'Lubang biru', fenomena langka di tengah pemandangan Aurora Borealis yang spektakuler

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cahaya utara (aurora borealis) terlihat pada akhir Maret dari Stasiun Gunung Abisko, Abisko, Lapland, Swedia

Sebuah fenomena meteorologi yang jarang diketahui khalayak membuat sebuah desa kecil di kawasan Arktik Swedia menjadi salah satu tempat terbaik di Bumi untuk menyaksikan Aurora Borealis.

"Saya tak yakin kita akan bisa melihatnya," ujar kolega videographer saya Erik Jaraker, ketika dia memandang kabut di sekitar kami.

Saya berada di ballik kemudi, berkendara dengannya melintasi jalan tol menuju salah satu desa yang terletak di ujung utara Swedia, Abisko, 250 km di utara Lingkaran Arktik.

Kami terjebak di tengah badai salju dengan jarak pandang nol, dan di sekitar kami, pegunungan Taman Nasional Abisko telah menjadi lautan putih.

Kami menuju desa itu untuk memotret Nothern Lights (Cahaya Utara) - pemandangan cahaya alami yang spektakuler, yang juga dikenal dengan sebutan Aurora Borealis.

Fenomena ini terjadi ketika terjadi ledakan di permukaan matahari, yang disebut solar flare, bertabrakan dengan gas di atmosfer bumi dan menciptakan guratan warna merah, hijau, dan ungu yang berkilauan.

Untuk menyaksikan fenomena Aurora ini, kami membutuhkan langit yang dingin, cerah, tanpa awan, bukan badai musim dingin yang sedang kami hadapi.

Baca juga:

"Percaya saya," saya meyakinkannya dengan penuh percaya diri.

"Kita akan melihatnya."

Saya sebelumnya pernah berada dalam kondisi badai saju serupa, dan dengan cepat menyadari bahwa Abisko adalah tempat fenomena blue hole (lubang biru) terjadi.

Lubang biru adalah sepetak langit yang membentang 10 hingga 20 km persegi di atas desa, Danau Torneträsk, dan Taman Nasional Abisko dan tetap cerah terlepas dari pola cuaca di sekitarnya.

Fenomena ini menjadikan Abisko sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk menyaksikan Aurora Borealis secara konsisten.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cahaya utara yang spektakuler dan bintang-bintang di atas jalan di Abisko di utara Swedia.

"Abisko dan Swedia utara, adalah tempat yang benar-benar ideal untuk menyaksikannya," kata Erik Kjellström, professor klimatologi di Institute Meteorologi dan Hidrologi Swedia, dalam surat elektronik.

"Itu karena fakta bahwa kawasan itu terletak di dalam area oval Aurora dan memiliki musim gelap yang sangat panjang - pengamatan aurora biasanya dilakukan sejak pertengahan Agustus hingga April - jadi ada banyak Cahaya Utara di sekitarnya.

"Satu-satunya hal yang diperlukan adalah awan dengan kondisi bebas," jelas Erik.

Dia menambahkan, lubang biru ada di Abisko berkat posisinya di sisi timur Pegunungan Skandinavia, yang membentang di sepanjang perbatasan Norwegia-Swedia.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Fenomena Aurora di Abisko biasanya terjadi sejak pertengahan Agustus hingga April.

Håkan Grudd, koordinator dukungan penelitian dan wakil manajer stasiun dari Stasiun Penelitian Ilmiah Abisko, menjelaskan lebih lanjut.

Arah angin yang mendominasi di daerah ini adalah dari barat, yang berarti massa udara lembab dari Atlantik harus naik ke ketinggian yang lebih tinggi (lebih dingin) untuk melewati Pegunungan Skandinavia.

Ketika ini terjadi, awan terbentuk dan udara kehilangan kelembaban melalui presipitasi.

Di Abisko, di sisi pegunungan, udara menjadi lebih kering dan tenggelam ke ketinggian yang lebih rendah - awan hancur, dan oleh karena itu, terbentuklah 'lubang biru'."

Jadi, tidak heran Abisko menarik fotografer profesional seperti saya dan Erik, serta para pelancong yang ingin melihat-lihat Aurora Borealis dalam daftar perjalanan impian mereka.

