Kisah tarab, musik khas Suriah yang bertahan ribuan tahun, dari perang hingga kediktatoran

Suriah

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Perang berkecamuk di Suriah selama beberapa tahun terakhir, namun musik tarab tetap menjadi sumber kebahagiaan warga kota Aleppo.
    • Penulis, Yasmin El-Beih
    • Peranan, BBC Travel

Selama bertahun-tahun, kakek Hamam Khairy bekerja di ladang bersama saudara-saudari dan anak-anaknya di pinggiran Aleppo, Suriah. Mereka bekerja sambil menyanyikan lagu folk tradisional, tarab, yang diputar stasiun radio lokal.

Sekelompok peladang itu bernyanyi sembari memetik timun, terong, dan tomat. Untuk menjaga Khairy, yang saat itu masih balita, tetap tenang, mereka mendudukkannya di karung berbahan karet.

Radio yang mengeluarkan lagu tadi didekatkan ke telinga Hdamam agar dia tidak menangis.

"Bagi warga Aleppo, musik sudah mendarah daging. Kami tak bisa berhenti mendengarkannya," kata Khairy yang saat ini berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu tarab.

Aliran musik yang sudah berkembang selama ribuan tahun ini populer di negara-negara berbahasa Arab.

Walau sebagian besar musikus tarab yang paling terkenal berasal dari Mesir dan Lebanon, tidak ada tempat lain yang begitu menghormati aliran musik ini seperti di Suriah, terutama di Aleppo, tempat kelahirannya.

Musik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Walau musik tarab populer di negara-negara berbahasa Arab, aliran musik ini sangat dihargai di Aleppo.

Kota New Orleans di Amerika Serikat dikenal sebagai tempat kelahiran jazz. Ibu kota Austria, Wina, identik dengan musik klasik. Aleppo adalah tempat di mana tarab lahir.

Tarab khas Suriah merupakan musik folk Arab klasik. Para penyanyinya mengalunkan syair muwashahshat selama berjam-jam, memicu sensasi transendental kepada para pendengar.

Musik ini biasanya dimainkan dengan alat musik mirip sitar yang disebut qanun, kecapi Arab berbentuk buah pir yang disebut oud, dan seruling panjang yang disebut ney.

Terkadang rebab, alat musik petik tertua di dunia, juga digunakan untuk tarab.

Tarab bukan hanya musik, tetapi juga sebuah ekspresi keberadaan.

Dalam bahasa Arab, "tarab" merupakan kata kerja yang berarti perasaan emosi atau kegembiraan yang meningkat.

Jika genre musik seperti blues Amerika, tango Argentina, dan fado Portugis menunjukkan rasa sedih dan kerinduan, tarab sejak abad pertengahan terkenal karena mampu memicu kegembiraan para pendengarnya, baik melalui lirik suka maupun duka.

Dalam konteks budaya, peran Aleppo sebagai tempat kelahiran seni Arab abad pertengahan ini masuk akal.

Posisinya di ujung barat Jalur Sutra menyokong perkembangan wilayah ini sebagai pusat musik yang hidup, dengan pengaruh Aram, Kurdi, Irak, Turki, dan Asia Tengah.

Kota yang dikelilingi daratan ini sudah menghasilkan beberapa penyanyi tarab paling terkenal di dunia, antara lain Sabah Fakhri, Bakri al-Kurdi, dan Sabri Moudallal.

Aleppo juga mampu mempertahankan reputasi dan kecintaan warganya terhadap seni tradisional.

Masyarakat Aleppo sangat bangga menanggung beban sebagai penjaga budaya. Penduduk kota terbesar Suriah ini sudah melestarikan puisi muwashahshat yang diperkenalkan Bangsa Moor selama lebih dari 1.000 tahun.

Sementara benteng megah di perbatasan kota ini serta Masjid Agung di dekatnya membuktikan peran abadi Aleppo sebagai benteng budaya Islam.

Suriah

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Dua anggota pasukan tempur di Suriah memainkan musik sembari bersiaga dalam konflik bersenjata.

Saat ini, warisan musik khas Aleppo yang dihormati mendapatkan gelar "Bunda Tarab".

