Saksi kejayaan dan keruntuhan berbagai dinasti, kini jadi kota hantu

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Dikuasai silih berganti oleh kerajaan dan kekaisaran selama berabad-abad, kota Ani yang dulu merupakan pusat kekuatan regional, kini berubah menjadi kota hantu.

Kota hantu yang dilupakan

Silih berganti kerajaan dan kekaisaran - mulai Bizantium hingga Ottoman- selama berabad-abad menguasai kota Ani yang pernah dihuni ribuan orang, dan menjadi pusat kebudayaan dan kekuatan regional saat diperintah oleh kerajaan etnis Armenia, Bagratid.

Saat ini, kota megah itu telah berubah menjadi menakutkan, ditinggalkan penghuninya dan mirip kota hantu.

Kota Ani, yang tinggal reruntuhan, terletak di dataran tinggi yang berjarak sekitar 45km dari kota Kars di perbatasan dengan Turki.

Jika Anda berjalan di antara reruntuhan kota itu, yang makin mengalami kehancuran dalam 90 tahun terakhir, hanya terdengar deru angin dari kedalaman jurang sekaligus penanda perbatasan Turki dan Armenia.

Sumber gambar, Linda Caldwell

Korban dari banyak penguasa

Para pengunjung yang melewati dinding-dinding kota Ani bakal disambut panorama reruntuhan bangunan yang mencakup tiga abad dan lima kekaisaran – termasuk kerajaan etnis Armenia, Bagratid, Bizantium, Turki Seljuk, Georgians dan Ottoman.

Dataran tinggi Ani diserahkan kepada Rusia setelah Kekaisaran Ottoman kalah dalam perang Rusia-Turki di tahun 1877–1878. Setelah Perang Dunia I pecah, pihak Ottoman berjuang untuk mengambil alih sebagian wilayah.

Walaupun mereka berhasil menduduki Ani dan daerah di sekitarnya, wilayah itu diberikan kepada Republik Armenia yang baru dibentuk.

Daerah ini berpindah tangan untuk yang terakhir kalinya setelah Republik Turki - yang baru lahir - mendudukinya selama pertempuran dalam Perang Kemerdekaan Turki tahun 1920.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Wilayah yang diperebutkan

Reruntuhan jembatan kuno di atas sungai Akhurian, yang jalannya memutar di dasar jurang sekaligus menciptakan perbatasan alami, sangat pas menunjukkan ketegangan hubungan antara Turki dan Armenia.

Kedua negara sudah sejak lama berselisih tentang tuduhan pembunuhan massal orang-orang Armenia yang terjadi pada masa Kekaisaran Ottoman selama Perang Dunia I.

Bahkan pemerintah Turki menutup perbatasan dengan Armenia pada 1993 sebagai jawaban atas konflik teritorial antara Armenia dan sekutu Turki, Azerbaijan.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Upaya menyelamatkan reruntuhan

Meskipun ketegangan Turki-Armenia telah menyita sebagian diskusi tentang kota Ani, ada usaha terus-menerus para arkeolog dan aktivis untuk menyelamatkan reruntuhan kota itu.

Upaya penyelamatan kota terlupakan ini dilakukan ketika para ahli lebih disibukkan penyelamatan situs-situs yang lebih mudah dicapai dan secara historis kurang diperebutkan di masa klasik.

Para sejarawan telah lama berdebat tentang pentingnya kehadiran kota Ani di abad pertengahan yang selama ini dilupakan.

Dan hasilnya, kini kota Ani berada dalam daftar sementara situs Warisan Budaya Unesco. Dengan sedikit keberuntungan dan pekerjaan restorasi yang hati-hati, yang dimulai sejak 2011, mereka dapat mencegah kota itu hilang dimakan waktu.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

'Kota 1001 Gereja'

Pada masa jayanya selama abad ke-11, para ilmuwan memperkirakan populasi penduduk kota Ani sekitar 100,000 orang.

