Realitas perang Ukraina yang disembunyikan di Rusia, 'Anak-anak kami pasti pulang dengan selamat'
Steve Rosenberg
Editor BBC Rusia, di Pskov

Di Desa Vybuty, warga dalam jumlah besar berkumpul di luar sebuah gereja. Orang-orang ini sedang mengantre untuk bisa mencium ikon dari seorang santo.
Seorang pendeta Ortodoks dalam jubah bersulam emas melantunkan doa untuk Rusia: "Untuk negeri kita yang diberkati, para pemerintah dan pasukannya."
Di antara jemaatnya adalah prajurit Rusia.
Mereka berkumpul sambil mengacungkan tiga jari, sebuah simbol dari tradisi Ortodoks yang menggambarkan trinitas.
Simbol tiga jari ini juga biasa digunakan untuk mengucapkan sumpah.
Ukraina tidak disebutkan dalam ritual tersebut. Tapi Ukraina sudah ada di dalam benak mereka.
"Di keluarga, kami punya banyak anak-anak muda yang melayani [berperang] di sana," kata salah satu jemaat, Ludmila kepada saya. "Tuhan tidak akan mengabaikan mereka. Mereka pasti pulang ke rumah dengan selamat.
Tapi banyak tentara Rusia yang belum kembali.
Baca Juga:

Hanya beberapa meter dari situ, di area pemakaman, terdapat puluhan kuburan yang masih baru dari pasukan terjun payung Rusia.
Tanah pemakaman dijejali dengan karangan bunga, sementara panji-panji resimen pasukan berkibar tertiup angin. Pada salib kayu itu terdapat plakat dengan nama dan tanggal kematian.
Semuanya adalah prajurit yang tewas setelah 24 Februari: hari di mana Rusia meluncurkan invasi terhadap Ukraina.
Kuburan itu mengingatkan pada "kerugian signifikan" Kremlin yang diakui Rusia dalam invasi tersebut.
Invasi ini adalah gagasan Presiden Vladimir Putin. Dia memerintahkannya. Ini merupakan "operasi militer khusus"-nya.
Meskipun ribuan warga sipil tewas di Ukraina, pemimpin Kremlin ini tidak menunjukkan rasa belas kasihan, tidak sedikit pun ada penyesalan atas keputusannya untuk menyerang negara yang berdaulat dan merdeka.

Tapi bagaimana dengan warga Rusia? Sudah lebih dari lima bulan sejak invasi, apakah mereka percaya bahwa Presiden Putin telah mengambil keputusan yang benar?
Di kota-kota besar, seperti Moskow dan St Petersburg, bukanlah sesuatu yang umum didengar orang tentang kritik terhadap "operasi khusus" Kremlin.
Saya kemudian melakukan perjalanan jauh dari kota setelah sembilan jam mengemudi ke arah barat laut Moskow.
Saya meninggalkan desa Vybuty, dan menuju ke ibu kota daerah, Pskov.
Saat saya melewati pangkalan militer, sebuah poster di bagian luar menarik perhatian saya: "Perbatasan Rusia tak pernah berujung!"

Pskov merupakan kota benteng abad pertengahan, dalam sekitar 1.000 tahun terakhir telah menjadi saksi banyaknya pertempuran.
Dengan tembok dan menara yang tinggi, benteng kuno ini sangat menarik dan simbolik.
Beginilah cara Kremlin menggambarkan Rusia: sebuah benteng terkepung yang mendapat ancaman dari Barat.
Di kota ini, di sebuah stadion olah raga era Soviet, terdapat pertunjukan di mana mereka menghidupkan kembali pertempuran dari Perang Dunia II.
Orang-orang yang berlaga sebagai pendukung Rusia terlibat dalam baku tembak dengan kelompok yang menggunakan pakaian Nazi Jerman. Sebuah replika desa hangus terbakar.
Kremlin menyamakan apa yang saat ini terjadi di Ukraina merupakan Perang Dunia II. Mereka menekankan bahwa hari ini, sekali lagi, Rusia adalah korban, pahlawan, pembebas: orang-orang baik yang memerangi Nazi dan kaum fasis.
Ini merupakan gambaran yang salah. Sebuah realitas pararel. Tapi banyak yang mempercayainya.

