan lansia lainnya melaksanakan basuluak. Selama beberapa tahun terakhir Bayar telah menggeluti tradisi itu setiap Ramadan.

"Saya sudah 13 kali melaksanakan basuluak ini dan saya masih melaksanakannya setiap Ramadan," lanjutnya.

Basuluak adalah tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat di Sumatra Barat pada bulan Ramadan. Dalam periode itu, para peserta basuluak mengasingkan diri di surau guna berzikir dan bertaaruf.

Bayar menceritakan bahwa dirinya merasakan banyak manfaat selama mengikuti tradisi tersebut, terutama karena dia bisa melakukan seluruh ibadah selama satu bulan penuh.

Basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, Pada bulan Ramadan, para peserta basuluak mengasingkan diri di surau guna berzikir dan bertaaruf.

“Dengan mengikuti basuluak ini, saya bisa melaksanakan seluruh ibadah mulai dari yang wajib hingga ibadah sunah. Selain itu, saya juga bisa lebih mendekatkan diri dengan Allah,” katanya.

Selain itu, ia juga bisa lebih mendalami ilmu agama dengan adanya pendampingan dari mursyid yang selalu menjawab setiap pertanyaannya tentang Islam.

Namun dia prihatin sejumlah surau di Sumatra Barat kini tak lagi melaksanakan tradisi ini lagi. Di sisi lain, tak banyak generasi muda tertarik melestarikan basuluak.

Apa itu tradisi basuluak dan bagaimana sejarahnya?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Basuluak merupakan sebuah tradisi yang erat kaitannya dengan tarekat Naqsabandiyah.

Menurut dosen Fakultas Adab, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Taufik Hidayat, terdapat dua garis tarekat di Sumatra Barat yang mencerminkan karakter masing-masing.

Tarekat Naqsabandiyah adalah aliran tasawuf dalam Islam yang lekat dengan karakter amaliyah atau pengamalan.

Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Syekh Bahauddin al-Bukhari an-Naqsyaband yang berasal dari Desa Qasr Arifan di Asia Tengah pada abad ke-14.

Baca juga:

Di Indonesia, tarekat naqsabandiyah dibawa oleh Syeikh Yusup Makassari pada tahun 1623 dan mulai memperkenalkan tarekat ini ke sejumlah daerah, seperti Makassar, Kalimantan, Sumatra, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sementara di Sumatra Barat, tarekat naqsabandiyah mulai muncul sekitar tahun 1820 sampai 1830, ketika ajaran ini dibawa oleh Syekh Ibrahim Kumpulan dan Syekh Muhammad Taher.

Dua ulama tersebut mengajarkan dan mengembangkan ajaran tarekat naqsabandiyah di tengah masyarakat Minangkabau.

Sementara, aliran Islam yang juga berkembang di Sumatra Barat, tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang lebih dekat dengan falsafi dalam melaksanakan ibadah dan menerapkan ilmu yang didapatkan dari gurunya.

Tarekat Syattariyah pertama kali muncul di India pada sekitaran abad ke-15 yang dipopulerkan oleh ulama Abdullah As-Syattar.

Naqsabandiyah

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Jemaah Tarekat Naqsabandiyah berkumpul saat Idul Fitri di Masjid Suluk Darussalam di Bogor, Jawa Barat, pada 20 April 2023.

Di Sumatra Barat, ada sejumlah nama ulama besar yang menyebarkan tarekat Syattariyah ini. Mereka adalah Syekh Burhanuddin, Tuan Kuning Syahril Lautan, Tuanku Ali Bakhri hingga Tuanku Kuning Zubir.

Kedua tarekat ini sama-sama mengutamakan berzikir kepada Allah. Namun, yang membedakan keduanya adalah zikir yang dilakukan tarekat Syattariyah tidak harus menyebabkan kehilangan kesadaran.

Sebab, tarekat Syattariyah ini dalam ajarannya meyakini bahwa untuk mencapai jalan menuju Allah dapat ditempuh dengan setiap hembusan napas makhluknya.

Sementara, tarekat Naqsabandiyah mengutamakan amalan-amalan seperti berzikir yang dilakukan dalam melaksanakan basuluak.

Salah satu praktik amaliyah yang dilakukan oleh pengikut tarekat naqsabandiyah di Sumatra Barat adalah basuluak yang dilaksanakan tiap Ramadan.

