Wayang tavip hadirkan wayang yang berbeda

Pertunjukan Wayang Tavip
Keterangan gambar, Pementasan wayang tavip bertajuk "Sunan Kalijaga" diadakan dalam menyambut Ramadan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, 5 Juli lalu.
    • Penulis, Ani Mulyani
    • Peranan, BBC Indonesia

Di atas panggung dengan layar putih membentang, dalang Budi Ros yang ditemani rekannya, Yudi Suryo Atmojo dan Rangga Buana, memainkan kisah salah satu tokoh Wali Songo.

Dikisahkan, Raden Syahid yang merupakan putra Adipati Tuban terusir dari istana kadipaten. Bersama rekan-rekannya, Raden Syahid memilih tinggal di hutan dan membentuk gerombolan perampok untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Titik balik terjadi ketika ia bertemu Sunan Bonang. Setelah berguru kepada wali ternama itu, Raden Syahid menjadi salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Budi Ros dan kedua rekannya memainkan lakon tersebut di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, 5 Juli lalu.

Sesekali mereka menyelipkan celotehan jenaka ataupun sindiran yang berkaitan dengan kondisi bangsa.

Pertunjukan Wayang
Keterangan gambar, Wayang tavip terbuat dari plastik transparan yang diciptakan seorang dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung, yaitu Mohamad Tavip.

Wayang Tavip

Kepada BBC Indonesia, Budi menjelaskan kaitan antara seni dan agama dalam lakon pementasan Sunan Kalijaga ini.

“Sunan Kalijaga menggunakan kesenian untuk menyebarkan agama Islam. Dia merupakan budayawan dan seniman. Wayang merupakan salah satu alat untuk mengumpulkan orang dan berkhotbah," kata Budi.

Namun, terlepas dari kisah Sunan Kalijaga, wayang yang digunakan Budi Ros berbeda dengan wayang kulit atau wayang golek.

Pria yang sudah lama bergabung dengan Teater Koma itu menggunakan wayang tavip. Wayang tersebut telah dia gunakan sejak menjadi dalang dalam lakon Sie Jien Kwie pada 2010.

Wayang tavip bisa jadi masih terdengar asing di telinga khalayak umum mengingat umumnya orang lebih mengenal wayang golek atau wayang kulit.

Berbeda dengan keduanya, bahan baku wayang tavip terbuat dari plastik transparan.

Nama wayang tavip sendiri diambil dari nama penciptanya, yaitu Mohamad Tavip. Bersama seorang pelukis, Herry Dim, pada 1993 Mohamad Tavip menciptakan gambar Motekar yang kemudian dinamai wayang tavip.

Budi Ros
Keterangan gambar, Budi Ros, (berbaju putih), yang sudah lama bergabung dengan Teater Koma, mengaku tidak kesulitan menjadi dalang, meski ia berprofesi sebagai pemain teater.

Kepada BBC Indonesia, Tavip yang juga mengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Bandung ini, mengatakan keunggulan wayang kreasinya adalah semua karakter dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan.

Keunggulan lain, dibandingkan dengan wayang kulit yang juga menggunakan media cahaya, wayang tavip dapat menampilkan warna yang sesuai dengan karakter wayang tersebut.

“Kita menggunakan layar khusus dan empat sampai enam lampu tanpa optik. Namun, dari teknik bermain, sang dalang harus mengerti bahasa video-shooting karena jenis pencahayaan berbeda dengan pertunjukan lain,” papar pria kelahiran Lampung itu.

M. Tavip
Keterangan gambar, Mohamad Tavip dengan wayang hasil kreasinya, ingin menampilkan pertunjukan wayang yang berbeda dari wayang lainnya.

Tavip mengaku ingin menyuguhkan tontonan wayang yang menampilkan warna, bayangan, dan bentuk fisik.

“Dalam dunia pewayangan, unsur warna itu luar biasa. Berangkat dari itu, saya ingin memvisualkan wayang yang berfungsi sebagai bayangan tanpa menghilangkan unsur pewarna wayang. Jadi pertunjukan ini akan menguntungkan seniman perupa dan penonton juga bisa berimajinasi dengan bayangan wayang,” jelas Tavip.

Anda bisa mendengarkan wawancara dan pementasan wayang tavip ini dalam program Seni dan Budaya, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat 17 Juli 2015, pukul 05.00 dan 06.00 WIB.