Mengapa My Generation bisa menjadi 'lagu kebangsaan' kaum muda?

    • Penulis, Greg Kot
    • Peranan, Kritikus musik di Chicago Tribune.

50 tahun sudah berlalu sejak lagu My Generation yang dibawakan The Who dirilis pertama kali dan menjadi 'lagu kebangsaan' bagi kaum muda yang terpinggirkan. Greg Kot menjelaskan mengapa sejumlah lagu bisa menjadi 'lagu kebangsaan' era tertentu.

The Who dalam sebuah konser pada tahun 1970.

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, The Who dalam sebuah konser pada tahun 1970.

Apa yang membuat sebuah lagu menjadi 'lagu kebangsaan'? Setiap dekade, sebuah lagu hadir seperti bata yang dilemparkan ke jendela dan menyampaikan pesan yang dalam beberapa menit merangkum pemikiran suatu generasi.

Jika musik pop pada dasarnya merupakan suara kaum muda yang berbicara pada diri sendiri, musik rock (dan diikuti oleh hip-hop) merupakan suara protes. Dalam kasus My Generation dari The Who, lagu itu begitu meledak seperti bom nuklir.

Lagu My Generation bermula dari kekesalan gitaris The Who, Pete Townshend, lantaran mobilnya –sebuah mobil jenazah– diderek atas perintah Ibu Suri. Beliau merasa muak melihatnya setiap meluncur menuju Istana Buckingham, tampaknya karena mobil itu mengingatkan dia pada pemakaman suaminya. My Generation pun diciptakan sebagai respons Townshend.

Sesaat setelah lagu My Generation dirilis, tembang itu menguasai tangga lagu pada penghujung 1965. Kelompok The Who pada konser Desember 1968.

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, Sesaat setelah lagu My Generation dirilis, tembang itu menguasai tangga lagu pada penghujung 1965. Kelompok The Who pada konser Desember 1968.

Sesaat setelah dirilis, tembang itu menguasai tangga lagu pada penghujung 1965.

'Semoga saya mati sebelum tua'

Empat puluh tahun kemudian, My Generation masih terdengar seperti satu generasi yang muak akan kehidupan dan saling mengacungkan tanda V.

“Semoga saya mati sebelum tua,” tulis Townshend pada bagian awal lagu. Lirik itu mencerminkan kemarahan terhadap superioritas, sikap sok mengatur, dan tudingan jari orang dewasa yang mencoba membatasi kebebasan dan masa depan kaum muda.

Lirik dan melodi tersebut sontak mencuri perhatian anak-anak, yang sudah cukup umur menyaksikan The Beatles menundukkan Amerika. My Generation menjadi hit terbesar The Who di Inggris, bertahan di urutan kedua dalam tangga lagu, sekaligus memantapkan popularitas album pertama milik kuartet itu, yang dirilis pada 3 Desember 1965.

Personel lengkap The Who (Februari 1969).

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, Personel lengkap The Who (Februari 1969).

Lagu ini hampir saja tidak meluncur ke dapur rekaman. Sebab, saat pertama kali diciptakan, lagu tersebut dianggap Townshend sebagai lagu sepele, semacam lagu blues yang dinyanyikan mengoceh mengikuti gaya Jimmy Reed. Tetapi karena manajer The Who, Kit Lambert, menyemangatinya untuk lebih berani, Townshend menjadikan lagu itu seperti monster.

Riff gitarnya yang sederhana bertambah berat saat melewati perubahan 4 kunci yang tingkat nadanya terus menanjak. Ketika instrumen-instrumen lainnya melambat sebentar, John Entwistle membuat London seperti diinjak-injak Godzilla dengan permainan bass solo selama mungkin.

Gaya gagap

Kemudian Roger Daltrey menyanyi dengan gaya gagap seperti dia sedang terpengaruh obat, ingin memuntahkan cairan empedu, dan nyaris menyemburkan kata “f”. Itu semua dilakukan dalam waktu tiga menit dan delapan belas detik, jatuh bersamaan dengan dentuman drum dari Keith Moon dan guyuran umpan balik Townshend.

Sejak pertama kali direkam, lagu ini tetap menjadi lagu langganan dalam repertoar The Who sekaligus perhatian utama dalam penampilan mereka pada acara The Smothers Brothers Comedy Hour di tahun 1967 -ajang perkenalan band itu dengan publik Amerika Serikat.

Sejak pertama kali direkam, lagu My Generation tetap menjadi lagu langganan dalam repertoar The Who sekaligus perhatian utama dalam penampilan mereka pada acara The Smothers Brothers Comedy Hour di tahun 1967.

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, Sejak pertama kali direkam, lagu My Generation tetap menjadi lagu langganan dalam repertoar The Who sekaligus perhatian utama dalam penampilan mereka pada acara The Smothers Brothers Comedy Hour di tahun 1967.

Bersamaan dengan berakhirnya lagu My Generation dalam hiruk pikuk kerusakan, Moon menyalakan peledak yang dipasang di dalam drum kitnya, yang kemudian melemparkan serpihan ke lengannya dan menghanguskan rambut Townshend.

