ZERA: amanat kesatuan bangsa dari Teater Mandiri

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Pijar Anugerah
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Pak Roko uring-uringan. Keluarganya sedang kacau. Istrinya curiga kalau dia punya perempuan idaman lain, sementara anak kandung dan anak tirinya berebut warisan. Pak Roko sendiri tidak bahagia meski hidupnya serba berkecukupan. Semua itu berubah setelah kedatangan Zera.
Zera, seekor kucing Persia dengan perawatan mahal, mengembalikan keharmonisan keluarga Pak Roko. Istri dan anak-anaknya yang selama ini bertengkar kembali akur, dipersatukan oleh kecintaan akan kucing lucu itu. Berangsur-angsur kebahagiaan kembali ke rumah mewah mereka. Namun, ini justru membuat Pak Roko marah.
Pak Roko merasa terhina karena keluarganya diselamatkan oleh seekor kucing. Dia tidak terima kalau segala masalahnya mendadak sirna gara-gara hal sepele. Menurut Pak Roko, seharusnya dialah yang menyelesaikan persoalannya sendiri. Bukan kucing!
- <link type="page"><caption> Mendengarkan kejujuran Silampukau</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160406_majalah_seni_silampukau" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> 'Kelakar': musik gelap yang riang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/02/150223_kelakar-contrary_tothe_static" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> AriReda tiga dekade melagukan puisi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160203_majalah_arireda_menyanyikan_puisi" platform="highweb"/></link>
Itulah kisah ZERA, lakon terbaru dari Teater Mandiri yang dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta pada Jumat malam (15/04) lalu.
Berbeda dengan kecenderungan Putu Wijaya dan Teater Mandiri selama 30 tahun terakhir, yang pertunjukkan-pertunjukkannya umumnya abstrak dan kadang nyaris tanpa cerita, ZERA adalah sebuah lakon linear.
Ratusan orang memadati gedung teater kecil di Jalan Palmerah, Jakarta Barat itu -sebagian besar adalah anak muda. Mereka lesehan di lantai sambil menghadap sebuah panggung kecil.
Komedi berdurasi 90 menit itu dibawakan dengan konsep minimalis. Tata panggungnya sederhana saja, bertumpu pada tiga helai kain putih menjuntai, yang juga berfungsi sebagai tirai. Putu Wijaya selaku penulis naskah dan sutradara mengatakan, ia memang sengaja mengarahkan panggung seperti itu supaya penonton fokus pada penampilan pemain.
Sepanjang sandiwara, perhatian penonton tak lepas dari gerak-gerik dan dialog para aktor. Akting mereka tak pernah gagal mengundang gelak tawa. Bambang Ismantoro sebagai Pak Roko dan Ari Sumitro sebagai Pak RT tampil memukau. Dinamika antara dua karakter dengan status dan kelas yang berbeda jauh itu selalu menghibur.
Misalnya pada satu adegan, mereka bercakap-cakap tentang kebahagiaan. Pak RT, yang pengangguran, keheranan karena Pak Roko yang tampak punya segalanya itu ternyata tidak bahagia. Dia pun menyimpulkan:

Sumber gambar, BBC Indonesia
Putu Wijaya berhasil memasukkan isu-isu terkini – seperti BPJS, Go-Jek, dan rumah-rumah yang digusur di Jakarta – sehingga membuat lakon terasa aktual. Dialognya sarat lelucon yang, meski kebanyakan klise, tetap mengena.
Sekilas drama panggung ini terasa seperti acara lawak Srimulat dengan dialog yang lebih baik. Namun, menurut Putu, humor bukan poinnya.
“Saya memakai kucing sebagai medium untuk lelucon... untuk berkomunikasi dengan orang lebih mudah kalau kita memakai humor. Jadi humor itu alat, bukan tujuan. Saya gembira sekali dari awal sampai akhir orang-orang menikmati. Mudah-mudahan, ketika sampai di rumah muncul perenungan kepada maksudnya,” katanya kepada BBC Indonesia.
Putu mengatakan, dengan lakon ini dia hendak mengajak penonton merenungkan hakekat kesatuan. Dia merasakan bahwa masyarakat Indonesia yang beragam ini sering tidak akur, namun menjadi kompak setiap kali identitas kebangsaan terancam – seperti ketika lambang negaranya dihina atau warisan budayanya hendak diklaim bangsa lain. Zera si kucing Persia menjadi metafor untuk “musuh bersama” itu.
“Seharusnya bukan hanya kalau ada musuh bersama saja kita bersatu, bukan juga karena ada pencurian hak cipta tradisi kita seperti batik atau kekayaan laut kita. Tapi karena kita mempunyai persamaan sejarah,” kata Putu.
Amanat tersebut dia sampaikan secara gamblang. Pada satu adegan, Pak Roko naik ke atas meja dan bermonolog, diiringi lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Dia menyatakan bahwa dirinya adalah “miniatur Indonesia”.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Diapresiasi penonton muda
Pesan-pesan dalam lakon ini banyak disampaikan secara eksplisit, namun sebagian penonton –yang sebagian besar adalah anak muda, sepertinya tak keberatan. Seperti dikatakan Hamidah dan Sekar, dua mahasiswa di Jakarta.
“Ceritanya simpel, dekorasinya juga simpel, tapi ceritanya ngena banget ... ini punya pesan bagus buat anak muda,” kata Hamidah.
“Itu cermin yang jujur bagi masyarakat kita,” timpal Sekar.
Putu Wijaya mengaku gembira karena sandiwara garapannya banyak ditonton anak muda. “Kebetulan apa yang saya ingin usung dengan cerita ini adalah pesan untuk anak-anak muda juga,” ujarnya.
Putu mengungkap bahwa dia suka berinteraksi dengan anak muda, dan ke depannya dia akan membuat sandiwara dengan tema masa muda.
“Salah satu hal yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah... jangan sampai anak-anak muda itu merasa bahwa mereka adalah aset bangsa yang berguna kelak di kemudian hari untuk mengganti orang tua. Saya anggap itu salah.
“Anak muda itu sekarang sudah berguna, apalagi nanti... Sebagai anak kecil, sebagai pemuda, sebagai mahasiswa, sebagai anak SD, sudah berguna. Nanti ada berguna juga. Tapi gunanya lain menurut usia dia,” katanya.
--------------------------









