Catatan penting dalam sejarah Olimpade

Sumber gambar, AP
Walau merupakan peristiwa rutin empat tahunan dan semua atlet berupaya semaksimal mungkin, beberapa tampaknya akan dikenang sebagai bagian dari sejarah Olimpiade modern. BBC Indonesia menghimpun beberapa di antaranya.
Renang, rekor medali dan Michael Phelps
Perenang Amerika Serikat Michael Fred Phelps kemungkinan akan menjadi atlet pengumpul medali terbanyak dalam sejarah Olimpiade. Sejauh ini ia ia telah berpatisipasi dalam dua Olimpiade: Athena 2004 dan Beijing 2008. Di Athena ia memenangkan enam medali emas di samping dua perunggu. Di Beijing ia memecahkan rekor raihan tujuh medali emas yang sebelumnya dipegang perenang Amerika Serikat lainnya, Mark Spitz, di Olimpiade Muenchen 1972. Delapan medali emas yang diraih Phelps di Beijing menjadi catatan baru perolehan medali dalam satu Olimpiade.
Namun pengumpul medali terbanyak masih dipegang oleh atlet gimnastik Uni Sovyet, Larisa Latynina, yang mengumpulkan 18 medali dan sembilan diantaranya emas selama tiga Olimpiade. Phelps akan bisa memecahkan rekor tersebut di Olimpiade London jika ia meraih tiga medali di London, tempat dia turun di tujuh nomor lomba di kolam renang.
Raja lintasan atletik
Olimpiade selalu mempunyai raja atau ratu lintasan atletik. Dari Jesse Owens, Edwin Mosses, Bob Beamon, Florence Grifith Joyner, Carl Lewis, Michael Johnson dan banyak lagi. Mahkota itu sekarang terletak di kepala Usain Bolt. Di Olimpiade Beijing 2008, ia menjadi orang pertama dalam sejarah yang memecahkan tiga rekor dunia dan Olimpiade sekaligus dalam satu Olimpiade. Di nomer lari 100m ia mencatatkan waktu 9,69 detik, 19,30 detik untuk 200m dan 37,10 detik untuk nomor estafet 4x100m bersama rekannya dari Jamaika.

Sumber gambar, BBC World Service
Di luar Olimpiade prestasinya makin mencorong ketika pada tahun 2009 ia kembali memecahkan rekor dunia 100m dan 200m dengan 9,59 detik dan 19,19 detik. Perbaikan rekor 0,11 detik untuk 100m di tahun 2009 merupakan marjin terbesar dalam sejarah sejak penggunaan jam digital digunakan untuk mencatat waktu. Penggemar olahraga atletik menunggu apakah ia bisa kembali memperbaiki rekornya di Olimpiade London 2012.
Emas Indonesia pertama
Bulutangkis untuk pertama kalinya dipertandingkan di Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol. Indonesia merebut emas di tunggal putra dan putri lewat Alan Budikusuma dan Susi Susanti. Tradisi emas tidak pernah lepas dari tangan Indonesia hingga Olimpiade Beijing 2008.
Hingga saat ini hanya empat negara yang pernah meraih medail emas untuk cabang bulutangkis. Cina meraihnya 11 kali, Korea Selatan 6 kali, Indonesia 6 kali, dan Denmark sekali. Malaysia, Inggris Raya, dan Belanda adalah tiga negara lain yang pernah mendapatkan medali di cabang bulutangkis tetapi bukan emas.
Doping dan kecurangan
Penggunaan obat atau ramuan untuk meningkatkan penampilan atlet sudah sama tua dengan olahraga itu sendiri. Atlet Olimpiade juga tak terkecuali dan yang pertama diketahui menggunakan ramuan pendukung penampilan adalah Thomas Hicks, pemenang marathon Olimpiade 1904 di St. Louis, Amerika. Oleh pelatihnya ia diberi ramuan yang dikenal dengan nama strychnine dicampur minuman keras. Di Olimpiade Roma 1960 pembalap sepeda, Knud Enemark Jensen, asal Denmark jatuh dan meninggal. Belakangan diketahui ia menggunakan amphetamin. Pada tahun 1967 diputuskan untuk tidak memperbolehkan atlet menggunakan obat perangsang dan untuk memastikannya dilakukan tes doping.
Atlet pertama yang dinyatakan positif menggunakan obat terlarang lewat tes doping adalah Hans-Gunnar Liljenwall, atlet pentathlon asal Swedia di Olimpiade Meksiko 1968. Namun kasus yang paling terkenal hingga sekarang adalah yang menimpa pelari cepat 100m Kanada, Ben Johnson. Ia memenangkan medali emas sekaligus menciptakan rekor dunia baru di Olimpiade Seoul 1988. Tetapi medali emasnya dicopot setelah terbukti menggunakan stanozolol untuk menambah massa ototnya. Emas kemudian diberikan kepada Carl Lewis, yang sebelum Olimpiade sebenarnya juga pernah dikenai sanksi karena penggunaan obat terlarang.
Politik dalam Olimpiade
Sejak Olimpiade modern digagas, politik tidak pernah jauh membuntutinya. Berbagai pihak selalu berusaha untuk memanfaatkannya demi kepentingan politik mereka. Hitler dengan Nazi-nya memanfaatkan Olimpiade Berlin 1936 untuk menunjukkan superioritas ras Arya. Dengan berbagai cara ia menjadikan kontingen Jerman sebagai pengumpul medali terbanyak. Sejarah mencatat corengan dialami Hitler ketika atlet kulit hitam Jesse Owens dari Amerika Serikat memenangkan empat medali emas: 100m, 200m, estafet 4x100m dan lompat jauh.
Uni Sovyet menolak untuk berpartisipasi dan baru pada Olimpiade Helsinki 1952 untuk pertama kalinya mereka terlibat. Sovyet menyebut Olimpiade sebagai borjuis dan mengorganisir pesta olahraga tandingan dengan nama Spartakiads untuk negara-negara komunis. Bahkan Presiden Soekarno pernah juga menentang Olimpiade dan menggagas pesta olahraga sendiri, Ganefo tahun 1962.

