25 tahun Friends: Serial televisi yang mengubah perspektif kita tentang makna keluarga

Friends

Sumber gambar, Warner Bros. Television

Keterangan gambar, Ross, Monica, Rachel, Chandler, Joey dan Phoebe (kiri-kenan) adalah enam tokoh utama dalam serial situasi komedi Friends yang tayang sejak tahun 1994 sampai 2004
    • Penulis, Clare Thorp
    • Peranan, BBC Culture

Tayang pertama kalinya 25 tahun lalu, situasi komedi (sitkom) populer Friends memberi kita lebih dari sekadar tampilan modis tahun 90-an, seperti gaya rambut ala Rachel Green, tetapi juga membawa pemahaman baru tentang arti keluarga ke ruang publik.

Belum sampai tiga menit episode pertama Friends (The One Where Monica Gets a Roommate) berjalan, penonton diperkenalkan dengan karakter Rachel Green (diperankan oleh Jennifer Aniston) yang berlari masuk ke dalam kedai kopi Central Perk (yang kini menjadi ikon budaya pop) masih dalam balutan gaun pengantin.

Ia baru saja mencampakkan tunangannya sendiri, Barry si dokter gigi, di altar.

Rachel melarikan diri dari rencananya membangun rumah tangga dan menikahi pria yang tak dicintainya di usia 24 tahun, untuk mencari kehidupan lain di kota besar.

Pada episode yang sama, Rachel yang duduk dikelilingi teman-teman barunya di dapur apartemen Monica Geller, teman baiknya semasa SMA, didorong untuk menggunting semua kartu kredit yang pembayarannya masih bergantung pada sang ayah.

Itu adalah momen simbolik di mana ia memutus ketergantungannya terhadap keluarganya, untuk memulai kehidupan baru di kota, bersama Monica, Phoebe, Chandler, Joey dan Ross.

"Selamat datang di kehidupan nyata," ujar Monica. "Tidak enak, tapi kamu akan menyukainya."

Dalam episode pembuka yang tayang pertama kali pada bulan September 25 tahun lalu itu, Friends langsung memberitahu penonton apa yang akan disajikan sitkom itu kepada mereka.

Pernikahan yang ditinggalkan (atau, dalam kasus Ross, berakhir tak lama setelah dimulai). Absennya orang tua. Orang-orang yang mereka andalkan setiap waktu adalah satu sama lain.

Mereka adalah muda-mudi polos berusia 20-an tahun yang tengah berjibaku dengan hubungan percintaan, karir dan kehidupan mereka. Mereka tak tahu arah melangkah, tapi juga memang tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Friends

Sumber gambar, Getty Images

Setahun sebelumnya, tahun 1993, Marta Kauffman dan David Crane menjual ide mereka tentang sebuah sitkom yang mengisahkan kehidupan kelompok pertemanan kepada NBC, jaringan televisi yang tengah mencari tontonan yang dapat menangkap perhatian pasar urban, kaum muda.

Dalam buku terbarunya yang menceritakan sejarah sitkom tersebut, Still Friends, Saul Austerlitz menulis bahwa NBC ingin menemukan acara TV yang dapat meniru kesuksesan Seinfeld, yang juga bercerita tentang kehidupan sekelompok pertemanan yang bekerja di New York.

Di awal tahun 90-an, di mana sitkom-sitkom seperti Roseanne, Full House, The Fresh Prince of Bel Air dan Mad About You masih fokus pada cerita keluarga dan kehidupan rumah tangga, tema yang dibawa Seinfeld masih cukup asing.

Saat itu juga, serial musim panas Living Single, yang menceritakan sekelompok anak muda kulit hitam yang tinggal bersama di sebuah rumah deret di Brooklyn, baru tayang di Fox.

Yang jelas, ada pangsa pasar bagi acara TV yang menggambarkan kehidupan anak-anak muda yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman mereka sendiri, ketimbang keluarga.

Itulah gunanya teman

Kauffman dan Crane belum lama pindah ke Los Angeles, keduanya sama-sama meninggalkan lingkaran terdekat pertemanan mereka di New York.

Hal itu, dikombinasikan dengan pengalaman Kauffman melewati sebuah kedai kopi di LA yang interiornya dipenuhi berbagai furnitur yang tak cocok satu sama lain, sofa-sofa tua, dan gerombolan anak muda yang sedang nongkrong, dan memunculkan sebuah ide.

Yang mereka ingin jual: "Sebuah kisah pertemanan, karena ketika kamu lajang dan tinggal di kota, temanmu adalah keluargamu."

Friends

Sumber gambar, DON EMMERT/AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Serial Friends menjadi budaya pop yang masih menjadi rujukan banyak pecintanya hingga kini, seperti kedai kopi Central Perk yang desainnya menginspirasi banyak pengusaha kafe kopi

Sejak awal, alasan mengapa enam sekawan itu membutuhkan satu sama lain disampaikan sangat jelas dalam Friends.

