Mengembangkan koreografer muda Indonesia

- Penulis, Rizki Washarti
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Profesi koreografer tidak terlalu umum di Indonesia, oleh karena itu Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta berupaya memberi wadah kepada para koreografer muda untuk memperkaya keterampilan mereka.
Pertengahan September ini tiga koreografer tersebut tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Salah satunya adalah Hariyanto yang tampil Jumat (12/09) lalu.
Setelah diperkenalkan oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, penonton menunggu kehadirannya.
Namun selang lima detik, 10 detik, 15 detik, Hariyanto tak kunjung terlihat.
Ruangan hening. Sepi. Senyap, menunggu Hariyanto.
Beberapa menit pun berlalu dan penonton mulai tidak sabar. Sesekali terdengar suara penonton yang berbisik-bisik dan asyik bercengkerama.
Namun tiba-tiba sebuah seng dilempar ke atas panggung.
Perhatian penonton sontak kembali tertuju ke panggung.
Hariyanto akhirnya muncul. Pelan-pelan dia berjalan di atas seng tersebut, menimbulkan suara gaduh.
Dia lalu berdiri, terdiam. Penonton menunggu aksi berikutnya dengan penasaran.
Hariyanto lalu terjatuh. Dia pelan-pelan menggelundung. Ke kanan, ke kiri.
Ia mencoba bangkit, tapi kerap terjatuh dan terlipat ke dalam seng yang awalnya terlentang di atas panggung.
Dia berusaha lebih keras untuk mengeluarkan diri dari gulungan seng.
Situasi semakin intens, penonton terlihat semakin tegang.

Setelah bergumul ke sana - ke mari, Hariyanto akhirnya dapat membebaskan diri dari gulungan seng, dan berdiri kembali dengan kokoh. Penonton pun terkesima.
Hariyanto, koreografer asal Surabaya menceritakan arti karyanya tersebut yang diberi nama Ghulur.
"Ini keprihatinan terhadap tanah yang retak. Tanah-tanah dalam tanda kutip bahwa sekarang tumbuh seng, mengakar paku bumi ke dalam, sehingga bumi sekarang sedang retak," kata Hariyanto.
Ia menjelaskan, dia baru empat tahun terakhir menjadi seorang koreografer.
Dia sejak dulu tertarik dengan seni, namun karena koreografer bukan suatu profesi yang lazim, Hariyanto tidak bercita-cita menjadi seorang koreografer.
Setelah selesai menempuh pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia Solo, Hariyanto akhirnya memiliki pengetahuan yang lebih luas dan bertemu banyak kalangan yang bergerak di bidang koreografi, katanya.
"Orangtua saya tidak tahu, karena saya kan asli dari Madura yang lingkungannya lingkungan pesantren dan pekerjaan saya ya sekolah, kuliah. Tiba-tiba saya belajar memaknai atau memahami tentang kehidupan itu," kata Hariyanto.
Program Choreolab
Untuk mengembangkan koreografi di Indonesia, maka digelar program Choreolab, jelas Sukarji Sriman, Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta.
"Choreolab, process in progress, ini dilaksanakan kedua kalinya. Yang pertama tahun lalu, tujuannya adalah memberi ruang bagi koreografer muda Indonesia untuk mencari atau mendapat jati dirinya sebagai koreografer yang lebih baik," jelas Sukarji.
Melalui Choreolab, tiga koreografer dari seluruh Indonesia dipilih melalui serangkaian proses seleksi yang ketat.
Mereka kemudian mengikuti lokakarya dan hasil pembelajaran tersebutlah yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu.
Rata-rata penonton kagum terhadap pementasan tersebut, walau mengaku tidak memahami arti tariannya.
"Awalnya aneh. Tapi karena ada buku panduannya, saya bisa mengerti sedikitlah," kata Maulana, seorang penonton.
Sedangkan Linda, seorang guru SMP mengatakan, "Gak ngerti deh aku. Susah sih untuk dipahami. Tapi so far keren, keren.''
Bahwa tidak semua orang dapat memahami tariannya, dipahami oleh Hariyanto.
"Ya sebuah kesenian yang tidak mudah untuk dipahami. Kegelisahan itu yang ingin saya sampaikan juga. Sehingga mereka nyampe ke rumah terus ingin belajar," Hariyanto.
Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Seni Budaya, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat, 18 September 2015 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.










