Agen Kehancuran: Siapa saja yang menciptakan kekacauan di dunia dan mengapa?

Jepang, serangan acid

Sumber gambar, Getty Images

Ada sejumlah orang yang kemungkinan dapat menyebabkan kekacauan global, namun kekuatan mereka kerap kali tak diperhitungkan.

Di sebuah hari pada 1995, sebuah kelompok sekte kiamat di Jepang membunuh 13 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya.

Mereka menjadi korban dari serangan gas Sarin di kereta bawah tanah Tokyo, yang dilancarkan oleh kelompok teroris apokaliptik yang dikenal dengan nama Aleph (pada waktu itu bernama Aum Shinrikyo).

Sebanyak 13 orang pelaku diadili dan dieksekusi setelah peristiwa itu.

Baca juga:

Salah satu jalur kereta yang diserang pada hari itu (Jalur Marunouchi) menuju Stasiun Shinjuku.

Shinjuku adalah rumah bagi berbagai situs di mana pemerintah Jepang diduga mengubur jenazah korban-korban eksperimen di masa perang.

Mayat-mayat itu konon merupakan hasil mengerikan dari eksperimen Unit 731: program senjata biologis Jepang yang terkenal di masa Perang Dunia Kedua.

Selama lebih dari satu dekade, Unit 731 bertanggung jawab atas sekitar lebih dari 300.000 kematian. Program ini bereksperimen dengan mempersenjatai sejumlah agen biologi, dari botulisme dan pes hingga sipilis dan cacar.

Metode-metode baru yang dikembangkan kemudian diuji coba, termasuk menyebarkan kutu yang telah diinfeksi dengan wabah ke kota-kota di China.

Unit 731 juga terlibat dalam beberapa kekejaman yang tak terbayangkan lain, termasuk melakukan pembedahan hidup-hidup pada para tahanan.

Setelah Perang Dunia 2 berakhir dan Jepang menyerah, para ilmuwan yang terlibat dalam Unit 731 diberikan kekebalan oleh AS.

Untuk menghindari tuntutan hukum atas kejahatan perang, para ilmuwan ini menyerahkan data dari hasil eksperimen manusia dan riset senjata biologis kepada Amerika (meskipun tidak kepada sekutu-sekutunya).

Aum Shinrikyo.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tentara Jepang membersihkan kereta setelah serangan Aum Shinrikyo.

Kisah tentang Aum Shinrikyo menjadi sangat terkenal dan didiskusikan oleh para mahasiswa yang mempelajari kekacauan global dan kepunahan manusia.

Kerap kali, kelompok ini digunakan sebagai contoh bahayanya jika teroris yang memiliki motivasi apokaliptik didanai dengan baik dan memiliki pemahaman ilmiah.

Sementara itu, Unit 731 jauh lebih jarang dibahas. Ini di luar fakta yang mengilustrasikan sejauh mana aktor-aktor berkuasa dapat dan akan bertindak untuk keuntungan mereka.

Selain bahaya yang mereka ciptakan untuk orang-orang China dan yang lainnya, Unit 731 juga bisa memberi konsekuensi menakutkan bagi populasi global. Pasukan persenjataan biologis mereka bisa saja dikembangkan dan digunakan lebih luas.

Baca juga:

Namun lebih banyak peneliti risiko bencana berfokus pada "narasi teror warga", yang berkaitan dengan "risiko agensial": yakni ancaman dari aktor-aktor minor dari kelompok teror ambisius.

Artinya, dari seluruh penduduk dunia, dikhawatirkan ada setidaknya satu individu atau kelompok yang memiliki motivasi untuk menciptakan Ragnarök.

Dalam hal ini, salah satu masalah terbesar adalah meningkatnya informasi dan teknologi berbahaya yang bisa diakses orang banyak. Oleh karena itulah, beberapa orang menyarankan aturan preventif dan pengawasan ketat untuk mengontrol hipotesis menyebarnya senjata pemusnah massal tersebut.

Dengan pandangan ini, pihak-pihak berkuasa dipercaya tidak akan menghancurkan dunia karena memiliki kepentingan rasional.

Seperti yang disebutkan oleh Astronomer Royal Lord Inggris Martin Rees dalam bukunya Our Final Century, kehancuran dunia yang dipicu manusia kemungkinan akan berupa "teror atau kesalahan", tindakan jahat oleh sekelompok kecil orang atau kesalahan pihak berkuasa.

Para teroris dan 'lone wolf' tidak diragukan lagi merupakan masalah. Namun mereka tampaknya tidak mungkin menjadi sumber kehancuran global.

