Sepuluh film pilihan yang bisa Anda tonton di bulan Mei

The Breadwinner

Sumber gambar, Studio Canal

    • Penulis, Christian Blauvelt
    • Peranan, BBC Culture

Bulan Mei tampaknya akan penuh dengan banyak film-film menarik yang bisa Anda tonton, menurut Christian Blauvelt, dari Solo: A Star Wars Story, Deadpool 2, sampai anime pilihan dan dokumenter tentang Paus Fransiskus.

Lu Over the Wall

Sumber gambar, Toho

Lu Over the Wall

Sekilas, plot film ini mungkin mirip dengan Ponyo, seorang anak laki-laki berteman dengan putri duyung dari kedalaman laut, mereka mengalami beberapa pertemuan unik. Tapi dalam Lu Over the Wall, rock and roll menjadi tema kuat.

Si anak laki-laki adalah seorang musisi dan teman putri duyungnya adalah penyuka musik, dan film ini pun menjadi gambaran kekuatan musik untuk menyatukan.

Jika deskripsi itu terasa mengambang, itulah inti film Jepang buatan Masaaki Yuasa yang disulihsuarakan ke bahasa Inggris untuk peredaran di Inggris dan AS ini.

"Lu Over the Wall adalah sebuah film keluarga yang menggunakan imajinasi, ketulusan, dan teknik sebagai pengantar tema soal penerimaan dan menjembatani perbedaan lewat kesukaan yang sama," tulis Daniel Schindel di The Film Stage.

Mungkin ini adalah pengalaman yang lebih baik dirasakan daripada dipikirkan.

Schindel menambahkan, "Para animatornya benar-benar membebaskan imajinasi mereka dalam adegan tarian di film ini, di mana realisme ditinggalkan dan karakter menjadi perwakilan sebenarnya dari irama dan lagu."

Tully

Sumber gambar, Focus Features

Tully

Dialog yang ditulis oleh Diablo Cody di Juno mungkin terasa terlalu manis, namun proyek terbarunya dengan sutradara Jason Reitman, menyusul drama remaja tersebut dan film komedi satir Young Adult yang dibintangi Charlize Theron, memperlihatkan sebuah kematangan.

Theron kembali muncul di Tully, memerankan seorang perempuan bernama Marlo yang menyambut kehadiran anak ketiganya dan merasa kewalahan menghadapi hidup.

Dia menerima bantuan seorang perawat profesional bernama Tully (Mackenzie Davis), yang memperkaya hidupnya dengan cara-cara baru.

"Cody, yang sebagai penulis sampai sekarang lebih sering menggunakan komentar tajam ala hipster dan bermain dengan stereotipe telah menulis karakter yang nyata dan berhadapan dengan masalah yang juga membumi dan tidak terasa seperti sekadar berpose," kata Chris Nashawaty di Entertainment Weekly.

Amy Nicholson di The Guardian menambahkan, "Ini film yang luar biasa tentang kebohongan yang kita sampaikan pada diri kita sendiri agar tetap waras — dan alasannya kita harus menyampaikan kebenaran."

Deadpool 2

Sumber gambar, 20th Century Fox

Deadpool 2

Deadpool adalah kesuksesan yang tak disangka-sangka pada 2016, seorang superhero yang suka berkata kotor, diperankan oleh Ryan Reynolds, dilukai oleh penjahat yang kemudian memburunya demi kepuasan balas dendam.

Film yang tulus namun sinis itu kemudian mendapat nominasi film terbaik (musikal dan komedi) di Golden Globes dan juga nominasi aktor terbaik untuk Reynolds.

Kini sekuelnya hadir dua tahun kemudian. Ada juga Josh Brolin sebagai Cable, seorang penjelajah waktu, dan Zazie Beetz sebagai mutan favorit Marvel, Domino.

Jauhkan anak-anak dari film seru khusus dewasa ini.

Pope Francis: A Man of His Word

Sumber gambar, Focus Features

Pope Francis: A Man of His Word

Film-film terbaik Wim Wenders dalam beberapa tahun terakhir adalah dokumenter.

Pina, pertunjukan 3D yang mengaburkan batas antara film dan seni pertunjukan sebagai penghormatan bagi pionir tarian modern Pina Bausch, dan The Salt of the Earth, tentang fotografer visioner Brasil, Sebastião Salgado.

Subyek dokumenternya yang terbaru cukup mengejutkan: Paus Fransiskus, yang setuju diwawancara oleh Wenders dan membagikan perspektif filosofis dan teologisnya dalam berbagai tantangan dunia modern.

Film ini hadir pada saat munculnya kekuatan konservatif yang menentang perubahan yang dilakukan Fransiskus atas struktur dan misi gereja, maka menarik melihat konteks yang disajikan Wenders untuk menempatkan Paus.

On Chesil Beach

Sumber gambar, Bleecker Street Media/Lionsgate

On Chesil Beach

Saoirse Ronan menjadi terkenal — dan menerima nominasi Oscar untuk aktris pendukung terbaik — saat berusia 12 tahun dalam adaptasi novel Ian McEwan, Atonement, pada 2007.

Kini dia muncul dalam satu lagi adaptasi McEwan, sebagai pengantin baru yang mengalami represi seksual.

Saking ekstremnya kondisinya, dia memutuskan agar pernikahannya lebih baik dibatalkan daripada menjalani hubungan suami istri. Dan suaminya, diperankan oleh Billy Howle, begitu tersinggung sampai dia setuju bahwa pernikahan itu harus diakhiri.

"Ini adalah sebuah film yang liris dan penuh antusiasme," tulis Owen Gleiberman di Variety tentang film tentang kesalahan masa muda dan kesempatan yang hilang serta rasa menyesal akan apa yang mungkin terjadi.

