Sumur kuno dengan ribuan anak tangga peninggalan Peradaban Lembah Indus jadi solusi krisis air India

Sumber gambar, Marc Guitard/Getty Images
- Penulis, Feza Tabassum Azmi
- Peranan, BBC Travel
Sebuah labirin yang terdiri dari 3.500 anak tangga yang dipahat dengan indah, dibangun dalam simetri sempurna dengan presisi geometris untuk mencapai sumur di bawahnya.
Tangga silang melingkari air di tiga sisi, sedangkan sisi keempat dihiasi oleh paviliun dengan galeri dan balkon yang dihias.
Dibangun oleh penguasa Rajput Raja Chanda pada abad ke-8-9 M, Chand Bawri di Abhaneri, Rajasthan, adalah sumur terbesar dan terdalam di India.
Membentang hingga 13 lantai, atau 30 meter, ke dalam tanah, ini adalah contoh arsitektur terbalik yang menawan.
Baca juga:
Menjorok ke dalam tanah, sumur tangga seperti Chand Bawri dibangun di daerah rawan kekeringan di India untuk menyediakan air sepanjang tahun, memastikan masyarakat sekitarnya memiliki akses ke persediaan air dan sistem irigasi.
Namun, kerusakan alami dan pengabaian selama berabad-abad, telah membuat struktur-struktur ini terlupakan.
Sejak lebih dari 1.000 tahun yang lalu, sumur tangga (baoli, bawri, atau vav) itu telah runtuh.
Nilai dari sumur itu sebagian besar tidak diperhatikan oleh perencana kota karena menggunakan sistem air modern.
Banyak sumur tangga yang rusak atau ambruk. Beberapa telah hilang sama sekali.

Sumber gambar, Getty Images
Krisis air akut
Namun dalam beberapa tahun terakhir, banyak peninggalan arsitektur kuno itu telah dipugar untuk mengatasi krisis air yang akut di India.
India saat ini sedang mengalami krisis air terburuk dalam sejarahnya, menurut laporan pemerintah baru-baru ini.
Ada harapan bahwa teknologi kuno sumur tangga itu dapat menawarkan solusi.
Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), India adalah pengekstrak air tanah terbesar di dunia.
Tingkat air tanah di India diperkirakan telah menurun sebesar 61% antara tahun 2007 dan 2017.

Sumber gambar, Victoria Lautman
Semakin terbatasnya sumber daya vital ini tidak hanya mengancam akses masyarakat terhadap air minum, namun juga ketahanan pangan, yang mengakibatkan pengurangan tanaman pangan hingga 68% di daerah yang terkena dampak parah.
Tiap tahun, sekitar 400 juta hektar meter hujan terjadi di India.
Sayangnya, hampir 70% air permukaan tidak layak untuk dikonsumsi manusia karena polusi.
Saat ini India berada di peringkat 120 dari 122 negara dalam indeks kualitas air. Diperkirakan 200.000 orang meninggal setiap tahun karena kekurangan air.
Baca juga:
Maka dari itu, pemerintah India menekankan perlunya menggunakan sistem pengelolaan air kuno di India untuk solusi masalah ini.
Negara dapat memanfaatkan teknologi baru untuk memodifikasi sistem air tradisional untuk kebutuhan lokal.
Di negara di mana 600 juta orang - sekitar setengah dari populasi - menghadapi kekurangan air yang parah setiap hari, solusi sistem air tradisional adalah pertanda harapan.
"Dengan penurunan muka air tanah India yang cepat, sumur tangga dapat membantu mengisi kembali akuifer tanah dan memanen limpasan [air]," kata Ratish Nanda, arsitek konservasi dan direktur proyek di Aga Khan Trust for Culture, sebuah organisasi yang memimpin upaya restorasi.
"Dalam tiga bulan selama musim hujan, jutaan liter air dapat dikumpulkan," lanjutnya.
Restorasi sumur-sumur tangga
Pada tahun 2018, pemerintah Rajasthan, salah satu daerah paling langka air di dunia, menyusun kerangka kerja yang komprehensif, dengan bantuan teknis dari Bank Dunia, untuk merestorasi sumur-sumur tangga, termasuk Chand Bawri.
"Pemerintah Rajasthan, melalui program andalannya Mukhyamantri Jal Swavalamban Abhiyan, telah mengambil inisiatif untuk membuat desa swadaya air dengan menghidupkan kembali struktur pemanen air hujan yang tidak berfungsi," kata Mohit Dhingra, yang mengajar di Sekolah Seni dan Arsitektur Jindal di Sonepat, India, dan terkait dengan proyek konservasi di India.
"India memiliki ekosistem air yang komprehensif, tetapi sebagian besar sistem air tradisional telah mati."
"Menghidupkan kembali sumur tangga akan memungkinkan orang untuk mendapatkan kembali sumber daya tradisional dan ruang kehidupan masyarakat mereka. Dengan kapasitas penampungan yang dimiliki sumur tangga seperti Chand Bawri, beban kelangkaan air yang besar dapat dikurangi," jelas Dhingra
Bansi Devi, yang memelihara ternak untuk mencari nafkah di Rajasthan, telihat menyaksikan sedikit perubahan.
"Kami harus berjalan berjam-jam mencari air," katanya.