Sumber gambar, Getty
Saling boikot juga bukan hal baru. Amerika dan beberapa negara sekutunya memboikot Olimpiade Moskow 1980 untuk memprotes invasi Sovyet ke Afghanistan. Empat tahun kemudian Uni Sovyet dan 14 negara sekutunya ganti membalas ketika Los Angeles menjadi tuan rumah Olimpiade 1984.
Atlet juga beberapa kali secara pribadi menyatakan sikap politik mereka. Salah satu yang paling terkenal misalnya adalah Tommie Smith dan John Carlos yang memenangkan medali emas dan perunggu 200m di Olimpiade Meksiko 1968. Mereka berdua melakukan penghormatan simbolik untuk menggarisbawahi nasib kaum kulit hitam Amerika yang diperlakukan layaknya warga negara kelas dua di Amerika. Atau Cathy Freeman dari Australia yang berkeliling stadion mengibarkan bendera suku Aborijin ketimbang bendera Australia setelah memenangkan lari 400m putri Olimpiade Sydney 2000.
Kekerasan dalam Olimpiade
Tragedi nonolahraga dalam Olimpiade terjadi tahun 1972 di Muenchen, Jerman Barat. Sebanyak 11 atlet Israel disandera kelompok teroris September Hitam. Dua atlet dibunuh tak lama setelah dijadikan sandera. Sembilan lainnya tewas dalam sebuah operasi penyelamatan yang gagal. Seorang polisi Jerman ikut tewas disamping lima teroris yang menyandera atlet tersebut.
Serangan teroris kembali terjadi pada tahun 1996 di Olimpiade Atlanta. Sebuah bom meledak di kawasan Taman Olimpiade, menewaskan dua orang dan melukai 111 orang lainnya. Bom diledakkan seorang teroris lokal Amerika, Eric Roberts, yang saat ini menjalani hukuman penjara seumur hidup karena tindakannya. Pengamanan dari ancaman teroris semenjak itu menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Olimpiade dan ditambah lagi setelah terjadinya serangan 11 September 2001.
Olimpiade modern tiga kali batal diselenggarakan:1916 karena Perang Dunia I dan 1940 serta 1944 karena Perang Dunia II.









