Menikmati seni main-main Eko Nugroho

- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Saat saya membuka pintu Galeri Salihara, Jakarta, pemandangan piramida setinggi tiga meter yang terbentuk dari puluhan tabung gas ukuran 12 kilogram langsung menyambut.
Wujudnya amat menarik perhatian karena pada bagian tengah setiap tabung terdapat sepasang mata manusia yang menatap lurus ke depan, seolah-olah mengawasi gerak-gerik setiap pengunjung.
Piramida tabung gas tersebut bukan satu-satunya bentuk yang terlihat janggal di ruangan itu.
Beberapa meter dari situ ada sesosok makhluk mirip manusia. Kakinya telanjang tanpa alas, tubuhnya berbalut kaus putih-biru dan celana pendek hitam. Sebuah pacul tersampir pada bahu kanannya, sedangkan tangan kirinya menenteng ceret. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup karung putih.
Namun, dia berdiri menghadap sebuah lukisan pemandangan sawah, seolah-olah sedang menatapnya.

Secara keseluruhan ada sembilan wujud seperti manusia di ruangan tersebut. Tapi, tiada satu wajah pun yang terlihat. Mereka semua berbalut kain atau benda berwarna cerah. Bahkan salah satunya tampak memakai batik Korpri.
Beragam sosok ini merupakan karya Eko Nugroho, seniman Indonesia yang kerap menampilkan karya-karyanya di galeri-galeri mancanegara. Kali ini, Eko memajang karyanya di Galeri Salihara.
Muatan sosial-polis
Saat saya berkunjung ke sana, Nirwan Dewanto selaku kurator Galeri Salihara, mengatakan bahwa dalam pameran Landscape Anomaly pengunjung bisa sekadar menikmati tampilan yang bentuknya menarik karena dekat dengan budaya “seni jalanan.”
Pada sisi lain, pengunjung juga bisa menemukan pesan-pesan sosial-politik yang mendalam. Hal ini, menurut Nirwan, adalah ciri khas karya Eko Nugroho.
“Eko Nugroho adalah orang yang penuh perhatian di dalam mengangkat masalah sosial politik. Tetapi masalah-masalah sosial politik itu tidak dibiarkan dominan. Unsur main-main selalu kuat di dalam karyanya,” kata Nirwan, merujuk pameran yang berlangsung hingga 21 Februari 2016 itu.

Kami lalu berjalan menghampiri piramida tabung gas yang tampil mencolok. Seraya melihat piramida tersebut, Nirwan Dewanto mengatakan bagaimana susunan itu menarik secara visual tapi pada saat bersamaan sarat makna.
“Piramida tabung gas ini merupakan suatu bentuk metafora untuk kehidupan modern yang menggunakan sistem energi tertentu. Sistem ini menyebar hingga pelosok-pelosok daerah, termasuk pedesaan, dan itu mengubah cara hidup orang. Contohnya, petani yang tadinya memakai kayu bakar, menggunakan tabung gas di dapurnya. Konsekuensinya, dapur si petani pun diubah menjadi dapur modern,” kata Nirwan.
Gaya Eko Nugroho yang menyampaikan pesan dengan nada kelakar dan terkesan main-main itu mendapat apresiasi pengunjung. Aldi, seorang mahasiswa dari Bandung yang khusus datang menyaksikan pameran Landscape Anomaly, kagum dengan karya-karya Eko Nugroho.
“Mas Eko itu kritis dengan masalah sosial-politik yang sedang terjadi, tapi wujud karya-karyanya bisa mengandung unsur keseharian, enak dilihat, dan tidak vulgar,” ujar Aldi.
Eko Nugroho, yang bermukim di Yogyakarta, mengaku tidak bermaksud melontarkan kritik, namun merayakan fenomena jaman. Eko lalu mencontohkan salah satu karyanya yang dipamerkan di Galeri Salihara, yaitu tangan hitam yang menempel di tembok dan memegang alat membuat selfie yang populer sebagai tongkat narsis alias tongsis.
“Tongsis adalah simbol, catatan di mana generasi kita saat ini menampilkan diri adalah poin penting dalam kehidupannya. Kita banyak melihat orang melakukan selfie dengan objek apapun, tanpa satu detik pun lengah memotret wajah. Di sini muncul kesadaran make up, kesadaran lokasi, kesadaran mode, dan sebagainya,” kata Eko.
Canda
Wujud karya-karyanya yang penuh canda dan berwarna tersebut diakui Eko tidak lepas dari bahasa komik.

“Bawaan lucu, mengkritisi, juga mungkin muncul dari komik. Mungkin pula ini karakter orang Yogya yang banyak menggunakan bahasa guyon. Tidak ada kritik yang langsung, biasanya memulai dengan bahasa kelucuan. Tapi di sela-sela kelucuan dan humor itu ada sesuatu yang ingin disampaikan secara kritis,” kata Eko.
Candaan yang mengandung unsur kritis itu ditanggapi Nirwan Dewanto, selaku kurator Galeri Salihara, sebagai sikap generasi seniman masa kini. Warna-warna cerah yang muncul, misalnya, bertolak belakang dengan generasi seniman puluhan tahun lalu yang memunculkan kesan muram.
“Generasi zaman dulu kalau menyatakan kritik nadanya muram. Berdiri di satu posisi dan menghantam, katakanlah, penguasa. Di sini kan tidak ada yang seperti itu. Siapa yang salah dari suatu fenomena tertentu? Kita semua. Siapa yang benar? Kita semua. Jadi oposisi biner, kamu salah dan saya yang benar itu mengabur. Unsur main-main justru sangat kuat,” papar Nirwan.
Seni yang terkesan main-main dan bergembira, menurut Nirwan, adalah tren seni global saat ini yang menjurus ke arah pop.
Padahal, gaya seniman jalanan yang menggambar mural, contohnya, tidak dianggap dalam seni arus utama dunia beberapa puluh tahun lalu.
“Namun, seni pop seperti ini justru sangat kuat di mana-mana,” tutup Nirwan.









