Napoli, kota Italia yang bersiap merayakan gelar juara Serie A setelah menanti 33 tahun

Sebuah perisai, melambangkan Scudetto, dilukis di anak tangga di Quartieri Spagnoli Napoli

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah perisai, melambangkan Scudetto, dilukis di anak tangga di Quartieri Spagnoli Napoli
    • Penulis, Alex Bysouth
    • Peranan, BBC Sport
    • Melaporkan dari, Napoli, Italia

Kota Napoli adalah kota yang sedang gelisah. Para penduduknya sudah tidak sabar merayakan gelar juara Serie A yang mereka tunggu-tunggu selama 33 tahun.

Anda bisa melihat, mendengar dan merasakannya.

Kegelisahan itu hadir dalam setiap pandangan mata, raut muka, dan topik perbincangan penduduk kota itu.

Hingga Jumat (28/04), klub sepak bola Napoli masih memimpin klasemen sementara Serie A Liga Italia musim 2022-2023 dan berpotensi menjuarainya untuk kali pertama sejak 1990.

Bendera-bendera bertuliskan “100% campione” banyak dikibarkan di balkon-balkon rumah di Kota Napoli - tanda optimisme warga bahwa klub kebanggaan kota akan kembali meraih gelar juara. Bahkan sejumlah warga Napoli yang biasanya percaya takhayul dan paling pantang membicarakan gelar juara sebelum prestasi itu benar-benar telah diraih, sudah yakin inilah tahun yang dinanti-nanti.

Jika Napoli meraih Scudetto atau gelar juara dalam waktu dekat, beberapa warga Napoli khawatir kota itu tidak akan sanggup menahan kemeriahan pesta yang sudah dinantikan 33 tahun lamanya.

Kalau klub itu sampai menang Serie A? Ya, “langit akan jatuh”, kata Daniele ‘Decibel‘ Bellini sambil tersenyum. “Itu hal ajaib“.

Warga kota sudah menyiapkan pesta untuk 4 Juni, hari terakhir musim 2022-2023. Namun, sejatinya penantian Napoli bisa berakhir akhir pekan ini.

Syaratnya, Napoli harus menang saat menghadapi Salernitana, pada Sabtu (29/04). Keesokan harinya Inter Milan harus menang atau imbang melawan Lazio.

Suasana Kota Napoli yang menantikan gelar juara

Potongan kardus ukuran asli alias standee para pemain klub Napoli dipajang di piazza di Napoli

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Potongan kardus ukuran asli alias standee para pemain klub Napoli dipajang di piazza di Napoli
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Baca juga:

Dari kawasan bersejarah Quartieri Spagnoli hingga ke Stadion Diego Armando Maradona, jalan-jalan di Kota Napoli penuh dihiasi pernak-pernik biru dan putih - sesuai dengan warna klub Napoli. Bahkan sejumlah bangunan dan tangga dicat dengan corak tersebut.

Pajangan bergambar para pemain klub Napoli berukuran besar dipajang di sebuah alun-alun. Kaos klub dan poster para pemain tampak digantung pada tali jemuran di gang-gang kecil.

Kaum muda rela mengantre panjang demi membeli roti isi berwarna klub Napoli yang dijual di restoran roti lapis populer, Con Mollica o Senza.

Kamar hotel untuk beberapa bulan ke depan hampir seluruhnya laris dipesan. Turis asing yang ingin merayakan kesuksesan Napoli, penggemar sepak bola yang tertarik dengan cerita Napoli, hingga pengunjung awam menyatu di dalam momen bersejarah ini.

Kesuksesan Napoli bertepatan dengan ledakan turis pascapandemi.

“Napoli sedang mengalami momen pengakuan diri dan penemuan kembali kehebatannya," kata penulis Angelo Forgione.

Ketika legenda sepakbola Diego Maradona membawa Napoli meraih Scudetto pertamanya pada 1987, para penggemar memasang spanduk di depan kuburan terbesar di kota itu dengan tulisan: “Anda tidak tahu apa yang Anda lewatkan”.

Kini, generasi yang terlalu muda untuk ingat masa kejayaan itu sedang merasakannya.

“Saya hanya berumur enam bulan pada 1990 tetapi saya dibesarkan dengan menonton VHS cuplikan Diego Maradona,” kata Vincenzo Credendino, dari CalcioNapoli24 TV. “Sekarang dengan Scudetto ini, rasanya seperti terhubung dengan masa itu."

Penghormatan untuk para pemain asuhan Luciano Spalletti terjalin dengan karya seni Maradona di seantero kota.

Wajah Maradona ada di mana-mana, di labirin jalanan Napoli, di jendela bar, stiker mobil, papan iklan, hingga terukir di dinding yang runtuh dalam mural raksasa.

Di Bar Nilo, sehelai rambut Maradona dipajang secara khusus demi menghormati sosok asal Argentina itu. Di museum bawah tanah, dipajang barang-barang yang diperoleh putra pembantu Maradona saat sang bintang meninggalkan kota.

