Kesetaraan gender dan problematika para ayah mengambil cuti kelahiran anak

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Josie Cox
- Peranan, BBC Worklife
Cuti kelahiran anak dengan banyak manfaat kini ditawarkan kepada lebih banyak kalangan daripada sebelumnya. Tapi mengapa hanya sedikit laki-laki yang mengambil cuti ini?
Pada musim panas 2018, Ricardo Duque akan memulai cuti kelahiran anaknya selama lima bulan dari firma arsitektur tempat dia bekerja di London, Inggris.
Namun kemudian neneknya di Portugal selatan mengalami kasus pneumonia yang parah.
Istri Duque, yang berkebangsaan India, baru saja kembali bekerja di Samsung, setelah tujuh bulan cuti hamil.
"Saya hampir tidak bisa menghabiskan waktu sendirian dengan putri kami," kenang laki-laki berusia 42 tahun itu.
"Tapi saya tidak punya pilihan. Saya membawanya ke Portugal. Saya menghabiskan beberapa minggu berikutnya merawat bayi mungil dan nenek saya, dengan sedikit bantuan dari orang lain."
Sejak Duque mengetahui istrinya mengandung, dia ingin mengambil cuti kelahiran melahirkan dalam jumlah besar. Itu didukung istrinya.
Meskipun khawatir akan mendapatkan penilaian tertentu dari rekan kerja dan manajer, setelah memberi tahu mereka tentang rencananya itu, cuti tersebut sangat bermanfaat bagi Duque.
Padahal Duque tidak memulai masa cutinya persis seperti yang dia bayangkan.
"Waktu yang kami habiskan bersama sangat berharga dan saya tidak akan menggadaikannya untuk hal lain. Kami sekarang memiliki ikatan khusus," ujarnya.
Namun, di seluruh Inggris, Amerika Serikat, dan banyak bagian dunia lainnya, jumlah ayah seperti Duque yang mengambil cuti kelahiran anak sangat sedikit.
Jumlah negara yang menjamin cuti kelahiran untuk ayah telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 90 dalam 20 tahun terakhir.
Secara global, setidaknya empat dari setiap 10 organisasi diperkirakan memberikan cuti berbayar di atas minimum undang-undang. Namun, proporsi laki-laki yang mengambil cuti lebih dari beberapa hari kerja ketika anak mereka lahir sangat kecil.
Sebagian besar mengaku khawatir didiskriminasi secara profesional, kehilangan kenaikan gaji dan promosi, dipinggirkan atau bahkan diejek. Ini alasan mereka untuk tidak mengambil cuti.
Para akademisi menganggap kekhawatiran ini sebagai efek dari stereotip yang mendarah daging dan sangat merusak seputar gender.
Mereka berkata bahwa perubahan ini akan membutuhkan pergeseran budaya yang signifikan serta ketentuan kelembagaan yang lebih baik dari cuti paternitas berbayar.
Stereotip yang mendarah daging
Thekla Morgenroth, seorang peneliti di lembaga Social and Organisational Psychology di University of Exeter, Inggris, mengatakan bahwa stereotip gender bertahan walau peran gender di tempat kerja telah berubah secara substansial dalam beberapa dekade terakhir.
Ini ditandai dengan jumlah perempuan yang masuk dan bertahan dalam pekerjaan jauh lebih tinggi.
"Perempuan tidak lagi dipandang kurang kompeten dibandingkan laki-laki tapi perempuan terus dipandang lebih komunal-hangat, pengasuh dan peduli- daripada laki-laki. Pada gilirannya, perempuan dianggap lebih cocok untuk peran yang membutuhkan atribut ini seperti pengasuhan anak," kata Morgenroth.
"Laki-laki, di sisi lain, terus sebagai pemimpin, pengambil keputusan, tegas, dan kompetitif," ucapnya.
Pandangan ini, kata Morgenroth, dapat mempengaruhi keputusan mengenai cuti orang tua dalam banyak cara.
"Pertama, perempuan dan laki-laki dapat menginternalisasi stereotip ini, yang berarti bahwa laki-laki mungkin berpikir bahwa mereka tidak terlalu komunal dan karenanya tidak akan pandai merawat bayi.
"Pasangan mereka tentu saja mungkin juga mendukung stereotip gender dan mencegah pasangan laki-laki mengambil cuti sebagai orang tua karena mereka tidak berpikir mereka mampu," kata Morgenroth.
Faktor kuncinya adalah bahwa stereotip gender tidak hanya deskriptif tetapi juga preskriptif. Artinya, stereotip memberi isyarat seperti apa seharusnya perempuan dan laki-laki bertindak, termasuk gagasan bahwa laki-laki harus memprioritaskan pekerjaan daripada keluarga.
"Laki-laki yang mengambil cuti kelahiran anak dapat menghadapi serangan balik dan dianggap lemah, kurang komitmen kerja dan sebagainya, yang dapat mengakibatkan konsekuensi di tempat kerja seperti diturunkan pangkat atau tidak dianggap serius," ujar Morgenroth.
