Benarkah Gen Z lebih pragmatis tentang cinta dan seks?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Jessica Klein
- Peranan, BBC Worklife
Generasi muda saat ini tak berkencan dan berhubungan seks dengan cara yang sama seperti yang dilakukan generasi-generasi sebelumnya. Apakah pendekatan mereka terhadap hubungan jadi lebih pragmatis?
"Apakah kamu siap berkeluarga?"
Ini adalah pertanyaan yang diajukan Kyung Mi Lee, mahasiswa Yale College, dalam sebuah artikel bertajuk Settling Down: Romance in the Era of Gen Z yang diterbitkan pada Februari 2020 di Yale Daily News.
Akankah dia dan teman-temannya mengikuti tren menunda pernikahan yang dilakukan generasi milenial?
Hampir dua tahun setelah menulis artikel itu, Lee merasa jawabannya adalah "Ya" - tapi untuk alasan yang berbeda dengan rekan-rekan milenialnya.
"Dalam imajinasi budaya saya [bagi milenial] menolak hubungan jangka panjang [berarti] berhubungan dengan banyak orang," ujar Lee yang kini berusia 23 tahun.
Dengan kata lain, dia merasa bahwa kaum milenial menunda untuk berkeluarga karena mereka sibuk dengan kehidupan lajang mereka.
Sementara, bagi Gen Z yang tumbuh setelahnya, Lee memperkirakan, "orang-orang menolak [hubungan jangka panjang] karena mereka lebih… introspeksi tentang jenis hubungan yang mereka inginkan".
Baca juga:
Kian banyak penelitian yang memvalidasi pendapat ini: Gen Z tampaknya mengambil pendekatan yang sangat pragmatis terhadap hubungan dibanding generasi sebelumnya, dan mereka tidak melakukan hubungan seks.
Mereka menyadari bahwa memiliki pasangan yang berbeda dalam waktu yang berbeda bisa memenuhi kebutuhan yang berbeda," kata Julie Arbit, SVP Global Insights di Vice Media Group.
Dalam penelitiannya, yang mengamati 500 responden dari Inggris dan AS - terdiri dari Gen Z dan milenial, termasuk beberapa Gen X yang dimaksudkan "untuk perbandingan".
Arbit menemukan hanya satu dari 10 kaum Gen Z mengatakan mereka "berkomitmen untuk berkomitmen dengan pasangan mereka".
'Tidak semua hubungan akan permanen'
Peneliti lain juga memiliki kesimpulan yang sama.
Menurut penelitian terhadap kaum Gen Z di India, misalnya, 66% responden menerima bahwa "tidak semua hubungan akan permanen", dengan 70% menolak "hubungan romantis yang membatasi".
Baik peneliti maupun anggota Gen Z mengaitkan hal ini dengan berbagai faktor.
Pertama, generasi ini memasuki masa dewasa di masa yang sangat renggang, ditandai dengan pandemi Covid-19, perubahan iklim yang kian memburuk dan kondisi finansial yang tidak stabil.

Sumber gambar, Getty Images
Banyak yang merasa mereka perlu mencapai stabilitas untuk diri mereka sendiri sebelum membawa orang lain ke dalam kehidupan mereka.
Juga karena semakin banyaknya informasi di dunia maya tentang hubungan dan apa yang mereka inginkan dari hubungan yang tidak membahayakan identitas dan kebutuhan mereka.
"Mereka terlalu fokus pada diri mereka sendiri," ujar Arbit, "dan itu bukan karena mereka egois."
"Mereka tahu bahwa mereka bertanggung jawab atas kesuksesan dan kebahagiaan mereka sendiri, dan mereka tahu bahwa mereka harus bisa mengurus diri sendiri, sebelum bisa mengurus orang lain," jelas Arbit kemudian.
Mencari stabilitas
"Pada tahun 1960-an dan 70-an, rata-rata pria berusia 25 tahun dapat menghidupi keluarga dengan penghasilannya dan tidak mengharapkan istrinya bekerja," kata Stephanie Coontz, direktur penelitian dan pendidikan publik Council on Contemporary Council.
Bagi banyak Gen Z, gagasan bahwa seseorang berusia 25 tahun dapat menghidupi seluruh keluarga, dan bahwa seorang pria akan mengharapkan istri yang tinggal di rumah, tidak lagi sesuai dengan kondisi kontemporer - dan, bagi sebagian orang, bahkan tampak menggelikan.
Alih-alih, Gen Z memprioritaskan pondasi finansial yang kuat sebagai individu, yang memperpanjang jalan menuju pernikahan, kata Arielle Kuperberg, profesor sosiologi di University of North Carolina di Greensboro, AS.
