Menepis berbagai mitos perbedaan otak pria dan perempuan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, David Robson
- Peranan, BBC Future
Gina Rippon telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghilangkan prasangka bahwa otak pria dan wanita berbeda - namun dia percaya bahwa "bombardir gender" yang terjadi saat ini lebih besar dari sebelumnya. Mengapa?
Ketika saya bertemu dengan ahli saraf kognitif Gina Rippon, dia memberi tahu saya satu anekdot yang menunjukkan bagaimana anak-anak usia dini dapat terpapar stereotip gender.
Saat itu adalah hari kelahiran putri keduanya, pada 11 Juni 1986 - malam ketika Gary Lineker mencetak hattrick melawan Polandia di Piala Dunia Sepak Bola putra.
Ada sembilan bayi yang lahir hari itu, kenang Rippon. Delapan dari mereka dipanggil Gary.
Dia ingat tengah mengobrol dengan salah satu ibu yang habis melahirkan ketika mereka mendengar suara berisik mendekat.
Seorang perawat membawa dua bayi mereka yang sedang menjerit.
Perawat itu menyerahkan bayi dari ibu perempuan di sisinya "Gary yang dibalut kain biru". Perawat mengatakan Gary memiliki "sepasang paru-paru yang kuat".
Anak perempuan Rippon sendiri (membuat suara yang persis sama).
"Dia yang paling berisik di antara semuanya - tidak terlalu anggun," gumam perawat itu.
"Jadi, pada usia 10 menit, anak perempuan saya sudah mendapat pengalaman tentang bagaimana perspektif gender di dunia kita," kata Rippon.
Rippon telah menghabiskan beberapa dekade mempertanyakan ide-ide bahwa otak pria dan perempuan berbeda secara mendasar- penelitian yang ia tuliskan dalam bukunya, The Gendered Brain.
Judulnya sedikit menyesatkan, karena argumennya bergantung pada fakta bahwa bukan otak manusia yang secara inheren bekerja berdasarkan "gender", tetapi dunia tempat kita dibesarkan.
Isyarat halus tentang perilaku "jantan" dan "anggun", sejak lahir, membentuk perilaku dan kemampuan kita, yang kemudian dibaca oleh para ilmuwan lain sebagai perbedaan bawaan yang melekat.
Tulisan Rippon mencerminkan betapa frustrasinya ia bahwa argumen seperti itu masih perlu diperjuangkan pada tahun 2019.
Dia menjelaskan banyak teori tentang perbedaan gender adalah "pukulan keras" yang terus muncul, dengan kedok-kedok lain, tidak peduli seberapa sering mereka dibantah.
"Kami telah meneliti apakah otak pria berbeda dari otak perempun selama lebih dari 200 tahun," katanya.
"Dan kadang-kadang ada terobosan baru dalam sains atau teknologi, yang memungkinkan kita meninjau kembali pertanyaan ini, dan membuat kita menyadari bahwa kepercayaan di masa lalu jelas salah."
"Sebagai seorang ilmuwan, Anda pikir mungkin telah mengatasinya dan meluruskan kesalahpahaman, dan orang akan tidak akan percaya itu lagi. Tetapi pada saat Anda melihat media populer, Anda kerap kali menemukan bahwa mitos lama telah kembali."
Salah satu klaim tertua berpusat pada fakta bahwa wanita memiliki otak yang lebih kecil, yang dianggap sebagai bukti inferioritas intelektual.
Meskipun benar bahwa, rata-rata, otak wanita lebih kecil, sekitar 10%, ada beberapa masalah dengan asumsi ini.
"Pertama-tama, jika Anda hanya berpikir itu adalah 'masalah ukuran', maka paus sperma dan gajah memiliki otak yang lebih besar daripada pria, dan mereka tidak terkenal karena jauh lebih pandai," kata Rippon.
Lalu ada fakta bahwa, meskipun ada perbedaan ukuran otak rata-rata, juga terdapat perempuan-perempuan dengan ukuran otak lebih besar dari laki-laki.
"Sehingga kamu mendapatkan perempuan dengan otak besar dan pria dengan otak kecil."
Perlu dicatat bahwa otak Einstein lebih kecil daripada otak rata-rata pria, dan secara keseluruhan, banyak penelitian menemukan bahwa tidak ada perbedaan berarti antara kecerdasan pria dan wanita atau sifat-sifat mereka.
Namun klaim terkait itu terus bertahan di media.
Rippon berpendapat bahwa perbedaan struktural yang tampak dalam otak itu sendiri juga telah dilebih-lebihkan.

