Setahun tanpa pembalut sintetis di Dusun Depok, Wonosobo

Waktu membaca: 3 menit

Sejumlah ibu-ibu di Dusun Depok, Wonosobo, Jawa Tengah, membuat sendiri pembalut wanita dari kain sebagai upaya mengurangi sampah, ide yang kemudian ditiru oleh dusun-dusun di sekitarnya.

Ganti Astuti, 38, adalah salah satu ibu dusun yang rajin mengelola Bank Sampah Berkah Mulya. Setiap melakukan pemilahan sampah antara organik dan non organik, Astuti selalu menemukan sampah pembalut pabrikan sehingga menyebabkan bau dan perasaan tak nyaman.

"Bau, kotor," kata Astuti mengomentari pembalut yang tercampur dengan sampah lain, membuatnya sulit memilah-milah. "Akhirnya kami punya solusi dan ide bikin pembalut kain, saya usulkan ke pengurus akhirnya disetujui."

  • <link type="page"><caption> Kisah ibu-ibu 'dusun miskin' yang menanam tanaman liar di Jombang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160516_trensosial_getinspired_hayu_diah" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Rangkong gading Kalimantan mendapat status perlindungan tambahan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161003_majalah_perlindungan_rangkong" platform="highweb"/></link>

Sampah pembalut hingga saat ini memang sulit di daur ulang dalam lingkup rumahan karena mengandung plastik.

pembalut kain
Keterangan gambar, Dalam satu tahun terakhir, jarang toko yang menjual pembalut sintetis.

Banyak dari sampah ini berakhir di tempat pembuangan sampah, tetapi tak sedikit yang terbuang di sungai, laut, dan sudut-sudut kota, kata pegiat lingkungan.

"Manajemen persampahan di Indonesia belum mumpuni dan aturan mainnya pun belum ketat atau belum ditegakkan," kata Bijaksana Junerosano dari Greeneration Indonesia.

"Apakah bisa didaur ulang sendiri di rumah? Setahu saya susah. Yang mudah seperti sisa makanan saja banyak yang tidak melakukan."

Didukung pemerintah desa

Untungnya ide ibu-ibu dusun membuat pembalut kain didukung oleh pemerintah lokal.

Setahun belakangan, sudah jarang toko yang menjual pembalut produksi pabrikan di Dusun Depok.

Dusun lain yang terletak di Desa Wulungsari, Jawa Tengah, juga sudah mulai mengikuti praktik ini, lapor wartawan lokal Yaya Ulya.

Kesuksesan pembalut kain Dusun Depok tak lepas dari pemerintah desa yang sejak setahun lalu menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) pada 2015 yang mewajibkan para perempuan di empat dusunnya menggunakan pembalut kain yang diproduksi sendiri oleh para penjahit lokal.

Astuti membuat pembalut kain di rumahnya.
Keterangan gambar, Astuti membuat pembalut kain di rumahnya.

"Warga yang masih menggunakan pembalut sintetis, kita lakukan pembinaan. Kita kasih masukan dan motivasi sehingga hampir semua perempuan di sini sudah menggunakan pembalut ramah lingkungan," kata Agus Martono (46), Kepala Desa Wulungsari.

Ada beberapa alasan mengapa Martono mengeluarkan Perdes itu. Selain mengurangi sampah, penggunaan pembalut bekas pakai juga bisa menekan ongkos pengeluaran rumah tangga.

“Tidak hanya pembalut, dalam Perdes juga mengatur tentang popok untuk anak. Jadi dengan Perdes ini harapannya seluruh warga desa menggunakan pembalut dan popok ramah lingkungan,” terang Martono.

Meski berharap semua warganya memakai pembalut kain yang ramah lingkungan, Martono mengaku tidak akan menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggarnya.

Namun ia hanya dilakukan penyadaran dan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari pembalut buatan pabrik.

“Ini kan hak privasi warga, jadi warga yang masih mengakibatkan sampah sistetis kita lakukan pembinaan, kita datangi, kita kasih masukan untuk menggunakan pembalut ramah lingkungan,” imbuhnya.

Setahun tanpa pembalut pabrikan

Di rumah, Astuti sedang sibuk mencetak pola, menggunting kain, dan menjahit. Di sampingnya terdapat tumpukan kain berwarna oranye, ungu, hijau dan biru yang sudah siap di potong untuk bahan pembalut.

“Kainnya beli di kota,” kata Astuti sambil menunjukkan kain-kain itu. Isi (pembalutnya adalah) enam lapis kain, ditambah busa di tengah dan kain (bahan membuat) payung,” terang Astuti.

Pembalut kain yang bisa digunakan berkali-kali sehingga hemat dan ramah lingkungan.
Keterangan gambar, Pembalut kain yang bisa digunakan berkali-kali sehingga hemat dan ramah lingkungan.

Dia mengatakan pembalut kain bisa digunakan berkali-kali dan mudah perawatannya, cukup dibersihkan dengan air dan sabun mandi. Pembalut juga dilengkapi sayap untuk merekatkan ke celana dalam sehingga tidak tidak mudah lepas.

“Hilangkan dulu darahnya, bersihkan pakai air. Kalau darahnya sudah hilang cuci pakai sabun mandi, lalu jemur. Mudah dan aman,” kata Astuti yang kini berperan sebagai seksi penjualan dan pemasaran pembalut kain di desanya.

Semua proses pembuatan pembalut kain dikerjakan ibu-ibu warga dusun yang tergabung di Bank Sampah Berkah Mulya.

Uang penjualan yang diperoleh, kata mereka, dimasukan kas dan untuk "kemajuan dan kesejahteraan desa."

Pembalut kain tak hanya diminati di Dusun Depok, tetapi juga di dusun lain di sekitarnya.
Keterangan gambar, Pembalut kain tak hanya diminati di Dusun Depok, tetapi juga di dusun lain di sekitarnya.

'Bisa ditiru desa lain'

Ketua Bank Sampah Berkah Mulya, Endang Rahyuningdyah, mengatakan hingga saat ini pembalut kain buatan mereka baru didistribusikan ke warga Desa Wulungsari saja, belum sampai ke luar desa.

Namun dia berharap, semua warga desa di Indonesia bisa meniru dan merasakan manfaatnya.

Walau tidak ada penelitian ilmiah tentang kebersihan dan keamanannya, beberapa warga yang sudah mencoba pembalut kain itu mengaku merasakan perbedaan positif. Tri Pusporini misalnya mengaku tak lagi merasa gatal dan tidak perlu gonta-ganti pembalut.

“Dulu itu kalau pakai pembalut pabrikan, harus sering gonta-gonti dan kadang merasakan gatal-gatal, sejak pakai pembalut kain, tidak,” klaim Pusporini.

Selain bermanfaat untuk lingkungan, pembalut kain juga murah, katanya. Cukup Rp20.000 sudah bisa mendapatkan sepasang pembalut berperekat dan bisa dipakai beberapa kali.