Pemerintah Indonesia libatkan gereja dalam negosiasi pembebasan pilot Selandia Baru - Siapa tokoh gereja yang 'didengarkan' sayap militer OPM?

Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya di wilayah Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Sumber gambar, TPNPB-OPM

Keterangan gambar, Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya di wilayah Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Upaya pembebasan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, dengan menggunakan pendekatan keagamaan akan terus menghadapi jalan buntu jika tokoh-tokoh gereja yang dilibatkan tak memiliki ikatan spiritual, sosial dan kekeluargaan dengan para penyandera, kata aktivis kemanusiaan Papua.

Sudah satu tahun lebih 20 hari Philip menjadi sandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya di wilayah Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Belum ada titik terang kapan Philip kembali kepada keluarganya di Selandia Baru.

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, menyarankan pemerintah Indonesia melibatkan tokoh agama dari Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua dalam negosiasi sebab gereja itu merupakan gereja bagi mayoritas jemaat Nduga.

“Egianus dan kelompoknya itu umat dari Gereja Kingmi. Jadi pendekatan bisa dilakukan melalui sinode Kingmi. Tapi justru hamba Tuhan yang bisa menjadi pintu mendekati Egianus malah ditangkap, dipukul, dan Gereja Kingmi di Nduga dirusak aparat tahun lalu,” kata Theo kepada BBC News Indonesia, Kamis (29/02).

Terkait hal itu, Juru Bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi, mengatakan semua instrumen yang akan mendukung keselamatan Philip akan selalu dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah persuasif.

Namun, Sekretaris Umum Sinode Gereja Kingmi, Dominggus Pigai, mengaku Gereja Kingmi tidak pernah dihubungi dan dilibatkan dalam proses pembebasan oleh pemerintah maupun aparat keamanan

Sementara Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menegaskan pihaknya tidak percaya dengan peran yang bisa dilakukan gereja.

"Kami berjuang bukan karena gereja, kami dalam berjuang tidak suka pakai agama. Kami punya dukungan solidaritas dari seluruh dunia tanpa pandang agama apa," kata Sebby, yang menambahkan bahwa organisasinya telah memutuskan agar pilot segera dibebaskan oleh Egianus dengan alasan kemanusiaan.

Egianus dan kelompoknya membakar pesawat Susi Air PK-BVY usai mendarat di Lapangan Terbang Distrik Paro, Nduga pada 7 Februari 2023 lalu.

Kelompok Egianus lalu menawan Philip, sementara lima penumpang dilepaskan karena warga setempat.

‘Egianus dan kelompoknya umat Gereja Kingmi’

Upaya pelibatan tokoh gereja dan adat dalam membebaskan Philip Mark Mehrtens tampaknya dihidupkan lagi oleh pemerintah Indonesia, di tengah kebuntuan proses negosiasi.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, Selasa (27/02), menegaskan hal tersebut.

“Saya sampaikan menggunakan tokoh adat dan gereja di Papua yang kita gunakan, dan beliau [PM Luxon] sangat mengapresiasi,” kata Ma'ruf Amin dalam keterangan pers.

“Saya sampaikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk membebaskan [sandera], cuma kita lebih mengutamakan keselamatan dari pilot itu sehingga kita melakukannya dengan cara persuasif untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan,” tambah Amin.

Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya di wilayah Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Sumber gambar, TPNPB-OPM

Keterangan gambar, Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pelibatan tokoh gereja kembali juga digaungkan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Hadi Tjahjanto, usai bertemu dengan beberapa tokoh Nduga.

"Tadi sudah saya berbicara dengan tokoh yang dari Nduga, ada tiga dan memang mereka juga ingin membantu, terutama adalah dengan pendekatan gereja yang bisa membantu supaya pilot Philip ini bisa segera dibebaskan," kata Hadi di Jakarta, Rabu (28/02).

Hadi menambahkan, opsi pendekatan gereja ini baru sampai pada tingkat pembicaraan dan dia berharap agar ada tindakan secepatnya.

Baca juga:

Namun, upaya itu disebut akan kembali menghadapi jalan buntu jika pola pendekatan gereja dan adat yang digunakan pemerintah masih sama dengan satu tahun terakhir ini, kata seorang aktivis kemanusiaan Papua.

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, mengatakan pemerintah kini harus membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh agama yang memiliki kedekatan dengan mayoritas warga Kabupaten Nduga, termasuk Egianus Kogoya dan kelompoknya.

“Wilayah Nduga itu mayoritas Gereja Kingmi. Egianus dan kelompoknya itu umat dari Gereja Kingmi. Jadi pendekatan yang dilakukan bisa melalui sinode dan anggota lainnya di Gereja Kingmi yang punya ikatan spiritual, sosial dan kekeluargaan dengan Egianus,” kata Theo.