Sumber gambar, BBC Reel
Corpus callosum, misalnya, adalah jembatan serabut saraf yang menghubungkan belahan otak kiri dan kanan, dengan beberapa penelitian awal menemukan bahwa bagian itu lebih besar di otak perempuan daripada di otak pria.
Ini digunakan untuk membenarkan semua jenis stereotipe - seperti gagasan bahwa perempuan secara inheren tidak logis, karena perasaan mereka, dari belahan otak kanan, membuat mereka lebih "emosional" sehingga mengganggu proses di belahan otak kiri yang lebih rasional.
Seperti yang dijelaskan Rippon dalam bukunya: "Mekanisme otak pria yang dianggap lebih efisien menjelaskan kejeniusan matematika dan ilmiah ... keunggulan mereka di bidang industri, [kemampuan mereka untuk] memenangkan Hadiah Nobel, dan seterusnya."
Tetapi klaim seperti itu sering hanya didasarkan pada survei terhadap sejumlah kecil peserta, katanya - dan teknik untuk mengukur bagian-bagian otak masih tidak terlalu spesifik dan terbuka untuk interpretasi, yang berarti bahwa teori soal penelitian soal perbedaan otak antara perempuan dan laki-laki masih sangat rapuh.
Meskipun penelitian sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun, sangat sulit untuk mengidentifikasi perbedaan "bawaan" yang signifikan dalam struktur otak laki-laki dan perempuan.
Hormon 'emosional'
Bagaimana dengan hormon seks kita? Apakah mereka memiliki dampak yang sangat jelas pada pikiran dan perilaku kita?
Bukti-bukti yang ada telah disalahtafsirkan untuk meremehkan kemampuan perempuan, kata Rippon.
Konsep sindrom pramenstruasi, misalnya, pertama kali muncul pada 1930-an.
"Dan itu menjadi alasan perempuan tidak diberi posisi puncak."
Perempuan bahkan pada awalnya dilarang berpartisipasi dalam program luar angkasa AS karena kekhawatiran mereka akan lebih temperamental saat pramenstruasi.
Kami menganggap PMS bisa membawa berbagai perubahan kognitif dan emosional yang kurang diinginkan.
Namun beberapa gejala yang diamati mungkin merupakan respons psikosomatis - atau bukan hasil perubahan biologis yang tak terelakkan ke otak.
Dalam satu studi oleh Diane Ruble di Princeton University, misalnya, perempuan yang diteliti diberi informasi palsu yang menunjukkan mereka tengah berada dalam siklus menstruasi mereka.
"Para perempuan bisa memberikan perkiraan tanggal kapan mereka akan menstruasi - tetapi Anda bisa memberi mereka tes darah palsu dan mengatakan 'Anda sekarang dalam fase pra-menstruasi, atau Anda berada dalam fase intermenstrual'," Rippon menjelaskan.
Mereka kemudian diminta mengisi kuesioner tentang berbagai elemen PMS.

Sumber gambar, BBC Reel
Studi ini menemukan bahwa para perempuan yang diberi tahu bahwa mereka berada dalam fase pra-menstruasi jauh lebih mungkin untuk melaporkan gejala PMS - bahkan jika mereka tidak pada tahap siklus tersebut.
Hal ini mendukung gagasan bahwa beberapa gejala muncul dari sugesti mereka.
"Saya tidak ingin meremehkan kenyataan dari perubahan hormon yang terkait dengan siklus menstruasi, atau menyangkal bahwa orang memang memiliki perubahan yang terkait dengan fluktuasi hormon," kata Rippon.
"Tetapi jika Anda benar-benar melihat hal-hal seperti catatan menstruasi, atau ukuran objektif terkait perubahan suasana hati, efeknya tidak seperti yang diyakini orang tersebut. Jadi fakta bahwa Anda percaya bahwa [Anda] sedang mengalami perubahan suasana hati, dan itu harus dikaitkan dengan siklus pramenstruasi, menjadi semacam sugesti yang terpenuhi dengan sendirinya."
Persepsi PMS juga membuat bias di antara para peneliti, yang cenderung melakukan penelitian yang mendukung stereotip daripada mencari bukti yang mungkin membantah asumsi yang berlaku terkait superioritas otak laki-laki.
Rippon mengatakan bahwa perempuan mungkin mengalami peningkatan kognitif pada titik-titik tertentu dalam siklus menstruasi, misalnya - tetapi sebagian besar telah diabaikan, karena keasyikan para ilmuwan dengan persepsi kelemahan wanita.
"Kami telah melakukan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa secara kognitif, ada fluktuasi saat siklus menstruasi," katanya.
Memori kerja verbal dan spasial, misalnya, membaik ketika estrogen berada dalam level tertinggi.
"Dan bahwa ada perubahan yang sangat positif tentang waktu ovulasi - peningkatan respons terhadap informasi sensorik, misalnya, dan peningkatan waktu reaksi."

