Kisah negeri di Afrika yang menggunakan kembali nama aslinya

Raja Mswati III (paling kanan) menyapa para peserta Tarian Alang-alang alias Umhlanga di Desa Ludzidzini, Swaziland, 2 September 2013.

Sumber gambar, The Christian Science Monitor via Getty

Keterangan gambar, Raja Mswati III (paling kanan) menyapa para peserta Tarian Alang-alang alias Umhlanga di Desa Ludzidzini, Swaziland, 2 September 2013.

Bulan April lalu, Raja Swaziland -Raja Msawti III- mengumumkan sebuah kejutan: negara Afrika tersebut akan menggunakan kembali nama pribumi mereka, eSwatini.

Dalam rangka ulang tahun kemerdekaan Swaziland yang ke-50 dari kekuasaan Inggris April lalu, sang raja, Raja Mswati III, memberikan pengumuman mengejutkan: negara di benua Afrika tersebut akan berhenti menggunakan nama kolonial mereka. Sebagai gantinya, negeri itu akan kembali dikenal dengan nama asli mereka, eSwatini, yang bermakna 'tanah para orang Swazi'.

Pengumuman tersebut pada awalnya menimbulkan kebingungan.

"Dalam bahasa siSwati, diterjemahkan secara harfiah, sang raja berkata 'mulai sekarang, kerajaan eSwatini akan (kembali) disebut sebagai kerajaan eSwatini'," ujar Jessica Elliott, penulis blog travelling How Dare She asal Amerika, yang hadir pada peringatan ulang tahun emas kemerdekaan tersebut.

"Kebingungan masih berlangsung hingga akhirnya terjemahan dalam bahasa Inggris disampaikan melalui pengeras suara dan semua orang pun paham dan bereaksi. Mereka terkejut, namun menyambutnya dengan antusias."

Jiggs Thorne, yang lahir di eSwatini dan menciptakan festival tahunan Bushfire Music Festival di sana, juga terkejut, namun bahagia dengan keputusan negaranya kembali menggunakan nama asli mereka.

"Perubahan nama negara itu bukan sesuatu yang biasa terjadi," tuturnya. "Perubahan tersebut belum berdampak pada festival kami tapi mungkin akan terjadi ketika kami mendatangi pameran musik sebagai sebuah festival dari eSwatini dan banyak peserta yang tak tahu siapa kami dan dari negara mana kami berasal."

Meski memasarkan sebuah nama baru selalu menantang, warga di sana sangat senang dengan perubahaan tersebut. Kami berbincang dengan beberapa di antara mereka untuk memahami kebanggaan yang dirasakan di negeri dengan nama terbaru di dunia.

Kenapa orang-orang menyukainya?

Negara tak berpesisir di tenggara benua Afrika ini memang tidak luas, namun pemandangan alamnya sangat beragam, baik kawasan pegunungan yang sejuk, maupun area dataran rendah yang panas dan kering.

Peraturan yang progresif terkait pelestarian lingkungan di sana berhasil melindungi lansekap alam eSwatini, yang terus menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun penduduk baru.

Hutan Usutu, Swaziland.

Sumber gambar, De Agostini/Getty Images

Keterangan gambar, Hutan Usutu, Swaziland.

"Anda pasti akan terpukau dengan keindahan alam negeri ini, dengan pegunungan dan pemandangannya yang cantik. Betapa hijaunya negeri ini dan lingkungan alamnya," ujar Lindokuhle Mthupha yang tinggal di ibukota eSwatini, Mbabane. "Wisata alam liar kami selalu menjadi perhentian pertama kebanyakan turis."

"Saya mengunjungi Swaziland selama dua minggu untuk suatu pekerjaan lepas dan (akhirnya) tak pernah meninggalkan negeri ini," ungkap Ruth Buck, pemilik Hotel Foresters Arms, yang dibangun sekitar 30 kilometer di barat-daya kota Mbabane, yang asli Afrika Selatan.

