Apa kunci keberhasilan perusahaan? 'Pegawai yang bahagia', kata pakar

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Gauri Kohli
- Peranan, BBC Worklife
Ketika karantina wilayah diterapkan di India, seorang karyawati bernama Rajat Setia yang tinggal di New Delhi stres karena harus bekerja di rumah sambil mengasuh anak.
"Ada banyak kejadian saat putri saya meminta perhatian lebih dari saya atau ketika saya harus membagi waktu di tengah-tengah panggilan pekerjaan," ujarnya.
Namun perempuan berusia 31 tahun yang bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan teknologi itu beruntung.
Perusahaannya, PeopleStrong, menyediakan jasa konsultasi untuk perusahaan lain tentang bagaimana mengelola kebahagiaan pegawai.
Di masa pandemi Covid-19 ini, perusahaan tempat Setia bekerja mendapat peluang untuk membuktikan seluruh anjuran yang biasa mereka jual.
PeopleStrong menggunakan survei dan pertemuan dengan pimpinan perusahaan untuk mengukur kebahagiaan pegawai secara umum. Konsultan itu juga memanfaatkan medium interaktif seperti chatbot.
PeopleStrong kemudian mengambil langkah terukur untuk membantu pegawai yang mengalami tekanan.
Bagi Setia, cara kerja PeopleStrong itu memungkinkannya memberitahu atasannya bahwa ia cemas akan melewatkan rapat penting karena terganjal kewajiban mengurus anak.
Begitu Setia mengungkapkan kekhawatirannya itu, dia menyebut koleganya berupaya besar untuk terus memantau dan menormalisasi tekanannya.
"Kerap kali, setiap kolega kantor mendengar suara putri saya selama rapat virtual, saya dibuat merasa nyaman bahwa keadaan itu normal dan bahwa saya tidak perlu merasa malu," tuturnya.
"Pendekatan itu menghilangkan keraguan dan stres saya," kata Setia.

Sumber gambar, AFP
Perusahaan India biasanya menerapkan hierarki, berupa struktur manajemen dari atas ke bawah. Mereka jarang menerapkan kebijakan 'pintu terbuka' yang memungkinkan pegawai membicarakan masalah dengan atasan.
Namun, bahkan sebelum pandemi Covid-19, beberapa perusahaan mulai menyadari bahwa pegawai yang memiliki kepuasan batin dan hubungan erat dengan perusahaan berdampak positif pada profit.
Sebuah penelitian menunjukkan, pekerja yang bahagia 13% lebih produktif.
Tenaga kerja di India saat ini mengalami pergeseran generasi yang masif. Lebih dari 64% pekerja di negara itu diperkirakan berusia antara 20-35 pada tahun 2021.
Muda-mudi India itu disebut lebih optimis ketimbang generasi muda seumuran mereka di banyak negara lain.
Namun banyak dari mereka merasakan tekanan berat, dari tenggat waktu kerja, tidak adanya jaminan karier di masa depan hingga target kinerja yang tinggi.
Walau para pekerja muda di India itu menjalani jam kerja yang panjang, banyak dari mereka tidak sekedar mendambakan gaji yang baik.
Oleh karena pekerja muda memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih luas daripada generasi orang tua mereka, perusahaan mesti memutar otak untuk mendapatkan loyalitas mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa perusahaan kini menyadari pentingnya menjaga kebahagiaan karyawan, demi keuntungan masing-masing pihak. Konsekuensinya, perusahaan mulai berupaya memahami kebutuhan dan kekhawatiran pegawai secara lebih baik.
Tren ini menciptakan peluang bagi perusahaan yang menawarkan jasa analisis suasana hati pegawai berbasis kecerdasan buatan, psikologi perilaku, dan data.
Berbekal hasil kajian itu, pemberi kerja akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mempertahankan bakat terbaik dan mengelola keluar-masuk pegawai.
Teknologi sedang bekerja
Perusahaan yang mulai menyadari tren ini adalah perusahaan media bernama India House of Cheer.
Bekerja sama dengan perusahaan asal Inggris yang berfokus pada wawasan manusia, The Happiness Index, mereka meluncurkan Happyness.me, sebuah alat penganalisis pikiran dan emosi pegawai.
Salah satu pimpinan House of Cheer, Namrata Tata, menyebut klien mereka menerima "audit kebahagiaan" berdasarkan survei yang diisi pegawai.
Klien mereka dapat menerima keseluruhan laporan tentang kebahagiaan kolektif karyawan dan "kecerdasan kebahagiaan". Dua hal tadi tadi diukur melalui penilaian yang berkelanjutan.
Penilaian ini diambil menggunakan metode survei terbuka yang memungkinkan pegawai memberikan masukkan selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Survei itu menggunakan 'word cloud' atau metode menampilkan data teks secara visual. Kajian itu juga menelisik panjang dan volume komentar dari pegawai tertentu.
Data ini diringkas dalam waktu nyata melalui dasbor sederhana yang membantu manajemen memahami suasana hati pegawai.
Namun survei ini tidak cukup untuk menilai kompleksitas emosi manusia. Pada titik itulah percakapan, termasuk yang dilakukan secara digital, dapat melengkapi penelitian tersebut.
Amber, teknologi yang dikembangkan untuk berbincang secara virtual dengan basis kecerdasan buatan diproduksi oleh perusahaan asal India, inFeedo. Robot ini memiliki mesin yang dapat menganalisis ekspresi dan nada bicara untuk menentukan keadaan emosional pegawai.

