Kesaksian mantan pengikut sekte yang membantu orang keluar dari 'sekte berbahaya'

Steven Hassan pada 1974

Sumber gambar, Steven Hassan

Keterangan gambar, Foto Steven Hassan saat ia masih bergabung dengan sekte Unification Church pada 1974

Kasus ini mengejutkan tak hanya bagi satu negara, tetapi juga seluruh dunia: Ratusan pengikut sebuah sekte di Kenya sengaja membiarkan diri mereka mati kelaparan agar dapat “bertemu dengan Yesus“, berdasarkan instruksi sang pendeta.

Kini, banyak orang bertanya-tanya apa yang menjadi karakteristik sebuah sekte dan mengapa orang-orang bisa terpengaruhi olehnya.

Koresponden BBC Keagamaan Global, Lebo Diseko, mewawancarai seorang pria yang mengaku dirinya pernah bergabung dalam sebuah sekte dan sekarang ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu para pengikut sekte untuk keluar.

Ratusan jenazah telah ditemukan memiliki hubungan dengan sekte kiamat di Kenya

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ratusan jenazah telah ditemukan, mereka menjadi korban sekte kiamat di Kenya.

“Saya tidak sadar saya didoktrin. Saya tidak tahu saya masuk sekte,“ kata pria berusia 69 tahun yang menceritakan pengalamannya lewat percakapan video pada saya.

Namun, sekarang Dr Steven Hassan menyebut kelompok yang ia ikuti saat masih remaja itu sebagai sekte berbahaya.

Ia mengatakan pengalamannya keluar dari kelompok agama penuh kontroversi itu terasa “seperti bangun dari mimpi buruk“.

“Saya sangat-amat malu.“

Pada 1974, saat ia berusia 19 tahun, Steven Hassan bergabung dalam Unification Church (Gereja Unifikasi).

Para pengikut kelompok itu bahkan sering disebut sebagai “Moonies” oleh kritikus, karena kaitan erat mereka dengan mantan pemimpin kelompok, yakni Pendeta Sun Myung Moon.

Sekarang kelompok itu menyandang nama Federasi Keluarga untuk Perdamaian Dunia dan Unifikasi (the Family Federation for World Peace and Unification).

Kelompok itu menekankan bahwa mereka adalah “agama yang dapat dipercaya”, bukan sekte. Namun, pengalaman Hassan berlawanan dengan klaim mereka.

Baca juga:

Kartu mahasiswa Steven Hassan saat ia masih kuliah, sebelum ia bergabung dengan Gereja Unifikasi.

Sumber gambar, Steven Hassan

Keterangan gambar, Kartu mahasiswa Steven Hassan saat ia masih kuliah, sebelum ia bergabung dengan Gereja Unifikasi.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Definisi tepat yang menjelaskan apa itu sekte masih sering diperdebatkan.

Tetapi, psikiater Robert Jay Lifton mengidentifikasi tiga karakteristik sebuah sekte: pemimpin karismatik yang menjadi objek pemujaan, proses yang melibatkan bujukan yang koersif (atau doktrinasi), serta eksploitas para anggota secara ekonomi, seksual maupun lainnya.

Dr Hassan mengatakan ia diajak bergabung dalam Gereja Unifikasi secara “bertahap“. Pertama, ia mengatakan dirinya didekati oleh sekelompok perempuan muda saat sedang duduk di kantin kampus.

Ia baru saja “diputus tiba-tiba” oleh pacarnya, dan sedang dalam kondisi “rentan” sehingga merasa senang mendapat perhatian.

“Saya bertanya ke mereka, ‘apakah kalian bagian dari semacam kelompok agama?’ ” kata Dr Hassan kepada saya. “Mereka bilang ‘tidak, tidak sama sekali’. Itu ternyata bohong.”

Kemudian, sambungnya, muncul fase “love-bombing” – memberikannya banyak tanda kasih sayang kepadanya agar ia tertarik untuk gabung dalam kelompok dan memanipulasi dia.

Kelompok itu mengundangnya ke acara makan malam, dengan mengatakan “kami ingin memperkenalkanmu ke teman-teman kami di seluruh dunia”.

Baca juga:

Selanjutnya, ia diundang menghadiri acara diskusi dan kemudian mereka mengatakan “kami akan pergi di akhir pekan ini. Kamu sebaiknya ikut, itu akan sangat menyenangkan”.

