'Nyanyian tenggorokan yang dulu dituduh nyanyian setan' dipopulerkan kembali di TikTok

Inuit

Sumber gambar, Stephanie Foden

Keterangan gambar, Berbagai konten Shina Novalinga di TikTok membuat tradisi nyanyian tenggorokan Inuit dibicarakan banyak orang.
    • Penulis, Joel Balsam & Stephanie Foden
    • Peranan, BBC Travel
  • Waktu membaca: 7 menit

Nyanyian suara tenggorokan suku Inuit di Kanada terancam punah karena selama ratusan tahun dihapus oleh misionaris dan penjajah.

Namun semakin banyak orang muda kini mengetahui tradisi itu. Pemicunya adalah perempuan muda Inuit bernama Shina Novalinga, yang rutin mengunggah nyanyian suara tenggorokan sukunya ke TikTok.

Shina Novalinga mengunci pandangan ibunya, Caroline, dengan keintiman dan kedekatan yang terasa jauh lebih istimewa selama pandemi ini.

Caroline menopangkan tubuhnya dengan salah satu kakinya, lalu menghembuskan suara parau.

Shina meniru ibunya dan mengeluarkan suara serupa. Nyanyian mereka saling berbalas dan menciptkan irama yang sulit diabaikan.

Sesekali nada tinggi, lalu berganti nada rendah. Yang jelas hampir tidak mungkin mengetahui suara mana yang dibuat Shina atau Caroline.

"Jika Anda bingung, itu pertanda bagus," kata Shina.

Akhirnya, mereka tertawa terbahak-bahak dan tersenyum ke arah kamera.

Inuit

Sumber gambar, Stephanie Foden

Keterangan gambar, Shina Novalinga dan ibunya, Caroline. Nyanyian tenggorokan khas Inuit dilakukan dua perempuan yang saling berhadapan.

Setelah Shina mengunggah video nyanyian itu ke media sosial, tanda 'suka' dan komentar mengalir masuk.

Nyanyian suara tenggorokan masyarakat Inuit terancam punah. Selama ratusan tahun, penjajah dan misionaris berusaha menutupi dan menghapus tradisi tersebut.

Namun Shina, yang lahir di Nunavik, Kanada dan kini tinggal di Montreal, membagikan tradisi ini pada generasi sekarang.

Shina mengunggah sejumlah video nyanyian tenggorokannya ke TikTok, media sosial yang sangat terkenal dengan lagu dan tarian. Saat artikel ini disusun, dia diikuti 1,9 juta akun dan kontennya disukai 60 juta kali.

Inuit

Sumber gambar, UniversalImagesGroup

Keterangan gambar, Ilustrasi perkampungan Inuit pada pertengahan abad ke-19.

Ketenaran serta efek domino unggahan video nyanyian tenggorokan Shina melampui medium media sosial, menurut Evie Mark, profesor di Nunavik Sivunitsavut, sebuah program perguruan tinggi untuk studi Inuit.

Evie Mark juga seorang penyanyi tenggorokan.

"Dia membuat pernyataan untuk mengatakan, 'Saya membawa kembali apa yang selama ini dipermalukan'," ujar Mark.

Menurut legenda Inuit, bukan mereka yang pertama kali membuat nyanyian tenggorokan. Yang melakukannya pun bukan manusia, melainkan burung kecil dengan ciri-ciri mirip manusia yang disebut Tunirtuaruit.

"Sulit untuk melihat mereka karena mereka sangat pemalu atau takut pada manusia," kata Mark.

"Burung-buring itu tinggal di rumah salju yang ditinggalkan. Anda biasanya bisa melihat mereka berkelompok," ujarnya.

Nyanyian tenggorokan tradisional Inuit versi manusia melibatkan dua orang, biasanya perempuan. Penyanyinya saling berhadapan, menggunakan tenggorokan, perut, dan diafragma untuk mengeluarkan suara.