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Anak saya yang paling kecil mengatakan bahwa Rusia selalu menang. Bahwa Rusia akan selalu menjadi pemenang. Saya harap itu benar," kata seorang warga, Tatyana. "Masa lalu mengajarkan kami bahwa orang-orang menyerahkan hidup mereka, agar kami bisa hidup. Itulah mengapa kami harus mendukung para prajurit saat ini."
Penyelenggara acara tidak mendukung kami bertanya mengenai Ukraina. Tepat ketika saya mewawancarai warga lainnya, sang sutradara menyela kami. Dia tersenyum canggung.
"Terima kasih sudah datang," katanya. "Saya menghormati Anda. Tapi saya harus meminta Anda untuk meninggalkan tempat ini. Wilayah ini merupakan bagian negara yang kompleks."
Wilayah ini juga salah satu yang paling miskin.
Saya melanjutkan perjalanan melewati wilayah Pskov, dan berkendara menuju Novorzhev.
Rusia mungkin merupakan negara adidaya energi, tapi kota ini tak punya pasokan gas - kota ini masih dalam tahap pembangunan.
Untuk menghangatkan rumah, banyak warga yang membakar kayu. Satu blok apartemen yang saya kunjungi juga tak memiliki pipa air bersih. Warga mengambil air dari sumur dengan menggunakan ember.

Di pasar setempat, saya bertemu dengan warga senior, Natalya Sergeyevna.
Lebih dari dua dekade Vladimir Putin berkuasa, ia tak mendapatkan masa pensiun yang nyaman.
Untuk melengkapi masa pensiunnya, Natalya menjual apa pun yang tumbuh dari rumahnya: mulai dari blackberry hingga tanaman hias.
Di usia 84 tahun, Natalya masih bekerja keras di kebun, menanam dan memanen kentang untuk mendapatkan uang tambahan. Walau begitu, ia tak menyalahkan presiden.
"Saya suka Putin, dan apa yang ia lakukan," katanya kepada saya.
"Saya merasa kasian kepadanya. Dia tak pernah beristirahat. Ada pun Amerika dan semua negara pembuat masalah, mereka hanya ingin memecah belah Rusia menjadi beberapa bagian. Mereka tak paham, bahwa mereka semestinya tidak mencoba untuk merendahkan kami."
Saya mendengar kritik seperti Natalya tentang Ukraina, Amerika Serikat dan Barat berkali-kali sebelumnya di TV Rusia. Hal ini tidak mengejutkan.
Di Rusia, televisi masih menjadi perangkat utama untuk membentuk opini publik.
Dan sejak Kremlin mengendalikan media televisi, saat itu pula pemerintahan sudah banyak mengendalikan narasi dan pesan di seluruh negara. Terutama karena media independen di Rusia dibungkam.
Hasilnya: masyarakat Rusia menerima gambaran yang sangat tersaring dan terdistorsi tentang apa yang terjadi di Ukraina. Tapi propagandanya tidak berhasil dalam kondisi lainnya.
Seperti halnya kebun milik Natalya Sergeyevna yang menghasilkan banyak buah beri, buah-buahan dan sayuran, di Rusia terdapat lahan subur bagi gagasan Rusia menjadi sebuah kerajaan, adidaya, mendikte negara tetangga, dan mengambil alih peran Barat.
Kremlin tahu bahwa pesannya akan memengaruhi dan menggerakkan emosi banyak orang di sini. Tapi memengaruhi emosi orang-orang adalah satu hal. Mengajak warga Rusia untuk bertempur di Ukraina adalah hal lainnya.
"Saya mendukung operasi khusus militer. Begitu banyak pemuda kami yang terbunuh," kata seorang pelajar berusia 18 tahun di Novorzhev. "Jika saya mendapat panggilan, saya akan pergi dan bertempur. Tapi saya tak ingin mendaftar."
"Kita wajib bertempur, kalau kita mendaftar," kata pelajar lainnya, Konstantin, kepada saya. "Kalau tidak, saya tidak akan pergi. Bukan demi uang, atau yang lainnya. Keluarga jauh lebih penting."
Kremlin mungkin mendominasi lanskap informasi. Tapi ada batasan kekuatannya untuk menggerakkan orang-orang.