"Saya suka menyetir di sini, menikmati pemandangan yang beragam, mendatangi pasar Swazi yang hidup suasananya. Sungguh ini adalah negeri yang indah dengan suasana yang hangat, sangat mudah (bagi saya) untuk tinggal di sini." Buck juga merasa disambut dengan hangat oleh warga, yang ia anggap sangat ramah, humoris, dan dermawan.

Pemandangan pegunungan Drakensberg di sisi utara Mbabane, Swaziland.

Sumber gambar, Colin McPherson/Corbis via Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan pegunungan Drakensberg di sisi utara Mbabane, Swaziland.

Robert Jupp, direktur pelaksana Mantenga Lodge, yang lahir di eSwatini, kembali ke negaranya setelah mengenyam pendidikan di Afrika Selatan.

"Saya suka ketenteramannya, keindahan alamnya, kebebasan di sana, betapa ramahnya warga dan iklim di sana," paparnya, sambil mengungkapkan bahwa ukuran negara yang kecil justru membuatnya mudah bepergian, dan orang-orang pun bersedia dengan ramah membantu pendatang baru menjelaskan arah.

"Sungguh ini adalah negeri yang indah dengan suasana yang hangat"

Seperti apa rasanya tinggal di sana?

Dua kota yang menjadi pusat aktivitas penduduk, Mbabane (ibukota) dan Manzini (kota terbesar), tetap terbilang kecil jika dibandingkan dengan kota di negara lain (hanya 76 ribu dan 110 ribu penduduk masing-masing), dengan ritme kehidupan yang santai dan jarang sekali orang tampak terburu-buru.

"Kami tak pernah tergesa-gesa dalam segala sesuatu… segalanya," ungkap Mthupha. "Kami sangat santai dan rileks."

Raja Mswati III menghadiri upacara adat, Umhlanga Festival, di Desa Kerajaan Ludzidzini di Lobamba, Swaziland, Agustus 2016 lalu.

Sumber gambar, Ihsaan Haffejee/Anadolu Agency/Getty Images

Keterangan gambar, Raja Mswati III menghadiri upacara adat, Umhlanga Festival, di Desa Kerajaan Ludzidzini di Lobamba, Swaziland, Agustus 2016 lalu.

Kebanyakan orang berbahasa Inggris dan siSwati, namun warga kerap menggunakan bahasa siSwati saat menyapa maupun berpisah - istlah sapaan dan salam yang hangat selalu menjadi bagian penting dalam budaya di sana.

"Kami suka menyapa siapa saja, termasuk orang asing," papar Mthupha. "Kami adalah bangsa yang suka kedamaian, baik hati, rendah hati, dan optimistis. Siapa pun yang berkunjung ke negara kami selalu membuktikan hal itu, bahwa kami bangsa yang rendah hati dan penuh kasih sayang."

Perayaan warisan budaya juga menjadi bagian penting kehidupan di eSwatini. "Kami punya banyak upcara adat yang menarik banyak orang, dan di sanalah kami benar-benar merayakan kebanggaan sebagai LiSwati [sebutan bagi orang Swazi]!" tambah Mthupha.

Para gadis membawa alang-alang sambil bernyanyi dan menari dalam acara tahunan Tarian Alang-alang di Istana Ludzidzini, Swaziland, Agustus 2016 lalu.

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Para gadis membawa alang-alang sambil bernyanyi dan menari dalam acara tahunan Tarian Alang-alang di Istana Ludzidzini, Swaziland, Agustus 2016 lalu.

Tarian Alang-alang, yang digelar setiap bulan September, dimulai dengan para perempuan muda memotong banyak alang-alang untuk dipersembahkan kepada Ibunda Ratu eSwatini, lalu mengenakan pakaian adat untuk pertunjukan tari dan musik.