Sumber gambar, Getty Images
"Sekarang saya bisa menggunakan air dari baoli yang dihidupkan kembali di desa saya untuk keperluan rumah tangga kami dan juga untuk memberi makan dan mencuci ternak."
Di kota Jodhpur, sumur tangga Toorji diperbaiki setelah tim menghabiskan beberapa bulan memompa air yang menggenanginya.
Air beracun yang menggenaninya selama beberapa dekade terakhir, telah mengubah batu pasir berwarna merah menjadi putih, dengan kerak setebal lebih dari satu sentimeter menutupi sebagian besar permukaan.
Peledakan pasir dilakukan untuk membersihkan kerak putih yang tebal dari endapan di dinding, dengan biaya sekitar 1,5 juta rupee, atau sekitar Rp 287 juta.
Sekitar 28 juta liter air per hari dipasok ke kota melalui sumur tangga lain yang baru dibersihkan untuk irigasi dan keperluan rumah tangga.
Baca juga:
Gram Bharati Samiti dari Masyarakat untuk Pembangunan Pedesaan, sebuah organisasi nirlaba di distrik Jaipur di Rajasthan, telah melakukan restorasi tujuh sumur tangga di desa-desa Rajasthan, menyediakan sumber air yang lebih andal bagi sekitar 25.000 orang.
"Kami telah memulihkan tujuh sumur tangga di mana air tanah telah diisi ulang dan kapasitas penyimpanan telah meningkat," kata Kusum Jain, sekretaris Gram Bharati Samiti.
"Sebagian besar sumur tangga dapat menyediakan air yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari penduduk desa. Tampak kedatangan orang-orang dari komunitas yang berbeda, yang menunjukkan kerukunan beragama di India," imbuhnya.
Rajkumar Sharma, seorang kepala sekolah di Shivpura, Rajasthan, sangat gembira melihat kebangkitan itu.
"Baoli adalah bagian integral dari kehidupan budaya kita," tuturnya.
"Sumur tangga di desa kami adalah satu-satunya sumber air."
"Seiring waktu, sumur itu mengering dan berubah menjadi tumpukan sampah. Kami sekarang memiliki akses air bersih untuk minum, keperluan rumah tangga dan untuk upacara keagamaan. Baoli telah menjadi kemegahan desa kami," ujar Sharma kemudian.
Sejak Peradaban Lembah Indus
Keberadaan sumur tangga bermula sejak Peradaban Lembah Indus antara 2500-1700 SM.
Awalnya dibangun sebagai parit, sumur itu perlahan berkembang menjadi inovasi teknik antara abad ke-11-15.
Pada tahun 2016, Stepwell Atlas, memetakan koordinat sekitar 3.000 sumur tangga yang ada di India.
Sebanyak 32 sumur tangga berada di Delhi, ibu kota India.

Sumber gambar, Getty Images
Sumur tangga adalah struktur bawah tanah bertingkat dengan fitur ornamen dan arsitektur yang signifikan.
Bangunan itu biasanya memiliki dua bagian: poros air vertikal dan galeri bertingkat, dengan ruang dan tangga yang tertata rapi.
"Sumur tangga adalah gudang kisah sejarah India, digunakan untuk pertemuan sosial dan upacara keagamaan," kata sejarawan Rana Safvi.
Ia mengungkapkan, sumur tangga berfungsi sebagai tempat peristirahatan yang sejuk bagi para pelancong karena suhu di bagian bawah sering kali lima sampai enam derajat lebih rendah.
"Sumur tangga membantu menciptakan kegembiraan di ruang publik serta menyediakan air bagi masyarakat. Itu adalah sistem yang cerdik untuk mengumpulkan air hujan dan berfungsi sebagai penampungan air. Kebangkitan sumur tangga bisa menjadi langkah penting dalam perjuangan kita untuk mengatasi kekurangan air," kata Safvi.
'Gerbang ke dunia bawah'
Penulis yang berbasis di Chicago, Victoria Lautman, menggambarkan sumur tangga sebagai "gerbang ke dunia bawah" dalam bukunya, The Vanishing Vtepwells of India.
"Sumur tangga itu unik karena kita umumnya melihat arsitektur, bukan ke dalamnya," katanya.
"Saat seseorang melihat ke sekeliling barisan anak tangga, tiang-tiang tinggi menjulang, menciptakan pemandangan permainan cahaya dan bayangan yang kuat yang indah sekaligus misterius.
"Kesadaran akan sumur tangga India telah tumbuh secara eksponensial baru-baru ini. Sungguh ironis bahwa mereka telah diabaikan, mengingat betapa efisiennya sumur tangga dalam menyediakan air selama hampir 1.500 tahun. Sekarang, berkat upaya restorasi, sumur tangga akan menjadi lingkaran penuh."
Baca juga:
Sumur tangga dibangun di sepanjang lereng alami untuk mengumpulkan limpasan air dan berfungsi sebagai area tangkapan air hujan, yang kemudian dihubungkan ke kolam sehingga dapat menyalurkan air hujan.
Menggali dan membangun benteng bawah tanah ini dengan peralatan dan teknik pra-industri pasti merupakan tugas yang sangat berat, kata Lautman.
"Dibangun menggunakan batu, puing-puing atau batu bata, sumur tangga melibatkan penempatan tangga panjang dan tepian samping dengan hati-hati di sekitar parit yang memungkinkan akses ke air," tambahnya.
"Selama musim hujan, parit itu akan berubah menjadi tangki air besar, memenuhi kapasitasnya. Desainnya yang rapat membantu mengurangi penguapan."