Pada akhir pekan itu, kata Dr Hassan, mereka “masuk ke dalam kepala saya” dengan menggunakan klaim seperti “ini adalah saat yang sangat spesial dalam sejarah, Perang Dunia III akan terjadi antara Rusia dan Amerika Serikat, ada banyak rencana spiritual yang terjadi.”

Setelah waktu yang cukup lama, mereka mulai mengajarkan kepercayaan-kepercayaan lainnya kepada dia.

Ia mengeklaim bahwa mereka menyebut pemimpin kelompok itu, Pendeta Moon -yang lahir di Korea Utara- adalah “Mesias, lebih hebat dari Yesus”, dan orang Korea adalah ras superior.

Meskipun ia lahir dan dibesarkan dalam agama Yahudi, Dr Hassan mengatakan setelah tiga bulan bergabung dengan Gereja Unifikasi, ia “bahkan percaya bahwa Holokos itu dapat dibenarkan”.

“Saya benar-benar diradikalisasi,” kata dia.

“Pemikir, perasa, pelaku atau pemercaya“

pernikahan massal

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Gereja Unifikasi sering mengadakan pernikahan massal

Klaim-klaim ini dibantah keras oleh gereja itu, mereka mengatakan “tidak ada yang mengatakan dalam ajaran kelompok bahwa Holokos dibenarkan”, dan bahwa mereka “memiliki banyak anggota yang lahir dan dibesarkan secara Yahudi”.

Tak hanya itu, mereka mengatakan bahwa ”tidak ada indikasi” dalam ajaran mereka yang menyebut Pendeta Moon sebagai sosok yang “lebih hebat dari Yesus“ atau bahwa “orang Korea merupakan semacam ras superior“.

Gereja itu juga membantah menggunakan love bombing untuk merekrut anggota.

Mereka mengatakan bahwa memang anggota gereja sering pergi untuk berbicara dengan mahasiswa, mereka “cukup terbuka tentang kepercayaan minoritas yang mereka pegang, dan tidak ada tipu daya yang mereka lakukan.“

Baca juga:

Dr Hassan mengatakan ia keluar dari kampusnya untuk menjadi pemimpin kelompok yang membantu dalam merekrut anggota.

Dia mengevaluasi para calon anggota berdasarkan karakter “pemikir, perasa, pelaku atau pemercaya“. Dia kemudian akan memilih cara berbicara yang tepat untuk membujuk mereka berdasarkan karakter masing-masing.

“Jika seseorang adalah perasa, kami akan membicarakan kasih sayang dan betapa menyenangkan memiliki saudara-saudara yang saling menjaga satu sama lain.

“Pelaku adalah orang-orang yang ingin memperbaiki keadaan dan membuat perubahan berdampak. Jadi kami membujuknya dengan itu.

“Bagi pemercaya, kami membicarakan hal rohani. ‘mari kita berdoa bersama dan meminta arahan Tuhan untuk membukakan pintu hatimu’. Strategi akan berubah berdasarkan jenis orang.”

Ia butuh waktu dua setengah tahun dan sebuah kecelakaan mobil sampai akhirnya ia keluar. Berbaring di rumah sakit memberikannya waktu untuk berpikir jernih seorang diri dan ia akhirnya menelepon saudara perempuannya.

 Sun Myung Moon

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pendeta Sun Myung Moon memimpin Gereja Unifikasi, kemudian meninggal pada 2012.

Baca juga:

Saudara perempuannya memintanya untuk datang dan berkunjung. Ia akan membantunya dan mengingatkannya bahwa ia memiliki keponakan yang ingin menghabiskan waktu dengannya.

Hassan tak menyangka saudara perempuannya secara diam-diam menjadwalkan sesi pencerahan atau ‘pemrograman ulang’ baginya.

Ketika ia mendengarkan pengalaman orang-orang yang telah meninggalkan kelompok itu yang membuat dia akhirnya sadar. ”Saya menangis dan saya berpikir ‘bagaimana saya bisa percaya itu? Apa yang terjadi pada pikiranku?”

Gereja Unifikasi mengatakan pandangan Dr Hassan terhadap kelompok ”terdistorsi, berlebihan, menggelisahkan, tidak akurat dan tak bisa dipercaya”, dan menambahkan bahwa tudingan bahwa ia teradikalisasi ”tidak masuk akal sama sekali”.

