Pria yang menghancurkan semua benda miliknya

Sumber gambar, Michael Landy
Sebuah pameran baru di Basel menampilkan karya Michael Landy, yang, pada 2001, terkenal karena menghancurkan semua barang yang dimilikinya sebagai sebuah karya seni.
Suatu hari pada 1990an, seniman Inggris Michael Landy memiliki konsep radikal untuk sebuah karya seni: dia memutuskan untuk menghancurkan setiap benda yang dia miliki di hadapan umum. Ide itu sederhana. Namun melakukannya ternyata cukup rumit.
Jadi untuk mewujudkannya, dia bekerjasama dengan Artangel, organisasi seni nirlaba, yang bertujuan untuk mewujudkan karya seni yang tidak biasa secara lepasan, dan mulai bekerja.
Tiga tahun kemudian, pada 2001, setelah mengumpulkan inventaris yang panjang akan barang-barang yang dimilikinya, sampai 7.227 benda, Landy berdiri di sebuah toko yang kosong di Oxford Street di pusat kota London.
- <link type="page"><caption> Sepuluh film yang layak ditonton di bulan Agustus</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160822_vert_cul_filmagustus" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sejarah mengerikan tentang pria-pria yang menyanyi seperti perempuan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160824_vert_cul_sejarah_countertenor" platform="highweb"/></link>
Di depannya, di atas nampan-nampan plastik berwarna kuning yang diletakkan di atas ban berjalan, terdapat semua barang yang dimilikinya selama 37 tahun terakhir, yang akan berakhir di tempat pembuangan akhir.
Selama dua minggu, setiap benda yang dia miliki – baju, surat cinta, karya seni, mobil Saab 900 Turbo, bahkan mantel bulu domba milik ayahnya – dilucuti, dipotong-potong, diremas, dibongkar atau dihancurkan oleh Landy dan timnya yang terdiri dari 12 asisten, sambil mendengarkan David Bowie dan Joy Division.
Setelah mereka selesai, seniman itu tak punya apa-apa selain baju terusan biru yang dipakainya selama penampilannya. Proyek seni tersebut dinamai Break Down.

Sumber gambar, Michael Landy
“Saat itu adalah dua minggu paling bahagia dalam hidup saya,” kata Landy baru-baru ini setelah pembukaan Out of Order, retrospektif pertengahan kariernya yang sangat ribut di Museum Tinguely di Basel, yang menampilkan banyak dokumentasi Break down.
“Sesekali, saya merasa tengah menyaksikan kematian saya sendiri, karena orang-orang yang tak pernah saya temui dalam beberapa tahun terakhir kemudian muncul, dan saya pikir, ‘Ya mereka sepertinya hanya akan datang ke pemakaman saya.’ Tapi seringnya saya merasa lega. Tak ada yang pernah menghancurkan semua barang-barang yang mereka miliki sebelumnya.”
Mati karena konsumsi
Lima belas tahun kemudian, Break Down – yang tetap merupakan karya Landy yang paling terkenal – dianggap sebagai karya besar yang provokatif dalam seni modern Inggris.
Terlebih lagi saat konsumerisme di Barat terus meningkat sejak 2001– contohnya, mencuatnya vlogger YouTube seperti Zoella yang mendedikasikan video khusus untuk membongkar tas belanja untuk merayakan apa yang disebutnya ‘haul’ atau belanja besar dari pusat perbelanjaan – karya Landy pun terasa memprediksi masa yang datang.
“Kita melihat karya seni lewat kacamata kekhawatiran kita sekarang,” kata James Lingwood yang membiayai Break Down, dan baru saja merayakan 25 tahun yang cemerlang sebagai salah satu direktur Artangel.
“Tekanan yang terus-menerus pada orang-orang untuk mengkonsumsi menjadi semakin nyata dalam budaya kita, dan tekanan ini bisa menimbulkan rasa yang tidak nyaman dan membuat orang terkucilkan. Lewat Break Down, Michael memperlihatkan masalah besar yang sangat mengganggu dalam kondisi kontemporer kita.”