Jika penyanyi musik country berziarah ke Nashville atau DJ techno yang mengacu ke Berlin, penyanyi tarab tahu bahwa keberhasilan mereka harus melewati sammi'a yang dihormati warga Aleppo.

Sammi'a sebutan untuk para penggemar tarab yang dianggap sebagai penjaga gerbang khasanah aliran musik ini.

"Aleppo adalah dunianya sendiri," kata Lubana al-Qantar, salah satu penyanyi opera dan tarab terkemuka Suriah.

"Mereka sangat bangga dengan tradisi mereka dan sifat mereka yang cenderung konservatif. Tarab dan muwashshahat sangat mendarah daging di kalangan warga Aleppo."

"Penonton di sana sama sekali tidak normal, mereka sangat cerdas dan itulah mengapa saya suka tampil di sana," ujar al-Qantar.

Di ibu kota Suriah ini, pertunjukan tarab biasanya dimulai dengan puisi tentang Aleppo. Sering kali kontennya berupa pujian terhadap peran Aleppo dalam melestarikan musik tradisional.

Puisi itu dikumandangkan sebelum para musisi tarab mulai menyelami kegembiraan yang transformatif dan menyanyikan muwashshahat atau puisi qudud dalam dialek khas Aleppo.

Saat oud dan qanun menenun masuk dan keluar dari tangga nada serta harmoni yang dipetik, penyanyi tarab berfokus pada nyanyian melodi bernada tinggi yang hampir menghipnotis.

Sang penyanyi menyatukan diri ke penonton dan mengajak mereka untuk berinteraksi.

Namun di Aleppo, tarab bukan hanya dipraktikkan oleh penyanyi terlatih, musik ini adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari, bahkan musik latar kota.

Musik

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Empat musisi memainkan serangkaian lagu di situs Palmyra yang dihancurkan ISIS.

"Sampai saat ini, di pasar Kota Tua Aleppo, sebagian besar pemilik toko, baik yang menjual rempah-rempah atau kain, mengetahui banyak muwashahshatby," kata Khairy.

"Mereka berkumpul untuk makan siang, untuk bernyanyi sambil menyiapkan makanan. Mereka mungkin menyanyikan syair-syair terkenal muwashshah seperti Malaktu fuadi (tangkap perasaan saya) dari toko mereka untuk menarik pelanggan."

Khairy terpaksa melarikan diri ke Paris tahun 2013 saat eskalasi perang saudara di Suriah meningkat. Dia berencana untuk kembali menetap ke Aleppo suatu hari nanti.

Awal tahun ini, Khairy berkunjung sebentar ke Aleppo.

"Saya membutuhkan energi itu," ujarnya tentang perjalanannya tersebut.

"Menghabiskan dua minggu di Aleppo cukup untuk mengisi energi kreatif saya selama 10 tahun ke depan. Saya mungkin memang telah meninggalkan Aleppo tujuh tahun lalu, tetapi energi itu masih hidup di dalam diri saya," kata Khairy.

Sejak awal abad ke-20, tarab secara tradisional dipertunjukkan pada malam hari dalam pertemuan informal yang disebut jalsah. Tempat pertunjukkan ini adalah rumah orang kaya dan pencinta musik.

Pengaturan pertunjukan yang intim dan interaktif memungkinkan musisi dan penonton menyelami ekspresi keberadaan yang emosional dari musik ini. Sensasi itu sering dianggap memabukkan.

Jonathan Shannon, yang tinggal di Aleppo selama beberapa tahun dan menulis buku Diantara Pohon Melati: Musik dan Modernitas di Suriah Kontemporer.

Buku ini menggambarkan tarab sebagai bagian integral dari pengalaman kehidupan sosial di Aleppo.

Pertunjukan tarab di depan publik diadakan di tempat-tempat di seluruh kota hampir setiap akhir pekan.

Musik ini merupakan elemen pokok di seremoni pernikahan warga Aleppo, begitu juga di klub malam atau pusat kabaret lokal.

