Robert Capa 100 tahun: warisan sang wartawan perang
Seratus tahun berlalu sejak kelahiran Robert Capa, fotografer ternama yang menandai berbagai peperangan abad 20 dengan menembakkan kamera foto, bukan senapan.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Menulis sejarah dengan kamera
Fotografer perang terkenal Robert Capa terlahir sebagai Andre Friedmann di Budapest pada 22 Oktober 1913. Portofolionya ditandai dengan foto-foto jarak dekat yang mengabadikan realisme karena kamera merekam kebenaran yang sesungguhnya. Tetapi persona profesionalnya sesungguhnya buatan. Menetap di Paris pada tahun 1934 setelah melarikan diri dari Nazi, Friedmann mengadopsi nama panggilan 'Capa' saat sekolah. Dalam bahasa Hongaria, Capa berarti 'hiu'. Capa juga terdengar seperti orang Amerika, seperti sutradara film Hollywood Frank Capra, membuatnya lebih mudah menjual foto-foto di luar Paris. Lalu pacar sekaligus partner bisnisnya, Gerda Taro, memasarkan foto-fotonya sebagai karya seorang “fotografer Amerika yang hebat, Robert Capa”.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Kesaksian dari baris depan
Pada 1932, ketika masih menggunakan nama Andre Friedmann, Capa mempublikasikan foto pertamanya sebagai wartawan freelance: sebuah foto tentang Leon Trotsky sedang berpidato di Copenhagen yang berjudul Makna Revolusi Rusia. Hal ini menciptakan preseden bagi karyanya. Dia akan mengorbankan framing estetika dan kejelasan komposisi – wajah mantan pemimpin Bolshevik yang sebagian tertutup oleh tangannya yang bergerak-gerak – demi kedekatan yang dramatis.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Sang serdadu yang jatuh
Pada 1936, Capa pergi ke Spanyol bersama Gerda Taro untuk mendokumentasikan Perang Saudara di Spanyol. Ketika bersama seorang milisi republikan, dia mengambil fotonya yang paling terkenal dan kontroversial berjudul Milisi Loyalis di Momen Kematian, Cerro Muriano, 5 September 1936 – yang biasanya disebut Serdadu Yang Gugur, The Falling Soldier. José Manuel Susperregui dari University of País Vasco saat itu pernah berkata bahwa foto itu tidak bisa diambil di Cerro Muriano, di garis depan Cordoba, tetapi sebenarnya diambil di tempat yang lebih jauh. Beberapa orang menuduh Capa menyebabkan kematiannya karena memintanya untuk berfoto, membuatnya menjadi sasaran bagi penembak jarak jauh. Wartawan Jepang Kotaro Sawaki mengklaim bawah analisis komputer untuk gambar itu menunjukkan Gerda Taro yang mengambil foto, bukan Capa, dan orang yang menjadi subyek foto tidak meninggal, tetapi kehilangan pijakan saat latihan perang.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Kengerian perang
Penerbitan Serdadu Yang Gugur, The Falling Soldier di majalah Life menyoroti pertumpahan darah yang kejam dalam Perang Saudara Spanyol – dan membuat Capa terkenal. Tunangannya, Gerda Taro, terbunuh dalam konflik tersebut pada 1937, tetapi Capa tetap berada di Spanyol. Di Barcelona, 18 bulan kemudian, dia memotret perempuan ini lari ke tempat perlindungan karena serangan udara yang dilakukan pasukan Franco. Kota ini mengalami pemboman berat ketika tentara Fasis mendekat.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Mendokumentasikan D-Day
Capa ikut bersama pasukan Sekutu di Eropa selama Perang Dunia II. Sebagai seseorang berkebangsaan Hungaria, dia satu-satunya seorang 'musuh' yang diberikan akses ini (saat itu Hongaria ikut bergabung dengan Jerman melawan Sekutu). Capa bahkan mengambil foto-foto seperti yang satu ini selama penyerbuan Pantai Omaha bersama gelombang kedua pasukan Amerika yang mendarat di Normandy pada D-Day, 6 Juni 1944. Foto-foto tentang D-Day-nya mencontohkan pepatah yang selalu dia katakan selama karirnya: “Jika hasil-hasil fotomu tidak cukup bagus, kamu tidak cukup dekat.”

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Menghitung hari<span >
Selama pendaratan D-Day, Capa mengambil 106 foto – meski demikian, semua -kecuali 11 dari foto-foto tersebut- rusak dalam proses pencetakan. Sisa-sisanya, disebut Magnificent Eleven, merupakan rekaman yang sangat berharga dari titik balik Perang Dunia II. Steven Spielberg pernah berkata bahwa foto-foto D-Day karya Capa telah menginspirasi penampakan adegan film Saving Private Ryan di Pantai Omaha.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Paris membara
Setelah D-Day, Capa melanjutkan untuk mengikuti invasi Sekutu ke tempat-tempat yang diduduki Jerman di Prancis. Selama Pembebasan Paris, dia menangkap gambar-gambar kerumunan orang-orang di Champs-Élysées. Tetapi dia juga tidak mengacuhkan adegan-adegan yang kurang menggembirakan, seperti foto seorang warga Paris yang mengejek tentara Jerman yang tertangkap.

Sumber gambar, Robert Capa International Center of PhotographyMagnum Photos
Kemenangan: V untuk Victory
Pada Battle of the Bulge, dari 23 sampai 26 Desember 1944, Capa memotret seorang serdadu Jerman yang menyerah di depan todongan senjata seorang tentara Amerika. Setelah Perang Dunia II, Capa melanjutkan untuk mendokumentasikan konflik, pertama selama Perang Arab Israel di tahun 1948, kemudian selama Perang Indocina Pertama.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Dari Normandy ke Notorious
Capa tidak mengambil semua foto-fotonya dari parit. Selama Perang Dunia II dia bertemu dengan Ingrid Bergman, ketika dia menghibur tentara-tentara Sekutu di seluruh Eropa – dan mereka terlibat hubungan cinta. Di tahun 1946 Bergman mengundangnya datang ke tempat pembuatan film thriller karya Alfred Hitchcock, Notorious. Dalam foto ini, Hitchcock mengawasi juru kameranya mengambil tangan Bergman secara close-up. Capa dan Bergman putus segera setelah syuting film Notorious berakhir.

Sumber gambar, Robert CapaInternational Center of PhotographyMagnum Photos
Kehidupan di luar perang
Capa bertemu dengan banyak artis dan kaum intelektual selama perjalanannya. Dia pergi ke Uni Soviet pada 1947 dengan John Steinbeck, memotret Henri Matisse di studionya, dam sebagaimana terlihat dalam foto candid yang diambil di bulan Agustus 1948, dia menghabiskan musim panas bersama Pablo Picasso, yang tampak sedang memeluk putranya Claude. Capa meninggal pada 25 Mei 1954, karena menginjak ranjau darat di Vietnam. Adik laki-lakinya, Cornell, membangun International Center of Photography di New York pada tahun 1974, sebagai cara untuk memberikan tempat bagi koleksi hasil fotografi Robert Capa yang luar biasa dan untuk memelihara warisannya.
<italic>Silakan menyimak artikel aslinya, </italic><link type="page"><caption> Robert Capa at 100: the war photographer's legacy</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20131022-robert-capa-photo-warrior" platform="highweb"/></link><italic> dan karangan sejenis di </italic><link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link><italic>.</italic>









