Memulai usaha dengan teman sendiri: untung atau rugi?

Sumber gambar, New Craft House
- Penulis, Celia Jones
- Peranan, BBC Worklife
Peter Reinhardt, CEO Segmen, perusahaan teknologi yang berbasis di San Francisco, bertemu dengan salah satu rekan pendirinya di sekolah menengah.
Mereka berdua lalu bergabung dengan dua mahasiswa lainnya di Massachusetts Institute of Technology, dan kompak berhenti kuliah untuk mengejar impian berwirausaha. Mereka pindah ke sebuah rumah di Silicon Valley pada tahun 2011 dan mendapatkan modal yang signifikan dari program inkubator.
Baca juga:
Satu setengah tahun pertama terasa "gelap", menurut Reinhardt. "Kami membakar setengah juta dolar," kata dia. Dua ide bisnis pertama mereka gagal. Reinhard berusaha membuat semua orang termotivasi dengan menghindari apa pun yang dianggap negatif oleh teman-temannya. Kondisi ini menciptakan gesekan.
Ide ketiga mereka adalah platform data pelanggan yang sekarang digunakan oleh perusahaan seperti Deliveroo dan Levi's. Ketika ide ini pertama kali menunjukkan tanda-tanda kesuksesan, Reinhardt ingat dia merasa gembira dan kelelahan.
"Saya menyadari bahwa secara intelektual saya tidak jujur," katanya. "Saya sangat ingin membuat tim bersemangat soal apa yang kami kerjakan. Saya tidak pernah ingin menyampaikan kabar buruk."
Pengalaman Reinhard mencerminkan kesulitan dan keuntungan memulai perusahaan dengan teman-teman. Contoh terkenal dari mereka yang telah berhasil sudah banyak: Ben Cohen dan Jerry Greenfield, teman sekolah kelas tujuh yang membuat es krim terkenal; pendiri Airbnb, Microsoft dan Hewlett-Packard.
Namun, kisah sukses ini mengaburkan sisi lainnya: bahwa banyak bisnis yang didirikan bersama teman, tidak bisa bertahan.
Dalam The Founder's Dilemmas, Noam Wasserman yang saat itu menjadi profesor di Harvard Business School mempelajari 10.000 start up teknologi dan sains kehidupan. 40 persennya didirikan bersama teman.
Penelitiannya yang diterbitkan pada tahun 2012 ini menunjukkan bahwa perusahaan yang didirikan bersama teman cenderung tidak berhasil. Setiap hubungan sosial dalam tim pendiri meningkatkan 30% kemungkinan seorang pendiri keluar dari perusahaan.
Di tengah resesi global terdalam dalam beberapa tahun, saat ini orang Amerika memulai bisnis baru dengan kecepatan tercepat dalam lebih dari satu dekade, menurut data Biro Sensus AS.
Tren serupa juga terjadi di Inggris. Banyak di antaranya didirikan oleh orang-orang yang sudah memiliki hubungan sebelumnya. Satu dari lima perusahaan rintisan akan gagal dalam satu tahun dan hanya setengah yang bisa bertahan hingga lima tahun. Bagaimana pengusaha pemula ini memastikan persahabatan mereka menjadi alat yang positif untuk membangun bisnis, dan bukan menjadi sesuatu yang justru menghancurkannya?
Kenali satu sama lain
Wasserman, sekarang Dekan Sy Syms School of Business Universitas Yeshiva, mengatakan bahwa ketika memulai perusahaan, rasanya nyaman jika ada wajah yang dikenal. Namun mendirikan usaha dengan teman seperti bermain api: "Bisa membentuk tim dan hubungan yang lebih kuat, atau menghancurkannya."

Sumber gambar, Getty Images
Penelitiannya menunjukkan bahwa struktur paling stabil untuk memulai sebuah perusahaan sebenarnya adalah sekelompok orang asing, bukan rekan kerja, keluarga atau teman.
Itu karena orang asing punya lebih sedikit harapan satu sama lain. Tidak ada kekhawatiran tentang membahayakan persahabatan saat mengungkapkan kesalahan atau masalah.
Perusahaan yang dibuat oleh teman, katanya, lebih mungkin gagal alasan ketergantungan, terkait dengan orang yang terlalu percaya diri dan kurang siap.
"Ketika bersama teman, kita meyakini punya tim yang kuat," kata Wasserman.
Namun teman sering kali tidak mengenal satu sama lain secara profesional, dan tidak mencobanya terlebih dahulu.
"Kita berasumsi bahwa kita mengenal satu sama lain, tetapi apakah Anda pernah melihat sahabat Anda dalam konteks pekerjaan dan tahu bagaimana dia bekerja?" kata Wasserman.
Dia menyarankan para wirausahawan untuk mengenali calon partner demi pencegahan masalah dan harus benar-benar yakin sebelum mengambil risiko.