"Maradona seperti dewa di sini," kata Maria Roberta De Iesu, seorang penggemar berusia 23 tahun. "Dia memberi orang harapan. Warga Napoli melihat diri mereka di Maradona."

Warisan Diego Maradona kepada Napoli

Lukisan mural di Quartieri Spagnoli ini menjadi tempat ziarah bagi para penggemar Diego Maradona setelah kematiannya pada 2020

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lukisan mural di Quartieri Spagnoli ini menjadi tempat ziarah bagi para penggemar Diego Maradona setelah kematiannya pada 2020

Baca juga:

Ketika Maradona tiba di kota itu dari Barcelona dengan rekor transfer pemain termahal sedunia pada Juli 1984, Napoli masih tertatih untuk bangkit dari bencana gempa yang menewaskan hampir 2.500 orang empat tahun sebelumnya.

Perseteruan dengan kelompok mafia Camorra masih sengit, angka pengangguran masih tinggi, dan Bank Napoli terancam bangkrut.

“Ketika Kota Napoli berada di posisi terendah, kami mampu membeli pemain sepak bola terkuat dan termahal di dunia dan menyentuh langit,” tambah Forgione.

Presiden klub yang menjabat saat itu, Corrado Ferlaino, sampai harus bergantung pada wali kota untuk membantu membiayai transfer Maradona. Para penggemar juga urun dana agar sang bintang bisa bergabung.

Mereka rela melakukan apapun demi mendapatkan Maradona.

'El Pibe de Oro' adalah segalanya bagi Napoli, dan Napoli adalah segalanya baginya. Kota ini terhubung dengan ”Anak Emasnya”, bukan hanya karena dia menginspirasi klub untuk meraih dua gelar Serie A dan Piala UEFA, tetapi juga mereka mengenalinya. Dia anti-kekuasaan, dia menggaungkan prinsip mereka, dan memikul keprihatinan mereka.

"Maradona sangat mahir dengan lidahnya, mulutnya, sikapnya," jelas Credendino. "Dia mengerti bagaimana memenangkan hati orang-orang Neapolitan, dia menyentuh nada yang tepat."

Maradona, terlepas dari hubungannya dengan mafia Kota Napoli, membawa "keadilan bagi rakyat" setelah mereka berjuang melawan Utara selama lebih dari satu abad sejak penyatuan Italia, kata pakar budaya Francesco Carignani.

“Ia punya banyak masalah dalam hidupnya tapi di Napoli kami hanya mengingatnya karena kebahagiaan itu,” tambah penggemar Paolo Cimmino.

“Kami mengenalnya sebagai seorang pria yang mengalahkan penguasa, Selatan menang lawan Utara.”

"Pertama kami adalah orang Napoli, selanjutnya orang Italia"

Spanduk merayakan kemenangan Scudetto Napoli yang sudah dekat digantung di depan mural San Gennaro di Napes

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Spanduk merayakan gelar Scudetto digantung di depan mural San Gennaro.

Baca juga:

Belum pernah ada klub sepak bola di sebelah selatan Roma yang memenangkan Serie A sejak klub Napoli dengan Maradona, Careca, Ciro Ferrara, Gianfranco Zola muda pada 1990.

Dengan gelar itupun warga Napoli masih diolok-olok khalayak Utara tentang kejahatan, kemiskinan, wabah kolera, dan harapan agar Gunung Vesuvius meletus di atas kota itu.

Orang-orang di sini "pertama adalah orang Napoli selanjutnya orang Italia", jelas Bellini, penyiar stadion ikonik Napoli.

Mereka memiliki bahasa, budaya, dan sejarah sendiri. Napoli pernah menjadi ibu kota Eropa yang berkembang pesat dan masih menjadi kota yang dikenal akan arsitektur yang menarik, Caravaggio, serta pizza.

Hal yang paling penting, kehidupan di Napoli begitu menyala.

"Orang di bagian selatan Italia melakukan segalanya dengan cinta, dengan begitu banyak emosi, dengan cara yang berbeda di Utara," tambah Cimmino.

Napoli harus jatuh dahulu untuk kemudian bangkit lagi. Defisit keuangan, degradasi, dan kebangkrutan terjadi setelah tahun-tahun kejayaan, tetapi para penggemar tetap bertahan. Lebih dari 50.000 orang menghadiri pertandingan saat Napoli bertarung di divisi tiga Liga Italia atau Serie C pada musim 2004-05.

"Untuk kota kami, sepak bola sangat penting," jelas jurnalis Elena Lopresti. "Itu bukan semata sepak bola, itu adalah instrumen sosial, alat untuk mengembangkan kita sebagai masyarakat."

Produser film Aurelio de Laurentiis membeli klub tersebut pada 2004. Ia mengembalikan sepak bola papan atas dan Eropa ke Napoli, klub dengan jumlah pendukung terbanyak keempat di Italia setelah Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.

Tetapi basis penggemarnya terkonsentrasi di wilayah tersebut, tidak menyebar "dari Pegunungan Alpen ke Sisilia" seperti yang dikatakan Forgione tentang tiga besar.

"De Laurentiis memiliki parasut," tambah Credendino. “Itu adalah rasa cinta dari orang-orang, selalu siap untuk pergi ke stadion, selalu siap untuk mendukung tim."

