Gara-gara video game Pokemon, perusahaan Singapura pecat pegawai asing

Sumber gambar, GETTY IMAGES
Seorang pria Australia dipecat akibat mengeluh video game Pokemon Go tidak dapat diakses di Singapura.
Sonny Truyen melontarkan keluhan yang sarat dengan kata-kata tak senonoh di Facebook memberi kesan Singapura adalah tempat yang tak menyenangkan untuk hidup akibat permainan ponsel pintar tersebut tak dapat diakses di sana.
Dia menulis Singapura penuh dengan ‘orang-orang bodoh’ dan IQ nasional negara tersebut akan menurun begitu dia pergi.
Dia dipecat begitu anggota forum di sebuah situs Singapura memberitahu perusahaan tempatnya bekerja mengenai tulisannya di Facebook.
- <link type="page"><caption> Game Pokemon Go dongkrak nilai saham Nintendo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160711_majalah_nintendo_pokemon" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Antiorang asing, warga Singapura dihukum penjara </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160711_majalah_nintendo_pokemon" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Berburu Pokemon, tapi malah menemukan mayat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160711_gnb_11072016_1230" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Puluhan ribu orang main Pokemon online</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/02/140218_iptek_pokemon" platform="highweb"/></link>
Perusahaannya, 99.co, meminta maaf atas komentar Sonny Truyen.
"Sonny, sebagai spesialis SEO (optimisasi mesin pencari), baru mulai bekerja sebagai konsultan disini selama seminggu sebelum kejadian ini terjadi,” tulis Darius Cheng, pemimpin perusahaan tersebut.

Sumber gambar, NIANTIC
"Kami adalah perusahaan yang bangga dengan Singapura dan tidak mentolerir bahasa atau sikap seperti itu, sehingga kami langsung memutus kontrak kerjanya begitu mengetahui adanya kejadian tersebut.”
Sejumlah ekspatriat lain di Singapura pernah dipecat setelah mengeluh di media sosial.
Pada tahun 2014, seorang bankir asal Inggris Anton Casey, mengunggah video di Youtube yang mengeluhkan bau di sistem transportasi umum Singapura yang menurutnya penuh dengan ‘orang miskin’.
Dia kemudian kehilangan pekerjaannya dan dipaksa meninggalkan Singapura.
Seorang eksekutif asal Australia Amy Cheong, juga dipecat dan dipaksa meninggalkan Singapura tahun 2012 karena menulis komentar rasis di Facebook setelah dia terpaksa terjaga akibat suara pesta pernikahan yang berlangsung dekat rumahnya.