Sumber gambar, Michael Landy
Pada masanya, reaksi terhadap Break Down tak terlalu menonjol. Pameran tersebut digelar di bekas cabang waralaba pakaian asal Belanda, C&A (gedung yang sama yang kini menjadi cabang retail baju murah Primark).
“Itu adalah tempat yang tepat,” kata Landy, “karena bukan di galeri seni tapi tempat di mana orang datang untuk berbelanja.” Terlebih lagi, aksi Landy berlangsung di Oxford Street, “pusat konsumerisme” di Inggris; seperti kata Lingwood, orang-orang berjalan masuk tanpa menyadari bahwa mereka akan melihat penampilan seni kontemporer.
Awalnya, mereka berasumsi, mereka akan melihat semacam penjualan diskon. Menurut Landy, satu atau dua “perempuan tua kecil” bahkan membawa kembali baju yang mereka beli di diskon besar-besaran saat C&A tutup.
Namun saat penonton melihat barang-barang Landy melewati ban berjalan, dan melihat benda-benda itu dihancurkan, mereka, kata Lingwood, “terganggu – dan kadang merasa marah dan tak percaya”.
Kenapa? “Ya, buat kebanyakan orang, menyaksikan penghancurkan objek rumah tangga seperti pecah belah itu tak sulit, tapi melihat penghancuran objek pribadi, memento, surat-surat, foto, karya seni – itu sangat mengganggu.”
Upaya penghancuran
Hasilnya, meski kadang tempat tersebut berisi ribuan pengunjung, suasananya cukup sedih, karena orang mulai berpikir akan hubungan mereka dengan benda dan kepemilikan.
Break Down menjadi bonfire of the vanities atau pembakaran benda-benda yang dinilai berdosa (yang biasanya merujuk pada peristiwa itu di abad 15) untuk abad 21, kritik keras akan sampah dan konsumsi berlebihan di Barat.
“Sekilas, pesannya adalah, kita akan menuju ke mana?” kata Landy. “Semakin banyak benda yang dimiliki seseorang, kita melihat mereka semakin sukses – tapi jika masing-masing kita berakhir dengan 7.227 benda, maka kita tak akan punya planet.”
Selain itu, Break Down juga berfungsi menjadi memento mori kontemporer: kita semua, pada tingkatan berbeda, menggunakan kepemilikan untuk membentuk identitas dan memproyeksikan diri kita sendiri pada orang lain – lalu muncul seorang pria yang secara sukarela menghancurkan eksistensi materialnya sampai pada poin penghancuran total.

Sumber gambar, Michael Landy
Pada saat bersamaan, kata Lingwood, “Ada sesuatu yang melegakan melihat seseorang membebaskan diri dari tirani kepemilikan. Karya tersebut menunjuk ke dua arah – dan mungkin di situlah letak kejeniusannya.”
Lingwood percaya bahwa Break Down bukan hanya serangan terbuka pada konsumerisme, tapi juga sesuatu yang lebih kompleks – tentang hubungan antara siapa kita dan apa yang kita miliki dan inginkan.
Tentu saja, Break Down juga tentang obsesi masyarakat Barat dengan benda dan kepemilikan. Tapi karya ini juga lebih tentang pertanyaan yang eksistensial, siapa saya?
Landy sendiri mengatakan bahwa Break Down semacam potret diri sendiri: judulnya saja bermain-main dengan kemungkinan bahwa dia mengalami krisis paruh baya.
Inventaris barang yang disiapkannya untuk proyek tersebut, dan menampilkan nomor katalog untuk setiap bendanya, dan butuh lebih dari setahun untuk dikompilasi, kini dipamerkan dalam bentuk daftar raksasa di dinding di Museum Tinguely.
Landy berkeras bahwa dia harus memasukkan “semua yang dimilikinya – termasuk bagian plastik berjamur yang lepas dari VCR-nya”. Dan, indeksnya termasuk penghitungan objek-objek tak bermakna seperti korek api, gulungan kabel, tisu toilet, dan tas plastik.
Namun, di sana sini, ada beberapa benda intim dan lucu yang menandai hubungan Landy dengan kekasih-kekasihnya dan teman-temannya.
Benda R3356 misalnya, adalah sebuah “catatan tulisan tangan” untuk partnernya, seniman Gillian Wearing, yang “memintanya untuk tidak meninggalkan handuk di lantai kamar mandi”.