Sumber gambar, Getty Images
Sumur tangga yang digunakan untuk pertanian memiliki sistem drainase yang mengalirkan air ke sawah.
Proyek restorasi Moosi Rani Sagar di Rajasthan adalah salah satu rencana multi-level yang melibatkan sumur, bendungan, dan kanal dari puncak bukit Aravalli hingga sumur tangga di kaki bukit.
Pekerjaan restorasi dimulai pada tahun 2020 dan membutuhkan pembersihan dan penghilangan lumpur secara ekstensif, menghilangkan puing-puing dan gulma invasif, serta memperkuat struktur sipil.
Dari kolam, saluran telah berubah menjadi wadah air segar, dengan ikan dan kura-kura yang berkembang biak.
Penerapan geometri fraktal
Para peneliti telah mengeksplorasi penerapan geometri fraktal di sumur tangga, yang memiliki tujuan estetika dan fungsional.
Penerapan geometri faktral itu memberikan stabilitas, dinding penopang terhadap tekanan air, karena banyak sumur tangga telah bertahan dan memiliki potensi untuk dipulihkan.
Pada tahun 2017, pemerintah mengidentifikasi 15 sumur tangga di Delhi untuk direstorasi.
Pada 2019, Aga Khan Trust for Culture bermitra dengan Kedutaan Besar Jerman di India untuk merestorasi sumur tangga di kompleks Makam Humayun di Delhi.
"Ini mengamanatkan pemulihan tanah dan membangun kembali tembok," kata Nanda.
"Upaya membantu mengisi ulang akuifer melalui investasi 4,15 juta rupee (sekitar Rp789 juta). Daerah tangkapan air ini akan membantu menghemat 150.000 liter air hujan."

Sumber gambar, Getty Images
Hazrat Nizamuddin Dargah yang dibangun pada abad ke-14 di Delhi dipugar lebih awal. Bagian dari baoli telah runtuh, mengancam keluarga yang tinggal di dekatnya, yang kini telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
"Ini membutuhkan pembangunan kembali bagian yang runtuh dengan bahan tradisional, menghilangkan 700 tahun akumulasi puing, pembersihan ekstensif dan penghilangan lumpur 80 kaki di bawah tanah, dan penghapusan lapisan epoksi yang melibatkan 8.000 hari kerja dengan bantuan sukarelawan. Upaya itu membantu mengisi kembali akuifer bawah tanah," kata Nanda.
"Baoli Dargah adalah istimewa karena orang menganggapnya suci dan percaya bahwa airnya memiliki khasiat obat. Mereka membawa air untuk tujuan minum dan penyembuhan. Penduduk setempat sangat antusias melihat air segar di baoli," kata Kaleemul Hafeez, penduduk Delhi .
Sayangnya, tidak ada cara universal untuk memulihkan baoli. Restorasi perlu dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan tradisional dengan pengrajin terampil, arsitek dan insinyur struktur, menurut Nanda.
Baca juga:
"Melakukan restorasi tidak mudah. Ini adalah proyek kompleks yang melibatkan tim multi-disiplin," kata Nanda.
"Ini membutuhkan survei struktur di sekitarnya untuk mencegah kerusakan. Baoli membutuhkan daerah tangkapan air yang tepat di mana air dapat mencapai akuifer bawah tanah."
Sebagian besar restorasi telah dilakukan melalui kemitraan antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah, bersama relawan lokal dan donor.
"Proyek restorasi adalah pelajaran bagaimana masyarakat lokal dapat dibawa lebih dekat dengan warisan mereka dengan menawarkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab," kata Safvi.
Tapi sumur tangga bukan hanya sumber air, tapi juga bagian dari sejarah arsitektur India. Itu adalah situs warisan, dikelilingi oleh pohon dan dedaunan asli, yang perlu dilestarikan.
Mereka juga dapat berfungsi sebagai pusat sosial yang dinamis dan dapat menarik wisatawan.
Salah satu pendekatan untuk mendanai pemeliharaan sumur tangga adalah dengan menggunakan dana warisan yang dapat dikumpulkan dari pendapatan kota dan sumbangan untuk restorasi dan pemeliharaan.
"Memulihkan sumur tangga mungkin tidak menyelesaikan masalah air negara sepenuhnya, tetapi tentu saja dapat memberikan solusi di tingkat lokal untuk memerangi kelangkaan air," kata Nanda.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The ancient stepwells helping to curb India's water crisis, bisa Anda simak di laman BBC Future.