Shoko Asahara

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pemimpin sekte Aum Shimrikyo, Shoko Asahara

Kenyataannya, secara historis dan pada saat ini, ketika kekacauan terjadi, aktor-aktor berbeda dapat disalahkan. Bagaimanapun, menghancurkan sebagian besar dari dunia membutuhkan kekuasaan dan kerahasiaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah mempelajari kekuatan-kekuatan berbeda yang menyebabkan kehancuran dan kekacauan dalam sejarah. Saya juga bekerja dengan rekan-rekan dari Pusat Studi Risiko Eksistensial dari Universitas Cambridge untuk menganalisis bahaya modern yang kita hadapi di masa kini.

Selama riset ini, saya semakin meyakini bahwa hanya ada segelintir institusi yang memiliki sumber daya — dan kurang diperhatikan — untuk dapat membahayakan dunia.

Ancaman terbesar tidak akan datang dari masyarakat biasa, namun berasal dari keinginan dari pihak berkuasa untuk mengendalikan, mengeruk keuntungan, dan memiliki kekuatan militer besar.

Ada beberapa ancaman global oleh manusia yang dikemukakan oleh para peneliti: kecerdasan umum buatan (artificial general intelligence - AGI), senjata biologi, perubahan iklim, senjata otonom yang mematikan, senjata nuklir, dan pengawasan massal.

Semua ini adalah produk dari sekelompok kecil industri berkuasa dan didominasi oleh sedikit aktor. Industri kemiliteran, industri bahan bakar fosil, dan Big Tech.

Semua industri ini terkonsentrasi di beberapa negara saja, terutama di AS. Mari kita sebut mereka Agen Kehancuran.

Kehancuran global dapat didefinisikan sebagai kerugian publik dengan keuntungan bagi pribadi. Kita terlalu sering menyangka kehancuran global di masa depan sebagai kekacauan-kekacauan yang terpisah — namun risiko terbesar sebenarnya adalah kekuatan yang terkonsentrasi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kecerdasan umum buatan (AGI)

Pada 2020, sekitar 72 proyek secara terbuka meneliti penggunaan AGI di 37 negara. Ini pada dasarnya adalah proyek perusahaan dan akademis.

Separuh di antaranya berada di AS dan delapan dari sembilan proyek yang memiliki kaitan dengan militer berada di AS. Angka ini kemungkinan lebih rendah dari kenyataan, karena beberapa program militer dirahasiakan.

Kecerdasan umum buatan

Sumber gambar, Luke Kemp/Javier Hirschfeld

(Catatan: 'Lead' adalah negara di mana kepemimpinan administratif dan operasional terletak. 'Partner' merujuk pada negara-negara yang berkontribusi terhadap proyek yang melibatkan lebih dari satu negara.)

Ancaman senjata biologis

Pengembangan dan pembudidayaan senjata biologis yang disengaja tidak benar-benar dimulai hingga sekitar Perang Dunia Pertama.

Sekitar 11 negara memiliki program bioweapons selama abad ke-20 yang menyebabkan 18 insiden terkait senjata biologi.

Kasus terparah pada masa tersebut adalah penggunaan Tipes, Kolera, dan agen-agen lain oleh Jepang (melalui Unit 731) saat melawan China pada PD2.

Bioterorisme sejak itu menjadi semakin sering namun memiliki dampak lebih kecil. Sebuah riset atas sejumlah penelitian menunjukkan tingkat insiden rata-rata untuk kejahatan dan terorisme biologis sebesar 0,35-3,5 (yang artinya sekitar satu di setiap 2,9 tahun hingga 3,5 per tahun).

Namun penghitungan ini termasuk sejumlah besar hoaks. Kebanyakan serangan di dunia nyata menghasilkan jumlah korban yang sedikit.

Ini membuat beberapa ilmuwan menyimpulkan, "meskipun dengan sumber daya finansial, struktural, dan logistik, meluncurkan serangan senjata biologis yang sukses lebih sulit dari yang terlihat."

Sebaliknya, para peneliti juga mencatat bahwa revolusi dalam bioteknologi dapat memberikan keuntungan besar kepada sektor militer suatu negara.

Perubahan iklim

Hanya 100 perusahaan yang bertanggung jawab atas 71% emisi gas rumah kaca industrial sejak 1988.

Beberapa perusahaan raksasa bahan bakar fosil juga secara kompleks mendanai firma, lembaga pemikir, dan para ilmuwan yang bertanggung jawab menyebarkan keraguan tentang perubahan iklim. Para "penyebar keraguan" ini adalah kelompok yang kecil dan fokus.

