‘Kapan kita bisa pulang? – Warga hampir sebulan mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki

Sumber gambar, Antara Foto
Kondisi tempat pengungsian yang padat, kebutuhan sehari-hari yang kurang, hingga rasa rindu untuk kembali pulang ke rumah menjadi keluhan para pengungsi yang terdampak oleh erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gabriel Tolok, pengungsi di wilayah Wulanggitang mengatakan tendanya diisi oleh sekitar 50 orang, “Dari ruangan bisa muat, cuma secara layak, itu tidak,” katanya sambil menambahkan kondisi lauk makanan yang juga kurang.
Kepala Desa Nobo, Petrus Kikung Witi, mengatakan warganya – yang semua mengungsi – mengaku ingin cepat pulang. Tapi di sisi lain, ujarnya, mereka khawatir menjalani hidup pasca-bencana karena mengalami gagal panen dan simpanan uang terkuras saat mengungsi.
Hingga Selasa (30/01), menurut Ketua Tim Tanggap Darurat erupsi Gunung Lewotobi, Kus Hendratno, aktivitas kegempaan masih tinggi. Secara visual, erupsi dan guguran lava masih berlangsung walaupun status telah diturunkan dari Awas menjadi Siaga.
Pemda Flores Timur mencatat erupsi ini menyebabkan 6.269 jiwa dari tujuh desa mengungsi. Namun hingga kini, belum ada informasi kapan para pengungsi akan dipulangkan.
Bagaimana kondisi pengungsi?

Sumber gambar, Elizar Robert
Gabriel Tolok dan keluarganya mengungsi di SMP Negeri 1 Wulanggitang sejak awal Januari 2024. Mereka tinggal bersama sekitar 50 orang lain di sebuah ruangan pengungsian.
”Dilihat dari ruangan bisa muat, cuma secara layaknya, tidak. Anak di dalam, lansia di dalam, itu buat muncul sakit,” kata Gabriel saat dihubungi Selasa (30/01).
Untuk alas tidur, tambah Gabriel, dia dan mayoritas pengungsi membawa dari rumah masing-masing.
“Kendala kasur lantai masih kurang sekali, perlu ada perhatian khusus.”
Gabriel bercerita setiap pengungsi mendapat makan dan minum setiap hari, namun jumlah lauknya disebut masih kurang.

Sumber gambar, Elizar Robert
Keluhan yang sama sebelumnya juga disampaikan oleh Yustina Ena, warga Desa Nobo yang mengungsi ke Desa Konga.
”Kami tidur yang setengah mati. Kalau hujan harus duduk, angkat kursi taruh pakaian semua di atas kursi,“ cerita Yustina yang mengaku tinggal dalam tenda bersama dengan sekitar 65 pengungsi lainnya.
Terkait keluhan Yustina itu, Kepala Desa Nobo, Petrus Kikung Witi membenarkan bahwa ada satu tenda yang ditempati oleh 60-an orang.
Namun, katanya, kondisi tenda tersebut telah ditinggikan sehingga dapat terhindar dari banjir saat hujan tiba.
Empat orang meninggal dalam pengungsian
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur, Senin (29/01), total pengungsi sebanyak 6.269 jiwa.
Kemudian, total penyakit kumulatif yang dirasakan pengungsi sejak 1 hingga 29 Januari 2024 sebanyak 5.744 kasus, di antaranya adalah 2.389 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas; 476 kasus infeksi kulit atau dermatitis, dan 298 kasus mialgia atau nyeri otot.
Selama periode ini terdapat empat orang pengungsi yang meninggal.

Sumber gambar, Elizar Robert
Mereka adalah Maria Peni Hayon (70 tahun), Petrus Kula Puka (64 tahun), Yuliana Soge (98 tahun), dan Antonius Belang Uran (72 tahun).
Satu meninggal di lokasi pengungsian dan tiga lainnya di fasilitas kesehatan.
Penyebab kematian mereka dilaporkan adalah sesak napas, rematik, asma, asam urat, dan lambung.
‘Kapan kita bisa pulang?’
Salah satu desa yang paling terdampak dari erupsi Gunung Gunung Lewotobi Laki-Laki adalah Desa Nobo.
Seluruh warga yang tinggal di desa ini menjadi pengungsi.
Total mereka berjumlah 1.226 jiwa, setelah tiga orang dilaporkan meninggal saat mengungsi.
Kepala Desa Nobo, Petrus Kikung Witi, menceritakan bahwa warganya mengungsi sejak 1 dan 3 Januari lalu hingga sekarang.

