Watchmen: ketika komik superhero ‘naik kelas'

Karakter Watchmen

Sumber gambar, DC Comics

Keterangan gambar, Watchmen memengaruhi karya-karya setelahnya yang menggunakan pendekatan dewasa terhadap cerita jagoan-super.

Sebelum DC Comics merilis Watchmen pada 1986, para penggemar komik enggan mengakui kegemarannya terang-terangan – namun novel grafis karangan Alan Moore itu mengubah segalanya dan membuka jalan bagi obsesi budaya kita saat ini.

Pasti menyenangkan jadi remaja penggemar musik pop pada pertengahan 1960-an: mendengarkan lagu terbaru dari The Beatles, The Rolling Stones, dan Bob Dylan setiap pekan, dan menyadari bahwa obsesi pribadi Anda, yang pernah dipandang kekanak-kanakan dan remeh-temeh, kini dianggap sebagai karya seni paling revolusioner di dunia.

Bagi kita remaja penggemar komik di pertengahan 1980-an, hal seperti itu terjadi. Kecintaan kita akan cerita-cerita superhero Amerika yang dicetak dengan kertas murahan, serta cerita fiksi ilmiah dalam format serupa yang populer di Inggris, sebelumnya menjadi semacam ‘dosa rahasia’; tapi tiba-tiba, artikel-artikel di surat kabar mengatakan sesuatu telah berubah. Komik tak dapat lagi diabaikan sebagai hiburan murahan. Istilah ‘novel grafis’ mulai dipakai dengan serius.

Sorotan budaya populer masa kini yang terpaku pada film dan serial televisi jagoan-super dapat dilacak ke zaman keemasan ini – tepatnya pada musim panas 1986, 30 tahun lalu. Komik jagoan-super di era 1970-an dan 1980-an telah 'bekerja keras' meyakinkan publik bahwa cerita tentang detektif swasta yang mengenakan jubah dan topeng bisa jadi lebih serius daripada serial televisi Batman yang konyol, meski sangat populer, pada 1960-an.

  • <link type="page"><caption> Komik ternyata jauh lebih radikal daripada dugaan Anda</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/vert_cul/2016/02/160128_vert_cul_komik" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Komik Superman terjual US$3,2 juta</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/08/140826_seni_superman_komik" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Gambar langka Tintin laku Rp17 miliar</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/10/151006_majalah_tintin_gambar" platform="highweb"/></link>

<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/10/151006_majalah_tintin_gambar" platform="highweb"/></link>Naskah X-Men yang ditulis Chris Claremont berfokus pada permasalahan hidup sekumpulan orang aneh alih-alih cerita petualangan fantastis; ilustrasi John Byrne yang rapi dan memikat membawa keglamoran Hollywood ke halaman <italic>The Fantastic Four</italic>. Tetapi dua miniseri dari DC Comics mengangkat komik ke tingkat karya sastra, dan keduanya tiba di kios koran dan toko komik berselang sepekan. Yang pertama ialah <italic>The Dark Knight Returns</italic>, serial empat edisi yang ditulis dan digambar Frank Miller, menggambarkan Batman sebagai pria paruh baya yang sadis. Yang kedua ialah Watchmen, miniseri 12 edisi dari tim penulis dan ilustrator asal Inggris, Alan Moore dan David Gibbons.

Watchmen #1

Sumber gambar, Wikipedia

Keterangan gambar, Watchmen #1 terbit pada musim panas 1986.

Mengingat keduanya ditulis dan digambar pada saat yang sama, dan karena itu tak mungkin memengaruhi satu sama lain, sungguh luar biasa betapa banyak kesamaan dalam dua miniseri tersebut.

Keduanya membagi halaman ke dalam susunan kotak-kotak panel yang rapi, masing-masing memuat jauh lebih banyak informasi dibanding komik jagoan-super biasa; cerita keduanya berlatar Amerika Serikat yang hampir runtuh di ambang perang nuklir; dan keduanya membayangkan orang seperti apa yang suka memakai kostum norak dan menghajar perampok setiap malam (singkatnya: orang gila); dan keduanya mempertanyakan bagaimana orang-orang seperti itu dipandang oleh media dan orang biasa di jalanan.