"Orang-orang membutuhkan waktu lebih lama untuk mapan karena mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai stabilitas keuangan."
Baca juga:
Lee dan teman-temannya sependapat.
Perempuan ini mengatakan berada dalam apa yang dia rasakan sebagai "generasi yang paling tidak aman, tidak stabil secara finansial dalam sejarah" berkontribusi pada hasrat mereka untuk mendapatkan "kemandirian finansial" sebelum mereka hidup mapan dengan pasangan jangka panjang.
Sebagai senior di kampus, Lee mengatakan dia dan teman-temannya lebih cenderung memprioritaskan karir mereka daripada hubungan, untuk mencapai level yang lebih stabil secara finansial.
"Jarang sekali saya punya teman yang bilang, 'Saya akan pindah ke tempat ini agar bisa bersama pasangan saya'," katanya.
Sebaliknya, mereka berfokus pada apa yang terbaik untuk karier mereka, dan bagaimana mereka dapat membuat hubungan sesuai dengan itu.
Penelitian Kuperberg tentang Gen Z berpadu dengan ini; dia menemukan bahwa generasi muda yang sedang dalam pergolakan membangun karir mereka, cenderung tidak melakukan kencan formal dibandingkan dengan milenium.
"Saya tidak berpikir itu [bahwa] mereka tidak ingin memiliki hubungan jangka panjang. Saya pikir itu karena mereka menundanya," ujarnya.
Baca juga:
Selain itu, Kuperberg telah menemukan ketidakstabilan saat ini di masa dewasa muda telah menyebabkan lebih banyak generasi muda pindah kembali ke rumah orang tua mereka karena tak mampu hidup sendiri di usia 20-an.
"Meningkatnya hubungan yang lebih kasual dan penurunan hubungan yang lebih serius… adalah karena lebih sulit untuk membentuk [yang terakhir]."
Belakangan ini pandemi Covid-19 yang memperparah tren kaum muda yang tidak bisa hidup mandiri.
Kuperberg mewawancarai seorang pria Gen Z pada musim semi 2020 yang pindah dari Washington, DC ke North Carolina untuk tinggal bersama orang tuanya tak lama setelah pandemi melanda negara itu.
Dia mengatakan kepada peneliti bahwa dia tidak akan berkencan lagi sampai dia pindah kembali ke DC.
Pencarian jati diri
Sebuah studi global Vice Media Group dari September 2020, Love After Lockdown, yang terdiri dari 45% responden Gen Z, menunjukkan 75% dari mereka saat ini masih lajang dan tidak berkencan selama pandemi.
Banyak yang melaporkan ini sebagian karena mereka ingin meluangkan waktu untuk mengenal diri mereka sendiri lebih baik sebelum mengejar suatu hubungan.
"Saya mulai berpikir tentang diri saya sendiri, apa yang ingin saya lakukan dan apa yang tidak ingin saya lakukan… dan itu mengajari saya banyak hal," kata seorang pria Gen Z anonim dari Italia, dikutip dalam survei tersebut.
Seorang perempuan Gen Z yang berbasis di AS menggemakan sentimen serupa: "Saya secara fisik jauh dari semua orang dan saya bisa mengambil langkah mundur dan berkata, 'Siapa saya?'"
Tentu saja, sikap ini mungkin lebih karena kurangnya pilihan selama lockdown, ketimbang kecenderungan Gen-Z untuk introspeksi.
Namun, anggota Gen Z dari seluruh dunia memiliki lebih banyak sumber daya untuk mengetahui siapa mereka, termasuk aplikasi media sosial seperti TikTok, di mana terapis mendiskusikan gaya keterikatan dan tip hubungan yang sehat telah menjadi hal biasa.

Sumber gambar, Getty Images
Lee, misalnya, mencatat dua adik perempuannya (masing-masing di tahun pertama dan kedua kuliah) telah mengembangkan bahasa yang mendalam untuk berbicara tentang hubungan melalui TikTok.
"Remaja berbicara tentang gaya keterikatan mereka dengan pasangan romantis dan seksual mereka, menggunakan bahasa seperti, 'Saya [memiliki] gaya keterikatan yang cemas,'" katanya.
Ini menandai pendekatan yang sangat sadar diri untuk berkencan yang memprioritaskan menemukan seseorang yang masuk akal bagi Anda, versus hanya seseorang yang Anda anggap menarik atau menawan.