“Tokoh agama Gereja Kingmi itu selain hamba Tuhan tapi juga seperti orang tua bagi Egianus dan kawan-kawan. Mereka bisa dipercaya,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi mengatakan, “Semua instrumen yang akan mendukung keselamatan jiwa sandera yang pada akhirnya akan membebaskannya, akan selalu dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah persuasif.”

Masduki menambahkan bahwa langkah-langkah persuasif yang telah dilakukan pemerintah tidak mungkin dibuka semuanya (ke publik).

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem
Keterangan gambar, Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem

Tapi dalam kenyatannya, kata Theo Hesegem, pemerintah Indonesia seakan mengacuhkan peran yang bisa dilakukan Gereja Kingmi, dan bahkan malah menciptakan jarak dengan melakukan aksi kekerasan.

“Justru hamba-hamba Tuhan yang bisa melakukan pendekatan ke Egianus, ditangkap dan dipukul. Kantor Gereja Kingmi dirusak. Anggota [keamanan] sendiri menghambat negosiasi jadinya,” katanya.

Theo merujuk pada aksi kekerasan personel kepolisian yang melakukan penggeledahan paksa tanpa surat perintah di Kantor Klasis Gereja Kingmi Kenyam, ibu kota Nduga, pada 17 September 2023 malam lalu.

Berdasarkan temuan Koalisi Kemanusiaan untuk Papua, polisi melakukan kekerasan fisik, merusak pintu kamar di dalam bangunan gereja, dan menangkap beberapa orang karena diduga pendukung kelompok pro-kemerdekaan.

Polda Papua membenarkan ada tindakan berlebihan saat melakukan penangkapan itu.

‘Kami tidak pernah dihubungi’

Setahun lebih terlewati, Gereja Kingmi ternyata tidak pernah dihubungi oleh pemerintah pusat untuk dilibatkan. Padahal mayoritas warga Nduga menjadi jemaat di gereja ini.

“Sejak penyanderaan pada 7 Februari tahun lalu hingga sekarang, kami tidak pernah dihubungi sama sekali oleh Jakarta,” kata Sekretaris Umum Sinode Kingmi di Tanah Papua, Dominggus Pigai, kepada BBC News Indonesia.

“Sebaliknya, Jakarta secara sepihak mengambil tindakan langsung dengan mengirim pasukan, melaksanakan operasi militer, dan melakukan tindakan-tindakan tanpa sepengetahuan kami gereja,” tambahnya.

Sekretaris Umum Sinode Kingmi di Tanah Papua, Dominggus Pigai.

Sumber gambar, Dominggus Pigai

Keterangan gambar, Sekretaris Umum Sinode Kingmi di Tanah Papua, Dominggus Pigai.

Padahal menurut Dominggu, Gereja Kingmi sangat terbuka untuk membantu negosiasi pembebasan Philip.

“Bagi masyarakat Nduga, gereja itu sebagai pelindung, sebagaimana Tuhan melindungi mereka. Gereja sebagai penyelamat sebagaimana Tuhan menyelamatkan mereka dan juga gereja sebagai pemelihara. Itu yang juga diimani oleh kelompok Egianus."

“Misalnya, gereja kamu masuk dengan tugas seperti apa, kami bersedia. Gereja bergerak tanpa direstui negara juga akan jadi masalah,” tambahnya.

Menurutnya, penyelesaian kasus penyanderaan ini juga dapat menjadi harapan untuk menciptakan perdamaian dan memulangkan mayoritas warga Nduga yang hidup dalam pengungsian selama bertahun-tahun.

“Kami ingin kekerasan terhindar dari Nduga. Kasihan masyarakat. Jemaat kami sudah trauma, mengungsi, terasing di atas negeri mereka sendiri,“ katanya.

Ketua Klasis Gereja Kingmi Distrik Mugi Pendeta Kones Kogeya.
Keterangan gambar, Ketua Klasis Gereja Kingmi Distrik Mugi Pendeta Kones Kogeya.

Senada, Ketua Klasis Gereja Kingmi Distrik Mugi Pendeta Kones Kogeya juga mengaku siap membantu negosiasi pembebasan Philip.

“Gereja bisa menjadi mediator. Upaya pembebasan pilot ini dapat menjadi awal perdamaian di tanah kami. Kami sudah lama mengungsi, kami ingin pulang ke rumah kami,“ katanya yang mengaku memiliki hubungan darah dengan Egianus.

Dia berharap pemerintah akan melibatkan dan memfasilitasi tokoh-tokoh agama Nduga dalam proses.

Apa respons TPNPB-OPM?

Terkait dengan pendekatan itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka, Sebby Sambom, menegaskan bahwa TPNPB-OPM tidak percaya dengan peran yang bisa dilakukan gereja.