Dua penyanyi itu saling berbalas suara, lalu mencocokkan ritme sampai salah satu terdiam atau mulai tertawa.

"Ini adalah hal yang sangat intim jadi pasti Anda akan terpicu untuk tersenyum atau tertawa, terutama saat Anda mulai melihat mata rekan Anda saat bernyanyi bersama," kata Mark.

Hentikan Instagram pesan
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan

Nyanyian tenggorokan juga ada di budaya lain, salah satunya tradisi khoomei di Mongolia, Siberia, dan di wilayah Tuva di perbatasan Rusia-Mongolia.

Sama seperti nyanyian tenggorokan Inuit yang ditemukan di Arktik Kanada, Greenland, dan Alaska, khoomei mengadaptasi suara alam liar, seperti yang dikeluarkan binatang, gunung, dan sungai.

Tapi dalam tradisi khoomei, nyanyian tenggorokan dilakukan laki-laki.

"Di wilayah kami, laki-laki sering harus pergi berburu selama dua jam, dua hari, dua minggu, bahkan dua bulan. Kami adalah masyarakat matriarkal karena perempuan tinggal di rumah untuk menyiapkan pakaian, makanan, dan sebagainya," kata Mark.

"Saya pikir para perempuan memiliki lebih banyak waktu luang untuk menghibur diri meski mereka sangat sibuk menjahit pakaian dan melakukan hal lainnya," ucapnya.

Mark berkata, ada beberapa laki-laki Inuit yang mendendangkan nyanyian tenggorokan. Mereka meniru suara binatang saat berburu dan nyanyian dukun.

Namun, perempuan dan anak-anak mengalunkan nyanyian tenggorokan untuk membuat pikiran mereka tetap sibuk dan menjaga tubuh mereka hangat selama cuaca dingin.

Dulu, selama pandemi seperti flu Spanyol atau campak, nyanyian tenggorokan juga cara untuk mengatasi jarak sosial antarwarga.

"Menghibur diri sendiri, misalnya dengan menyanyikan lagu atau bercerita, sangat penting bagi mereka untuk menemukan kebahagiaan," kata Mark.

"Ini memungkinkan kakek-nenek saya tetap hangat dan fokus pada pernapasan mereka.

"Seperti yang kami coba lakukan hari ini, yakni berupaya menemukan kedamaian atau penghiburan selama pandemi Covid-19," ucapnya.

Inuit

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Caroline Novalinga belajar melantunkan nyanyian tenggorokan saat tinggal di Puvirnituq.

Namun, pada awal abad ke-20, misionaris Kristen di Kutub Utara memanfaatkan tradisi nyanyian tenggorokan untuk mempermalukan orang-orang Inuit.

"Leluhur saya diberitahu itu adalah hal buruk. Nyanyian seperti itu berkaitan dengan setan.

"Faktanya itu tidak benar. Tradisi itu memungkinkan kakek-nenek saya untuk berkembang selama ribuan tahun dan tiba-tiba tidak boleh melakukannya," kata Mark.

Nyanyian tenggorokan hampir hilang, tapi di Puvirnituq, sebuah desa di pesisir Teluk Hudson, sekitar 1.630 kilometer di sisi utara Montreal, seorang tetua Inuit ingin melestarikannya.

Dia meminta empat penyanyi tenggorokan yang tersisa di komunitasnya untuk mewariskan keterampilan mereka kepada perempuan muda.

Salah satu perempuan muda itu adalah Caroline Novalinga. Dialah yang kemudian mengajarkan tradisi tersebut kepada putrinya, Shina.

Tumbuh dewasa di Puvirnituq, Caroline menghabiskan musim panas dengan berkemah. Dia mengejar angsa di musim semi dan berseluncur atau menonton nelayan memancing ikan di lapisan es saat musim dingin.

Caroline juga gemar menjahit dan melantunkan nyanyian tenggorokan. "Dulu kami memiliki banyak hal yang harus dilakukan ketika kami tumbuh dewasa," ujarnya.