"Laki-laki tentu saja sadar akan konsekuensi potensial ini dan ini pasti dapat berkontribusi pada mereka memutuskan untuk tidak mengambil cuti, bahkan jika itu ditawarkan," tuturnya.
Tidak ada panutan
Komunikasi adalah faktor utama yang dilihat sebagai penghalang tak terlihat lainnya bagi laki-laki yang mengambil cuti yang menjadi hak mereka. Ini dikatakan Sarah Forbes, dosen dan peneliti akademis di Birmingham University Business School, Inggris.
Pada tahun 2015, Inggris menerapkan kebijakan cuti orang tua bersama yang memungkinkan orang tua yang memenuhi syarat untuk membagi cuti hingga 50 minggu dan gaji hingga 37 minggu di antara mereka.
Namun penelitian pada tahun 2018 menunjukkan bahwa dari lebih dari 900.000 orang tua Inggris yang memenuhi syarat untuk memanfaatkan kebijakan tahun itu, hanya 9.200 orang tua (sekitar 1%) yang melakukannya.

Sumber gambar, Getty Images
Ricardo Duque mengatakan bahwa ini terjadi salah satunya karena para ayah tidak mengetahui hak-hak mereka. "Ketika saya mengambil cuti, saya terkejut melihat betapa sedikit ayah lain yang tahu apa yang menjadi hak mereka," katanya.
Forbes percaya bahwa penting untuk memiliki "ayah pejuang" di perusahaan, di berbagai bagian dan departemen untuk menginspirasi para ayah untuk mengambil cuti dan juga meningkatkan pengetahuan mereka tentang ketentuan cuti.
"Dan jika manajer memiliki pengetahuan tentang penawaran seputar cuti ayah dan cuti orang tua bersama, ini akan membuat orang tua lebih menyadari apa yang menjadi hak mereka.," kata Forbes.
Thekla Morgenroth juga menganggap panutan sebagai hal yang sangat penting. "Jika laki-laki lain mengambil cuti orang tua di perusahaan tertentu, itu menunjukkan bahwa mengambil cuti orang tua adalah hal yang wajar dan dapat dilakukan oleh laki-laki," ujarnya.
"Efek ini kemungkinan besar terlihat ketika pria dalam posisi kepemimpinan mengambil cuti sebagai orang tua, karena mereka dapat bertindaksebagai panutan dan menunjukkan bahwa Anda bisa sukses bahkan jika Anda mengambil cuti sebagai orang tua."
Sayangnya, bagaimanapun, ada bukti bahwa justru orang-orang ini, orang-orang di eselon tertinggi, yang cenderung mengambil cuti kelahiran paling sedikit.
Penelitian yang dilakukan di Jerman, Austria, dan Swiss pada tahun 2017 menunjukkan bahwa ayah tanpa tanggung jawab kepemimpinan jauh lebih mungkin untuk mengambil cuti sesuai rencana daripada rekan-rekan mereka yang menjadi manajer.
Lebih banyak tanggung jawab, menurut para peneliti, disamakan dengan tekanan yang dirasakan lebih besar untuk hadir di tempat kerja.
"Itu perlu diubah," kata Morgenroth.
"Tentu saja bagus jika perusahaan menawarkan cuti berbayar yang ekstensif untuk ayah. Mereka benar-benar harus melakukannya, tapi selama para pemimpin tidak menunjukkan bahwa laki-laki tidak akan dihukum karena menggunakan kebijakan semacam itu, tidak banyak yang akan berubah."
Norma yang tidak diucapkan
Pakar tempat kerja memperingatkan bahwa ketidakpastian besar yang diciptakan pandemi Covid-19, khususnya kecemasan seputar keamanan kerja, mungkin akan memperburuk kekhawatiran pekerja yang hendak mengambil cuti.
Dalam satu survei terhadap lebih dari 500 ayah di AS, yang dilakukan pada akhir Mei lalu, sekitar dua pertiga responden mengakui bahwa ada aturan tak tertulis bahwa laki-laki di pekerjaan mereka tidak boleh mengambil cuti ayah secara penuh. Mengambil cuti sesedikit mungkin dianggap sebuah kehormatan.
Sekitar 90% responden menyebut bahwa perusahaan mereka menawarkan cuti kelahiran kurang dari 12 minggu.
Namun hampir dua pertiga dari mereka berkata bahwa mereka berencana untuk mengambil kurang dari setengahnya.
Adapun 58% responden mengaku bahwa mereka takut mengambil cuti. Bahkan cuti enam minggu dianggap akan membuat karir mereka mundur ke belakang.

Sumber gambar, Getty Images
Di AS, meskipun masing-masing perusahaan menawarkan cuti kelahiran untuk pegawai laki-laki, secara hukum mereka tidak berhak mendapatkan cuti orang tua dengan tetap menerima gaji.
Faktanya, AS adalah salah satu dari segelintir negara yang tidak menerapkan cuti dengan upah untuk ibu melahirkan.