Sementara di tataran negara, sepuluh negara adalah penghasil emiten terbesar dan menyumbang tiga per empat kumulatif emisi global (Uni Eropa dihitung sebagai satu kesatuan), dan AS sekitar seperempatnya.

Pola serupa muncul ketika kami melihat sebaran cadangan bahan bakar fosil di seluruh daratan. Enam negara dan satu wilayah (secara kolektif terdiri dari 18 negara) memiliki 80% cadangan minyak bumi.

negara dengan emisi terbesar

Sumber gambar, Luke Kemp/Javier Hirschfeld

Keterangan gambar, 10 teratas emisi CO2 komulatif (2019) / Sumber: Our World in Data

Senjata otonom mematikan (Lethal Autonomous Weapons - LAWs)

Salah satu yang berusaha mengembangkan LAW adalah Defence Advance Research Projects Agencies (Darpa) pada 1983, dengan proyek bernama Smart Weapons Program.

Termasuk di dalamnya adalah proyek "Robot Pembunuh". Slogan mereka adalah "Medan perang bukanlah tempat untuk manusia".

Negara dengan pengeluaran untuk proyek drone terbesar

Sumber gambar, Luke Kemp/Javier Hirschfeld

Keterangan gambar, Negara dengan pengeluaran untuk proyek drone terbesar / Sumber: Haner, J. & Garcia, D. (2019)

Sejak itu, ketertarikan pada senjata pembunuh otomatis berkembang. Salah satu yang paling baru adalah persaingan dalam mengembangkan pasukan mematikan kecerdasan buatan (AI).

Amerika Serikat memimpin dalam bidang ini, diikuti oleh China, Russia, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Mereka dijabarkan oleh sebuah LSM bernama Pax sebagai 30 perusahaan "risiko tinggi" yang bekerja dengan LAWs, atau teknologi lain yang serupa, dan tidak memiliki aturan yang memastikan adanya kendali manusia dalam pengoperasiannya.

5 negara dengan pengeluaran di bidang pertahanan terbesar

Sumber gambar, Luke Kemp/Javier Hirschfeld

Keterangan gambar, 5 negara dengan pengeluaran di bidang pertahanan paling besar (2018) / Sumber: Haner, J. & Garcia, D. (2019)

Senjata nuklir

Proyek Manhattan pada 1942-1946 membuahkan uji Trinity yang sukses pada 1945. Pada 1954, uji coba lain, yang bernama Castle Bravo memproduksi alat termonuklir pertama.

Kedua uji coba ini dilakukan dengan rencana matang dan didanai oleh pemerintah AS. Para ilmuwan yang terlibat dengan program ini mulanya melakukan kalkulasi, lalu bertaruh apakah uji coba pertama akan berpotensi merusak atmosfer, yang risikonya adalah membunuh semua kehidupan di Bumi.

Saat ini, sebanyak 89% senjata nuklir dimiliki oleh dua negara: AS dan Rusia. Seluruh persenjataan nuklir global dimiliki oleh hanya sembilan negara.

Produksi dan perawatan senjata nuklir juga hanya bergantung pada 28 perusahaan besar, mayoritas berbasis di AS.

negara dengan sejata nuklir

Sumber gambar, Luke Kemp/Javier Hirschfeld

Keterangan gambar, Distribusi persenjataan nuklir / Sumber: thebulletin.org/nuclear-notebook

Pengawasan massal

Ada kekhawatiran lain selain kerusuhan global bila terkait pengawasan massal, yakni distopia adanya negara totalitarian yang memiliki teknologi pengawasan massal dengan AI.

Kekuatan ini didominasi oleh sedikit pemain terkenal saja: Alphabet (Google), Microsoft, Facebook, Amazon, Tencent, Baidu, Alibaba, dan Apple. Semuanya adalah sepuluh perusahaan terbesar di dunia dilihat dari kapitalisasi pasarnya.

Mereka dibarengi dengan perusahaan teknologi yang khusus menyediakan senjata siber dan alat pengawasan, seperti Palantir dan NSO Group.

NSO baru-baru ini diekspos oleh jurnalis investigatif telah menyediakan malware yang menginfeksi alat komunikasi aktivis, jurnalis, politisi, dan pemimpin serikat pekerja di seluruh dunia, termasuk oleh negara supresif — meski NSO menyangkalnya.

Big Tech dan perusahaan surveillance ini tak sendiri. Ada pula komunitas intelijen yang secara terus-menerus mengawasi apa yang terjadi di seluruh dunia, di antaranya National Security Agent (NSA) dan badan milik Inggris Government Communications Headquarters (GCHQ).

