Meramal masa depan Lewis Hamilton

Sumber gambar, Getty
Masa depan Lewis Hamilton menjadi spekulasi ramai di GP Monako pekan lalu seiring dengan musim pembaharuan kontrak yang mulai menghangat.
Hamilton akan habis masa kontraknya dengan McLaren diakhir musim balap tahun ini, dan di usia yang ke-27 harus diakui karirnya ada di persimpangan jalan.
Cepat atau lambat ia harus mengambil salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya.
Banyak yang menganggap Hamilton sedang memasuki masa kematangan dan puncak karir sebagai pembalap.
Anggapan yang tidak terlalu salah karena Hamilton, dan juga penggemar olahraga balap banyak yang membenarkan, merasa sebagai pembalap tercepat di dunia saat ini. Sangat menyakitkan bahwa sejauh ini ia baru memenangkan satu gelar juara dunia.
Kemenangan itu sudah terlalu lama berlalu untuk pembalap seberbakat Hamilton, tahun 2008. Sejak kemenangan itu, setidaknya hingga awal tahun ini, McLaren tidak pernah benar-benar mampu untuk menyediakan Hamilton dengan mobil yang bisa bersaing dengan mobil-mobil dari tim lain.
Di awal musim balap tahun ini sepertinya McLaren kembali mampu menghadirkan mobil yang kompetitif. Dua grand prix pertama Hamilton duduk di posisi start terdepan dan tiga kali berturut-turut naik ke podium.
Tetapi sejak itu kinerja mereka terus menurun. Dan di tiga balapan terakhir, penurunan kinerja itu begitu tajam.
Hamilton menduduki posisi finish lima di GP Monako di belakang Sebastian Vettel. Walau perebutan juara masih jauh dari selesai dan Hamilton berpeluang sama besarnya dengan pembalap elit lain untuk memenangkannya, namun ia tak mampu menyembunyikan rasa ketidakpuasanya atas mobil yang ia kendarai.
Gaduh di balik layar

Sumber gambar, AFP
Di masa lalu kontrak pembalap biasanya baru dibicarakan sekitar Juli ataupun Agustus. Tetapi untuk Hamilton, dibelakang layar pembicaraan sepertinya sudah ramai terjadi.
Semua pihak terkait mengatakan terlalu awal untuk berbicara, tetapi hampir semua orang sepakat bahwa yang dimaksud adalah terlalu awal untuk berbicara dengan media.
Ferrari, Mercedes, dan Red Bull diperkirakan sudah berbicara dengan tim manajemen Hamilton.
McLaren tentu saja ingin mempertahankan Hamilton. Tetapi sejauh ini belum ada tawaran nyata di meja walau rumor yang beredar sebaliknya.
Mercedes sudah dengan terbuka ingin menjadikan Hamilton sebagai pengganti Michael Schumacher.
Tetapi rumor terbesar di Monako adalah Ferrari menginginkan Hamilton untuk menggantikan Felipe Massa tahun depan.
Kalau ini benar maka entah akan seperti apa suasana di Ferrari mengingat Fernando Alonso masih dikontrak Ferrari hingga 2016.
Orang masih ingat betapa renggangnya hubungan kedua pembalap ini saat menjadi rekan satu tim di McLaren tahun 2007.
Ujungnya adalah Alonso hengkang dari McLaren, hanya setahun dari tiga tahun kontrak yang ia sepakati.
Kalangan Formula 1 mengatakan persoalan Alonso lebih dengan bos McLaren saat itu, Ron Dennis, ketimbang dengan Hamilton. Namun tetap saja, walau keduanya saling menghormati dan menganggap satu sama lain sebagai saingan terberat, tentu berbeda persoalan saat menjadi rekan satu tim.
Hamilton juga harus berpikir dua kali kalau ingin merapat ke Ferrari. Tim yang sekarang jelas didedikasikan untuk Alonso. Kalau Hamilton ingin menuntut kesetaraan, akan ada pertarungan mahahebat di dalam tim dan kemungkinan mengganggu kinerja tim keseluruhan.
Bagi Ferrari risiko itu mungkin layak coba, karena Hamilton akan membawa potensi sponsor ke Ferrari. Pabrik rokok Philip Morris dan Bank Santander kemungkinan akan meninggalkan McLaren kalau Ferrari memiliki pembalap Inggris.
Faktor finansial

Sumber gambar, AFP
Praktis kedua sponsor itu akan mampu membayar berapa saja yang diinginkan Hamilton tanpa Ferrari harus ikut merogoh kocek.
Problemnya adalah Ferrari hanya menginginkan pembalap untuk kontrak satu tahun saja ditahun 2013 karena dikatakan mereka sudah menyepakati kesepakatan prakontrak dengan Sebastian Vettel untuk tahun 2014.
Adanya kesepakatan prakontrak itu dibantah oleh manajemen Red Bull yang saat ini mempekerjakan Vettel.
Yang mempunyai kemungkinan untuk pindah dengan kontrak satu tahun di Ferrari justru Mark Webber. Dengan karir menjelang senja, Webber diperkirakan tertarik untuk pindah dan mencoba keberuntungan dengan Ferrari.
Kalau itu terjadi akan terjadi kekosongan satu pembalap di Red Bull dan disinilah Hamilton diperkirakan akan masuk.
Operator lapangan Red Bull Christian Horner tidak pernah benar-benar terbuka mengatakan tidak akan kemungkinan ini. Ia hanya mengatakan tidak akan terlalu bagus untuk keseimbangan tim karena Hamilton dan Vettel akan saling pacu dan meningkatkan ketegangan internal.
Namun kalau bos Red Bull Dietrich Mateschitz melihatnya justru akan menaikkan nilai komersial tim maka persoalannya menjadi berbeda.
Itu semua spekulasi dan perhitungan di luar kubu yang terkait langsung dengan persoalan ini. Manajemen Hamilton maupun keempat tim Formula 1 itu masih sama sekali enggan berbicara mengenai persoalan ini.
Anda punya perkiraan dan ramalan sendiri?









