Mengapa menyanyi merupakan identitas dan tradisi orang Wales?

    • Penulis, Ross Clarke
    • Peranan, BBC Travel

Menyanyi adalah bagian dari identitas dan tradisi Wales - tetapi apa yang menyebabkan tradisi ini diturunkan secara kolektif dari generasi ke generasi?

Wales

Sumber gambar, Seb Daly/Sportsfile via Getty Images

Bayangkan: Anda berada di stadion yang dipenuhi 75.000 orang, dan nyaris semua orang bernyanyi.

Bukan lagu pop, tetapi sebuah himne; dan Anda sedang tidak di acara konser, melainkan berada dalam laga olah raga rugbi. Tapi ini bukan hipotesa, inilah kenyataannya. Padahal itu hanyalah laga biasa di Stadion Principality di ibukota Wales, Cardiff.

Masyarakat Wales memang dikenal memiliki dua minat yang sangat besar, yaitu rugbi dan bernyanyi.

Dan ketika mereka berkumpul demi menonton laga rugbi, Anda tidak akan dapat menghentikan mereka melantunkan lagu.

Lebih dari itu, tampil pula paduan suara di lapangan sebelum, saat istirahat, dan setelah laga berakhir, untuk memandu kerumunan orang itu dengan repertoar ala rugbi adat Wales.

Yaitu, serangkaian himne tradisional (Calon Lan, Cwm Rhonnda, Gwahoddiad) yang barangkali Anda dengar juga dalam pernikahan atau pemakaman standar Wales di pelosok negeri itu.

Saya lama tinggal di luar tanah air saya, Wales, selama hampir dua pertiga dari hidup saya sekarang. Namun tidak sampai tahun lalu saya merasa merindukan rumah - bukan rumah saya yang sebenarnya, melainkan sejarah, identitas dan kenangan.

Orang-orang Wales, secara kebetulan, memiliki istilah untuk hal tersebut: hiraeth. Kata itu tidak memiliki terjemahan langsung ke dalam bahasa Inggris, tetapi berarti rasa rindu yang sangat kuat terhadap tanah air (Wales).

Kenyataannya, saya tidak bertemu banyak orang Wales di London, tempat saya sekarang tinggal.

Tanpa benar-benar pindah kembali ke Wales, saya melakukan satu-satunya cara yang saya ketahui, yang akan membawa saya terhubung kembali dengan teman-teman Wales saya: saya mencari paduan suara Wales.

Wales

Sumber gambar, David Rogers/Getty Images

Keterangan gambar, Masyarakat Wales dikenal memiliki dua minat yang besar, yaitu menonton laga rugbi dan bernyanyi.

Paduan suara dan seni menyanyi paduan suara adalah bagian dari sejarah kami, dan Anda pun bisa temui berbagai kelompok paduan suara asal Wales di berbagai penjuru dunia, dari Sydney sampai Boston, jadi tampaknya tidak terhindarkan jika saya menemukan salah-satunya di London.

Sebuah pencarian kilat di Google setidaknya telah menunjukkan lima kelompok.

Mendatangi Borough Welsh Chapel di dekat London Bridge di suatu Selasa sore yang kelabu di bulan September, saya seperti kembali pulang.

Disambut oleh sekitar 40 orang dari usia yang berbeda, bernyanyi dengan penuh semangat beberapa lagu yang tampak familiar (Hello Cwm Rhondda dan Calon Lân lagi), dan melanjutkan lagu-lagu itu di pub lokal setelahnya, saya merasa seperti sedang berada di pesta keluarga.

Sebaris kalimat dari film pemenang Oscar di tahun 1941 yang diadaptasi dari novel berjudul How Green Was My Valley karya Richard Llewellyn, sebuah cerita tentang sebuah komunitas penambang di Wales di pergantian abad ke 20 berbunyi: "Bernyanyi dalam masyarakat saya seperti pandangan di mata".

Dan ini benar; sebagai satu bangsa kami dibesarkan dengan bernyanyi di sekolah, di pesta, di gereja. Bahkan kami berkompetisi di National Eisteddfod, festival perlombaan puisi dan musik terbesar di Eropa.

Bernyanyi adalah bagian dari identitas dan tradisi Wales - tetapi kenapa?

Wales

Sumber gambar, Mark Hawkins / Barcroft Images / Barcroft Media vi

Keterangan gambar, Dua orang Wales, yang mengenakan pakaian tradisional sedang menyanyi himne Wales, saat Hari St David, 1 Maret 2017 di Cardiff, Wales.

Tradisi bardic dari eisteddfod (nama yang diberikan untuk festival puisi dan musik) dapat dilacak ke belakang sampai ke abad ke-12.