Terkonsentrasi, terkontrol, dan tersembunyi

Ada tiga pelajaran penting di sini. Pertama, produksi persenjataan yang bisa menciptakan kekacauan global selalu terkonsentrasi.

Misalnya, militer AS bertanggung jawab menjadi pionir dalam mengerjakan senjata nuklir dan termonuklir, LAWs, pengawasan, dan AI.

Kedua, para pengancam ini kerap memiliki peran aktif dalam menghindari kewajiban hukum dengan cara "mengontrol regulasi". Dalam hal bahan bakar fosil, ada para pelobi.

Dan yang ketiga, membuat persenjataan yang bisa mengancam dunia selalu dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

drone

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Amerika Serikat memimpin dunia dalam hal teknologi pesawat nirawak.

Dalam sejarahnya, ancaman global selalu terkait dengan informasi yang tersembunyi. Castle Bravo dan Manhattan Project adalah dua dari banyak proyek yang paling dirahasiakan oleh militer AS.

Program pengawasan massal milik NSA sengaja disembunyikan dari publik sampai ada yang membocorkannya, seperti Edward Snowden, yang kemudian diburu dan dipersekusi.

Industri minyak fosil telah berpuluh-puluh tahun mengubur pengetahuan mereka tentang bahaya perubahan iklim dan menutupi bukti-bukti ilmiah.

Risiko dan tanggung jawab

Semua ini bisa berubah di masa depan. Potensi ancaman bioterorisme mungkin masih akan meningkat karena semakin mudahnya peralatan bioengineering didapatkan.

Tapi di masa depan, jika terjadi serangan berbahaya dengan penggunaan teknologi mutakhir, hampir bisa dipastikan bahwa Agen Kehancuran lah yang mengembangkan, memproduksi, dan mencegah regulasi terkait.

shelter perlindungan bencana

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ancaman bencana buatan manusia tidak hanya bisa diatasi dengan membangun tempat perlindungan.

Untuk semua potensi kekacauan ini, banyak bukti menyimpulkan bahwa manajemen risiko terbaik adalah dengan menyerahkan regulasi dan pengembangan teknologi menurut suara rakyat.

Sementara itu, polling opini publik di China, AS, Australia dan UE menunjukkan dukungan kuat dari mayoritas penduduk agar ada tindakan lebih tegas terkait perubahan iklim.

Dalam polling di 26 negara, 61% menentang penggunaan senjata otonom mematikan. Warga Eropa sangat mendukung pelarangan internasional untuk senjata nuklir.

Serupa, pada survei ke penduduk di enam negara termasuk AS dan Israel, mayoritas responden mendukung penghapusan semua senjata nuklir melalui perjanjian internasional yang dilaksanakan semua negara.

Yang terbaru, survei dari Global Challenges Foundation menemukan bahwa banyak negara terbuka dengan opsi menciptakan badan supra-nasional baru guna mengelola risiko global.

Mengapa seakan tidak ada tindakan apa-apa untuk mengatasi ancaman global ini? Permasalahannya bukan karena ancaman-ancaman ini diabaikan secara terbuka; namun karena semua ancaman ini secara aktif disembunyikan dan usaha-usaha untuk meregulasinya kerap kali ditunda, dikacaukan, atau dihancurkan.

Susah untuk mengatakan tindakan para Agen Kehancuran ini sebagai "kesalahan", seperti yang ditulis oleh Lord Martin Rees.

Ya, tujuan mereka memang bukan untuk menghancurkan dunia, termasuk diri mereka sendiri. Ini bukan tentang bias atau motivasi, ini tentang risiko.

Fakta yang sederhana dan tidak bisa dihindari adalah hanya ada sedikit pihak di dunia ini yang bisa memproduksi peralatan untuk menimbulkan kekacauan global dan mendapatkan untung darinya.

Motivasi mereka mungkin bukan untuk membuat kekacauan global, namun tindakan mereka menunjukkan yang sebaliknya.

Seorang pengemudi yang mabuk mungkin tidak bermaksud menabrak siapapun, tapi mereka tetap harus bertanggung jawab bila kecelakaan terjadi karena pengaruh alkohol. Terutama jika mereka dalam perjalanan berbahaya untuk mendapatkan banyak uang.

Narasi tentang teror yang disebarkan oleh warga selama ini salah. Alih-alih, bencana dilahirkan secara diam-diam untuk mendapatkan keuntungan dan kekuasaan oleh para Agen Kehancuran.

---

Versi bahasa Inggris artikel ini berjudul Agents of Doom: Who is creating the apocalypse and why dapat Anda baca di BBC Future.