Festival Incwala, yang diselenggarakan di antara bulan Desember dan Januari, menjadi penanda digelarnya perayaan kerajaan yang melibatkan ritual pensucian yang memakan waktu berhari-hari, pawai megah di mana raja dan personel militer mengenakan pakaian khas kerajaan, serta upacara pembakaran di mana sejumlah benda sengaja dibakar untuk melambangkan berlalunya tahun yang lama.

Apa lagi yang perlu diketahui?

Sebagai salah satu negara dengan sistem monarki absolut yang tersisa di dunia, beberapa tahun terakhir, eSwatini bergelut dengan masalah kesenjangan sosial antara pejabat pemerintahan (termasuk Raja Mswati III) dengan penduduknya.

Perayaan ulang tahun emas kemerdekaan eSwatini juga memakan biaya yang sangat mahal, dan mempertontonkan ironi antara perayaan kebudayaan dan rasa frustrasi terhadap pemerintahan.

"Ada kebanggaan terhadap budaya Swazi yang sangat terasa dan masyarakat pun tampak tak ragu menunjukkannya [pada perayaan kemerdekaan]," ujar Elliot.

"Tetapi mereka juga tak segan menunjukkan amarah terhadap pemerintah yang memprioritaskan pengeluaran dan kekayaan pribadi di atas kemakmukaran bangsa." Pemerintah eSwatini melarang adanya partai politik oposisi, dan warga pun bisa dihukum bila mengkritik pemerintahan ataupun raja.

Ratu Swaziland Zola Mafu dalam upcara pernikahannya dengan Raja Zulu Goddwill Zwelithini di Kompleks Olahraga Ondini, 2014 lalu.

Sumber gambar, Thulani Mbele/Sowetan/Gallo Images/Getty Images

Keterangan gambar, Ratu Swaziland Zola Mafu dalam upcara pernikahannya dengan Raja Zulu Goddwill Zwelithini di Kompleks Olahraga Ondini, 2014 lalu.

eSwatini juga menjadi salah satu negara dengan tingkat penderita HIV/AIDS tertinggi di dunia, meski selama satu dekade terakhir telah membuat kemajuan dengan meningkatkan akses terhadap pengobatan antiretroviral (ARV).

Tetap saja, akses terhadap layanan kesehatan yang memadai pada umumnya sangat terbatas, sehingga banyak ekspatriat yang memilih pergi ke negara tetangga, Afrika Selatan, untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan.

Di luar masalah ekonomi, rasa bangga dan dedikasi terhadap perubahan sosial tercermin dalam berbagai acara internasional seperti Festival Bushfire, di mana 26 ribu orang dari berbagai belahan dunia datang ke Ezulwini, 'Lembah Surgawi' eSwatini, yang terletak di antara Mbabane dan Manzini.

Digelar setiap tahun pada bulan Mei, festival itu menyuguhkan pertunjukkan musik serta lokakarya kreatif dan pembicara tamu. Sebagian besar keuntungannya lantas disalurkan ke lembaga amal lokal seperti Young Heroes, yang menangani secara langsung anak-anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal akibat AIDS.

Sebelum maupun sesuah berganti nama, eSwatini tetap merupakan sebuah negara di mana rasa peduli terhadap orang lain adalah suatu kewajaran. "Kami masih memiliki budaya 'ubuntu'," ujar Mthupha.

Kata itu bermakna rasa kemanusiaan terhadap sesama, dan kesadaran untuk hidup sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. "Hal itu dirasakan semua orang. Energi dan perilaku positif adalah sesuatu yang selalu diingat, dan Anda pasti akan merasakannya saat Anda berada di sini," ujarnya.

Apa saran untuk warga baru? "Bersiaplah untuk benar-benar jatuh cinta dengan bangsa yang baru, kebudayaan baru, dan negeri yang baru. Tapi yang terpenting, bersiaplah untuk merasa disambut dengan hangat oleh orang asing di sini."