Saat itu, musik dan puisi memengaruhi budaya secara signifikan, dengan tradisi rakyat yang membolehkan cerita-cerita disampaikan dan diulang kembali ke generasi selanjutnya.

Bernyanyi dan membaca puisi (kadang-kadang untuk musik, ketika dikenal sebagai cerdd dant dalam bahasa Wales) acap kali merupakan bagian dari tradisi itu dan masih memainkan peranan penting dalam eisteddfod modern.

Tampaknya tradisi-tradisi ini juga dipengaruhi oleh sifat liris bahasa Wales.

Gareth Williams, profesor sejarah emeritus di University of South Wales mengakui pada "sifat konsonan dalam bahasa Wales, seperti bahasa Italia dan Jerman, cocok untuk ekpresi yang diartikulasikan dengan jelas."

Nyatanya, bahasa Wales jelas-jelas digunakan sebagai bahasa Elvish (peri) dalam karya JRR Tolkien, The Hobbit dan Lord of The Rings, sebagian karena sifatnya yang melodis dan halus.

Wales

Sumber gambar, Paul Gilham/Getty Images)

Keterangan gambar, Seorang fans tim rugbi Wales ikut menyanyi lagu himne saat timnya berlaga melawan tim Afrika Selatan dalam Piala Dunia rugbi 2015, 17 Oktober 2015 in London.

Beranjak ke abad 18 dan kita melihat Wales benar-benar meletakkan dasar bagi penetapan nama sebagai 'Tanah Nyanyian'.

Arus kaum migran ke Wales dari desa-desa di Inggris dan luar negeri, mencari pekerjaan di industri batubara dan besi yang terus berkembang, membuat populasi penduduk negeri itu terus berlipat ganda.

Kapel-kapel non-konformis juga dibangun dengan tingkat yang mengherankan, karena kebangkitan gerakan Methodist dari Gereja Anglican yang dipopulerkan oleh para pendeta yang memimpin Wales pada saat itu.

Pembentukan komunitas-komunitas baru itu menyebabkan menyanyi menjadi lebih menonjol, karena dengan komunitas para penambang - terutama di desa di South Wales, dengan tambang batubaranya, yang berpenduduk padat - muncullah kidung jemaat.

"Di lingkungan baru yang tidak dikenal, mereka menemukan penghiburan dan kemampuan bersosialisasi dalam lagu, karena dalam masyarakat yang miskin secara materi suara adalah instrumen yang paling demokratis; tidak membutuhkan biaya, sebagian besar kita punya suara," kata Profesor Williams.

"Laki-laki dan perempuan menemukan kenyamanan dari kegiatan harian mereka di industri penggilingan dalam kapel-kapel mereka, yang tumbuh berdempet-dempetan seperti gigi naga - pada tahun 1900 ada lebih dari 5.000 kapel - mendominasi baik langit serta kehidupan sosial budaya masyarakat," paparnya.

Dalam masyarakat didominasi pria (sekitar 250.000 pekerja tambang dipekerjakan untuk memisahkan batubara dan biji besi dari lansekap Wales di puncak industri), laki-laki yang bernyanyi juga tumbuh semakin populer, sebuah tradisi yang masih berlangsung sampai saat ini.

Wales

Sumber gambar, Matt Cardy/Getty Images

Keterangan gambar, Pembentukan komunitas itu menyebabkan menyanyi menjadi lebih menonjol, karena dengan komunitas para penambang muncullah kidung jemaat.

Saya membayangkan betapa di lingkungan, negara atau budaya tertentu, di mana penyanyi laki-laki sangat dipuji, di Wales justru sesuatu yang biasa saja.

Mike Williams, direktur musik dari Côr y Boro Welsh Choir (saya menjadi anggotanya) dan Eschoir, sebuah paduan suara laki-laki Wales, juga di London, menjelaskan bahwa "Bernyanyi dalam kelompok merupakan kesempatan untuk menghindar dari kerja dan bahaya dari tambang."

"Ketika di tahun 1895, Treorky Male Choir bernyanyi untuk Queen Victoria di St George's Hall, Windsor, dengan penampilan yang rapi dan sopan, dikatakan Ratu berkomentar 'Mereka bertingkah laku seperti lelaki sejati dan bernyanyi seperti malaikat'. Sejak hari itulah, semua orang mencintai paduan suara Wales!"

Masyarakat yang bernyanyi tidak terbatas di kapel. Jika para wisatawan berada dalam klub rugbi Wales yang secara tradisional sangat maskulin, mereka seharusnya tidak merasa terkejut menyaksikan mereka secara spontan menyanyikan lagu-lagu.

Tidak ada stigma yang melekat terhadap pria yang bernyanyi, atau pada kenyataannya setiap orang bernyanyi di depan umum.