Pada episode kedua, Phoebe menceritakan tentang ibunya yang bunuh diri, sementara Rachel mendengar kabar bahwa orang tuanya bercerai.

Di sisi lain, orang tua Ross dan Monica (kakak-beradik) datang berkunjung, di mana mereka terus menerus menyanjung Ross, dan tak berhenti menyindir Monica.

Ayahnya berkata, "Aku membaca kisah para perempuan yang punya ambisi besar, lalu aku bersyukur, Harmonica kita yang imut ini tampaknya tidak demikian".

Dalam episode lain, Joey memergoki sang ayah selingkuh. Chandler mengungkapkan bahwa orang tuanya memberitahu bahwa mereka akan bercerai ketika makan malam Thanksgiving saat usianya 9 tahun.

Dalam episode Thanksgiving pertama itu rencana mereka masing-masing untuk merayakan hari bersyukur itu gagal, dan berakhir dengan makan keju panggang bersama di apartemen Monica. Saat itu menjadi jelas bahwa: keluarga itu rumit dan tidak bisa diandalkan; teman-temanmu lah yang bisa kamu andalkan.

"Ini bukan pilihan utama siapapun," ujar Joey. Tapi, sejak saat itu, mereka selalu menikmati hari raya itu bersama-sama.

Banyak unsur dalam Friends yang tampak fantastis. Misalnya, anak-anak muda setengah-pengangguran itu bisa tinggal di apartemen besar di kawasan Greenwich Village, New York. Akan tetapi, gagasan untuk membangun keluarga alternatif dari pertemanan lah yang paling mengena.

Setelah angka perceraian meroket pada dekade sebelumnya, banyak anak muda yang memasuki masa kedewasaan di tahun 90-an berasal dari latar belakang keluarga yang 'hancur'. Akibatnya, mereka menunda menikah, dan usia rata-rata orang menikah setiap tahunnya semakin meningkat.

"Ada hubungan rumit antara orang tua dan anak yang terjadi di balik cerita Friends, semacam membingkai tema 'menuju kedewasaan' dan itu tentu saja menjadi salah satu daya tariknya," ungkap Neil Ewen, dosen senior di Sekolah Media dan Film Universitas Winchester.

"Anda semakin tua dan menjadi orang dewasa, Anda punya masalah dengan orang tua, dan Anda akan minta dukungan dari teman-teman Anda. Itu tema yang universal."

Friends

Sumber gambar, NBC/Newsmakers

Keterangan gambar, Lisa Kudrow (Phoebe), Jennifer Aniston (Rachel) dan Courteney Cox (Monica) dalam salah satu adegan Friends musim ketujuh, "The One With The Nap Partners"

Anak usia 20-an pada hakikatnya tengah menjalani masa remaja yang diperpanjang. Mereka sudah terlalu tua untuk tetap tinggal bersama keluarga mereka, tapi terlalu muda untuk membangun keluarga sendiri. Teman-teman (Friends) lah yang mengisi kekosongan itu, baik di dunia nyata, maupun di layar kaca.

Selama melewati hubungan demi hubungan buruk, kencan, langkah karir yang sembrono, pernikahan, perceraian, kelahiran dan kepanikan menjadi orang tua, keenam tokoh Friends selalu ada untuk satu sama lain. Meski di antara mereka ada hubungan pertemanan yang tumbuh menjadi jalinan percintaan - dan, kembali lagi (apakah mereka benar-benar on a break?).

Gagasan bahwa teman adalah keluarga yang baru bukanlah satu-satunya cara sitkom ini menentang norma-norma kekeluargaan. Sepanjang 10 musim, alur cerita Friends juga mengisahkan pernikahan sesama jenis, ketidaksuburan, adopsi, kehamilan menggunakan ibu pengganti dan kehidupan orang tua lajang.

Cara serial ini mengisahkan tema-tema tadi tidak selalu tepat. Banyak yang mengkritik cara sitkom ini menceritakan isu-isu tertentu, terutama tentang ayah Chandler yang seorang transgender.

Baru-baru ini, Kauffman mengatakan bahwa lelucon transfobia (ketidaksukaan kepada kelompok transgender) dan penggambaran karakter Helena (ayah Chandler yang seorang transgender, diperankan Kathleen Turner) adalah satu aspek Friends yang paling ingin ia ubah jika ia bisa memutar waktu.

