Pulau 'mirip lokasi syuting Star Trek' tempat para astronaut bersiap pergi ke Mars

Sumber gambar, European Space Agency
- Penulis, Mike MacEacheran
- Peranan, BBC Travel
Pada tahun 1969, para astronaut NASA mendarat di Bulan untuk pertama kalinya. Selang 50 tahun kemudian, para ilmuwan mengikuti pelatihan untuk misi berikutnya di sebuah tempat yang tidak terduga.
Setiap satu pekan sekali pada sekitar pukul 21.00, dengan dipandu cahaya dari berjuta bintang di langit, Raúl Martínez Morales dan Amanda Mandry berangkat untuk menyurvei 'planet Mars'.
Pasangan ini, mantan astrofisikawan dan ahli astronomi yang obsesif, memulai kegiatannya dengan mengeluarkan alat penelitian mereka dengan hati-hati sebelum menyeberangi lautan lava dingin menuju suatu bukit berpasir merah membara.
Pada malam-malam tertentu, mereka menciptakan laboratorium dadakan di samping terowongan lava raksasa atau kawah prasejarah yang cukup besar untuk mendaratkan kapal roket mereka di dalamnya.
Malam itu menjadi semakin dramatis ketika mereka melihat benda asing muncul dalam kegelapan. Mungkin hujan meteor galaksi atau bintang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Saya selalu terobsesi dengan planet-planet dan dunia lain yang belum kita kenal sejak saya masih kecil," kata Morales sambil menatap kagum pemandangan di sekitarnya. "Mars, Jupiter, Saturnus, Bulan, semuanya membuat saya terpesona."
Pemandangan di lokasi cukup menakjubkan, namun tim ilmuwan tersebut tidak sedang berada di permukaan Planet Mars sesungguhnya, meskipun mereka merasa seperti berada di sana. Faktanya, mereka berjarak 54,6 juta kilometer dari Mars, di tengah Taman Alam Los Volcanes di Lanzarote, Kepulauan Canary, Spanyol.
"Sihir" itu akan "hilang" seiring kembalinya mereka ke jalan utama di luar cagar alam itu, ketika melewati Pusat Berkendara Unta Kota Yaiza.
Ini adalah sebuah pulau di Spanyol. Bukan luar angkasa.
"Cukup menakjubkan, bukan?" Kata Mandry, yang mengelola Planetarium Kosmos di pulau itu bersama Morales.
"Kenyataannya, lanskap ini lebih dekat ke ruang angkasa daripada ke daerah lain. Uniknya, terdapat gua-gua di sini yang mirip dengan gua yang ditemukan di Bulan dan Mars. Luar biasa, bukan? "

Sumber gambar, Mike MacEacheran
Pulau Lanzarote diresmikan pada tahun 1993 sebagai Cagar Biosfer Unesco dan secara geologis sangat mirip dengan Bulan dan Mars. Sedemikian miripnya sehingga pulau itu menjadi salah satu pusat penelitian paling penting di dunia untuk eksplorasi ruang angkasa.
Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) menggunakan Lanzarote sebagai tempat pelatihan astronot dan menguji Mars Rovers (droid yang dioperasikan dengan kendali jarak jauh).
Di sini, para ilmuwan mensimulasikan bagaimana rasanya berada di lanskap luar angkasa dan mengambil langkah selanjutnya dalam mempersiapkan para astronot untuk bertualang di luar Bumi.
Untuk siapa pun yang menyukai dunia eksplorasi ruang angkasa, musim panas ini lebih penting daripada musim-musim lainnya.
Sekitar 50 tahun yang lalu, astronot NASA Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjadi manusia pertama dalam sejarah yang berjalan di atas permukaan Bulan ketika Apollo 11 mendarat pada 20 Juli 1969.
Banyak hal yang akan dirayakan pada peringatan itu: kata-kata ikonik Armstrong, pemasangan bendera Amerika, setengah miliar penonton TV, juga rasa nostalgia yang kuat. Akan ada juga pembahasan yang mengarah pada ide-ide liar dan apa rencana berikutnya untuk badan antariksa.
Yang paling ditunggu? Rencana pengiriman manusia kembali ke Bulan pada tahun 2024, dan kemudian ke Mars.

Sumber gambar, Mike MacEacheran
Di situ lah peran Lazerote muncul. Terkadang lanskap pulau itu tampak menentang hukum umum fisika dan geografi.
Selama periode enam tahun dari 1730 hingga 1736, pulau itu diguncang banyak letusan vulkanik akibat rekahan di dekat Montañas del Fuego di Taman Nasional Timanfaya yang semakin membesar. Seperempat pulau itu tertutupi abu dan material vulkanik dari perut bumi.
Pasca letusan, pulau itu tidak mati, tapi terlahir kembali. Taman Alam Los Volcanes dan Taman Nasional Timanfaya di dekat Lanzarote terkenal karena kondisinya yang seperti bulan.
Hal itu terlihat dari jumlah kerucut vulkaniknya yang mencapai lebih dari 100, ditambah gabungan unik dari kawah yang besar, padang magma yang mengeras, aliran lava dan pasir berwarna yang tersebar di lahan seluas 172 km2.
Ada atmosfer yang berbeda di sini: lanskap pulau itu tampak seperti gurun di luar angkasa di mana waktu tidak bergulir. Bahkan pantainya saja terlihat asing dan menakutkan, hasil dari lahar yang tiba-tiba mendingin ketika bersentuhan dengan Samudra Atlantik.
Salah satu pakar yang bertanggung jawab dalam membantu mewujudkan misi ruang angkasa di Lanzarote adalah pemimpin proyek veteran Mars Loredana Bessone.
Di antara sekian banyak tanggung jawabnya - mulai dari melatih astronot hingga mengawasi pengujian misi simulasi interaksi manusia-robot - ia mengepalai program Pangaea ESA, langkah pertama dalam mempersiapkan astronot untuk menjadi penjelajah dalam misi ke planet lain.
"Singkatnya, Lanzarote menawarkan beberapa lanskap bulan dan Mars yang realistis," kata Bessone ketika saya menghubunginya setelah berkunjung ke Kepulauan Canary.
"Sangat mudah untuk mengajari astronot berbagai jenis tugas dan operasi, tetapi tidak mudah mencetak mereka menjadi sosok ilmuwan lapangan. Pangea membantu para astronot dari berbagai latar belakang untuk menjadi ahli geologi lapangan dan geo-mikrobiologi yang efektif dalam konteks ilmu tata surya.
Dan hasilnya pun berlipat ganda: astronot belajar untuk menjadi ahli geologi, ilmuwan yang mampu melakukan penyelidikan, dan mereka belajar untuk bekerja secara operasional."