Sir Cary Cooper, psikolog bisnis di University of Manchester, menyadari dinamika unik dalam mendirikan toko dengan seorang teman. Dia mendirikan firma psikologi kerja Robertson Cooper dengan sesama profesor pada tahun 1998.
Keduanya saling mengenal baik secara profesional maupun pribadi, sehingga ada lebih sedikit yang tidak diketahui tentang kemampuan dan gaya kerja. Kunci dari kemitraan yang sukses, katanya, adalah "mendengarkan, berbicara dan mendiskusikan kesalahan".
Namun jika ada yang salah, membahas topik yang sulit bisa jadi berat. Wasserman menjelaskan bahwa ada kecenderungan untuk menghindar dari percakapan yang tak menyenangkan karena takut merusak hubungan pertemanan. Implikasi mengerikan: "Karena hal buruk dan skenario menghindarinya tidak dibicarakan, kemungkinan terjadinya justru meningkat."
Hamish Grierson, CEO perusahaan teknologi kesehatan yang berbasis di London, Thriva, setuju bahwa percakapan yang tak enak perlu dilakukan.
Merek gaya hidup yang dia dirikan dengan seorang teman tidak berhasil, dan sebagian penyebabnya adalah hubungan pertemanan itu. Mereka tidak meminta pertanggungjawaban satu sama lain.
"Kami menghabiskan terlalu banyak waktu untuk meningkatkan produk kami daripada mengidentifikasi apakah ada yang menginginkan hal yang kami buat itu."
Wasserman percaya bahwa sangat penting untuk membangun "pembatas" persahabatan untuk menghindari kesalahan semacam ini. Itu bisa berupa tindakan struktural, misalnya sesama teman tidak bisa saling menilai kinerja, atau penunjukan mentor yang dapat menengahi diskusi atau mengidentifikasi percakapan yang sengaja dihindari.
Berbagi prioritas
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, Gabrielle Adams, psikolog sosial di Universitas Virginia dan seorang ahli dalam dinamika antarpribadi, percaya bahwa berbisnis dengan seseorang yang sudah dikenal baik memiliki keuntungan.
"Teman yang baik tahu bagaimana menyelesaikan konflik, dan keakraban bisa berarti tak perlu banyak waktu untuk memahami nuansa komunikasi, seperti bagaimana berkomunikasi atau tak perlu menebak-nebak maksud reaksi tertentu."
Dia mengatakan bahwa sesama teman yang sukses mendirikan perusahaan bersamamemiliki dua kesamaan utama. "Mereka memiliki saluran komunikasi yang solid dan terbuka, dan punya prioritas bersama yang disepakati secara eksplisit."
Itulah yang terjadi pada Hannah Silvani dan Rosie Scott, duo di balik toko kain The New Craft House, yang pertama kali bertemu saat remaja di Jerman hampir 20 tahun lalu.
"Kebanyakan orang berbicara tentang pekerjaan dan menghindari bos mereka, yang jelas tidak mungkin dilakukan dalam persahabatan dan kemitraan bisnis yang setara," kata Silvani.
"Kami menemukan cara terbaik untuk mengatasinya dengan teratur menilai semua aspek perusahaan untuk memastikannya berjalan ke arah yang benar, termasuk menilai satu sama lain."
Dia tidak dapat membayangkan menjalankan bisnis dengan siapa pun kecuali teman dekat. "Jauh lebih menyenangkan melihat bisnis tumbuh bersama orang yang sangat Anda sukai."
Faktanya, ikatan itulah yang membuat kita bertahan di masa-masa sulit. Peneliti dari Cass Business School London dan Wharton School of the University of Pennsylvania meneliti bagaimana persahabatan antara para pendiri berdampak pada perilaku ketika keuangan perusahaan mulai goyang.
Mereka menemukan bahwa start-up yang didirikan oleh orang-orang dengan persahabatan yang kuat lebih mungkin bertahan jika sebuah usaha dalam kesulitan. Para pendiri meningkatkan komitmen keuangan mereka dan tidak menghentikannya.
Penelitian mereka menunjukkan bahwa persahabatan dapat menumbuhkan harapan kewirausahaan dalam menghadapi ketidakpastian (meskipun mereka tidak mengecek apakah harapan itu pada akhirnya mengarah pada kesuksesan).
Merefleksikan pengalamannya mendirikan Segmen, yang baru-baru ini diakuisisi oleh Twilio dengan valuasi $3,2 miliar, CEO Peter Reinhardt mengatakan: "Pada masa-masa awal, kami sering tergoda visi besar satu sama lain tentang cara bagaimana dunia seharusnya. Tapi kami belajar bahwa dunia tidak peduli dengan visi Anda. Itu hanya masalah yang perlu diselesaikan.
"Hanya setelah kami merasa nyaman untuk benar-benar jujur satu sama lain dan pada diri kami sendiri, perusahaan mulai lepas landas."
Anda dapat membaca versi asli artikel ini di BBC Worklife dengan judul Should you start a company with your friend