Baca juga:

Hal itulah yang juga menarik perhatian fotografer dan pengusaha Chad Blakley.

Pada tahun 2008, sebagai pengantin baru muda, dia dan istrinya yang berkebangsaan Swedia, Linnea, menginginkan perubahan hidup dari kehidupan mereka sebelumnya di AS.

Menggabungkan kecintaannya pada alam bebas dengan kesempatan untuk lebih memahami budaya Linnea, Blakely mendapatkan pekerjaan sebagai bagian dari staf kebersihan di hotel STF Abisko Turiststation yang populer di taman nasional.

"Saya belajar tentang lubang biru dengan mengalaminya," kata Blakley, yang, pada hari-hari awal karirnya, menghabiskan setiap malam untuk memotret Cahaya Utara di taman nasional.

"Anda bisa melihat lubang di awan langsung di atas desa, sementara langit di cakrawala di segala arah sering berawan dan penuh salju."

Pada 2018 silam, dia dan Linnea mengawali bisnis perusahaan wisata Aurora Borealis, Lights Over Lapland.

Bagi mereka yang tidak dapat mengunjungi daerah terpencil Swedia, mereka memasang kamera yang telah beroperasi lebih dari satu dekade dan mengambil gambar setiap lima menit untuk ditayangkan dalam penayanganan tahunan kepada 8 hingga 10 juta orang.

Perusahaan kemudian menambahkan kamera video HD langsung, sehingga orang dapat menonton fenomena itu secara real time.

"Kami telah melihat Aurora secara konsisten, hampir setiap malam yang cerah, selama lebih dari 10 tahun," tutur Blakley.

"Dan saya bangga untuk mengatakan bahwa lubang biru telah membantu Abisko mendapatkan reputasi untuk penampakan Aurora."

Blakley sedang dalam proses memasang webcam Aurora real-time, 8k, 360 derajat pertama di dunia yang akan memungkinkan pemirsa untuk menonton Aurora secara langsung menggunakan kamera virtual reality (VR) dan kacamata VR musim depan.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Rosen: "Melihat bagaimana orang mengekspresikan perasaan mereka setelah melihat cahaya membuat saya merasa memiliki pekerjaan terbaik di dunia".

Cahaya Utara adalah daya tarik utama Abisko selama bulan-bulan musim dingin, tetapi iklim mikro juga menyediakan peristiwa cuaca spektakuler lainnya, seperti "busur bulan" yang sangat langka, juga dikenal sebagai pelangi bulan dan lingkaran cahaya bulan, yang terjadi ketika cahaya bulan memantul dan dibiaskan melalui tetesan air. dan kristal es di udara sekitar lubang biru.

Namun, bagi Anette Niia dan Ylva Sarri, yang merupakan anggota komunitas masyarakat adat Sámi, Abisko lebih dari sekadar lubang birunya.

Ada sekitar 70.000 anggota komunitas Sámi yang tinggal di Kutub Utara dan bagian subartik di Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Semenanjung Kola di Rusia - wilayah yang secara kolektif dikenal sebagai Sápmi.

Kedua perempuan tersebut telah menghabiskan waktu di Abisko sejak kecil, sebab desa itu juga merupakan daerah penggembalaan rusa bagi keluarga mereka.

Niia menjelaskan bahwa iklim mikro di daerah itu menghasilkan salju yang lebih tipis selama musim dingin, yang berarti musim semi tiba lebih awal di sini - dan karenanya menjadi makanan bagi rusa kutub dan hewan lainnya.

"Lubang biru adalah sesuatu yang dibicarakan oleh perusahaan pariwisata," katanya.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Iklim di Abisko menghasilkan salju yang lebih tipis selama musim dingin, yang berarti musim semi tiba lebih awal di sini - dan karenanya menjadi makanan bagi rusa kutub dan hewan lainnya.

"Bagi kami komunitas Sámi, Abisko spesial karena alasan yang berbeda."

Akan tetapi, dia dan Sarri juga memiliki hubungan dengan pariwisata di sini - nenek moyang keluarga mereka adalah pemandu gunung bagi pengunjung mulai awal 1900-an.

Kini, perempuan itu adalah pendiri Skandinavia Sami Photoadventures, yang memimpin beberapa pengalaman luar ruangan di Abisko, termasuk tur Northern Lights.