Sumber gambar, Elizar Robert
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Hampir sebulan dalam pengungsian tanpa bekerja, sebut Petrus, membuat kondisi perekonomian warganya mengalami kesulitan.
“Mereka keluhkan dan selalu tanya, kapan kita pulang Bapak desa, kapan kita pulang karena simpanan uang, tabungan sudah habis,” kata Petrus.
“Terutama bagi mereka yang punya anak sekolah, kuliah. Minta uang setengah mati karena orang tua tidak punya pekerjaan,” tambahnya.
Baca juga:
Selain itu, Petrus mengatakan, warganya juga rindu untuk pulang ke rumah masing-masing dan juga menjalankan kehidupan sehari-hari seperti biasanya.
Terkait keinginan warga ini, Kepala Dinas Kominfo Flores Timur, Heronimu Lamawuran, mengatakan masih belum bisa memulangkan warga.
“Status level sudah turun tapi kita masih menunggu informasi lanjutan, apakah mereka bisa dipulangkan atau tetap."
“Seperti tadi disampaikan Kepala BNPB, untuk sementara masih di pengungsian dulu. Kita lihat lagi perkembangan selanjutnya, kalau melandai nanti diatur lebih lanjut seperti apa,” kata Heronimu sambil menambahkan bahwa kondisi pengungsi aman dan sehat.
Gagal panen hingga ancaman kerusakan rumah
Petrus Kikung mengatakan pekerjaan utama warganya adalah di sektor pertanian, galian pasir dan batu, serta komoditi kopra hingga kemiri.
Untuk pertanian, kata Petrus, hampir semua tanaman warga mengalami kerusakan total akibat erupsi.
“Lahan pertanian gagal panen karena sudah mati oleh semburan lahar,” kata Petrus.

Sumber gambar, Elizar Robert
Kondisi ini semakin mempersulit kondisi perekonomian warga yang bergantung pada pertanian.
Kegelisahan lain yang dipikirkan warganya, kata Petrus, adalah dampak dari abu letusan di rumah-rumah warga.
“Dia punya abu ada di atas seng, dan satu tahun bertahan seng-nya bisa karat dan bolong. Belerang ini di seng, bahaya,” katanya.
Jika kerusakan atas rumah itu terjadi, ujur Petrus, warganya akan mengalami kesulitan secara ekonomi untuk melakukan perbaikan.
‘Bahan makan-minum masih kurang’
Petrus mengatakan, makanan pokok seperti beras dan barang habis pakai seperti sabun di tempat pengungsian masih kurang mencukupi.
”Warga saya di pos ini memang dapat jatah makan, tapi maklum saja kami di kampung makan banyak. Karena di pos terbatas sehingga kita makan apa adanya yang penting bisa bertahan hidup,” kata Petrus.

Sumber gambar, Antara Foto
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat mengunjungi pengungsi menegaskan bahwa institusinya terus berupaya agar masyarakat terdampak bencana bisa tertangani dengan baik.
”Jangan sampai karena mengungsi, gara-gara pelayanan tidak baik, kesehatan tidak baik, ada korban. Makanya kita pastikan keselamatan rakyat jadi faktor utama yang betul-betul kita tangani,” kata Suharyanto.
BNPB telah mendistribusikan beragam jenis bantuan seperti di antaranya adalah makanan siap saji, tenda pengungsian, genset, sembako, kasur lipat, matras, selimut, air mineral, sabun hingga pakaian.
Bagaimana kondisi aktivitas gunung terkini?