Tarab juga bukan hanya musik latar kota, tapi bunyi-bunyian yang menjadi pemandangan kota karena tarab khas Aleppo sering kali mengutip puisi modern yang mengisahkan burung bulbul dan burung londo yang berkicau, gemerisik pohon dedalu serta melati yang menangis di seluruh wilayah.

Musik

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Mohammed Mohiedin Anis alias Abu Omar, 70 tahun, mendengarkan musik di kamarnya, di kota Aleppo, yang hancur lebur akibat bom.

Tradisi tarab khas Aleppo yang beragam dan berbeda serta pengalaman menggugah jiwa yang dialami para pendengarnya membuat penulis Helen Russell memasukkan satu bab tentang Suriah dalam bukunya, The Atlas of Happiness: the global secrets of how to be happy.

Russell menggambarkan tarab sebagai "penopang hidup dasar" di saat-saat krisis.

Menurut Russell, komposisi tarab yang berdurasi 30 menit membawa pendengar pada perjalanan yang nyaris katarsis.

Saat penyanyi mengeluarkan emosi dan menyentuh isu romansa dan agama, Russell menyebut pengalaman mendengarkan pertunjukan langsung itu sebagai perihal yang ajaib.

Seperti yang dikatakan Khairy, "Musik dan lirik puitis tarab membersihkan jiwa dari trauma dan bahkan dapat menyembuhkan penyakit fisik."

Seperti yang dijelaskan Jonathan Shannon, "Tarab adalah sesuatu yang sangat indah tentang Suriah dan tentu saja merupakan alasan kebahagiaan, terlepas dari lanskap politik. Orang-orang menyalakan radio atau pemutar MP3 dan duduk untuk mendengarkan sesuatu yang merupakan sumber penghiburan.

"Ini sebuah pengingat terhadap warisan budaya yang mereka miliki, bahwa budaya mereka sangat tangguh selama ribuan tahun, bahkan saat terjadi perang selama 10 tahun atau kediktatoran selama 50 tahun," kata Shannon.

"Tarab tidak terbatas hanya pada lagu atau musik, ini semacam budaya lisan secara umum. Jadi, seseorang mungkin memiliki respons tersendiri terhadap tarab ketika mereka mendengar baris puisi yang indah."

Ungkapan kegembiraan seperti "Allah" dan "Ya Salams" (keduanya berarti "betapa indahnya!") atau teriakan apresiatif "Ahhh" dan "Ooh" adalah reaksi khas pada pertunjukan tarab, terutama karena para pemain semakin tenggelam dalam saltanah, keadaan kreatif di mana mereka kehilangan diri mereka sendiri dan menyebabkan hipnosis kolektif di antara penonton.

Musik

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seiring semakin banyak warga Aleppo yang bermigrasi ke luar negeri, musik tarab diperkenalkan ke khalayak yang lebih luas.

Meskipun PBB memperkirakan bahwa lebih dari 12 juta warga Suriah telah mengungsi di dalam maupun luar negeri, warisan musik yang kaya di negara itu terus bertahan.

Pada 2017, otoritas Suriah meluncurkan inisiatif agar Aleppo dinominasikan sebagai Kota Musik UNESCO.

Pada tahun yang sama, amfiteater di benteng kota yang didirikan pada abad pertengahan menjadi tempat penyelenggaraan konser tarab pertama sejak pecahnya perang Suriah tahun 2011.

Karena semakin banyak orang Suriah yang membawa budaya tarab ke luar negeri, generasi pendengar baru di seluruh dunia kini diperkenalkan kepada aliran musik tradisional Arab ini.

Tentu saja, musik Suriah yang mendunia seharusnya tidak membuat kita heran, mengingat negara itu mungkin telah melahirkan lagu pertama di dunia.

Namun ini adalah pengingat bahwa bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun, budaya dapat berkembang dan berfungsi sebagai alat untuk ketahanan.

"Setengah Aleppo mungkin dihancurkan, tapi kota ini akan tetap menjadi Aleppo, yang memiliki pendengar yang kritis, musisi berbakat, dan energi yang tidak akan Anda temukan di tempat lain," kata Khairy.

---

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini, Tarab: Syria's key to finding happiness, di laman BBC Travel.