Presiden AS, Joe Biden, memasukkan ketentuan yang diperluas dalam program Rencana Keluarga Amerika yang dia susun, tapi sama sekali tidak jelas apakah undang-undang itu akhirnya akan disahkan.
Dalam beberapa bulan terakhir, tanggung jawab merawat anak menyebabkan jutaan perempuanmeninggalkan pekerjaan.
Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di AS, misalnya, merosot ke level terendah sejak tahun 1988. Norma gender tampaknya semakin mengakar akibat pandemi, dan ketidakstabilan ekonomi. Ini berpotensi mempersulit ayah yang ingin mengambil cuti untuk merawat anak mereka.
Kelebihan yang tidak dihargai
Banyak akademisi mengatakan yang sangat membuat frustrasi tentang rendahnya pengambilan cuti kelahiran oleh pegawai laki-laki, baik di AS atau di tempat lain, adalah potensi untuk mengurangi kesenjangan upah gender.
"Ketidaksetaraan gender akan terus berlanjut di tempat kerja selama pengasuhan anak di tahun-tahun awal terutama dilihat sebagai pekerjaan perempuan," kata Emma Banister, profesor dariWork and Equalities Institute di University of Manchester.
"Kerangka kebijakan saat ini tidak cukup untuk menantang ini."
Sejumlah penelitian menyoroti keuntungan penting lainnya dari ayah yang mengambil cuti. Sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2019 menunjukkan, bahkan sembilan tahun kemudian, anak-anak yang ayahnya mengambil setidaknya dua minggu cuti ayah setelah mereka lahir dilaporkan merasa lebih dekat dengan ayah mereka daripada anak-anak dengan ayah yang tidak mengambil cuti.
Dalam makalah terpisah, akademisi menemukan bahwa untuk pasangan menikah heteroseksual, ayah yang mengambil cuti ayah setelah kelahiran anak juga dapat menyebabkan risiko perceraian turun hingga enam tahun setelah kelahiran.
Beberapa negara telah membuat kemajuan dalam hal laki-laki mengambil lebih banyak cuti orangtua. Swedia menawarkan kepada orang tua 480 hari cuti orang tua berbayar per anak yang berhak mereka bagikan.
Setiap orangtua dapat mentransfer sebagian dari cuti mereka ke yang lain, tetapi 90 hari harus disediakan khusus untuk setiap orangtua.
Dari tahun 2008 hingga 2017, sebagai insentif bagi ayah untuk mengambil lebih banyak waktu istirahat, keluarga berhak atas bonus uang yang ditentukan oleh jumlah hari yang dibagi rata antara orang tua.
Kebijakan tersebut tampaknya berhasil. Satu studi pada tahun 2019 menunjukkan bahwa sekitar 90% ayah Swedia yang memenuhi syarat mengklaim cuti ayah dan rata-rata, mereka mengambil 96% dari jumlah total waktu cuti yang diberikan kepada mereka.
Swedia juga unggul di antara negara-negara maju dalam hal partisipasi pasar tenaga kerja perempuan.
Mendukung masyarakat yang lebih setara
Dengan tidak adanya undang-undang yang komprehensif semacam ini, bagaimanapun, Banister percaya bahwa pengusaha harus mengurangi hambatan pegawai laki-laki untuk mengambil cuti orang tua. Caranya dengan menormalkan karyawan yang mengambil cuti selama tahun pertama kelahiran atau adopsi anak mereka, terlepas dari jenis kelamin atau orientasi seksual karyawan.
Ada pertimbangan yang lebih spesifik juga, katanya, seperti waktu cuti.
Cuti orang tua yang disubsidi perusahaan, jika ditawarkan, sering kali terbatas pada beberapa bulan pertama. Ketika mungkin lebih cocok bagi orang tua untuk ibu berada di rumah, terutama jika dia sedang menyusui.
Jika pemberi kerja memberi semua orangtua gaji yang layak untuk jangka waktu tertentu, terlepas dari kapan mereka mengambilnya (dan di samping periode cuti ayah yang dibayar penuh sekitar waktu kelahiran), ini akan memberi orangtua lebih banyak fleksibilitas.
Tapi idealnya, kata Banister, cuti untuk ayah dan dukungan finansial untuk cuti itu harus menjadi tanggung jawab negara, karena menempatkan tanggung jawab pada majikan, seperti yang terjadi di AS, dapat mengarah pada "sistem dua tingkat" di mana hanya sektor-sektor tertentu menawarkan cuti bagi pegawai laki-laki yang memiliki anak.
Pada akhirnya, tampaknya, menghilangkan hambatan yang menghalangi ayah untuk mengambil cuti dimulai dengan penyediaan yang memadai, dikomunikasikan dengan baik, yang kemudian dapat mulai mengurangi stereotip gender dan mengarusutamakan praktik tersebut.
"Pemerintah harus menawarkan paket minimum yang sesuai yang mendorong perilaku yang mendukung masyarakat yang lebih setara gender," kata Banister.
---
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Worklife.