Friends berlanjut menjadi serial TV yang progresif sekaligus regresif. Sitkom itu dikenal kurang mewakili keragaman, meski menampilkan beberapa kisah hubungan percintaan antar ras (Ingat Ross dan Julie atau Ross dan Charlie?). Selain itu, isu homoseksualitas terlalu sering dijadikan bahan lelucon, meskipun pada musim kedua, Friends menjadi salah satu sitkom AS pertama yang menampilkan adegan pernikahan sesama jenis. Serial ini juga menghadirkan aktivis hak-hak kelompok gay Candace Gingrich yang turut berakting dalam plot tersebut.

Sitkom itu mengatasi berbagai isu secara sembrono, meskipun memang mereka berhasil melakukannya.

"Yang menarik dari Friends adalah mereka mengeksplorasi berbagai tema, mengangkat masalah-masalah budaya di masyarakat, namun melakukannya dengan balutan komedi ringan," kata Ewen.

"Friends mewakili sekaligus menyuarakan isu-isu tersebut kepada khalayak luas."

Friends tidak pernah mengambil langkah radikal. Jika dilakukan, mungkin ia tidak akan menjadi serial TV paling populer, kata Ewen.

Austerlitz mengatakan bahwa justru karena Friends tidak pernah berjalan terlalu jauh dari 'jalan tengah' lah, berbagai bentuk keterwakilan tadi menjadi sangat penting.

"Dalam pendekatan penulisan skenarionya yang dibuat senormal mungkin, Friends bisa memperluas spektrum normalitas, sampai-sampai bisa memasukkan alur cerita pernikahan sepasang lesbian," tulisnya.

Friends

Sumber gambar, Warner Bros. Television

Keterangan gambar, Salah satu adegan dalam serial Friends episode "The One Where They All Turn Thirty"

Akan tetapi, betapa pun Friends mendorong berbagai batasan yang ada tentang gagasan sebuah keluarga, salah satunya bahwa temanmu adalah keluargamu saat hidup lajang di kota, nilai-nilai tradisional pada akhirnya kembali mengambil alih.

Dalam episode terakhirnya di tahun 2004, Rachel mengorbankan karirnya yang tengah menanjak demi kembali ke pelukan Ross dan membesarkan anak mereka bersama-sama. Monica dan Chandler mendapat bayi kembar yang sudah mereka impi-impikan dan pindah ke pinggiran kota.

Sementara, Phoebe menikah dengan Mike, dan hanya Joey yang tetap melajang, karena rencana pembuatan sitkom lepas (spin-off) berjudul Joey yang diproduksi kemudian.

Setelah geng 'Friends' bubar, semakin banyak sitkom serupa yang muncul di layar televisi, seperti How I Met Your Mother, The Big Bang Theory, Happy Endings, New Girl… segerombolan serial TV bertema 'teman nongkrong' yang mencoba meniru Friends, tanpa satupun yang bisa menandingi kesuksesannya.

Bahkan kini, 15 tahun setelah episode terakhirnya tayang, Friends justru mendapatkan penonton baru dari generasi milenial dan remaja. Selama dua tahun terakhir, Friends menjadi sitkom yang paling banyak disaksikan melalui layanan streaming di Inggris.

Bagi penonton muda, mungkin sulit memahami dunia di mana sekelompok teman bisa selalu nongkrong setiap hari secara tatap muka… atau bahasa gaulnya, IRL (in real life) alias di dunia nyata.

"Saya rasa Friends menangkap rasa khawatir tersebut, perasaan bahwa kita tidak saling terhubung," ujar Ewen.

"Ia menawarkan fantasi atas bagian hidupmu yang itu, kehidupan di mana kamu bisa duduk dan nongkrong dengan teman-temanmu berjam-jam dan tidak mencemaskan apapun."

Menghabiskan waktu bersama teman-temanmu tanpa satu pun yang bermain handphone kini menjadi sesuatu yang diidamkan.

Terdengar sedikit menyedihkan memang, tetapi menggambarkan betapa Friends menyentuh realita yang dihadapi masyarakat masa kini. Bagi sebagian besar dari kita, setidaknya sekali seumur hidup, ingin menghabiskan waktu tanpa melakukan apapun.

Pada acara screening perayaan ulang tahun Friends yang ke-25 di Festival TV Tribeca bulan ini, Marta Kauffman menolak membuat ulang serial tersebut. "Ini adalah serial tentang suatu waktu di hidupmu ketika teman-temanmu menjadi keluargamu," ungkapnya. "Dan ketika kamu sudah berkeluarga, hal itu berubah."

Meski demikian, Kauffman memberikan sedikit bocoran tentang bagaimana kira-kira kehidupan karakter-karakter tersebut sekarang.

"Kisah cinta Ross dan Rachel berakhir baik - tetapi (anak mereka) Emma sedang menjalani terapi." Apakah gara-gara hubungan buruk dengan orang tuanya? Semoga Emma punya teman-teman baik yang bisa membantunya, seperti orang tuanya dulu.

bbc

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris pada Friends: The show that changed our idea of family di laman BBC Culture.