Napoli, menurut Forgione, adalah kota metropolitan Eropa yang langka karena hanya punya satu klub.

"Kemenangan Napoli adalah kemenangan identitas, dari mereka yang menjalaninya sepenuhnya," tambahnya.

"Di Napoli, sepak bola adalah segalanya," kata Cimmino. "Itu adalah kegembiraan, itu adalah cinta, itu adalah kesenangan, itu adalah kesedihan.

“Itu adalah cara untuk melepaskan diri dari masalah sehari-hari, cara untuk bersenang-senang dengan orang-orang dan pesta, dan periode ini adalah kebahagiaan," tambahnya.

Klub sepak bola Napoli sekarang

Pada musim panas lalu, ketika peluang menjadi juara luput dari Napoli, para suporter garis keras alias ultras berjanji untuk mengembalikan mobil Fiat Panda yang mereka curi dari pelatih Luciano Spalletti dengan syarat dia meninggalkan klub Napoli.

"Sekarang dia pantas mendapatkan Ferrari, bukan Panda," canda jurnalis Credendino.

Spalletti bukan warga Napoli, tetapi ia memiliki semangat yang sama dengan mereka. Setelah dipecat dari Inter, ia menghabiskan dua tahun bekerja di peternakan di Tuscany sebelum menduduki jabatannya di Napoli.

Kini, ia tinggal dekat tempat pelatihan, berjuang tak henti demi mendapatkan Scudetto.

Dulu Maradona merupakan wajah kemenangan Napoli, tetapi kali ini pahlawan-pahlawan baru telah muncul - yang dengan cerdik direkrut oleh direktur olahraga Cristiano Giuntoli dan didorong oleh bimbingan Spalletti.

"Giuntoli adalah orang di balik keajaiban ini," kata Credendino, meskipun beberapa penggemar resah ketika klub menjual pemain bintang seperti Kalidou Koulibaly, Lorenzo Insigne dan Dries Mertens tahun lalu.

"Giuntoli menemukan Khvicha Kvaratskhelia, dia menemukan Victor Osimhen, Kim Min-jae," tambah Cimmino.

"Spalletti membentuk bakat ini, membentuk karakter ini. Dia mampu menemukan kunci yang tepat untuk mendapatkan yang terbaik dari semua pemain. [Gelandang Slovakia Stanislav] Lobotka sekarang terlihat seperti Iniesta, dia terlihat seperti Xavi."

Pada hari pertandingan melawan Milan, di luar stadion yang menyandang nama Maradona, masih ada segelintir kostum Boca Juniors dan Argentina untuk menghormati Maradona.

Namun, ada pula para remaja yang mengenakan topeng wajah khas pencetak gol terbanyak Osimhen dan mengibarkan bendera Georgia untuk pemain sayap, Kvaratskhelia.

Jika ada sosok yang mirip Maradona di tim itu, dialah Kvaratskhelia yang berusia 22 tahun. Didatangkan dari Dinamo Batumi musim panas lalu, dia dijuluki "Kvaradona", tetapi Cimmino memandangnya sebagai Gianluigi Lentini di Torino atau Kaka saat ia bermain untuk Milan.

"Dia sangat tidak bisa ditebak di lapangan," tambah Credendino. "Tapi jika Maradona adalah setengah dewa, Kvaratskhelia adalah Paus. Dia memiliki sikap yang benar-benar berbeda, kepribadiannya sangat berbeda."

Kvaratskhelia bermain dengan semangat meledak-ledak. Kaus kakinya diturunkan di sekitar pergelangan kakinya, betis terbuka. Dia melompat, dia berlari ke mana-mana.

Baca juga:

Stadio San Paolo diubah namanya untuk mengenang Diego Maradona pada Desember 2020

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Stadio San Paolo diubah namanya untuk mengenang Diego Maradona pada Desember 2020

Hubungan warga Napoli dengan klub sepak bolanya terbilang kompleks.

"De Laurentiis memiliki hubungan yang sangat rumit dengan kota karena para suporter tidak menyukai kekuasaan, dan dia mewakili kekuasaan itu," jelas Carignani.

”Tetapi kami harus mengakui bahwa kemenangan ini bagus bagi dia karena ia adalah pebisnis hebat. Ia menaruh semangat di kota ini tetapi juga pandangan kewirausahaannya dalam mengelola tim dan itu telah menciptakan perbedaan."

Dalam waktu dekat, para pendukung dan pengurus klub akan merayakan gelar pertama Napoli dalam lebih dari tiga dekade.

Para pendukung berdoa kepada santo pelindung kota itu, San Gennaro, untuk momen ini. Bahkan mereka memanggil arwah Maradona.

Warga bersiap menyambut perayaan terbesar di antara semua perayaan.

”Kami merasakan kekuatan ini, emosi ini,” kata De lesu. "Nanti akan ada pesta besar di seluruh kota, semua alun-alun akan dipadati orang."

"Sekarang kami menikmatinya," tambah Carignani. "Itu sepadan dengan penantiannya."