Sumber gambar, magma.esdm.go.id
Berdasarkan pengamatan kegempaan pada Selasa (30/01) periode 12:00 – 18:00 WITA, telah terjadi 10 kali gempa guguran.
Dalam periode yang sama juga terjadi satu kali gempa low frequency dan juga empat kali gempa hybrid.
Sebelumnya, selama periode 23-29 Januari telah terjadi delapan kali gempa letusan, 11 kali gempa awan panas guguran, 388 kali gempa guguran, delapan kali gempa hembusan.
Selain itu terjadi juga satu kali gempa harmonik, 35 gempa low frequency, 20 kali gempa hybrid, dan lainnya.

Sumber gambar, magma.esdm.go.id
Status Awas (Level IV) Gunung Lewotobi Laki-Laki diberlakukan sejak 9 Januari 2024. Namun status itu diturunkan ke tingkat Siaga (level III) pada Senin (29/01) silam.
Penurunan itu dapat dilihat, di antaranya, dari tinggi kolom erupsi dari rata-rata 1.500 meter menjadi 500 meter di atas puncak gunung, dan jarak luncur awan panas guguran menurun dari 2 km menjadi 1 km.
Ketua Tim Tanggap Darurat erupsi Gunung Lewotobi, Kus Hendratno mengatakan, walaupun statusnya turun, aktivitas kegempaan Gunung Lewotobi Laki-Laki masih cukup tinggi.
Hendratno menjelaskan penurunan status selaras dengan penurunan tingkat bahaya dari gunung api tersebut, seperti cakupan wilayah.
Pemukiman yang tidak kena radius bahaya diperbolehkan untuk pulang.
”Selama status Awas, para pengungsi dikelola atau diurus oleh BPBD baik logistik maupun tempat tinggal. Setelah otomatis turun Siaga maka BPDB siap-siap untuk memulangkan beberapa pengungsi yang boleh pulang."
"Apakah boleh beraktivitas tidaknya, mengikuti rekomendasi kami dimana batas-batas yang boleh beraktivitas dan tidak,” kata Hendratno.
Apa rekomendasi untuk warga sekitar Gunung Lewotobi?
Walaupun telah mengalami penurunan status, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki direkomendasikan untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius empat kilometer dari pusat erosi, dan sejauh lima kilometer pada arah utara timur laut, serta enam kilometer pada sektor timur laut.
Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki juga harus mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
”Masyarakat yang terdampak hujan abu Gunung Lewotobi Laki-Laki memakai masker atau penutup hidung-mulut untuk menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan,” dilansir dari situs Magma Indonesia.
Bagaimana sejarah letusan Lewotobi?

Sumber gambar, Antara Foto
Gunung Lewotobi adalah gunung api aktif kembar yang terletak di Pulau Flores dan memiliki dua puncak, yaitu Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.
Tercatat, sejak tahun 1861 hingga 2003, Gunung Lewotobi telah meletus sebanyak 17 kali.
Kepala Desa Nobo, Petrus Kikung Witi, mengaku letusan gunung Lewotobi sebelumnya tidak pernah separah ini.
“Karena yang tahun-tahun sebelum semburan lahan lewat dia punya kawah yang asli, sementara yang ini dia keluar bukan lewat kawah inti tapi buat lobang kawah baru,” kata Petrus.
Kus Hendratno menjelaskan erupsi eksplosif tahun 2003 tanpa diikuti aliran lava atau guguran.
“Hampir 20 tahun kemudian, mungkin ini memang sudah siklusnya. Gunung itu kadang diam lama, setelah itu kumpulkan energi untuk magma naik ke permukaan,” ujar Hendratno.
Dilansir dari volcano.si.edu, letusan Gunung Lewotobi tercatat terjadi pada tahun 1932, 1933, dan 1939.
Setelah 52 tahun tenang, gunung ini kembali meletus pada tahun 1991.
Tahun 1999 kembali terjadi gemuruh dan keluarnya abu. Sekitar 4 bulan kemudian, tepatnya tanggal 1 Juni 1999, terjadi letusan yang cukup kuat.
Letusan tersebut membuat lava pijar tersembur hingga radius 500 meter yang mengakibatkan kebakaran hutan hingga lebih dari 2,5 km. Sedangkan abu berterbangan hingga radius 8 km.
Letusan Gunung Lewotobi kembali terjadi pada 2002 dan 2003.
Elizar Robert, wartawan di NTT, turut berkontribusi untuk liputan ini