"Sebuah drama akan emosi yang tertekan, lucu, lembut, dan menyayat hati."

Solo: A Star Wars Story

Sumber gambar, Lucasfilm

Solo: A Star Wars Story

Film pertama Ron Howard untuk waralaba Star Wars mungkin akan menjadi kejutan sukses musim panas ini.

'Kejutan' karena produksi film tentang Han Solo ini sempat menjadi drama saat sutradara aslinya sempat dipecat.

Howard kemudian melanjutkan pekerjaan itu agar naskah asli yang ditulis oleh penulis naskah ayah-anak Lawrence dan Jake Kasdan, yang menulis naskah Empire Strikes Back, Return of the Jedi dan Force Awakens bisa diwujudkan.

Hasilnya adalah film yang sebagian western, sebagian lagi thriller pencurian.

Bagaimana Han muda bertemu Chewbacca? Atau berinteraksi dengan playboy pemakai jubah Lando Calrissian? Pertama kali terbang dengan Millennium Falcon?

Solo: A Star Wars Story tampaknya siap menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, begitu juga dengan mengungkap misteri 'Kessel Run' yang sudah disebut-sebut sejak film Star Wars pada 1977.

Revenge

Sumber gambar, Neon

Revenge

Sekilas Revenge terdengar seperti film yang sangat Prancis, "Jangan pernah sekali-sekali membawa perempuan simpanan ke acara reuni tahunan bersama teman-teman pria, apalagi jika acaranya adalah berburu".

Tapi ini bukanlah film komedi, melainkan sebuah thriller berdarah, bahkan kejam, karya sutradara Prancis Coralie Fargeat tentang seorang perempuan yang diperkosa oleh sahabat pacarnya, dan sang pacar, bukannya berpihak padanya, malah berusaha membungkamnya dengan mendorongnya dari tebing. Dia selamat dan…tentu saja, tidak senang.

Britt Hayes di Screencrush menulis, "Saat Anda pikir bahwa film pembalasan dendam atas pemerkosaan tak punya hal baru untuk disampaikan (atau bahkan punya sesuatu untuk disampaikan), muncul Revenge — yang lebih dari sekadar cerdas, tapi juga memberikan pendekatan yang menantang akan konsep usang."

Namun Katie Rife dari The AV Club menambahkan, "jika Anda berani menontonnya, tumpahan darah, mutilasi tubuh, dan kepala yang meledak di film ini lebih membuat Revenge sebagai film horor daripada action."

The Breadwinner

Sumber gambar, StudioCanal

The Breadwinner

Nora Twomey, sutradara animasi film The Secret of Kells yang mendapat nominasi Academy Award untuk film animasi terbaik pada 2010, kini kembali dengan proyeknya yang sudah lama dikembangkan, tentang seorang gadis cilik Afghanistan yang hidup di bawah kekuasaan Taliban.

Film yang juga mendapat nominasi Oscar tahun ini, The Breadwinner, sedikit seperti Mulan dan Yentl — Parvana muda yang memotong rambutnya agar terlihat seperti anak laki-laki dan bisa bekerja untuk keluarganya, setelah ayahnya ditahan karena pandangan politiknya.

"Di masa di mana ada kekhawatiran akan apropriasi budaya, sebuah film animasi yang berlatar Afghanistan dan dibuat oleh orang Barat dan berasal dari sumber Barat mungkin akan mengkhawatirkan," kata Glenn Kenny di The New York Times, "Tapi saya rasa The Breadwinner patut dirayakan, sebagian karena karya ini bisa setara dengan reportase."

Lean on Pete

Sumber gambar, A24

Lean on Pete

Pada April lalu, The Rider, sebuah film tentang seorang pria dan kudanya dirilis dan dianggap sebagai salah satu film terbaik tahun ini.

Dan kini muncul Lean on Pete, satu lagi film soal persahabatan manusia dan kuda yang juga banyak dipuji.

Film ini dibintangi oleh Charlie Plummer, sebagai seorang anak yatim piatu yang melakukan perjalanan lintas kota agar dia dan kudanya bisa tetap bersama.

"Saat saya memikirkan soal karya Andrew Haigh (sutradara Lean on Pete), yang muncul adalah kata 'kelembutan'," tulis E Oliver Whitney dari Screencrush.

"(Film-film sebelumnya) Weekend dan 45 Years mendalami soal naik turun hubungan dengan cara yang sensitif. Meski Lean on Pete tak sedalam dua film tersebut, namun tetap saja film ini merupakan sebuah kisah yang mengesankan dari penceritaan yang halus."

"Pada akhirnya, mungkin Anda merasa terkeruk dan patah hati, tapi film ini juga memberi harapan agar semua orang tidak terus berhenti dan menyerah."

Mary and the Witch's Flower

Sumber gambar, Toho

Mary and the Witch's Flower

Jika Anda ingin melihat film anime yang merupakan gabungan antara Harry Potter dan Doctor Strange, Mary and the Witch's Flower adalah film yang tepat.

Karya debut dari Studio Ponoc, yang didirikan oleh mantan produser utama di Studio Ghibli, yang berhenti mengeluarkan karya baru beberapa tahun lalu, mengisahkan tentang seorang penyihir muda yang menghadapi kekuatan jahat yang besar.

"Bagi penyuka karya Studio Ghibli yang khawatir bahwa mereka tak lagi mengeluarkan kisah petualangan baru, terutama dengan gaya Miyazaki, film ini luar biasa," tulis Tasha Robinson di The Verge.

"Dan bagi mereka yang tidak familiar dengan Ghibli, tapi mencari film animasi yang indah, dan merupakan petualangan fantasi dengan tempo cepat, film ini juga mengagumkan."

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Ten Films to Watch in May pada laman BBC Culture