Bahkan bagi pembaca kasual, dua karya ini membuktikan bahwa komik jagoan-super bisa sama rumitnya seperti novel atau film, meski bercerita tentang orang yang berjalan-jalan dengan celana dalam di luar.

Karakter yang ‘cacat’

Selalu jadi perdebatan, siapa yang terbaik di antara keduanya, tetapi Watchmen ialah yang paling ambisius; terutama karena penulisnya, Alan Moore.

Penulis otodidak dari Northampton dengan rambut panjang dan janggut lebat itu dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan menjual LSD, namun itu tidak menghentikannya meninggalkan kesan mendalam pada dua komik antologi Inggris, 2000 AD dan Warrior, pada awal 1980-an.

Kedua majalah komik tersebut menjadi populer dengan ide-ide gila dan karakter yang tak biasa; dari seorang prajurit hasil rekayasa genetik berkulit biru, Rogue Trooper, sampai penegak hukum fasis di masa depan, Judge Dredd. Tetapi bahkan di antara tokoh-tokoh alien, robot, dan mutan yang eksentrik itu, komik yang ditulis Moore – The Ballad of Halo Jones, V for Vendetta – begitu mencolok: karya-karya itu lebih lucu, lebih aneh, lebih intelek, lebih puitis, dan lebih inovatif dari yang dibuat kreator lainnya.

Alan Moore

Sumber gambar, Rex Features

Keterangan gambar, Alan Moore mengaku sedih akan dampak Watchmen terhadap industri komik.

Moore kemudian diminta DC Comics merombak Swamp Thing – karakter setengah jagoan-super, setengah tanaman – dan menulis beberapa cerita lepas tentang Batman dan Superman. Kemudian, ketika DC membeli hak cipta sejumlah karakter jagoan-super dari perusahaan saingan, Charlton Comics, Moore mengajukan ide untuk menempatkan karakter tersebut dalam latar Perang Dingin yang realistis dan muram. Ia akan menggali permasalahan seksual dan emosional yang dialami para pembasmi kejahatan berkostum; dan mengeksplorasi bagaimana situasi politik internasional bakal terpengaruh jika pemerintah AS memiliki manusia jenius berkekuatan super di pihaknya.

Dengan meminjam frasa dari Juvenal, si pengarang satire dari Roma, Moore mempertanyakan, “Who watches the watchmen?” (Siapa yang menjaga para penjaga?)

Karena alasan yang wajar, DC tidak mau menempatkan karakter-karakter Charlton yang baru mereka beli dalam suatu kisah muram, yang akan membuat mereka frustasi atau bahkan mati; namun Moore dan Gibbons bertahan dengan konsep itu, menggunakan karakter ciptaan mereka sendiri. Setiap karakter tersebut merupakan cerminan gelap dari jenis-jenis jagoan-super yang ada saat itu.

Rorschach

Sumber gambar, DC Comics

Keterangan gambar, Karakter anti-hero Rorschach ialah psikopat dengan pandangan moral absolut.

Ada Rorschach, vigilante yang beroperasi di malam hari layaknya Batman, tapi juga seorang sosiopat dengan pandangan moral absolut dan mengintimidasi orang dengan mematahkan jari mereka; ada Ozymandias, yang tampan dan jago teknologi, seperti Iron Man, tapi juga seorang egomaniak yang meraup untung dengan menjual mainan tentang dirinya sendiri; ada Dr. Manhattan, karakter bak Superman yang sangat kuat, sehingga menganggap umat manusia sebagai spesies inferior; dan kumpulan karakter ‘cacat’ lainnya, semuanya digambar Gibbons dengan proporsi tubuh orang biasa dan bukan manusia super yang penuh otot.

