Rusia bersiap memperluas wilayah perang di Ukraina

Ben Tobias

BBC News

Seorang serdadu Rusia bersiaga di dekat Melitopol, kawasan Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, 14 Juli 2022.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Seorang serdadu Rusia bersiaga di dekat Melitopol, kawasan Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, 14 Juli 2022.

Fokus operasi militer Rusia tak lagi "hanya" di bagian timur Ukraina, kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

Dalam sebuah wawancara dengan media milik pemerintah Rusia, Lavrov menyiratkan bahwa strategi Moskow telah berubah setelah Barat memasok senjata jarak jauh untuk Ukraina.

Rusia, kata dia, sekarang harus mendorong mundur pasukan Ukraina lebih jauh dari garis depan untuk memastikan keamanan Moskow.

Komentar Lavrov mengemuka ketika Amerika Serikat mengumumkan bakal memasok lebih banyak persenjataan jarak kauh untuk Ukraina.

Ukraina akan mendapat empat unit sistem persenjataan roket Himars untuk menahan laju tentara Rusia. Dengan tambahan ini, Ukraina secara total kini memiliki 16 unit Himars, kata Kepala Pentagon, Lloyd Austin.

Sementara itu, di hadapan para anggota Kongres AS, Ibu Negara Ukraina, Olena Zelenska, meminta lebih banyak sistem pertahanan udara untuk "membantu kami menghentikan teror terhadap Ukraina".

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Baca Juga:

Rusia menginvasi Ukraina pada Februari lalu, dengan klaim bahwa penduduk berbahasa Rusia di wilayah Donbas telah mengalami genosida dan perlu dibebaskan.

Lima bulan berlalu, Rusia telah menduduki bagian timur dan selatan Ukraina. Tapi Rusia gagal menguasai Kyiv yang menjadi tujuan utama pendudukan mereka. Sejak itu pula Rusia mengklaim bahwa tujuan utamanya adalah pembebasan Donbas.

Amerika Serikat menuduh Rusia bersiap menduduki sejumlah bagian wilayah Ukraina.

Karenanya, sejak Februari, Barat memasok persenjataan berat ke Ukraina untuk digunakan dalam pertahanan melawan pasukan Rusia.

Lavrov mengatakan, bahwa hal itu telah memaksa Rusia untuk memperluas tujuan militernya.

"Kita tak bisa membiarkan bagian Ukraina yang dikuasai oleh [Presiden Ukraina Volodymyr] Zelensky... memiliki senjata yang akan menimbulkan ancaman langsung ke wilayah kita," kata Lavrov dalam wawancara dengan Margarita Simonyan - yang dikenal sebagai komentator Russian TV (RT) sekaligus pemimpin redaksi RT.

"Peta geografisnya sekarang berbeda," katanya, yang menyebut bagian wilayah selatan Kherson dan Zaporizhzhia sebagai tujuan baru Rusia.

Pasukan Moskow sudah menduduki kedua wilayah tersebut.

Peta Aneksasi Rusia di Ukraina

Lavrov secara khusus merujuk sistem persenjataan roket jarak jauh Himars - yang baru-baru ini dipasok oleh AS - dan telah digunakan Ukraina dengan sukses.

Menurut sejumlah laporan, pasukan Ukraina telah menggunakan Himars selama dua hari berturut-turut untuk menghantam jembatan strategis di wilayah Kherson yang telah dikuasai Rusia.

Jembatan Antonivskyi adalah satu dari dua jembatan yang diandalkan Rusia untuk mengirim pasokan ke wilayah tepi barat sungai Dnipro, termasuk kota Kherson - dua wilayah yang kini telah dikuasai Rusia.

Menteri luar negeri Rusia menggambarkan tindakan Barat memberikan senjata kepada Ukraina sebagai sebuah "kemarahan tanpa daya" dan "hasrat untuk membuat segalanya makin buruk".

Rencana pencaplokan Rusia sudah terbaca

Senjata jarak jauh Himars

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Senjata jarak jauh yang dipasok AS ke Ukraina telah mengubah perhitungan Rusia, kata Menlu Lavrov.

Rencana perluasan pendudukan Rusia di wilayah Ukraina sebelumnya sudah disebut-sebut juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, John Kirby.

Ia mengatakan Rusia sudah membuat rencana untuk mencaplok sebagian besar wilayah Ukraina.

Baca juga:

Dia menuduh Moskow menggunakan "buku strategi" yang sama seperti ketika merebut Krimea dengan menyelenggarakan referendum palsu pada 2014.

Kirby mengatakan Rusia telah menempatkan pejabat-pejabat pro-Rusia untuk menjalankan rota pemerintahan wilayah Ukraina yang dikuasai Moskow.

Pemerintahan" baru ini kemudian akan menyelenggarakan referendum untuk menjadi bagian dari Rusia, mungkin paling cepat September mendatang.

Keterangan video, Duta besar Rusia dan Ukraina untuk Indonesia

Hasil referendum akan digunakan Rusia "sebagai upaya untuk mengeklaim pencaplokan wilayah Ukraina yang berdaulat," kata Kirby.

Krimea telah dicaplok oleh Rusia pada 2014 setelah referendum yang dilaksanakan secara terburu-buru serta dipandang ilegal, tidak bebas, dan tidak adil oleh komunitas internasional. Hasil referendum: warga memilih bergabung dengan Rusia.

Pemungutan suara yang diadakan di bagian wilayah lain Ukraina hampir pasti menunjukkan situasi serupa. Suara oposisi yang menolak bergabung dengan Rusia, sebagian besar akan mendapat tekanan.

Kirby mengatakan dia "mengungkap" rencana Rusia "agar dunia tahu bahwa pencaplokan ini telah direncanakan, ilegal, dan tidak sah". Dia berjanji akan ada respons cepat dari AS dan sekutunya.

Target wilayah pencaplokan Rusia mencakup Kherson, Zaporizhzhia, Donetsk dan Luhansk, kata Kirby.

Daerah-daerah itulah yang disebut Lavrov menjadi target Rusia saat ini.