Lagu itu telah menciptakan kehancuran tidak hanya dalam pertunjukan televisi, tetapi juga pada harapan terhadap apa yang sempat disampaikan musik rock.

Penulis lagu lainnya pada masa itu telah menyelam jauh ke dalam lagu protes, tetapi pembangkangan The Who merupakan pernyataan pribadi yang bisa menghubungkan setiap anak dengan masalah otoritas. Dalam era ketika istilah “generation gap” dipopulerkan, The Who menyediakan soundtracknya.

Beberapa dekade sejak My Generation dilansir, ada sejumlah lagu yang telah mengalami peningkatan status sebagai lagu kebangsaan generasi muda. Berikut beberapa yang terbaik:

Say It Loud – I'm Black and I'm Proud, James Brown (1968)

James Brown (1968).

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, James Brown (1968).

Setelah pembunuhan Martin Luther King, pernyataan tentang kebanggaan ras telah membuka pintu gerakan kekuatan orang hitam dan menandai sebuah pergeseran dalam pergerakan hak-hak sipil. Lagu ini menjadi sebuah slogan di ruang kelas dan gedung-gedung konser, dan terus hidup dalam lagu hip-hop yang tak terhitung banyaknya.

I’m Eighteen, Alice Cooper (1970)

Alice Cooper (1970).

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, Alice Cooper (1970).

Gaya teatrikal penyanyi rock yang mengejutkan ini ditampilkan bersama dengan lagu-lagu yang berkata pada setiap orang yang pernah terjebak di tanah tak bertuan di antara masa remaja dan dewasa.

God Save the Queen, Sex Pistols (1976)

Seperti halnya The Who, Pistols membidik Powers That Be dan mengejek, “Tidak ada masa depan”.

Sumber gambar, Hulton archive

Keterangan gambar, Seperti halnya The Who, Pistols membidik Powers That Be dan mengejek, “Tidak ada masa depan”.

Seperti halnya The Who, Pistols membidik Powers That Be dan mengejek, “Tidak ada masa depan”. Dalam berbagai wawancara, Johnny Rotten mengutarakan keinginannya untuk “merusak segalanya,”. Pernyataan itu merupakan trik marketing sekaligus provokasi yang serius. Tetapi mereka yang terpinggirkan merangkul sikap tersebut, sedangkan pemerintah berusaha meredamnya.

The Message, Grandmaster Flash and the Furious Five (1982)

Formasi lengkap Grandmaster Flash and the Furious Five.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Formasi lengkap Grandmaster Flash and the Furious Five.

“Jangan paksa saya karena saya sudah berada di pinggir, saya coba untuk tidak kehilangan kepala.” Penyanyi rap Melle Mel berbicara untuk mereka yang terjebak di musim panas yang panjang dan panas dari strategi ekonomi 'trickle down effect' ala Presiden Ronald Reagan.

Fight the Power, Public Enemy (1989)

Public Enemy (1988).

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Public Enemy (1988).

Lagu ini menguatkan film penting karya Spike Lee tentang hubungan ras di kawasan perkotaan, yaitu Do the Right Thing. Lagu ini juga menggemakan pernyataan Chuck D bahwa hip-hop telah menjadi “seperti headline news... stasiun TV tak kasat mata yang tidak dimiliki orang-orang hitam di Amerika.”

Smells Like Teen Spirit, Nirvana (1991)

Menggeser generasi Baby Boomers, Kurt Cobain menangkap momen Generasi X dan sikap skeptis, ketakutan dan humor hitam mereka.
Keterangan gambar, Menggeser generasi Baby Boomers, Kurt Cobain menangkap momen Generasi X dan sikap skeptis, ketakutan dan humor hitam mereka.

Menggeser generasi Baby Boomers, Kurt Cobain menangkap momen Generasi X dan sikap skeptis, ketakutan dan humor hitam mereka, yang digarisbawahi oleh riff gitar yang memukau. “Kita di sini sekarang, hibur kami/saya merasa bodoh dan menular.”

Crazy, Gnarls Barkley (2004)

Gnarls Barkley (2004).

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Gnarls Barkley (2004).

Dalam satu dekade ketika musik pop terpecah menjadi ribuan sub-kultur, pasangan aneh Danger Mouse dan Cee-lo menyatukan semua orang dengan sebuah lagu kebangsaan yang juga berkomentar tentang keadaan dunia.

Neighborhood #1, Arcade Fire (2004)

Arcade Fire dalam sebuah aksi panggungnya.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Arcade Fire dalam sebuah aksi panggungnya.

Ketika pemikiran tentang sebuah kelompok band rock yang menyatukan dunia mulai terdengar sangat abad ke-20, grup dari Montreal ini habis-habisan menggarap album debut mereka. “Saya akan menggali terowongan dari jendela saya hingga ke jendelamu,” teriak mereka, seolah-olah melewati badai salju menjangkau mereka yang ditinggalkan

Artikel ini bisa Anda baca dalam versi bahasa Inggris dengan judul <link type="page"><caption> Whats the song of your generation</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20151204-whats-the-song-of-your-generation" platform="highweb"/></link> pada laman <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>.