“Perbedaan mendasar terletak pada karakter pendekatan dalam kajian tarekat masing-masing. Syattariyah lebih fokus pada kajian tubuh dan bercorak falsafi, meski juga melakukan amaliyah zikir."

Naqsabandiyah

Sumber gambar, Getty Images

“Sementara Naqsabandiyah menempuh amaliyah zikir berikut tatacara dan pengamalannya ketimbang disibukkan oleh kajian tubuh, meski juga menaruh perhatian dalam porsi yang terbatas pada wilayah ini,” kata Taufik.

“Jadi untuk basuluak ini sendiri banyak melaksanakan amaliah seperti berzikir dan bertaaruf kepada Allah dan mengasingkan diri.”

Lebih lanjut Taufik menjelaskan mengungkapkan tradisi basuluak mulai dilaksanakan oleh masyarakat Sumatra Barat tak lama setelah ajaran tarekat Naqsabandiyah berkembang di wilayah itu ratusan tahun lalu.

"Tradisi ini sendiri hadir di Sumatra Barat ini sekitar tahun 1850-an," katanya.

Bagaimana tradisi basuluak dilakukan?

Tradisi basuluak dilaksanakan oleh seorang Muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah pada saat Ramadan dengan menghabiskan waktu di surau sejak 10 hari sebelum Ramadan dan akan berakhir saat lebaran Idul Fitri.

Mursyid Surau Ubudiyah, Musar M, menjelaskan bahwa basuluak diawali dengan melaksanakan mandi taubat yang dilanjutkan dengan salat taubat.

Basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, Basuluak mulai dilaksanakan oleh masyarakat Sumatra Barat tak lama setelah ajaran tarekat Naqsabandiyah berkembang di wilayah itu ratusan tahun lalu.

"Setelah itu, peserta basuluak akan melaksanakan amalan-amalan seperti berzikir di dalam khalwat yang merupakan sebuah ruangan khusus yang dibuat dengan kain untuk melaksanakan zikir," katanya.

Selain berzikir, peserta basuluak juga melaksanakan ibadah-ibadah wajib lainnya seperti melaksanakan puasa, salat wajib, dan salat sunat lainnya.

basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, "Selain melaksanakan ibadah dan zikir, peserta basuluak ini tidak diperbolehkan memakan makanan berupa daging," ujar mursyid Surau Ubudiyah, Musar M.

"Selain melaksanakan ibadah dan zikir, peserta basuluak ini juga tidak diperbolehkan memakan makanan berupa daging dan hanya boleh memakan makanan seperti sayuran, tahu, tempe dan lainnya," lanjutnya.

Pelaksanaan basuluak dibagi menjadi beberapa waktu yang berbeda. Mulai dari 10 hari, 20 hari hingga pelaksanaan terlama yaitu selama 40 hari.

"Jadi, kalau misalnya peserta basuluak ini terputus melaksanakannya karena suatu alasan, maka harus diulang lagi dari awal," jelas Musar.

Mengapa kaum muda gamang mengikuti basuluak?

Berjarak sekitar lima kilometer dari surau itu, seorang anak muda bernama Dewi Fatimah sedang melaksanakan salat Ashar di salah satu masjid yang terletak di Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Perempuan berusia 25 tahun itu mengaku belum siap melaksanakan basuluak lantaran waktu pelaksanaannya yang panjang, yakni 40 hari.

"Saya belum melaksanakan basuluak ini karena merasa saya belum siap,” jelas Dewi.

Sebagai perempuan, kondisi biologis mengharuskannya mengalami menstruasi tiap bulan. Hal ini, menurut Dewi, turut menjadi penghalang untuk menjalani basuluak selama satu bulan Ramadan penuh.

Apalagi, sepanjang yang dia ketahui, tradisi ini lebih banyak diikuti oleh amak-amak, sebutan untuk perempuan lansia dalam bahasa setempat.

"Basuluak ini hanya dilakukan oleh amak-amak saja. Saya juga belum pernah melihat adanya anak muda yang melakukan tradisi basuluak ini.”

basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, "Saya belum melaksanakan basuluak ini karena merasa saya belum siap,” jelas Dewi Fatimah, salah satu generasi muda di Kota Padang

Bahkan, sebagian besar anak muda di Kota Padang sudah tidak mengetahui apa itu basuluak dan bagaimana pelaksanaannya.