"Kami sebagai pemandu tahu bahwa ketika kami tiba di sungai Miellejohka, yang mengalir turun dari [lembah] Cuonjavaggi, dan melewatinya, Anda dapat terhindar dari badai salju dan mendapati langit cerah dalam jarak 100 meter," kata Niia.

"Itu magis!"

Dan itulah yang terjadi ketika Erik dan saya akhirnya tiba di Abisko: awan salju tebal melayang di atas pegunungan yang mengelilingi kami, tetapi kami melihat langit biru jernih tepat di atas kepala.

Pada perjalanan pertama saya ke Abisko beberapa tahun yang lalu, saya ingat ilmuwan yang beralih menjadi fotografer Peter Rosén memberi tahu saya bahwa anak-anak tidak boleh melihat atau bersiul pada Aurora yang menari di langit, atau menunjuk mereka dengan kagum, jika tidak cahaya itu akan mati dan membawa mereka pergi.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cerita rakyat mengatakan anak-anak tidak seharusnya melihat Aurora, jika tidak cahaya turun dan membawa mereka pergi.

Lahir dan dibesarkan di Swedia, Rosén tumbuh dengan cerita-cerita ini.

Kemudian pada tahun 1998, karirnya sebagai peneliti lingkungan di Pusat Penelitian Dampak Iklim Universitas Ume membawanya ke Abisko.

Dia menghabiskan 13 tahun mempelajari perubahan iklim di Kutub Utara melalui Stasiun Penelitian Ilmiah Abisko.

Pada tahun 2021, stasiun itu diakui sebagai Stasiun Pengamatan Centennial oleh Organisasi Meteorologi Dunia.

Ketika tiba di Abisko, Rosén dengan cepat mengetahui tentang lubang biru dan menjadi terpesona oleh Cahaya Utara.

Dia menghasilkan foto-foto Aurora pertamanya pada tahun 2001, yang sekarang menjadi bagian dari instalasi permanen di galeri-galeri di sekitar Swedia utara, termasuk ICEHOTEL di kota Jukkasjärvi.

"Rekan-rekan saya biasa memanggil saya 'peneliti di waktu luang, fotografer penuh waktu'," candanya.

Pada 2012, Rosén telah berhenti dari pekerjaannya di ilmu lingkungan untuk menjadi fotografer penuh waktu dan menjalankan Lappland Media, mengajari para pelancong cara memotret cahaya dengan benar.

Dia ingat salah satu tamunya, yang bermimpi melihat cahaya sejak dia berusia lima tahun.

Perempuan itu telah mencari Cahaya Utara di Kanada, Norwegia dan Finlandia, tetapi tidak berhasil.

Pada malam pertamanya di Abisko, dia menangis dan menangis setelah melihat apa yang dianggap Rosén sebagai Aurora yang sangat lemah.

Aurora Borealis

Sumber gambar, Getty Images

Pada malam-malam berikutnya, keduanya menyaksikan fenomena spektakuler yang kuat bersama-sama.

"Melihat bagaimana orang mengekspresikan perasaan mereka setelah melihat cahaya membuat saya merasa memiliki pekerjaan terbaik di dunia," tambah Rosén.

"Saya tidak pernah menyesal meninggalkan hidup saya sebagai peneliti, karena saya sekarang menjalani mimpi saya."

Saya ingat perasaan takjud yang saya alami sendiri saat pertama kali melihat lampu di Abisko, di kaki Gunung Nuolja, 900 meter di atas permukaan laut.

Bertengger dekat dengan puncak adalah Aurora Sky Station yang terpencil, berjarak sekitar 20 menit dengan kereta gantung dari pangkalannya.

Tidak ada lokasi yang lebih baik untuk melihat lubang biru yang tersebar di atas gemerlap lampu Abisko dan Danau Torneträsk yang membeku di lembah di bawahnya.

Kali ini, saat Erik dan saya mendaki gunung, akhirnya menaiki kereta gantung menuju kegelapan pekat setelah melewati badai, pengalaman itu membangkitkan rasa hormat atas apa yang akan kami saksikan: semburat cahaya hijau halus menari dan melipat di langit seperti tirai diatas kita.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, A 'blue hole' to the Northern Lights, di laman BBC Travel.