'The Batman effect': Menciptakan kepribadian kedua bisa memberdayakan Anda

Batman

Sumber gambar, Warner Bros

Bagaimana bintang-bintang top dunia bisa merasa tenang dan percaya diri untuk berdiri di atas panggung, tanpa kelihatan gugup dan takut akan tampil buruk? Bagi Beyoncé dan Adele, rahasianya adalah menciptakan alter ego.

Beyoncé adalah 'Sasha Fierce' yang tegas dan berdaya. 'Kepribadian kedua' itu memungkinkannya untuk tampil dengan kepercayaan diri dan sensualitas ekstra.

"Biasanya ketika saya mulai mendengar musik, ketika saya mengenakan stiletto, tepat pada momen sebelum saya merasa gugup... Sasha Fierce muncul, dan postur tubuh saya dan cara saya berbicara dan semuanya menjadi lain," katanya kepada Oprah Winfrey pada tahun 2008.

Strategi itu terus ia gunakan sampai 2010, ketika ia merasa telah cukup matang untuk tampil tanpa trik psikologis.

Terinspirasi oleh pertemuan emosional dengan Beyoncé, Adele mengikuti strateginya. Ia mengatakan kepada majalah Rolling Stone pada tahun 2011 tentang 'Sasha Carter'. Persona ini adalah kombinasi dari persona Sasha Fierce Beyoncé dan bintang musik country June Carter.

Adele mengatakan strategi itu membantunya memberikan penampilan terbaik dalam tahun-tahun awal kariernya.

Meskipun mengadopsi persona fiksi mungkin terdengar seperti gimik bagi bintang pop, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mungkin strategi ini memberikan beberapa manfaat psikologis yang nyata.

Mengadopsi alter ego adalah bentuk ekstrim dari 'penjarakan diri', yakni upaya menjauhkan diri dari perasaan kita untuk melihat suatu situasi secara berjarak.

"Self-distancing memberi kita sedikit ruang ekstra untuk berpikir secara rasional tentang suatu situasi," kata Rachel White, asisten profesor psikologi di Hamilton College, New York State.

Langkah ini memungkinkan kita untuk mengendalikan perasaan yang tidak diinginkan seperti kecemasan, membuat kita lebih tekun dalam mengerjakan tugas-tugas yang menantang, serta meningkatkan kendali atas diri kita.

Beyonce
Keterangan gambar, Beyoncé mulai bercerita tentang alter egonya pada 2008. Ia mengatakan bahwa menjadi "Sasha Fierce" meningkatkan rasa percaya diri dan menjadikan penampilannya lebih baik.

Pergeseran perspektif

Ethan Kross, profesor psikologi di University of Michigan, telah memimpin banyak penelitian tentang ini selama satu dekade terakhir. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahkan pergeseran kecil dalam perspektif dapat membantu orang untuk mengendalikan emosi mereka.

Dalam satu studi, peserta diminta untuk berpikir tentang peristiwa sulit di masa depan, misalnya ujian penting, dalam salah satu dari dua cara yang berbeda.

Kelompok dalam kondisi "menyelami" diberitahu untuk membayangkannya dari dalam, seolah-olah mereka berada di tengah situasi, sedangkan mereka yang dalam kondisi "jarak" diminta untuk membayangkannya dari jauh - seolah-olah mereka adalah lalat yang hinggap di dinding.

Perbedaannya mencolok, dengan mereka yang mengambil sudut pandang berjarak tidak begitu merasakan kecemasan tentang situasinya, dibandingkan dengan kelompok yang menyelami. Penjarakan diri juga membuat mereka lebih yakin akan mampu mengatasi situasi dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam percobaan lain, peserta diminta untuk memberikan pidato di depan umum. Sebelumnya, mereka disarankan untuk mengatasi rasa gugup dengan berpikir tentang emosi mereka dari sudut pandang orang ketiga ("David merasa...") seolah-olah mereka adalah entitas yang terpisah, alih-alih orang pertama yang lebih terlibat.

Seperti visualisasi berjarak pada percobaan sebelumnya, saran ini dirancang untuk mendorong seseorang untuk melihat situasi dari sudut pandang orang luar.

Lagi-lagi, menciptakan jarak psikologis membantu peserta mengatasi kecemasan mereka, mengurangi tingkat emosi mereka baik berdasarkan ukuran peringkat yang subyektif maupun ukuran-ukuran obyektif seperti perubahan denyut jantung dan tekanan darah.