Sumber gambar, BBC Reel
Tetapi Rippon mengatakan bahwa sementara alat standar untuk mengukur PMS adalah Kuesioner 'Moos Menstrual Distress', "Saya belum menemukan kuesioner terkait 'euforia saat ovulasi'". Maka itu, fokusnya, tampaknya, selalu pada hal yang negatif.
Tsunami pink dan biru
Salah satu tantangan mempelajari perbedaan jenis kelamin adalah budaya setempat.
Bahkan ketika perbedaan dalam struktur otak dapat diamati, selalu ada kemungkinan bahwa perbedaan muncul melalui pola pengasuhan.
Kita tahu bahwa otak itu seperti plastisin artinya dapat dibentuk oleh pengalaman dan pelatihan.
Seperti yang diamati Rippon dengan kelahiran putrinya sendiri, seorang anak lelaki dan perempuan mungkin memiliki pengalaman yang sangat berbeda sejak mereka lahir di dunia, karena adanya harapan bagi mereka untuk berperilaku tertentu.
Dia menunjuk penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak berusia 24 bulan sangat sensitif terhadap perilaku berdasarkan gender.
Mereka, katanya, seperti "spons kecil yang menyerap informasi sosial", dan mengadopsi perilaku itu sendiri dan pada akhirnya akan mempengaruhi sirkuit saraf mereka. "Dunia yang membedakan berdasarkan gender menghasilkan otak yang bekerja berdasarkan stereotip 'gender'".
Inilah sebabnya mengapa stereotip gender dari mainan anak merupakan masalah penting untuk ditangani.
"Banyak orang berpikir bahwa ide untuk tidak membedakan mainan anak berdasarkan gender adalah omong kosong," katanya.
"Tapi saya pikir jika kita mengambil pendekatan neurosains untuk ini, kita dapat melihat bahwa ada implikasi yang cukup mendalam dari mainan yang kita mainkan ketika kita masih sangat muda."
Momen-momen bermain ini dapat dilihat sebagai "peluang pelatihan" yang dapat membentuk otak anak menjadi otak orang dewasa.

Sumber gambar, BBC Reel
Pertimbangkan mainan konstruksi seperti Lego atau Duplo atau permainan seperti Tetris.
Saat anak bermain, memutar balok-balok Lego dan menemukan cara-cara yang inventif untuk menyatukan mereka ke dalam struktur baru, mereka akan membangun jaringan saraf yang terlibat dalam pemrosesan visual dan spasial.
Kemudian, ketika Anda sampai di sekolah, Anda mungkin melakukan sedikit lebih baik pada tugas-tugas itu - dan dipuji karena kemampuan Anda, yang berarti Anda akan terus berlatih.
Akhirnya, Anda bahkan dapat menemukan profesi yang membuat Anda dapat menghabiskan sepanjang hari, setiap hari, untuk memperkuat kemampuan itu.
"Sekarang, jika semua mainan dan peluang pelatihan itu memiliki stereotipe gender, Anda dapat melihat apa yang tampak seperti kesenjangan gender berdasarkan jenis kelamin biologis seorang individu, yang bertentangan dengan berbagai peluang pelatihan yang didapatkan individu," kata Rippon .
Psikolog Melissa Terlecki dan Nora Newcombe menunjukkan berkurangnya perbedaan kemampuan spasial antara anak perempuan dan laki-laki ketika Anda memperhitungkan jumlah waktu yang dihabiskan seorang anak untuk bermain video game seperti Tetris, misalnya.
Beberapa kampanye - seperti Let Toys Be Toys di Inggris dan Play Unlimited di Australia - telah berhasil membujuk penjual mainan mengubah strategi pemasaran mereka, tetapi secara umum, Rippon berpendapat anak-anak masih 'diarahkan pada stereotipe gender' dengan banyak cara lain.
"Salah satu masalah yang kita miliki di abad ke-21 adalah apa yang saya sebut bombardir gender yang jauh lebih intens," kata Rippon.
"Ada banyak pula di media sosial, dan seluruh inisiatif pemasaran, yang membuat daftar preskriptif yang sangat jelas tentang bagaimana seharusnya menjadi pria atau wanita."

Sumber gambar, Getty Images
Dan inilah mengapa Rippon sangat frustrasi dengan "neuroseksisme" di luar sana.
Semakin banyak kesimpulan dari data yang lemah menjangkau publik, semakin besar kemungkinan kita menyampaikan pesan-pesan ini kepada anak-anak, memperkuat sugesti-sugesti yang terpenuhi dengan sendirinya.
"Jika kita percaya bahwa ada perbedaan mendasar antara otak pria dan wanita, dan lebih dari itu - bahwa pemilik otak itu memiliki akses ke keterampilan yang berbeda, atau temperamen yang berbeda atau kepribadian yang berbeda - hal itu tentunya akan memengaruhi cara kita berpikir tentang diri kita sebagai pria atau wanita," kata Rippon.
Ini juga akan mempengaruhi bagaimana kita berpikir tentang orang lain dan apa potensi mereka, dia melanjutkan.
"Jadi para ilmuwan harus benar-benar berhati-hati," katanya.
"Tentu saja, kita perlu memahami di mana ada perbedaan jenis kelamin dan apa artinya. Tetapi kita harus berhati-hati untuk tidak berbicara tentang perbedaan mendasar atau mendalam, karena kita memberikan kesan yang salah."
Pada akhirnya, kita perlu menerima bahwa kita masing-masing memiliki otak yang unik - dan kemampuan kita tidak dapat didefinisikan oleh label tunggal seperti jenis kelamin.
"Pemahaman bahwa setiap otak berbeda dari otak lainnya, dan tidak harus hanya dipengaruhi jenis kelamin sang pemilik otak, adalah langkah yang sangat penting ke depan di abad ke-21," ujar Rippon.
Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The sexist myths that won't die di laman BBC Future.