Tak hanya pendekatan naturalistik, revisionis ini yang membuat Watchmen begitu berpengaruh; tapi juga kompleksitas narasinya. Dalam 12 edisi, Watchmen berkembang dari thriller misteri bernuansa noir menjadi cerita rumit dengan elemen yang saling berkaitan.

Fokusnya berpindah-pindah antara sudut pandang berbeda, dan berbolak-balik dari masa lalu ke masa kini, namun diikat dengan simbol dan tema yang menjadi benang merahnya. Cerita itu bahkan disampaikan dalam bentuk komik dalam komik, plus prosa di akhir setiap edisinya. Moore mengatakan ia ingin Watchmen menjadi “Moby Dick-nya jagoan-super; sesuatu dengan bobot dan kepadatan yang seperti itu” – dan apa yang ia capai tidak jauh dari itu. Komik, sebagai media bercerita, sampai saat itu belum pernah mengenal sesuatu yang serumit dan sekaya Watchmen.

Pengaruh buruk?

Watchmen langsung menjadi hit secara komersial. Dalam hal penjualan, miniseri itu membawa DC melampaui Marvel, pesaing utamanya dalam bisnis komik jagoan-super. Watchmen juga disukai para kritikus: majalah Time memasukkannya ke dalam daftar 100 novel terbaik yang pernah terbit sejak 1923 – satu-satunya komik dalam daftar itu.

Namun Moore tak sepenuhnya bahagia dengan kesuksesan ini. Salah satu alasannya, dia merasa ditipu oleh DC. Kontraknya dengan penerbit itu mencantumkan bahwa hak akan karakter yang ia buat akan dikembalikan kepadanya dan Gibbons setelah Watchmen berhenti dicetak. Akan tetapi dalam bentuk edisi bundel, Watchmen tak pernah berhenti dicetak.

Moore juga kecewa dengan berbagai komik bernuansa sinis tentang para jagoan-super haus darah yang terinspirasi dari karyanya.

“Saya sedih atas dampak Watchmen terhadap industri komik,” dia pernah bilang, “karena saya berharap apa yang orang-orang pelajari dari karya itu ialah pendekatan tentang cara bercerita, cara pandang, komentar bahwa realitas ialah jejaring kebetulan dan kesempatan; tapi apa yang mereka ambil darinya ialah... Rorschach. Yang mereka pahami ialah, 'Orang ini kasar sekali, dan ia psikopat, oleh karena itu mari kita buat semua karakter psikopat kasar.’ Dalam sekian lama, membaca komik rasanya seperti berada dalam rumah kaca di pasar malam, yang mana saya hanya bisa melihat cerminan piuh dan jelek dari diri saya sendiri.”

Fim Watchmen

Sumber gambar, DC

Keterangan gambar, Film adaptasi yang dirilis pada tahun 2009 digarap sutradara Zach Snyder dan menuai pujian karena gaya visualnya - kendati kurang menarik bagi orang yang baru mengenal Watchmen.

Moore tak mau berurusan dengan film adaptasi Watchmen garapan sutradara Zack Snyder, yang dirilis pada 2009. Dia mengizinkan film itu dibuat, sehingga Gibbons bisa mendapat cek dari Hollywood, tapi dia menolak menerima bayaran sepeserpun, dan bersikeras agar namanya tidak disebut-sebut dalam film itu.

Namun terserah Moore suka atau tidak, Watchmen dan The Dark Knight Returns telah meninggalkan dampak mendalam pada budaya populer. Mereka menetapkan standar penilaian bagi setiap komik jagoan-super sejak 1986. Dan, lebih penting lagi, bukan hanya komik yang berubah, tapi media lain juga. DNA dua mahakarya itu dapat dirasakan dalam setiap film dan serial televisi yang menggunakan pendekatan dewasa pada genre jagoan-super, mulai dari The Incredibles hingga Batman v Superman: Dawn of Justice. Who watches the watchmen? Di masa kini, kita semua.

------------