Putin katakan Rusia berjuang untuk 'tanah air, jaya bagi kemenangan, hore,' Zelensky tuduh Moskow ulangi kekejaman Nazi

Sumber gambar, EPA
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pasukan Rusia di Ukraina berjuang untuk masa depan tanah air, dalam pidato menandai kemenangan atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Dalam pesan terpisah menandai 9 Mei, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Nazi telah diusir pada 1945 dan Ukraina tidak akan membiarkan siapapun "mencaplok kemenangan ini". Sangat segera, kata Zelensky, Ukraina akan memiliki dua kemenangan untuk dirayakan.
Putin mengatakan invasi Ukraina - yang ia sebut "operasi militer khusus" penting dilakukan dan karena diprovokasi Barat.
Walaupun ada rumor Putin akan membuat pengumuman besar, pidatonya berisi sebagian besar mempertahankan invasi Rusia.
Ia mengaitkan perang di Ukraina dengan kemenangan pada Perang Dunia 1945, dan menyalahkan Barat serta NATO menolak tuntutan keamanan.
Hampir 10 minggu sejak invasi, korban warga sipil terus berjatuhan.
Sekitar 60 warga sipil dikhawatirkan meninggal di kota Bilohorivka di Ukraina timur setelah pasukan Rusia menyerang satu sekolah, tempat warga berlindung dari pengebomana.
Didampingi para jenderal, Putin menyebut orang Ukraina fasis dan kembali mengulangi klaim tak berdasar bahwa pemerintah di Kyiv yang terpilih berdasarkan pemilu dijalankan oleh neo-Nazi.
Membela tanah air selalu suci, kata Putin, mengacu pada wilayah timur yang sekarang menjadi fokus serangan Rusia.
"Hari ini kita berjuang untuk rakyat kita di Donbas, untuk keamanan Rusia, untuk tanah air."
Mengakhiri pidato 11 menitnya, presiden Rusia itu mengatakan, "Jaya angkatan bersenjata kita, bagi Rusia, bagi kemenangan, hore."
Kantor berita Rusia mengatakan sekitar 11.000 tentara dan 131 kendaraan lapis baja dikerahkan dalam parade itu termasuk armada tank, yang dianggap tidak siap digunakan dalam perang di Ukraina. Parade kecil direncanakan di kota-kota di seluruh Rusia.

Sumber gambar, Getty Images
Ilmuwan Rusia yang bisa berbahasa Indonesia- "Kami tak boleh bicarakan perang atau damai"
Seorang ilmuwan Rusia yang bisa berbahasa Indonesia mengatakan Putin menggunakan rasa hormat rakyat Rusia terhadap para pahlawan perang dengan kondisi sekarang.
"Dia (Putin) menggunakan ingatan tentang PD II, perang membela tanah air, dia memanfaatkan apa yang dirasakan penduduk sini yang sangat hormat terhadap pahlawan perang dan dia menyamakan pahlawan zaman itu dengan orang yang berperang sekarang [di Ukraina]," kata ilmuwan yang tak mau disebutkan namanya kepada BBC News Indonesia.
Untuk mengenang pahlawan PD II, kata ilmuwan itu, ada acara yang dinamakan Resimen Abadi dengan orang keluar rumah dengan membawa foto-foto mereka yang meninggal atau terlibat dalam perang dunia ketika melawan Nazi.
"Orang memperlihatkan rasa hormat kepada pahlawan dengan membawa foto-foto...tahun ini Putin mengizinkan membawa foto orang yang beperang di wilayah Ukraina. Itulah saya katakan ia menggunakan rasa hormat dan peringatan PD II untuk tujuannya sendiri."
"Dia mau menyamakan keadaan yang dulu dan keadaan yang sekarang. bahwa operasi militer di Ukraina, itu adalah sesuatu yang adil dan harus didukung, karena di Ukraina menurut pendapat pemerintah, seluruh penduduknya Nazi. Mereka disebut Nazi, disebut musuh. Jadi digunakan kata seperti mari kita memusnahkan Nazi di Ukraina," tambahnya.
"Tentu tidak benar itu, mana bisa anak-anak sekolah Nazi," katanya lagi.
Ilmuwan ini juga mengatakan warga tak bisa menggunakan kata perang atau damai dan bisa terancam ditangkap.
"Sekarang sudah ada undang-undang yang menghukum mereka yang menyatakan pendapat melawan perang," kata ilmuwan ini.
Ia mengatakan sebagian besar intelektual tidak sepakat perang namun membatasi diskusi di antara mereka sendiri. Puluhan ribu warga Rusia yang ke luar negeri adalah sebagai tanda protes.
"Ada orang yang keluar rumah dengan tulisan di kertas "damai", langsung ditahan di bawa ke pengadilan....Ada yang menulis di jalan, 'kamu tidak sendiri', malam ditulis, pagi sudah dicuci (dibersihkan) atau dicat hitam." tambahnya lagi.