Sumber gambar, Michael Landy
Atau R3409, adalah tesis seni murni Landy di mana seniman Abigail Lane, seorang mantan pacar dan sesama mahasiswa di sekolah seni Goldsmiths di London timur, “dibayar £100.00 untuk menuliskannya buat Landy”.
Ada juga referensi terhadap karya-karya Landy sebelumnya seperti Market (1990) atau Pasar, satu dari tiga instalasi besar yang mendahului Break Down dan menanyakan pertanyaan yang serupa akan pentingnya harga dan masyarakat. (Dua karya lain adalah Closing Down Sale (1992) atau Penjualan Penghabisan dan Scrapheap Services (1995) atau Layanan Sampah).
Landy menciptakan Market setelah lulus dari Goldsmiths, di mana dia menjadi bagian dari generasi Seniman Inggris Muda, bersama salah satunya, Damien Hirst.
Instalasi tersebut mengambil bentuk pasar sementara, yang dibuat dari kotak plastik untuk roti dan rumput buatan, ditata di sebuah gedung luas yang tak digunakan di London timur.
Biasanya, kios-kios seperti ini akan digunakan untuk menjual buah dan sayur, tapi “pasar” Landy sangatlah kosong.
Di Basel, kios-kios dari Market tersebar di beberapa tempat dalam retrospektifnya, yang tak menuruti aturan kronologis, dan mencampur aduk karya seni Landy secara anarkis.
Kios-kios dari Market tersebut “menempelkan elemen yang berbeda itu” kata Landy, “seperti bukit-bukit pedesaan Inggris.”
Barang pribadi
Saat merencanakan Break Down, Landy menghabiskan banyak waktu mempertimbangkan cara menghancurkan barang-barangnya: “Saya tidak mau seseorang melakukannya dengan memukulkan tongkat baseball,” katanya, “atau membakar semuanya seperti kremasi.”
Pada akhirnya dia memutuskan untuk membuat tiruan fasilitas reklamasi, dengan “teluk pelucutan” dan ban berjalan 100meter yang dibentuk seperti angka delapan, “seperti set Scalextric”.
Dengan cara itu, menurutnya, “Orang bisa melihat apa isi nampan-nampan kuning ini selama 10 menit saat baki berjalan mengitari ban.”

Sumber gambar, Michael Landy
Saat semuanya selesai, Landy menyadari bahwa konsumerisme tak dapat dihindari. “Hanya dalam lima menit, seseorang memberikan saya CD Paul Weller,” katanya.
Dia tertawa.
“Tentu saja saya tidak punya pemutar CD untuk memasangnya.”
Namun, dia tak pernah berjanji untuk melepaskan diri dari masyarakat, seperti halnya santo-santo Katolik semisal Fransiskus dari Assisi, yang melepaskan benda-benda duniawi.
“Memiliki barang-barang itu adalah karakter manusia,” kata Landy. “Memiliki sesuatu, menciptakan sesuatu – itu adalah sebagian yang membuat kita menjadi manusia. Dan Break Down adalah karya seni, bukan jalan hidup.”
Mungkin tak mengejutkan bahwa studio Landy, di lantai dasar di sebuah rumah tengah kota yang dimilikinya bersama Wearing di Shoreditch, London timur, adalah ruang minimalis dengan tembok kosong dan lantai semen.

Sumber gambar, Michael Landy
Meski begitu, ruang kosong ini masih berisi meja dengan pengeras suara dan komputer, sofa abu-abu yang berkelas, dan lemari buku besar berisi berbagai buku seni.
Selain itu ada juga model skala yang digunakan Landy untuk merencanakan pamerannya di Basel.
“Seseorang melihat ini, dan bilang, ‘Buat seseorang yang menghancurkan semuanya, kamu ternyata punya banyak barang,” kata Landy, tertawa.
“Jujur, sulit untuk melepaskan diri dari konsumerisme di dunia Barat. Bahkan, seperti halnya bernapas: Anda tak bisa lepas darinya.”