Dan kepercayaan diri yang lebih besar itu tercermin dalam kualitas presentasi mereka, menurut penilaian pengamat independen.

Fokus pada ganjaran

Penjarakan diri tampaknya memungkinkan orang untuk menuai efek-efek positif ini dengan membuat mereka fokus pada gambaran besar - melihat suatu peristiwa sebagai bagian dari rencana yang lebih luas alih-alih tenggelam dalam perasaan sesaat.

Dan ini telah membuat beberapa peneliti bertanya-tanya apakah penjarakan diri juga bisa memperbaiki elemen kendali-diri seperti determinasi, dengan memastikan kita tetap fokus pada tujuan kita di hadapan berbagai gangguan.

Adele

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar, Adele tampil di Jerman pada 2015. Ia mengikuti contoh Beyonce dan menciptakan personanya sendiri yang bernama Sasha Carter.

Terkait ini, satu eksperimen menanyakan apakah orang bisa lebih fokus pada puzzle kata yang sulit jika mereka diminta melakukan penjarakan diri sebelum tes. Dalam kasus ini, mereka diminta memberi nasihat pada diri mereka sendiri dengan sudut pandang orang kedua - "Anda akan berkonsentrasi pada setiap pertanyaan"- seakan-akan mereka sedang berbocara dengan kawan, alih-alih diri mereka sendiri.

Selain meningkatkan performa secara keseluruhan, efek ini juga bisa dilihat dalam kuesioner yang mengukur sikap mereka terhadap tugas tersebut, yang mengungkap adanya niat kuat untuk memperbaiki performa mereka.

Dengan mendorong rasa kendali diri, penjarakan diri juga bisa memperbaiki perilaku kesehatan seseorang. Ia bisa meningkatkan niat seseorang untuk olahraga, misalnya, dan membantu mereka untuk menolak godaan junk food. Ini hal luar biasa.

"Sampai hari ini tidak banyak strategi pengendalian diri yang sukses memperbaiki kebiasaan makan," kata Celina Furman, peneliti psikologi sosial di Universitas Minnesota.

Bekerja dengan Kross, Furman baru-baru ini meminta partisipan untuk mempraktikkan penjarakan diri ketika dihadapkan pada berbagai pilihan makanan - antara buah dan permen, misalnya.

Ketika partisipan mempraktikan penjarakan diri, misalnya dengan bertanya "Apa yang David inginkan?" alih-alih "Apa yang saya inginkan?", mereka cenderung memilih opsi yang lebih sehat.

Meskipun penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menguji manfaat jangka panjang dari pendekatan ini, Furman berpikir ia bisa diintegrasikan dengan berbagai macam skema penurunan berat badan.

"Kemudahan penjarakan diri memang menawarkan berbagai kemungkinan penerapan yang menarik," ujarnya. Ia bisa digunakan dalam aplikasi ponsel, misalnya, dengan notifikasi yang mendorong Anda untuk berpikir dalam sudut pandang orang ketiga saat Anda membuat rencana makan Anda.

'Efek Batman'

Kemungkinan bahwa penjarakan diri bisa meningkatkan kekuatan tekad terutama menarik bagi para psikolog anak, karena disiplin dianggap sebagai faktor yang sangat menentukan kinerja akademik, selain IQ.

Beberapa tahun lalu, asisten profesor psikologi White memberi sekelompok anak berusia enam tahun tes konsentrasi di komputer. Tes tersebut berupa rangkaian gambar yang muncul di layar, dan anak-anak harus menekan tombol space setiap kali melihat gambar keju.

Tugas itu dirancang supaya agak membosankan, tapi anak-anak diberi tahu bahwa itu "aktivitas yang sangat penting" dan mereka akan menjadi "penolong yang baik" jika mereka mengerjakan tugas tersebut selama mungkin - meningkatkan motivasi mereka untuk bertahan. Sebagai gangguan, para peneliti juga meninggalkan sebuah iPad dalam ruangan, dengan lebih banyak gim yang lebih asyik untuk mengalihkan perhatian mereka dari tugas.

Sebelumnya, anak-anak diberi tahu bahwa kadang-kadang berpikir tentang perasaan mereka bisa membantu jika tugasnya jadi terlalu membosankan. Beberapa anak disuruh berpikir "Apakah saya sedang bekerja keras?" sementara yang lain didorong untuk berpikir dalam sudut pandang orang ketiga ("Apakah Hannah sedang bekerja keras?").