Ari Putra Ramadan, 27 tahun, menganggap tradisi ini layaknya tradisi budaya lainnya seperti randai dan silek, saat ditanyakan tentang basuluak.

“Saya tidak terlalu paham tentang basuluak ini, tetapi menurut saya, tradisi ini merupakan sebuah kegiatan kebudayaan yang dilakukan oleh para ninik mamak dan datuak di Minangkabau,” katanya.

Individu muda lain, Sindy Lesti, bahkan mengaku baru pertama kali mendengar istilah basuluak.

“Saya baru pertama kali mendengarnya, sebelumnya tidak pernah mendengar istilah basuluak ini dari siapa pun,” tuturnya.

basuluak

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Ari Putra Ramadan menganggap basuluak layaknya tradisi budaya lainnya seperti randai dan silek,

Musar M, mursyid pelaksana basuluak di surau Ubudiyah yang terletak di Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, beralasan lamanya waktu tradisi ini dilakukan memang menjadi penghalang bagi generasi muda untuk turut melestarikan tradisi ini di tengah aktivitas mereka.

"Mungkin juga karena mereka sedang bersekolah atau sedang bekerja sehingga mereka tidak bisa melaksanakan basuluak ini," katanya.

"Kalau untuk yang perempuan kebanyakan karena mereka setiap bulannya kan ada halangannya. Sementara basuluak ini dilaksanakan selama 40 hari. Tentu ini menjadi sebuah penghalang bagi mereka untuk melaksanakannya," kata Mursyid.

basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

Keterangan gambar, Dosen Fakultas Adab, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Taufik Hidayat

Sementara, Dosen Fakultas Adab UIN Imam Bonjol, Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa dahulu kala tradisi basuluak justru banyak dilaksanakan oleh kaum muda. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya para mursyid muda yang membimbing para peserta basuluak pada masa lampau.

"Bahkan ada guru dari tarekat naqsabandi ini yang baru berumur 20-an tahun, ini kan membuktikan bahwa mereka sudah melakukan basuluak ini sejak usia remaja," jelas Taufik.

Adapun saat ini, menurut Taufik, keengganan generasi muda mengikuti tradisi ini lantaran amalan tarekat yang dilaksanakan dalam basuluak tidak merepresentasikan kehidupan pada masa saat ini bagi sebagian milenial.

Tradisi yang terancam punah?

Taufik Hidayat mengatakan basuluak terancam punah jika tak ada generasi muda yang melestarikan tradisi ini.

"Para milenial saat ini banyak yang lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan yang bersifat meriah seperti pesta dan kegiatan lainnya. Jadi, pelaksanaan basuluak ini sudah tidak menarik bagi sebagian anak muda," katanya.

Pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa tahun lalu, juga membuat surau-surau tarekat Naqsabandiyah tak lagi melaksanakan basuluak.

"Covid kemarin yang memaksa kita semua menghentikan kegiatan, termasuk basuluak ini," jelas Taufik.

Selama pandemi, kegiatan basuluak dihentikan karena dianggap berpotensi menyebarkan penyakit ini kepada para peserta lansia yang rentan tertular Covid-19.

Kendati begitu, dia meyakini tradisi basuluak tidak akan habis karena memiliki sejarah tradisi yang panjang serta praktik ideologi yang cukup kuat, yaitu kepatuhan terhadap guru.

basuluak

Sumber gambar, Halbert Caniago

"Seorang anak muda bisa saja melaksanakan basuluak ini karena kepatuhannya kepada gurunya dan ingin mendekatkan dirinya kepada Allah, sehingga ia mau menghabiskan waktu berpuluh hari di surau," lanjutnya.

Salah satu generasi muda di Padang, Dewi, mengungkapkan bahwa dirinya tertarik untuk melaksanakan basuluak suatu saat nanti demi melestarikan tradisi peninggalan nenek moyang tersebut.

Sementara Bayar, yang menjalani hari-hari selama Ramadan tahun ini di surau, meyakini tradisi ini tak akan mati.

"Kalau menurut saya, dengan tidak adanya anak muda yang melaksanakan tradisi ini, tidak akan membuat tradisi ini mati nantinya karena ada Allah yang akan menggerakkan hati seseorang untuk melaksanakan basuluak ini," tuturnya.

Wartawan di Padang, Halbert Caniago, berkontribusi dalam liputan ini.