Harry Styles: Bintang pop yang menggugat maskulinitas dengan penampilan bebas gender

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Cameron Laux
- Peranan, BBC Culture
Bermain dengan norma gender telah lama menjadi bagian dari pesona dan karisma bintang rock. Jadi, apa yang tersirat dari penampilan androgini bintang pop Harry Styles tentang maskulinitas dan daya tarik seks?
Bintang pop Inggris, Harry Syles memiliki perawakan tubuh langsing dan kerap kali berpenampilan gaya androgini.
Ia memiliki banyak tato dan berambut kusut (seorang penulis AS menyebut rambutnya sebagai "rambut pangeran tampan). Senyumnya sangat memesona. Namun di sisi lain, pembawaannya sangat tenang.
Ia jelas siap untuk bersenang-senang dengan seksualitas dan maskulinitasnya, dan telah dikenal karena mengekspresikan dirinya dengan mengobrak-abrik norma gender.
Contohnya busana Gucci yang ia kenakan saat menjadi pembawa acara ajang Met Gala 2019 yang bertema "Camp: Notes on Fashion": blus gauzy berwarna hitam yang tembus pandang, sepatu hak bergaya Kuba, dan satu anting mutiara bergaya Renaissance. Ia tampak sangat cantik, atau bisa disebut juga tampan? Atau keduanya?
Apa yang diutarakan dari penampilan Syles yang ceria dan bergaya androgini tentang gender dewasa ini?
Baru-baru ini, ia mengejutkan banyak orang (dan membuat marah beberapa di antaranya) dengan mengenakan gaun berenda di balik jaket hitam, pada sampul majalah Vogue AS pada bulan Desember 2020.
Tulisan pada sampul itu berbunyi: "Harry Styles Make His Own Rules" (Harry Styles Membuat Aturannya Sendiri).
Ia mendapat kehormatan sebagai pria pertama yang menghiasi sampul majalah perempuan terkemuka itu.
Fakta bahwa foto pada sampul dipotong di bagian pinggang mengurangi dampak dari foto itu
Gaun Gucci yang ia kenakan secara keseluruhan sangat tebal, berenda, dan sangat feminin, seperti yang kita lihat pada hasil bidikan foto-foto pemotretannya di dalam majalah itu.
Foto-foto hasil pemotretannya menunjukkan tampilan ikonoklastiknya yang lain: Ia mengenakan rok, kilt, hibrida mantel dan gaun, crinoline yang dikenakan di atas setelah jas, dan beberapa kombinasi celana dan jaket.
Ada pula foto dirinya yang menawan tengah duduk bersanding dengan saudara perempuannya, yang biasa mendandaninya.
Styles tampak nyaman dengan penampilannya tersebut.

Sumber gambar, Getty Images
Dalam artikel wawancara yang menyertai foto-foto itu, Styles berkata: "Ada begitu banyak kegembiraan yang bisa didapat ketika bermain dengan pakaian. Saya tidak pernah berpikir terlalu banyak tentang apa maknanya - itu hanya menjadi bagian panjang dari menciptakan sesuatu."
Sang penulis aritkel, Hamish Bowles, mengatkan bahwa Styles "berhasil membuat baju berkerut menjadi proposisi maskulin baru yang menarik, sama seperti setelan berwarna putih karya Michael Fish yang dikenakan oleh vokalis band Rolling Stones, Mick Jagger dalam konser bandnya di Hyde Park pada 1969.
Maskulinitas Rolling Stones tak pernah dipertanyakan, baik ketika Jagger mengenakan gaun putih itu maupun tidak.
Ada sesuatu yang berbeda dengan Styles; ia tampak lebih lembut dan ambigu, seolah-olah sedang menyalurkan kepolosan masa kanak-kanak, kala sebelum kita menghadapi politik gender.
Foto-foto itu sepertinya mengatakan: kita akan tumbuh menjadi apa jika tidak memilih?
Apakah pertanyaan ini menghasut? Foto-foto Styles di majalah Vogue mengundang beberapa serangan di media sosial Amerika Serikat.
Seorang perempuan pengguna Twitter menyebut "feminisasi dari laki-laki kita, pada saat yang sama dengan Marxisme sedang diajarkan kepada anak-anak kita".
Seorang pria pengguna Twitter menimpalinya dengan "ini adalah ... referendum tentang maskulinitas bagi pria untuk mengenakan gaun lembut", dan menegaskan bahwa pemotretan Vogue adalah bagian dari plot.
"Kembalikan laki-laki jantan!", teriak para warganet… karena laki-laki adalah spesies yang terancam punah!
Sebagai tanggapan, Styles kembali melakukan pemotretan untuk majalah Variety, mengenakan mantel berenda dan blus satin merah muda, sambil makan pisang.
Pisang itu adalah lelucon, tapi seperti segala sesuatu tentangnya, juga tampak sangat seksi. Pesan dari foto-foto ini menunjukkan bahwa ia tak peduli tentang "maskulinitas"-nya sangat gamblang dan jelas.