"Kami berjuang bukan karena gereja, kami dalam berjuang tidak suka pakai agama. Kami punya dukungan solidaritas dari seluruh dunia tanpa pandang agama apa," kata Sebby.

Sebby menegaskan bahwa penahanan pilot bukan urusan gereja. Penahanan itu, katanya, dilakukan oleh organisasi komando militer yang memiliki struktur, bukan sekedar oleh kelompok kriminal bersenjata.

"Lalu mau negosiasi pakai tokoh gereja, tokoh adat dan masyarakat, itu tidak menyambung sama sekali. Pemerintah Jakarta harus buat tim untuk bicara dengan TPNPB," tegasnya.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom (kiri).

Sumber gambar, TPNPB-OPM

Keterangan gambar, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom (kiri).

Mungkin Anda tertarik:

Walaupun demikian, sama dengan pernyataan yang pernah diungkapkan sebelumnya, Sebby mengatakan, TPNPB-OPM telah memerintahkan Egianus untuk segera membebaskan Philip atas nama kemanusiaan.

"Namun Egianus tidak mengindahkan kami. Itu melanggar komando. Sampai sekarang Egianus tidak kasih bebas karena ada provokator lain yang kasih masuk dia."

"Laporan dari tim kami, di sana ada lobi-lobi, suntik-suntik, provokasi Egianus. Ada yang tawar dengan puluhan miliar rupiah, ada juga dengan tukar senjata. Egianus bingung ikut yang mana," tambah Sebby.

Menurutnya, Egianus akan mendapatkan sanksi militer karena telah melanggar komando dengan tidak mematuhi perintah TPNPB pusat.

Apa saja kendala pembebasan Philip?

Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya.

Sumber gambar, TPNPB-OPM

Keterangan gambar, Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya.

Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri, sebelumnya mengungkap bahwa proses negosiasi pembebasan Philip terhambat oleh pengaruh pihak ketiga.

Dia merujuk pada dua orang yang memanfaatkan penyanderaan ini untuk menggaungkan Papua merdeka, yaitu Juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sembom dan pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda.

"Tadi kami sampaikan juga, bahwa di bulan November, Desember [2023], awal Januari [2024] itu kami berharap bisa mencapai suatu titik yang baik. Namun kan ada pihak lain yang memang sengaja menghambat, menghalang-halangi supaya proses negosiasi yang sudah dilakukan dan mau menuju titik temu ini tidak berhasil," kata Mathius setelah menerima kunjungan Kepolisian Selandia Baru, Senin (26/2).

Selain itu, menurut Kasatgas Damai Cartenz Kombes Faizal Ramadhani pada Rabu (07/02), kendala lain yang dihadapi adalah kondisi medan dan cuaca di lapangan, serta perlengkapan dan peralatan yang mempengaruhi proses pembebasan.

Untuk itu, katanya, negosiasi menjadi pilihan yang diambil untuk membebaskan pilot itu. Upaya negosiasi yang dipimpin oleh Pj Bupati Nduga Edison Gwijangge, katanya, telah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.

Pihak keamanan pernah melakukan operasi militer untuk membebaskan Philip di daerah Mugi, Kabupaten Nduga, pada 19 April 2023.

Namun, mereka diserang oleh kelompok Egianus Kogoya dan lima prajurit TNI meninggal dunia.

Bagaimana kondisi pilot?

Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya.

Sumber gambar, TPNPB-OPM

Keterangan gambar, Pilot Susi Air asal Selandia Baru Philip Mark Mehrtens (kanan) disandera sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Egianus Kogoya.

Kasatgas Damai Cartenz Kombes Faizal Ramadhani menambahkan, Philip disebut masih berada di wilayah Nduga, namun dia tidak bersama dengan Egianus.

Meski demikian,tambahnya, pilot itu mendapat pengawalan yang ketat dari anggota Egianus. "Ya, paling banyak kalau bicara kelompok intinya antara 100 sampai 150 orang," kata Faizal.

Philip terakhir kali muncul di dalam video yang dibagikan oleh Sebby Sambom pada 7 Februari 2024 lalu

Dalam video itu Philip yang terlihat kurus dan rambutnya memanjang mengatakan:

"Halo, ini saya [Philip], hari ini 22 Desember 2023. Saya baru saja bertemu komandan yang datang ke sini dan mengizinkan saya mengirimkan pesan video. Dia akan mengirimnya nanti ketika dia mendapatkan jaringan internet. Saya baik-baik saja, mereka memperlakukan saya dengan baik, aku harap kamu (istri Philip) dan Jacob (anak Philip) sehat dan mendapat dukungan. Nanti ketika kita bertemu lagi, komandan mengatakan nanti kita akan mencoba menelepon bila tersedia wifi, itu harapan saya."