Kelompok ketiga diberikan pilihan untuk mengubah persona mereka sepenuhnya dengan berpura-pura menjadi jagoan fiktif favorit mereka, misalnya Batman atau Dora the Explorer. Mereka bahkan diberikan alat peraga supaya lebih menghayati; dan ketika mereka merasa bosan, mereka diminta mempertimbangkan perilaku mereka seakan-akan mereka adalah si jagoan yang sebenarnya, misalnya dengan bertanya, "Apakah Batman sedang bekerja keras?"

Dora The Explorer

Sumber gambar, Håkan Dahlström/CC by 2.0

Keterangan gambar, Penjarakan sosial dan alter ego bahkan bermanfaat bagi anak-anak. Ketika anak-anak meniru persona seperti Batman atau Dora the Explorer saat mengerjakan suatu tugas, penelitian menunjukkan bahwa mereka bekerja lebih keras.

Para peneliti telah menduga bahwa alter ego akan menjadi bentuk penjarakan diri yang lebih ekstrem, dan hasil penelitian mereka membuktikannya. Meskipun anak-anak yang berpikir dalam sudut pandang orang ketiga menghabiskan sekitar 10% lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas daripada mereka yang berpikir dalam sudut pandang orang pertama, anak-anak yang menciptakan alter egolah yang bertahan paling lama.

Secara keseluruhan, mereka menghabiskan 13% lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas daripada mereka yang berpikir dalam sudut pandang orang ketiga (dan 23% lebih banyak dari mereka yang memikirkan perilaku mereka dalam sudut pandang orang pertama).

White juga mendapati bahwa mengadopsi alter ego juga bisa membantu anak-anak berkonsentrasi dalam permainan kartu yang kompleks, di mana mereka harus mengikuti peraturan kompleks yang terus berubah-ubah. Sekali lagi, "efek Batman" tampaknya meningkatkan keteguhan dan konsentrasi mereka, dan pada akhirnya meningkatkan "fungsi eksekutif" mereka.

Meski semua eksperimen ini dilakukan di laboratorium, White berharap latihan kecil-kecilan ini bisa memudahkan banyak situasi yang membutuhkan kendali diri. Uji ketekunan itu sangat mirip dengan jenis keputusan yang dihadapi anak-anak ketika mengerjakan PR mereka dengan kemungkinan gangguan dari TV atau ponsel.

Ia juga berpikir cara ini akan berguna untuk mencegah rasa putus asa dalam menghadapi tantangan baru. "Berpura-pura menjadi seseorang yang lebih kompeten, dan mengambil jarak dari situasi, dapat membantu mereka menaklukkan rasa frustasi yang mereka rasakan saat mereka belajar sesuatu yang baru."

Apa yang akan dilakukan Beyoncé?

Setelah mendapatkan temuan ini dan memahami manfaat penjarakan diri secara umum, White menduga bahwa kita semua bisa meningkatkan pengendalian emosi, pengendalian diri, dan ketenangan diri dengan menciptakan persona lain ala Sasha Fierce.

Beberapa kelompok agama sudah mendorong cara berpikir seperti ini, ujarnya. "Ketika saya tumbuh dewasa di tahun '90-an, banyak yang memakai gelang bertulisan, 'WWJD' - What would Jesus do? (Apa yang akan dilakukan Yesus?)" ujarnya. "Jadi, saya pikir ini konsep yang cukup intuitif bagi banyak orang."

Jika Anda ingin mencobanya sendiri, White menyarankan untuk memilih persona berbeda untuk jenis tujuan yang berbeda - mungkin anggota keluarga Anda yang bijak untuk dilema pribadi, atau mentor di tempat kerja untuk masalah profesional.

"Ketika saya mengambil program posdoktorat, ada pemeo di laboratorium kami - kalau kamu mahasiswa program sarjana, berpura-puralah jadi mahasiswa S2. Jika kamu mahasiswa S2, berpura-puralah jadi mahasiswa posdok, dan jika Anda mahasiswa posdok, berpura-puralah jadi kepala laboratorium - supaya kamu bisa mencapai tingkat selanjutnya," ujarnya.

Apapun persona yang kita pilih, praktik ini akan menciptakan ruang psikologis yang jauh dari perasaan-perasaan yang bisa mengganggu, sembari mengingatkan kita akan perilaku yang ingin kita tiru.

Apakah kita menempatkan diri di posisi seorang kawan, tokoh agama, atau Beyoncé, sedikit imajinasi bisa membawa kita semua lebih dekat dengan sosok diri yang kita inginkan.

Short presentational grey line

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The 'Batman Effect': How having an alter ego empowers you, di BBC Worklife.