Sumber gambar, Getty Images
Alat seperti Amber secara teratur masuk dalam aktivitas pekerja. Namun pegawai dibebaskan untuk merespons atau mengabaikan berbagai pertanyaan yang diberikan kepada mereka. Tak ada hukuman untuk mereka yang tidak ambil bagian.
Pertanyaan yang diajukan alat seperti Amber berbeda di setiap perusahaan. Topiknya berkisar tentang kepuasan staf di kantor, jadwal kerja, hingga hubungan dengan atasan dan kolega.
Perusahaan pakaian olahraga Puma, misalnya, berinisiatif menciptakan budaya komunikasi yang berkelanjutan di tempat kerja. Mereka memanfaatkan survei dan teknologi obrolan virtual.
"Saat pegawai merasa didengarkan, kami sebenarnya membangun kepercayaan dan transparansi. Itu berdampak langsung pada keterlibatan pegawai dan persentase staf yang mengundurkan diri," kata manajer Puma untuk India dan kawasan Asia Tenggara, Abhishek Ganguly.
Dan ternyata bukan hanya perusahaan multinasional yang sudah menyadari hal itu. Myntra, sebuah perusahaan pakaian daring di kota Bangalore, India, menggunakan kombinasi survei yang dilakukan dua kali setahun dan analisis data ekstensif atas berbagai tanggapan pegawai kepada mesin obrolan virtual.
"Pendekatan ini mengidentifikasi pegawai yang tidak bahagia dan yang membutuhkan lebih banyak perhatian. Cara ini juga membantu perusahaan mencegah gesekan," kata Sneha Arora dari Myntra.
Bantuan atau hambatan?
Namun, bahkan ketika para pemberi kerja menyadari manfaat dari kebahagiaan pekerja, kini muncul kekhawatiran bahwa pengumpulan data yang ekstensif rentan memunculkan pertanyaan menyangkut privasi.
Di sisi lain, pegawai merasa terlalu banyak berbagi atau menyuarakan masalah dapat merusak hubungan dengan kolega dan atasan.
Menurut survei perusahaan asal Amerika Serikat yang berfokus pada kesejahteraan pekerja, Limeade, sekitar 47% staf yang mengungkapkan masalah kesehatan mental di tempat kerja justru mendapatkan konsekuensi negatif.

Sumber gambar, Getty Images
Mengumpulkan informasi secara anonim dapat melindungi karyawan dari serangan balik apa pun.
Akan tetapi, ini bukan solusi tepat karena metode itu hanya menangkap sentimen di dalam organisasi dan tidak menangani masalah di tingkat pegawai.
Kartik Poddar, pimpinan eksekutif urusan bisnis di perusahaan AI Haptik, juga berpendapat bahwa teknologi canggih tetap tidak bisa menggantikan sentuhan manusia.
"Beberapa perusahaan menasihati pegawai lewat mesin obrolan virutal, tapi teknologi itu terbatas dan tidak dapat benar-benar memahami nuansa kebahagiaan karyawan," katanya.
"Untuk urusan memahami emosi dan kebahagiaan manusia, teknologi tidak setara dengan manusia," kata Poddar.

Sumber gambar, Getty Images
Namun Prakash Rao, pimpinan urusan kepuasan pegawai dan pelanggan di PeopleStrong, yakin bahwa teknologi dapat berperan penting di kalangan pegawai yang menyuarakan masalah kantor secara berhati-hati.
"Kecerdasan buatan dan mesin obrolan virtual dapat mengidentifikasi pola dan tren perilaku karyawan, sekaligus memberi sinyal kepada manajer dan karyawan bidang personalia untuk memulai percakapan," katanya.
Rao berkata, teknologi itu dapat menyorot pegawai yang sangat jarang mengambil cuti, mengundurkan diri, dan tidak ikut serta dalam acara perayaan di tempat kerja.
Rao menilai, otomatisasi pengumpulan data seperti ini juga lebih efektif ketimbang departemen personalia.
Saat ini, baik perusahaan maupun karyawan sedang melalui masa-masa terberat karena pandemi. Para ahli memperkirakan dampak psikologis Covid-19 akan signifikan.
Untuk negara seperti India, yang diperkirakan hampir 200 juta warganya menderita masalah kesehatan mental, situasi seperti saat ini menjadi perhatian khusus.
Mimansa Singh Tanwar, psikolog klinis di Delhi, mengatakan banyak karyawan mengalami kelelahan mental selama karantina wilayah.
"Fokus pada kesehatan mental dan emosional di tempat kerja masih sangat membutuhkan banyak dorongan," katanya.
Memelihara kesejahteraan karyawan akan menjadi kunci mengembalikan perusahaan ke jalur yang menguntungkan.
Dalam jangka panjang, ini juga akan menjadi pertanda baik untuk perusahaan penyedia jasa konsultasi kebahagiaan pekerja.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul Why happiness at work could be big business in India di BBC Worklife.