Mereka juga menolak tuduhan bahwa mereka mendoktrin anggota. Pihak gereja mengatakan klaim itu “telah digunakan sebagai cara yang nyaman tetapi tak berlandasan untuk menjelaskan mengapa seseorang bisa bergabung dalam kelompok kepercayaan”.

Kemudian mereka mengatakan istilah “Moonies” digunakan sebagai cara “merendahkan dan mengolok-olok Gereja Unifikasi”.

Memulai hidup baru sebagai konselor dan ahli sekte

Dr Hassan mengatakan pengalamannya bergabung dengan gereja itu – dan akhirnya keluar- membuatnya menghabiskan dekade-dekade berikutnya untuk membantu orang lain keluar dari sekte itu.

Ia kini menjadi konselor berlisensi dan ahli sekte.

Ia mengatakan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendekati seseorang berada dalam sekte yang mengkhawatirkan.

“Jangan meneriaki mereka, menyerang pemimpinnya, doktrin, atau kelompok itu“ katanya. Ia menjelaskan ini justru membuat orang semakin defensif tentang sistem kepercayaan mereka.

Melainkan ia menyarankan sikap keingintahuan, dengan mengatakan “Anda cukup pintar, Anda terlihat sangat tertarik dengan ini. Bisa ceritakan pada saya?"

Jika orang itu kesulitan dalam menjelaskan kepercayaan kelompok itu, ia mengatakan Anda bisa meminta waktu rehat dan bilang “mari kita coba riset bersama dan cari tahu siapa mereka.”

“Saya berkata kepada klien saya; Jika Anda berada dalam situasi dan Anda diberikan beberapa pilihan, dan itu tidak masuk akal dan membingungkan, percayalah pada batinmu dan cari cara logis dan realistis untuk memeriksa hal itu.”

Baca juga:

Dr Steven Hassan

Sumber gambar, Dr Stephen Hassan/ Carolyn Ross

Keterangan gambar, Dr Steven Hassan kini bekerja sebagai ahli sekte

Dr Hassan mengatakan ia sudah tidak pernah menggunakan metode konfrontasi dalam ‘pemrograman ulang‘ seorang anggota sekte, meskipun dulu ia menggunakan cara itu.

Tanpa kerja sama dari orang yang bergabung, ia berargumen bahwa segala upaya untuk membuat mereka keluar dari kelompok kemungkinan besar akan gagal.

Ia menambahkan penggunaan telepon genggam membuat hampir tidak mungkin untuk memangkas komunikasi antara anggota dengan kelompok itu, kecuali mereka setuju memutus koneksi itu.

“Jika mereka terus mengirim pesan [atau menelepon] sekte itu setiap harinya, maka tidak mungkin upayamu akan efektif,“ katanya.

Sementara Dr Hassan berfokus membantu keluarga dan orang yang dikasihi guna “menguatkan orang itu berpikir untuk diri sendiri dan membuat keputusan sendiri.“

“Contohnya saya akan memberitahu keluarga itu untuk meminta orang yang bergabung dalam sekte untuk duduk bersama dan menonton film dokumenter Social Dilemma tentang media sosial,“ kata Dr Hassan.

“Itu tidak akan membuat mereka defensif atau merasa diserang. Tetapi itu akan memulai diskusi tentang taktik yang digunakan untuk memanipulasi perhatian seseorang.”

Dr Hassan mengatakan perubahan besar dalam hidup, seperti kehilangan orang yang dikasihi, pindah tempat tinggal, atau dalam konteks dia putus hubungan asmara, dapat membuat seseorang lebih rentan terpengaruhi oleh kelompok berbahaya.

Menurut dia, kesalahan terbesar yang dilakukan seseorang adalah berpikir itu tidak mungkin dapat terjadi pada mereka.

Dia menyebutnya sebuah “mitos pikiran yang lunak: [berpikiran bahwa] ‘pikiran saya tidak mungkin berubah – orang lain mungkin saja, tapi saya terlalu pintar, atau saya terlalu baik”.

“Kita secara alami memiliki keinginan untuk bergabung bersama orang lain dan mengikuti sosok otoriter yang kita rasa bisa dipercaya”.