Sumber gambar, European Space Agency
Proyek Pangea telah berkembang setiap tahunnya sejak debutnya pada tahun 2016. Pada tahun 2018, selama Pangea-X, kamp pelatihan proyek yang ke-10, para astronot ESA yang mengujicobakan kendaraan eksplorasi ruang angkasa di Lanzarote, menerbangkan gerombolan drone.
Mereka menavigasi kendaraan tersebut melalui tabung lava 6km yang terbuat dari letusan gunung berapi berusia 21.000 tahun.
Selain itu, selusin percobaan dilakukan oleh 50 ilmuwan, yang melibatkan empat badan antariksa di lima lokasi berbeda selama satu minggu. Aktivitas di luar kendaraan eksplorasi rutin dipraktekkan. Begitu juga analisis DNA mikroorganisme di lokasi tersebut.
Bagi masyarakat yang tidak tahu keberadaan pulau itu, pelatihan eksplorasi ini mengubah pemandangan pulau menjadi layaknya lokasi syuting film yang menyatukan alur cerita Star Trek dengan Wall-E milik Disney-Pixar.
Mereka yang bekerja di dunia ektra-terestrial Lanzarote terbiasa menghadapi masalah yang tidak nyata. Perbincangan tentang gravimeter, seismograf, peralatan geodesi, dan magnetometer menjadi hal yang lumrah.
Peralatan semacam itu, yang dipajang di Pusat Pengunjung Taman Nasional Timanfaya, telah digunakan oleh ahli vulkanologi untuk memantau lanskap pulau dan membaca aktivitas gunung berapi selama beberapa dekade.
Tapi kini Anda mungkin akan lebih sering mendengar hal-hal yang berhubungan dengan laser pemetaan 3D dan pemindai berteknologi tinggi.
Salah satu skenario lunar EVA (aktivitas luar angkasa) Pangaea baru-baru ini melibatkan para astronot yang mengumpulkan batu-batuan dengan alat geologis yang berasal dan berevolusi dari misi Apollo.
Mereka berkomunikasi dengan para ilmuwan dan mendokumentasikan perjalanan mereka di Electronic Fields Book yang futuristik, dengan seluruh operasi yang dikoordinir oleh direktur penerbangan di pusat pengendali misi.
Tugas lainnya melibatkan tokoh-tokoh ekstra-terestrial yang mengenakan pakaian antariksa mengawasi kendaraan eksplorasi Mars yang sedang dikendalikan dari pusat kendali jarak jauh di Hamburg.

Sumber gambar, Kredit: Mike MacEacheran
"Simulasi semacam itu dapat dilakukan di bumi dengan lanskap seperti Lanzarote, tetapi mustahil untuk meniru kondisi riil saat berada di permukaan geologis planet sebenarnya," ujar Bessone, yang juga melatih kru musim dingin Antartika untuk Stasiun Concordia, yang juga dikenal sebagai 'Mars Putih'.
"Ada banyak kendala di luar angkasa. Kesulitan medan, kondisi pencahayaan, dan masalah komunikasi, serta aksesibilitas, semuanya nyata. Sorti ruang angkasa geologis ibarat tari balet: ia harus digerakkan dan dilatih agar berfungsi baik."
Gagasan kolot para astronot meluncur ke luar angkasa demi menancapkan bendera bukan hanya sesuatu yang dituju dalam misi-misi di masa depan.
Bagi para ilmuwan saat ini, hal itu bisa berjalan beriringan dengan hal lainnya: sebuah eksplorasi yang mewakili semua umat manusia.
Agar manusia lebih memahami bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas hidup di Bumi, melalui terobosan ilmu yang terus berkembang, dan menjadikan angkasa luar sebagai sumber kebaikan bagi umat manusia. Dan itulah mengapa misi ke Mars tetap menjadi kegiatan pamungkas bagi NASA dan ESA.
"Uji coba operasi ini membuat ESA bisa menimbang berbagai kesalahan yang tidak ingin kami ulangi ketika kami benar-benar di luar angkasa," kata Bessone.
"Anda tidak ingin berada di sana kecuali Anda tahu semuanya telah dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup Anda. Dan dengan rencana NASA untuk kembali menginjakkan Bulan pada 2024, saya dapat katakan bahwa kita bisa melakukannya."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di The Spanish island where astronauts prepare for mars di laman BBC Travel