Hiasan seni pada dinding-dinding sebagian reruntuhan pada beberapa situs arkeologi menunjukkan bahwa kota itu - pada abad pertengahan - terlihat ramai dengan banyak sekali rumah, sanggar-sanggar seni, dan gereja-gereja indah yang tersebar di seluruh kota.

Dikenal sebagai 'Kota 1,001 Gereja', penguasa kota Ani dari bangsa Armenia dan para pedagang mendanai pembangunan sebagian besar tempat ibadah, dan semuanya didesain secara luar biasa secara arsitektural dan artistik.

Kendatipun julukan itu terkesan hiperbola, para arkeolog telah menemukan bukti bahwa terdapat setidaknya 40 gereja, kapel dan komplek pemakaman saat ini.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Sebuah katedral yang megah

Mirip bangunan benteng dengan batu bata berwarna karat, kehadiran katedral kota Ani terus membayangi kota terlupakan tersebut.

Walaupun kubahnya telah runtuh saat gempa bumi pada 1319 – dan, berabad-abad kemudian, gempa lainnya menghancurkan sudut lainnya – reruntuhan katedral ini masih mengagumkan.

Katedral ini selesai dibangun pada 1001 di bawah kekuasaan Raja Armenia, King Gagik I, ketika kemakmuran dan populasi penduduk kota Ani berada di puncaknya.

Trdat, arsitek ternama Armenia, adalah perancangnya. Sang arsitek ini dikenal pula melayani bangsa Bizantium dengan membantu memperbaiki kubah Hagia Sophia.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Bangunan Gereja yang tinggal separoh

Hanya setengah bagian bangunan gereja Redeemer yang tersisa – sebuah monumen megah dan artistik peninggalan dinasti Bagratid yang beretnis Armenia.

Dalam kondisi merana, bangunan itu kini disangga tiang-tiang besi agar tidak runtuh. Tetapi di masanya, gereja itu adalah karya arsitektural mengagumkan.

Bangunan cantik itu menampilkan 19 lengkungan dan kubah, yang semuanya dibuat dari batu vulkanik berwarna merah kecoklatan.

Gereja itu juga menyimpan pecahan Salib Asli, tempat di mana Yesus disalibkan. Kabarnya pelindung gereja, Pangeran Ablgharib Pahlavid, memperoleh potongan salib itu saat kunjungannya ke ibu kota kekasiran Bizantium, Konstantinopel.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Gereja dan kuburan sang pangeran

Dibangun sekitar akhir abad ke 10, gereja St Gregory of the Abughamrentsis tampak tenang. Terdiri dari 12 kapel yang beratapkan kubah: lengkungan-lengkungan yang benar-benar penuh dengan hiasan.

Di awal tahun 1900an, sebuah pemakaman ditemukan terkubur di bawah gereja bagian utara.

Diduga sebagai kuburan sosok pelindung gereja, Pangeran Grigor Pahlavuni dari Dinast Bagratid dan keturunannya. Sayangnya, seperti banyak situs-situs di kota Ani, kuburan sang pangeran dijarah pada tahun 1990an.

Sumber gambar, Linda Caldwell

Sisa-sisa kota bawah tanah

Berseberangan dengan Gereja St Gregory of the Abughamrentsare, ada beberapa gua yang dulu digali dari bebatuan.

Para sejarawan memperkirakan keberadaan gua itu lebih tua dari kota Ani. Gua-gua tersebut terkadang digambarkan sebagai “kota bawah tanah” Ani.

Diperkirakan gua-gua itu digunakan sebagai kuburan dan gereja. Di awal abad 20, beberapa gua masih digunakan sebagai tempat tinggal.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Gereja yang kesepian

Gereja St Gregory of Tigran Honents masih berdiri tegak di atas jurang yang memisahkan wilayah Turki dan Armenia.

Dibiayai oleh seorang pedagang kaya raya, gereja itu dibangun pada 1215 saat Kerajaan Georgia mengendalikan kota Ani. Penguasa kerajaan ini kemudian memberikan kepercayaan kepada keturunan penguasa Armenia, keluarga Zakaria, untuk mengelola kota Ani.