Sumber gambar, Getty Images
Rusia merekonstruksi Nazisme

Sumber gambar, EPA
Sebelum Putin berpidato, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh Rusia sedang berusaha "merekonstruksi Nazisme". Pernyataan ini berbanding terbalik dengan klaim Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang berdalih bahwa serangan ke Ukraina merupakan upaya negaranya memerangi "Nazi".
Dalam pidato memperingati Perang Dunia II, Zelensky mengatakan tentara Rusia sedang mereplikasi "kekejaman" Nazi dalam invasi ke negaranya.
Baca juga:
Zelensky diyakini tengah berusaha mengambil hati negara-negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Belanda lewat pidatonya ini. Dia menyamakan pengeboman Nazi di Eropa Barat dengan serangan Rusia ke Ukraina.
"Kegelapan telah kembali ke Ukraina, keadaan telah menjadi hitam dan putih lagi," katanya dalam pidato yang disiarkan lewat video, Minggu (08/05).
Rekaman di video menunjukkan Zelensky berdiri di depan bangunan permukiman yang hancur. "Kejahatan telah kembali, dengan seragam yang berbeda, slogan yang berbeda, tetapi tujuannya sama," ujarnya.
Video tersebut juga menampilkan rekaman arsip Perang Dunia II dan rekaman invasi Rusia dalam hitam-putih.
Ketika Ukraina diinvasi oleh Rusia pada akhir Februari lalu, para pejabat Moskow bersikeras operasi mereka merupakan bagian dari upaya "mendenazifikasi" negara tersebut.
Adapun, saat ini Ukraina cemas Rusia akan menggencarkan serangan menjelang peringatan Hari Kemenangan Rusia pada 9 Mei mendatang.
Pada saat yang sama, pemerintah Barat terus menunjukkan dukungan mereka untuk perjuangan Ukraina.
Pada hari Minggu kemarin, Zelensky mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin G7, termasuk Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, melalui konferensi video.
Setelah pertemuan itu, para pemimpin menjanjikan dukungan berkelanjutan mereka kepada Ukraina dan tekad mereka untuk perlahan-lahan menyetop pasokan minyak dari Rusia. Rusia menerima jutaan dolar setiap hari untuk energi, dan pembayaran itu membantu mendanai upaya perang Rusia.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, juga bertemu Zelensky secara langsung setelah melakukan kunjungan mendadak ke kota Irpin, dekat Kyiv, yang digempur pasukan Rusia di awal invasi.
Pada konferensi pers setelah itu, Trudeau mengumumkan tambahan bantuan militer untuk Ukraina.
Pertempuran sengit di Luhansk
Sementara itu dalam perkembangan terbaru perang di Ukraina, Presiden Zelensky mengatakan 60 orang tewas setelah bom menghantam sebuah sekolah di Ukraina timur.
Sebelumnya, gubernur wilayah Luhansk, Serhiy Haidai, mengatakan 90 orang tengah berlindung di gedung tersebut di Bilohorivka, dan 30 berhasil diselamatkan.
Haidai mengatakan sebuah pesawat Rusia menjatuhkan bom pada hari Sabtu (07/05). Rusia belum mengomentari ini.

Sumber gambar, Serhiy Haidai
Luhansk menjadi tempat pertempuran sengit saat pasukan Rusia dan milisi lokal yang menyokong mereka sedang berusaha mengepung pasukan pemerintah.
Sebagian besar wilayah telah berada di bawah kendali milisi pro-Rusia selama delapan tahun terakhir.
Bilohorivka berada dekat dengan kota Severodonetsk yang dikuasai pemerintah. Pertempuran sengit dilaporkan terjadi di pinggiran kota ini, Sabtu lalu.
Salah satu surat kabar Ukraina, Ukrayinska Pravda, menyebut desa itu menjadi "titik panas" selama pertempuran pekan lalu.
Ledakan itu merobohkan bangunan yang terbakar. Petugas pemadam kebakaran membutuhkan waktu tiga jam untuk menjinakkan api, menurut Gubernur Serhiy Haidai, dalam pesan di Telegram.
Hadai mengatakan, hampir seluruh desa telah berlindung di ruang bawah tanah sekolah. Jumlah pasti korban yang tewas, kata dia, hanya akan diketahui setelah puing-puing dibersihkan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku terkejut oleh serangan mematikan tersebut. "Warga sipil harus selalu diselamatkan pada saat perang," ujarnya.
Mariupol masih di tangan Ukraina
Sementara itu di Mariupol, pasukan Ukraina di pabrik baja yang dikepung pasukan Rusia menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerah. Namun mereka meminta bantuan untuk mengevakuasi orang-orang yang terluka.
Rusia sudah mengepung daerah itu selama berminggu-minggu. Mereka mendesak pasukan dari Batalion Azov, Ukraina, untuk meletakkan senjata.
Namun dalam konferensi pers dari pabrik yang hancur sebagian itu, anggota batalion tersebut mengatakan mereka tidak akan menyerah.

Sumber gambar, Reuters
Salah satu dari mereka, Letnan Illia Samoilenko, mengatakan, "Menyerah bagi kami bukan pilihan karena kami tidak dapat memberikan hadiah sebesar itu kepada musuh."
"Kami pada dasarnya adalah orang mati. Sebagian besar dari kami tahu ini. Itu sebabnya kami bertarung tanpa rasa takut," tuturnya.
Lebih dari itu, Batalion Azov melontarkan kritik bahwa pemerintah Ukraina gagal dalam mempertahankan Mariupol.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menanggapi kritik itu dengan mengatakan bahwa negaranya tidak mempunyai persenjataan berat untuk menguasai kembali kota itu.
Dia berkata, justru upaya diplomatik yang dia lakukan yang dapat mengevakuasi semua warga sipil yang terperangkap di dalam pabrik baja tersebut.
Sejak invasi Rusia dimulai pada 24 Februari lalu, Komisi Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB mencatat setidaknya terdapat 2.345 kematian di kalangan warga sipil. Laporan yang terbit April lalu itu juga menyebut 2.919 warga mengalami luka-luka.
Adapun, ribuan tentara dua dari dua pihak yang berperang juga diyakini telah tewas atau terluka.
Lebih dari 12 juta orang diperkirakan telah mengungsi dari rumah mereka di Ukraina sejak konflik dimulai. Sekitar 5,7 juta penduduk diyakini pergi ke negara-negara tetangga dan sementara 6,5 juta orang lainnya diperkirakan mengungsi di dalam negeri.