Meskipun prioritas ini tentu saja tidak unik untuk Gen Z, generasi ini memiliki sumber daya yang mudah diakses untuk menemukan pasangan yang sesuai dengan mereka, dengan cara yang mungkin tidak dipikirkan oleh generasi yang lebih tua.
Binerisme gender
Sikap yang berkembang terhadap seksualitas dan peran gender juga merupakan faktor.
Di antara Gen Z, ada penurunan yang nyata dalam mengikuti binersime gender, dan peningkatan "orang yang ingin mengeksplorasi seksualitas mereka", kata Kuperberg.
Dalam penelitiannya, dia mencatat statistik yang menunjukkan sekitar 50% dari Gen Z mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual, dan banyak yang mengatakan mereka heterofleksibel".
Baca juga:
Keterbukaan terhadap berbagai jenis pasangan dan hubungan seksual ini mengingatkan pengamatan Arbit tentang Gen Z tidak selalu mencari "satu-satunya [orang bagi]" mereka, melainkan berbagai orang untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda, apakah kebutuhan ini romantis, seksual atau sesuatu yang lain sama sekali.
"Orang tua kami mungkin mencari seseorang dari agama yang sama atau pandangan politik yang sama," kata Arbit.
"Generasi ini mencari kejujuran dan gairah dan seseorang yang membuat mereka bersemangat untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari… dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, mereka terbuka untuk berkencan dengan berbagai jenis orang dan memberi orang kesempatan."
Sebuah tanda perubahan
Pendekatan holistik terhadap hubungan ini sangat berbeda dari pendekatan yang dianut oleh generasi yang jauh lebih tua.
Coontz, dari Council on Contemporary Families, mengatakan ketika dia mewawancarai orang-orang untuk bukunya tentang perempuan dan keluarga pada tahun 1960-an, dia bertanya kepada para perempuan mengapa mereka memutuskan untuk menikah.
"Mereka akan terlihat terkejut… dan berkata, 'Sudah waktunya' ", kenangnya.
"Dulu ada perasaan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang Anda lakukan untuk memasuki kehidupan dewasa… Sekarang sebaliknya."
Ini adalah tanda perubahan bagi Gen Z; sementara pernikahan dulunya adalah dianggap perjalanan menuju kedewasaan, hari ini, itu adalah tanda bahwa Anda telah mencapainya.
Masyarakat telah bergerak ke arah ini selama beberapa waktu, dengan setiap generasi menjadi lebih fleksibel dengan ide-idenya tentang keluarga tradisional dan pentingnya keluarga itu dalam kehidupan mereka.
Apakah Gen Z membentuk masyarakat dengan sikap ini, atau apakah masyarakat membentuk Gen Z, sulit untuk diuraikan.
Tentu saja, pola-pola ini tidak berlaku secara keseluruhan.
Di antara mahasiswa, Kuperberg menemukan bahwa ras, kelas, jenis kelamin, dan agama orang Gen Z dapat berperan dalam cara mereka berkencan dan mencari hubungan.
Baca juga:
"Orang kulit putih lebih mungkin untuk berhubungan. Orang kulit berwarna lebih mungkin untuk menjalin hubungan atau kencan [dengan cara] yang lebih formal," katanya.
Dia menambahkan bahwa mereka dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih tinggi lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seksual kasual dan membentuk hubungan jangka panjang daripada demografi lain - yang terakhir mungkin karena mereka "memiliki lebih banyak sumber daya" untuk memberi mereka stabilitas.
Sementara banyak tanda yang menunjukkan Gen Z menunda pernikahan atau hubungan permanen seperti generasi milenial sebelumnya, alasan mereka tampaknya semakin pragmatis.
Tentu, kaum milenial menunda pernikahan karena alasan praktis seperti takut akan perceraian (banyak yang tumbuh sebagai anak dari hasil perceraian) dan karena mereka tidak mampu secara finansial.
Tetapi Gen Z mewarisi dunia yang bisa dibilang lebih tidak pasti karena masalah yang melanda generasi milenial (seperti perubahan iklim) menjadi lebih akut dan masalah baru (seperti pandemi) muncul.
Ini mungkin membuat pembinaan stabilitas individu sebagai prioritas nomor satu bagi Gen Z, melebihi generasi sebelumnya.
"Kami bercanda tentang siapa yang akan menikah lebih dulu [di] kelompok teman kami," kata Lee.
"Adalah hal yang lucu ketika seseorang mau bertunangan di usia dua puluhan."
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Are Gen Z more pragmatic about love and sex?, bisa Anda simak di laman BBC Worklife.