Sumber gambar, SME/ Columbia Records/ Pulse Recording
Tapi para troll internet buta akan hal itu.
Lihat video klip single Styles, Watermelon Sugar ("Video ini didedikasikan untuk menyentuh", kata pengantar dalam video itu) yang memperlihatkan ia berkeliaran di pantai dengan sekelompok model perempuan berpakaian minim.
Video tersebut dengan gagah menampilkan hal ini sebagai kesenangan yang polos. Tentunya semacam kredensial heteroseksual yang merajalela dipajang di sini?
Dan ya, Styles mengenakan rompi rajutan oranye terang dan hijau limau dengan apa yang tampak seperti kacamata hitam anak-anak
'Ledakan maskulinitas'
Selain itu, para troll mungkin ada benarnya tentang kiamat maskulinitas yang akan datang.
Saya dapat memikirkan dua contoh bagus dari buku terbaru dan berpengaruh yang menyatakan bahwa maskulinitas sedang menuju akhir.
Hanna Rosin dalam bukunya The End of Men, and the Rise of Women (2012) berpendapat bahwa perempuan di Barat telah mulai melampaui pria dalam berbagai indikator sosial dan ekonomi yang penting (seperti pendidikan) karena perempuan lebih cocok untuk hidup di masa pasca-dunia industri.
Artis Grayson Perry - yang memiliki alter-ego perempuan, Claire - dalam bukunya The Descent of Man mengeksplorasi tentang ledakan maskulinitas.
Ia berpendapat bahwa norma-norma yang kaku tidak lagi masuk akal. Apakah kejantanan sedang dalam situasi yang buruk?

Sumber gambar, Getty Images
Sosiolog Raewyn Connell, penulis Masculinities, adalah ahli tentang apa yang ia sebut "hegemoni maskulinitas": kode-kode kaku yang membentuk dan mereproduksi kekuatan maskulin.
Saya berbicara dengannya tentang "kontroversi" atas selera berpakaian Styles.
"Saya ingat orang-orang yang menjadi apoplektik di tahun 1960-an bahwa 'Anda tidak dapat membedakan mereka sekarang ini ...'" katanya kepada BBC Culture.
"[Mereka] mengeluh tentang The Beatles dan Gerry & Pacemakers dan Rolling Stones yang berambut panjang dan mengenakan blus paisley, dan gadis-gadis yang mengenakan jeans, dan Twiggy yang terlihat seperti anak laki-laki yang kekurangan gizi.
"Dan kalau dipikir-pikir, di tahun 1920-an mereka mengeluh bahwa Flappers merokok dan bersumpah seperti laki-laki, dan mendapatkan tanaman Eton seperti Josephine Baker, dan demi Tuhan, mereka bahkan mendapatkan suara! Peradaban Barat hancur!"
Dari perspektif industri hiburan, bukankah pertempuran melawan fluiditas gender sudah lama hilang?
Alexis Petridis, kritikus rock dan pop di Guardian, mengatakan kepada BBC Culture bahwa dalam pandangannya musik pop jauh lebih radikal dalam kaitannya dengan gender di tahun 1980-an, era Soft Cell, Culture Club, Marilyn, dan Pete Burns.
Kebebasan gender 40 tahun lalu "sedikit lebih berani daripada sekarang", katanya, karena "ada sikap yang sangat berbeda, jauh lebih tidak menerima seksualitas atau gender yang tidak heteronormatif".

Sumber gambar, Getty Images
Tetap saja, pendapat Petridis tentang Styles sangat positif.
"Jika melihat Harry Styles dengan gaun di sampul majalah Vogue membuat seorang anak yang tidak merasa cocok dengan norma gender yang diterima merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri, maka itu bagus - itu adalah hal lain yang bisa dilakukan [musik] pop, dalam kondisi terbaiknya. Dengan berbagai cara, hal itu dapat membuat Anda merasa tidak terlalu kesepian. "
Styles tentu berkesan bagi Michelle Ruiz, editor kontributor di Vogue yang menulis esai perayaan tentang bagaimana "The Pure Joy of Harry Styles Got Me Through 2020".
Saya bertanya padanya apakah menurutnya Styles memiliki pengaruh signifikan pada maskulinitas.
"Di era maskulinitas… yang begitu beracun, Styles adalah kontras yang modern dan menyegarkan," katanya.
"Ini adalah seorang pria mengenakan gaun yang berkhotbah tentang kekuatan memperlakukan orang dengan kebaikan…. Terus terang, bersikap baik dan penuh kasih dan mungkin mengenakan seuntai mutiara di atas baju hangat Anda seharusnya tidak membuat Anda menjadi pria yang kurang jantan."

Sumber gambar, Getty Images
Artikel di Variety, "This Charming Man", menceritakan tentang Styles yang menjadi Bowie berikutnya - musik Styles kini ditangani oleh label yang dulunya menangani musik Bowie, Columbia Records.
Styles sangat polimorfik, tapi ini berlebihan. Ketika saya bertanya kepada Petridis tentang perbandingan tersebut, dia berkata: "Bowie adalah sosok yang unik, satu-satunya, Anda tidak akan mendapatkan orang seperti dia lagi karena musik pop bukan lagi fokus utama budaya anak muda".
Bintang seperti Styles, bagaimanapun menariknya gaun mereka, sekarang harus bersaing dengan semua informasi di internet dan media sosial.
Terlepas dari lemari pakaiannya, tampaknya strategi Styles hanya bertujuan menjadi orang yang baik dan jujur, terlepas dari jenis kelaminnya.
--
Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The gender-fluid look that fans love di laman BBC Culture.