Selama musim dingin, gereja yang terlihat kesepian ini terlihat mencolok di hamparan padang rumput Armenia yang sepertinya tidak bertepi.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Lukisan dinding yang detil

Gereja St Gregory of Tigran Honents merupakan salah satu bangunan terbaik yang dilindungi di kota Ani. Dihiasi lukisan-lukisan yang menggambarkan adegan kehidupan Kristus dan St Gregory sang Illuminator.

Rangkaian lukisan dinding yang detil biasanya tidak terlihat dalam seni era Armenia, sehingga para pengamat meyakini para senimannya adalah orang-orang Georgia.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Menara masjid masih berdiri

Kekaisaran Seljuk – yang terletak di wilayah Anatolia yang berhasil mengusir penguasa Bizantium dan akhirnya membuka jalan bagi Kekaisaran Ottoman – menguasai wilayah luas pada awal pertengahan tahun 1000-an. Jika memakai ukuran sekatang, wilayahnya meliputi kawasan timur laut Turki dan Armenia.

Namun demikian, di tahun 1072, bangsa Seljuk menyerahkan pengawasan kota Ani kepada sebuah Dinasti Islam dari bangsa Kurdi, yaitu Keluarga Shaddadid.

Pada gilirannya, keluarga Shaddadid meninggalkan ciri-cirinya pada kota Ani dengan kehadiran bangunan-bangunan seperti masjid Manuchihr, yang bertengger di pinggir tebing.

Menaranya masih berdiri sejak masjid ini didirikan di akhir tahun 1000-an; sisa masjid itu tampaknya merupakan bangunan tambahan dari abad ke 12 atau ke 13.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Asal-usul menara yang terus diperdebatkan

Keaslian masjid Manuchihr terus diperdebatkan oleh orang Turki dan Armenia. Beberapa berpendapat bahwa bangunan itu sekali waktu digunakan sebagai istana oleh dinasti Bagratid dan baru belakangan saja diubah menjad masjid.

Yang lainnya membantah, dengan alasan struktur bangunannya memang dibangun sebagai masjid dari bawah ke atas, dan dengan demikian merupakan masjid pertama Turki di Anatolia.

Dari tahun 1906 sampai 1918, masjid itu digunakan sebagai museum untuk benda-benda yang ditemukan dari penggalian di kota Ani oleh arkeolog Rusia, Nicholas Marr.

Terlepas dari asal-usul bangunan itu, keempat jendela masjid yang elegan menampilkan pemandangan yang spektakular yaitu aliran sungai di kedalaman jurang yang dalam.

Sumber gambar, Joseph Flaherty

Dinding kota yang menjadi saksi

Dinding kota Ani saat ini nyaris runtuh, tetapi ketika dibangun di abad ke 10, dinding itu didirikan untuk pertahanan yang kuat.

Keluarga kerajaan Bagratid membangunnya untuk melindungi ibu kota baru mereka. Selama berabad-abad, bangunan terebut mampu melindungi penduduk kota dari pengepungan demi pengepungan oleh beberapa pasukan.

Kehadiran benteng ini, bersama kehadiran warga kota Ani, adalah saksi konflik berdarah antara dinasti Bagratid dan Bizantium, dan antara Bizantium dan Seljuk.

Meskipun Ani memiliki sejarah sebagai medan parang, reruntuhan yang ada di tempt ini juga mewakili sejumlah period sejarah di mana kota ini menjadi saksi perubahan budaya, agama dan motif artistik yang luar biasa.

Anda bisa membaca artikel aslinya <link type="page"><caption> The empire the world forgot </caption><url href="http://www.bbc.com/travel/story/20160309-the-empire-the-world-forgot" platform="highweb"/></link>dan artikel lainnya dalam <link type="page"><caption> BBC Travel</caption><url href="http://www.bbc.com/travel" platform="highweb"/></link>.