Caroline pindah ke Montreal untuk kuliah ketika Shina berusia empat tahun. Dia juga mengajarkan tradisi Inuit kepada Shina putrinya, salah satunya berbicara dalam bahasa Inuktitut di rumah.

Namun baru setelah Shina berusia 17 tahun, Caroline akhirnya memutuskan untuk mengajari putrinya mendendangkan nyanyian tenggorokan.

"Saya menangis saat dia bernyanyi," kata Caroline.

"Saya sangat bahagia, emosional dan bangga. Saya merasakan semua emosi itu," tuturnya.

Inuit

Sumber gambar, Stephanie Foden

Keterangan gambar, Nyanyian tenggorokan membuat hubungan ibu dan anak antara Caroline dan Shina semakin erat.

Bukan cuma melestarikan budaya Inuit, tradisi nyanyian tenggorokan juga semakin mendekatkan Caroline dan Shina.

"Kami memiliki hubungan yang tidak dapat dijelaskan antara ibu dan anak perempuan. Hubungan itu memberi saya zona nyaman saat saya melantunkan nyanyian tenggorokan dengannya," kata Shina.

Walau Shina yang memiliki darah Inuit dan Quebecoise selalu dekat dengan ibunya, dia sempat merasa tidak dihargai saat tumbuh remaja di Montreal.

"Saya selalu bangga dengan warisan tradisi saya, tapi saya tidak selalu menunjukkan itu. Dulu saya lebih takut untuk menunjukkannya," kata Shina.

"Saya mewarnai rambut saya dengan warna lebih terang. Saya seperti mengalami krisis identitas karena saya tidak benar-benar tahu di kelompok mana saya sepantasnya berada," ucapnya.

Saat belajar di John Abbott College, salah satu guru Shina terlibat dalam gerakan advokasi tradisi masyarakat adat di kelompok First Peoples' Voices. Guru itu mendorong Shina mendalami budaya leluhurnya, di luar apa yang telah diajarkan Caroline kepadanya.

"Saat itulah saya menyadari betapa pentingnya dan seberapa banyak yang telah kita lalui, hanya bagi saya untuk tidak merangkul identitas saya. Jadi saat itulah hal-hal mulai berubah di kepala saya," kata Shina.

Inuit

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Shina mengaku dengan bangga menunjukkan budaya Inuit kepada publik di media sosial.

Di sekolah, Shina menyadari ketidakadilan yang terjadi pada komunitasnya, antara lain terkait program asimilasi yang menempatkan anak-anak suku asli ke rumah non-Pribumi. Pemaksaan pemerintah Kanada itu membuat ribuan anak suku asli berpisah dengan orang tua mereka.

Dalam suatu presentasi di kelas, Shina melantunkan nyanyian tenggorokan.

"Saat itu saya masih belajar. Tahun itu dan pada tahun 2020 semuanya berubah," ucapnya.

Maret 2020, ketika gelombang pertama pandemi Covid019 melanda Montreal, Shina mulai mengunggah video nyanyian tenggorokan ke akun TikTok miliknya.

Dalam sejumlah video itu, Shina juga memamerkan parka indah yang dijahit dan dirancang ibunya.

"Bagi saya tradisi itu sangat normal, tapi saya menyadari betapa unik nyanyian itu bagi banyak orang yang mendengarnya, bukan hanya aspek budaya kami yang berbeda, makanan dan pakaian kami juga," kata Shina.

Dalam sekejap, berbagai video Shina ditonton ratusan ribu, bahkan jutaan kali.

Shina berkata, ia terinspirasi gerakan Black Lives Matter untuk membagikan tradisinya. Ia juga terdorong oleh sosok neneknya, seorang penyair yang tidak memiliki teknologi untuk menjangkau banyak orang dengan karya seninya.

"Penting untuk berbicara tentang budaya karena kakek-nenek saya adalah generasi yang lebih tua dan tidak memiliki kesempatan untuk angkat bicara," kata Shina.

