Dukung Haris Azhar, Tagar 'saya percaya Kontras' populer di Twitter

Haris Azhar

Sumber gambar, Haris azhar

Pengguna media sosial menggunakan tagar 'saya percaya Kontras' sebagai dukungan terhadap Koordinator Kontras Haris Azhar yang dilaporkan ke Bareskrim Polri karena menulis cerita tentang dugaan pertemuannya dengan terpidana mati narkoba Freddy Budiman.

Koordinator LSM itu dianggap melakukan fitnah dan mencemarkan nama baik, kata kepolisian.

Dalam tulisan itu Freddy Budiman (yang telah dieksekusi pekan lalu) dikutip mengatakan bahwa dirinya memberikan uang ratusan miliar tupiah kepada BNN dan oknum tertentu di Mabes Polri.

  • <link type="page"><caption> Benarkah BNN dan polisi terima ratusan miliar dari Freddy Budiman?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160729_trensosial_bnn_kontras.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Koordinator Kontras Haris Azhar dilaporkan ke Mabes Polri</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160729_trensosial_bnn_kontras.shtml" platform="highweb"/></link>

Tagar 'saya percaya Kontras' dimulai oleh Rocky Gerung, seorang pengajar di Universitas Indonesia melalui akun Twitter-nya.

Kalimat itu kemudian ikut dipakai oleh sejumlah aktivis, selebritis, dan pengguna media sosial lain untuk menunjukan kekhawatiran mereka terkait penegakan hukum di Indonesia.

"Ironis, orang yang mengungkap fakta malah mau dijeblosin ke penjara, oknum-oknumnya enak-enakan duduk santai," kata @upin_bobby.

Pembungkaman?

Bagi sebagian orang, pelaporan Haris juga dianggap sebagai upaya pembungkaman. "Sasaran utama adalah pembungkaman dan pembunuhan sikap kritis. Kita harus paham ini," kata aktivis Dytha Caturani melalui @purplerebel.

"Ini langkah sistematis membungkam kebebasan ekspresi," ujar akun resmi pusat kajian media dan televisi, Remotivi.

Hingga kini, #SayaPercayaKontras telah digunakan 3.700 kali dan menjadi salah satu topik populer di Twitter Indonesia, Rabu (03/08).

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Agus Riyanto mengatakan pihaknya sulit menelisik kebenaran tuduhan suap dalam tulisan Haris karena terpidana sudah dieksekusi dan tidak ada informasi apa pun terkait nama-nama penerima uang.

"Informasi seperti ini harusnya disampaikan kepada pihak yang berkompeten termasuk Polri supaya bisa segera kita tindaklanjuti dan telusuri. Jika sekarang baru muncul sementara mereka yang terkait sudah meninggal, ke mana kita mau cek dan telusuri?" katanya pada wartawan BBC Indonesia Christine Franciska.