Wales

Sumber gambar, Daily Herald Archive/Getty Images

Keterangan gambar, Dalam masyarakat yang didominasi pria (sekitar 250.000 pekerja tambang dipekerjakan untuk memisahkan batubara dan biji besi dari lansekap Wales di puncak industri), laki-laki yang bernyanyi juga tumbuh semakin populer

Mungkin itulah sebabnya kenapa para penyanyi Wales telah mencapai puncak musik pop di dunia selama 100 tahun terakhir.

Dari Ivor Novello sampai Sir Tom Jones, Dame Shirley Bassey sampai Katherine Jenkins. Only Boys Aloud sampai Stereophonics, sehingga kami tidak takut menggunakan suara kami (meskipun hanya ada 3 juta dari kami).

Kalender nasional penuh dengan festival, konser dan acara-acara yang mencakup semua jenis nyanyian - termasuk National Eisteddfod, yang melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang berbeda setiap tahun;

Liangollen International Musical Eisteddfod (di mana Pavarotti menyajikan penampilan internasional pertamanya);

Festival No. 6 di desa Portmeirion yang terinspirasi orang-orang Itali; dan satu acara opera yang paling bergengsi di dunia, kompetisi dua tahunan BBC Cardiff Singer of the World (di mana bintang Wales, Bryn Terfel pertama kali menemukan ketenarannya).

Wales

Sumber gambar, RFU/The RFU Collection via Getty Images

Keterangan gambar, Katherine Jenkins, penyanyi asal Wales, menyanyi lagu kebangsaan Wales dalam laga rugbi antara tim Wales melawan Inggris, 12 Maret 2016 di London, Inggris.

Tetapi hanya karena bernyanyi merupakan tradisi Wales dan kami memiliki begitu banyak orang Wales dengan bakat bernyanyi dalam pandangan masyarakat, apakah itu berarti semua orang dapat bernyanyi? Pastinya, seluruh bangsa dan masyarakat berbagai generasi tidak memiliki suara yang bagus, begitu saja kan?

Dalam National Eisteddfod baru-baru ini di Cardiff, saat orang-orang menunggu hasil kompetisi bernyanyi, seluruh pengunjung di auditorium Wales Millennium Center secara spontan mulai bernyanyi dengan harmoni yang indah.

Setiap turis yang berkunjung mungkin menganggap itu hal yang aneh, tetapi bagi orang-orang Wales di gedung tersebut, hal itu adalah hal yang biasa.

"Setiap orang dapat diajari bernyanyi dengan standar paling mendasar," kata Williams. "Untuk mampu menyuarakan nada yang benar dapat menjadi tantangan bagi mereka yang tidak dibesarkan dengan bernyanyi di sekolah, seperti kebanyakan orang di Wales."

Jadi mungkin saja tidak semua dari kami yang memiliki suara nyanyian yang alami dan mengagumkan, tetapi tampaknya hal itu tidak menghentikan kita untuk mencoba - karena ketika saya berkata bahwa bernyanyi itu mengalir dalam darah, itu benar adanya.

Wales

Sumber gambar, Matt Cardy/Getty Images

Keterangan gambar, Fans timnas rugbi Wales bernyanyi jelang laga tim kesayangan mereka melawan timnas Argentina di Piala Dunia 2015 di Cardiff, Wales, 18 Oktober 2015.

Tradisi bernyanyi itu telah diturunkan dari generasi ke generasi secara kolektif. Menjadi orang Wales dan bernyanyi tampaknya berjalan seiring, ini adalah sesuatu yang kami lakukan, bahkan jika kami tidak benar-benar memahaminya.

Menurut Williams, "Memiliki rasa bangga terhadap tradisi dan kebangsaan memberikan keyakinan kepada semua yang terinspirasi Tom Joneses dan Shirley Basseys, karena bernyanyi benar-benar bagian dari identitas kita. Anda hanya perlu mendengar gerombolan orang tersebut menyanyikan Bread of Heaven di Stadion Principality di Cardiff untuk menyaksikan itu.

Prof Williams mungkin telah mengungkapkannya dengan baik dengan sebuah kutipan dari ulasan Milton Shulman tentang film Valley of Song di Evening Standard pada tahun 1953: "Ada banyak hal yang dapat Anda katakan tentang orang-orang Wales, tetapi jangan menghina pita suaranya."

Jadi, mungkin saya tidak dapat mengklaim bahwa semua orang Wales dapat bernyanyi (kasus tante saya adalah contoh langsung, maaf Tante Denise), tetapi apa yang dapat saya pastikan adalah semua orang Wales adalah penyanyi.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Travel dengan judul Why Wales is known as the 'Land of Song'.