"Dan sekarang kami memiliki media sosial. Kami memiliki semua platform untuk mengambil sikap dan berbicara tentang budaya indah kami serta menerimanya."

Hingga kini banyak orang masih terus menekan tombol suka untuk video-video Shina.

"Melihat begitu banyak tanggapan positif dan mendapat semua pengakuan ini, kami terdorong untuk terus maju," ujarnya.

Inuit

Sumber gambar, Stephanie Foden

Keterangan gambar, Bukan cuma nyanyian tenggorokan, Shina juga menunjukkan bagian lain Inuit, seperti pakaian, sepatu, dan makanan tradisional mereka.

Namun kecemasan Shina soal tanggapan negatif sekelompok orang terhadap latar belakangnya benar-benar terjadi. Dia mulai menerima komentar negatif di media sosial, terutama tentang pakaian yang dikenakannya.

"Orang-orang menyukai apa yang dibuat ibu saya, tapi segera setelah mereka mengetahui bahwa itu bulu rubah asli, beberapa orang berkata, 'Oh, kamu kejam. Mengapa kamu melakukan ini? Jangan gunakan hewan asli'," kata Shina.

Shina mencoba menjelaskan bahwa perburuan tradisional Inuit dilakukan secara berkelanjutan selama ribuan tahun. Walau begitu, banyak orang tidak mau mengerti hal itu.

"Saya dulu sangat defensif dan saya akan membalas dengan mencoba mendidik dan menjelaskan, tapi saya sadar bahwa saya hanya menjadi target orang-orang itu," katanya.

"Itu tidak salah, tapi pada saat yang sama, saya tidak senang dengan diri saya sendiri, jadi saya mengubah konten saya menjadi lebih positif dan mengabaikan komentar seperti itu dan tetap menunjukkan keindahan budaya kami sebagai gantinya."

Tetap saja, Shina tidak bisa menahan diri untuk melawan. Dalam unggahannya baru-baru ini, dia terlihat menangisi video dua orang yang sedang mengolok-olok nyanyian tenggorokan.

"Orang-orang salah paham tentang cara hidup kami, budaya Inuit kami.

"Namun saya muncul di media sosial untuk membuktikan bahwa mereka salah dan berkata kepada mereka bahwa kita semua memiliki keprihatinan yang sama," ucapnya.

"Saya setengah Inuk dan saya setengah Quebec, saya tahu kedua belah pihak dan saya ingin menjadi jembatan untuk melakukan rekonsiliasi ini."

Inuit

Sumber gambar, Bildagentur-online

Keterangan gambar, Inuit adalah satu dari sejumlah suku asli di benua Amerika.

Pada tahun 2014, nyanyian tenggorokan diberi status warisan budaya di Quebec.

Tradisi itu dianggap sebagai hal berharga yang tidak berwujud. Status yang sama sebelumnya diberikan untuk temuan artefak, karya arsitektur, dan fotografi.

Nyanyian tenggorokan juga telah dipopulerkan dalam beberapa tahun terakhir berkat artis seperti Tanya Tagaq, Quantum Tangle, Piqsiq, dan Riit.

Shina dan Caroline (yang memiliki akun TikTok sendiri) telah merekam album nyanyian tenggorokan mereka dan berencana untuk merilisnya akhir tahun ini.

"Kami ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa nyanyian tenggorokan itu ada dan kami ingin memastikan bahwa nyanyian itu tetap ada selama kami bisa," kata Shina.

Shina juga berencana untuk terus membagikan konten positif.

Dia mendesak orang lain, terutama perempuan muda dari suku asli seperti dirinya untuk angkat bicara.

"Banyak orang-orang muda dari kelompok adat yang takut seperti saya. Penting untuk menyadari siapa Anda, identitas Anda dan tidak malu dengan budaya Anda," katanya.

--

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Travel dengan judul A revival of indigenous throat singing.